TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Bucin.


__ADS_3

Cantika berdiri di pinggir jalan, menunggu kendaraan umum yang akan membawanya pulang ke rumah. Saat itu sebuah mobil berhenti tepat di dekatnya. Kaca mobil itu terbuka dan muncul sesosok wajah imut yang tersenyum padanya.


"Ika, Lo habis dari mana?" tanya orang itu.


"Gue mau pulang, Rub. Habis dari rumah Papi."


"Suami Lo gak nemenin?"


"Dia lagi ada urusan penting."


"Ya udah deh, gue anterin. Cepetan masuk!" Kaca mobil kembali tertutup. Dan kini pintunya yang terbuka, Cantika masuk lewat sana. Dia duduk di depan bersama temannya itu.


Mobil pun kembali melaju dengan kecepatan sedang. Si pengemudi sesekali melirik pada Cantika, tapi dia tetap berkonsentrasi untuk membelah jalanan.


"Ika, mending Lo ikut gue aja ke Cafe biasa. Kita nongkrong dulu sama temen-temen. Sejak Lo nikah, formasi kita jadi lumpuh. Kurang rame pokoknya..."


"Gimana ya? Gue kan harus pulang."


"Bentar doang kali..."


Cantika terlihat berfikir. Dia memang ingin sekali pergi bersama teman-temannya. Bagaimana pun juga, meski dia nyaman di rumah suaminya, tetap masih ada rasa rindu menghabiskan waktu bersama para ladies gengnya itu.


Mungkin kalo bentar aja, Mas Anas gak akan ngambek. Lagian gue bukan mau selingkuh, cuma nongkrong bareng temen-temen.


"Rubi, gue telpon dulu Mas Anas."


Gadis di sebelahnya tergelak, "Wahhh Lo udah berubah jadi perempuan yang manis. Mau minta ijin dulu ya, sama laki Lo? Istri yang baik..."


"Iyalah...dia kan suami gue, harus ngomong dulu kalo mau kemana-mana! Ehhh, bentar..." Dia merogoh ponsel dari tas kecilnya. "Baru aja diomongin, Mas Anas udah nelpon."


Rubi masih tertawa kecil, "Cepetan jawab, laki Lo kangen tuhhh pengen dibelai."


Cantika mendelik ke arah temannya sambil menempelkan telunjuknya di bibir.


"Ya, Mas."


"Kamu masih di rumah Papi? Maaf, aku gak anterin tadi."


"Gak apa-apa. Aku sekarang....lagi sama temenku. Mas, apa boleh aku ke Cafe sama semua temen cewekku?"


Rubi cekikikan mendengar temannya yang begitu manis saat bicara. Si Ika diapain sampe jadi lembut dan manis kayak gitu? Hebat Mas Anas, Cantika diubah jadi cewek penurut.

__ADS_1


Pembicaraan Cantika dengan suaminya masih terus berlanjut. Banyak lagi obrolan yang mereka bahas.


"Nanti kirim alamatnya, hubungi aku jika kamu sudah selesai dengan teman-temanmu! Motorku sudah selesai diperbaiki, jadi aku pasti bisa menjemput kamu." Ucap Anas di telpon.


Cantika tersenyum lebar, "Makasih Mas, kamu emang suami terlove. Love you so much, mmmuahh..."


"Ya, aku juga cinta kamu. Hati-hati di sana, jangan melakukan hal aneh dan nakal! Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam...." Cantika menyimpan kembali ponsel ke dalam tas kecilnya, setelah pembicaraan berakhir.


Rubi masih cekikikan, "Gaya Lo...so sweet...Kenapa sih Lo jadi bucin gini sama Mas Anas? Apa karena laki Lo itu berbulu?"


Cantika mesem-mesem, "Lebih dari itu... Pokoknya dia yang paling the best. Mas Anas adalah laki-laki terhebat yang pernah gue temui. Perhatian, lembut, romantis, sexy, tanggung jawab.... banyaklah kelebihannya."


"Mas Anas bisa romantis juga? Kok kalo diliat dari luar sih, kayak yang kurang hot gitu?"


"Dia romantis bukan cuma lewat perkataan, tapi juga direalisasikan dengan perbuatan. Lo kalo nemu suami kayak Mas Anas, pasti bakal klepek-klepek juga."


Cantika begitu semangat saat membahas tentang suaminya. Matanya berbinar-binar. Senyumnya merekah ketika bayangan wajah pria itu muncul di pikirannya.


"Ahhh, gue jadi pengen pulang. Gue gak jadi nongkrong dehh. Rubi, anterin gue ke rumah!"


Rubi mencebik, "Ahh, Lo. Tahan dulu dong, gak puas apa tiap hari bersama Mas Anas yang terlove itu?"


