
Hari Minggu siang ini, Cantika dan suaminya menghadiri sebuah pesta pernikahan salah satu teman Anas yang tempatnya di sekitar kampung tetangga.
Keduanya kini tengah duduk di sebuah kursi plastik sambil melahap makanan mereka. Cantika lumayan menikmati menu makanan yang ada di piring. Namun yang membuatnya risih adalah alunan musik yang tengah bertalu-talu begitu nyaring, tepat di sampingnya. Kebetulan posisi duduknya bersebelahan dengan speaker besar, jadi suara tersebut lebih jelas mendobrak gendang telinganya.
"Mas, pindah yuk. Kalo lama-lama di sini, nanti aku budeg."
Mereka berdiri dan mencari kursi lain yang berjauhan dari benda yang mengeluarkan kebisingan itu. Setidaknya suara musik yang menggema tidak akan terlalu sekeras tadi.
"Mas, ini piringnya dikemanain?" tanya Cantika saat selesai makan.
"Taruh saja di kolong kursi, nanti akan ada orang yang membereskannya. Nah, seperti ini." Jelas pria itu sambil langsung praktek.
Keduanya masih duduk untuk menyaksikan para biduan dangdut bernyanyi.
"Lumayan juga suaranya, penyanyinya juga gak kecentilan. Goyangannya aman." Ucap Cantika.
Anas menoleh sambil tersenyum, "Kamu suka musik dangdut? Gak nyangka."
"Biasa aja sih, cuma pas liat penyanyi yang ini rasanya beda. Kayaknya penuh penghayatan, jadinya enak didengar."
Namun ketika ada biduan lain yang tampil, raut wajahnya berubah jadi garang dan masam. Itu karena penampilan dan goyangan penyanyi itu terbilang vulgar menurut Cantika.
"Apaan? Suaranya belepotan, gayanya aja yang heboh kayak cacing kepanasan. Mas, jangan dilihat! Goyangannya membahayakan."
Anas saat itu hanya fokus melihat ke atas panggung. Pria itu nampak tengah memperhatikan sesuatu entah seseorang.
"Mas....!" Teriak Cantika sambil menginjak kaki suaminya dengan keras menggunakan high heels miliknya.
Anas meringis kesakitan sambil mengusap kakinya. "I...iya. Ada apa?"
"Ayo kita pulang sekarang!"
Anas menuruti keinginan istrinya karena tidak mau membuatnya murka. Lagipula dia juga sebenarnya memang sudah tidak nyaman berada di sana, apalagi saat ini mereka tengah jadi pusat perhatian banyak mata.
Usai berpamitan dan bersalaman pada kedua mempelai, mereka pun menaiki motor menuju rumah. Amplop untuk pengantin? Tenang saja, Anas masih mengingatnya meski dalam keadaan panik.
**
Cantika melangkah cepat ke kamar atas. Tas kecil yang dia bawa, dilempar begitu saja ke atas tempat tidur. Bibirnya memanjang beberapa mili. Kedua tangannya bersilang di dada. Saat suaminya masuk ke ruangan itu, dia duduk di tepi ranjang sambil membuang muka. Anas kini berada di sampingnya.
"Kenapa ngambek, apa salahku?" tanya pria itu sambil memegang bahu yang langsung ditepis.
"Pikir aja sendiri, salahmu itu apa?!" jawabnya ketus.
"Bilang dong, aku ini manusia yang tidak bisa mengetahui semua