"Ihhh bucin parah! Ika, ini bentar lagi kita nyampe di Cafe. So, Lo harus ikut gue ke sana."


"Ya udah deh, tapi jangan lama-lama. Mas Anas kasihan di rumah sendirian."


"Ishhhh, Lo....Dia bukan bayi kali, yang harus dijagain mulu."


Setelah beberapa saat kemudian, mobil pun berhenti di parkiran Cafe. Kedua perempuan itu turun dari sana lalu langsung masuk untuk menemui teman-teman yang lain.


Rubi dan Cantika cipika-cipiki pada semua gadis yang duduk di meja tengah. Mereka pun ikut bergabung. Saling bercanda dan menyapa.


"Ika, kok gue liat muka Lo pucet banget. Lo sakit?" tanya salah seorang.


"Gue gak sakit." Jawabnya.


"Si Ika ini kebanyakan dikerjai lakinya, jadi pucet kayak gitu. Penganten baru....lagi panas-panasnya, hahaha." Rubi tertawa disusul yang lain.


Cantika hanya fokus makan untuk menyembunyikan rasa malunya. Dan semua temannya terus saja menggoda seperti tidak pernah puas.

__ADS_1


"Gimana sih rasanya begituan? Gue jadi ngiler tahu... gara-gara kalian bahas Cantika mulu." Ucap Tina. Maklum saja, diantara semua teman Cantika, hanya dia gadis yang masih virgin.


"Makanya buruan kawin, biar Lo bisa ngerasain surga dunia!" Jawab Ika setelah menyeruput minumannya.


"Pengen sih kawin kalo ada cowok yang serius sama gue. Tapi gue belom nemu. Semua mantan pacar gue cuma pengen have fun doang."


"Nah, itu...kalo cuma buat seneng-seneng doang, Lo bisa dapetin itu dari temen cowok Lo. Tapi itu dosa, tahu?! Sebelum halal dilarang begituan! Ntar aja kalo udah nikah, Lo bisa tuh sepuasnya main perang." Jelas Cantika dengan menggebu.


"Widihh, si Ika udah kayak motivator aja. Denger tuh Tina, buruan kawin makanya!" Ledek Rubi pada si gadis perawan.


Mereka pun terus bersenda gurau sampai sore hari. Cantika merogoh tasnya untuk melihat waktu di layar ponsel.


"Astaga, udah jam setengah 5. Gue belom sholat..." Dia terlihat panik dan langsung berdiri. "Gue ke Musholla dulu bentar." Perempuan itu pun melangkah dengan tergesa-gesa.


Semua temannya saling menatap heran. Cantika kini berubah jadi lebih agamis. Sungguh benar-benar hebat sosok suami Cantika, mampu merubah di gadis pembangkang menjadi wanita yang taat dalam waktu singkat. Meskipun dia belum sepenuhnya menjadi wanita alim, tapi itu terbilang luar biasa bagi semua teman-temannya.


***


Cantika kembali duduk di kursi semula. Saat ini dia tengah fokus mengutak-atik ponsel untuk menghubungi suaminya. Tak ada jawaban. Dia terus berusaha hingga akhirnya benda yang dia pegang pun mati.


"HP gue lowbat. Gimana gue bisa hubungi Mas Anas? Dia pasti bakalan cemas." Berteriak histeris.


"Pake HP gue aja!" tawar Tina.


"Gue gak hapal nomornya."


"Ahhh, Lo. Jangan panik gitu, gue anterin deh!" Ucap Rubi.


"Kalo gitu kita balik sekarang juga. Kasihan Mas Anas sendirian di rumah, terus dia bersedih karena istrinya telat pulang." Perempuan itu merengek layaknya bocah.


"Gue anterin Ika pulang, sebelum dia ngamuk dan ngacak-ngacak Cafe ini!" Ucap Rubi sambil beranjak.


"Ok, hati-hati di jalan!" Ucap Tina.


Kedua perempuan itu pun meninggalkan tempat itu dan kembali masuk ke dalam mobil. Sedangkan para gadis yang masih betah di dalam sana, tengah cekikikan menertawakan kelakuan Cantika.


"Bucin kebangetan tuh si Ika. Baru kali ini gue liat dia kayak gitu. Dulu pas sama mantan-mantannya, perasaan dia gak gitu-gitu amat. Berarti lakinya emang bukan cowok sembarangan."


"Si Ika over dosis dikerjain sama suaminya kali...jadi kayak gitu."


"Stop...jangan bahas begituan mulu! Gue beneran ngiler...." Rengek Tina.

__ADS_1


Dan kali ini giliran gadis itu yang jadi sasaran empuk teman-temannya. Mereka terus menggoda dan menertawakannya.


__ADS_2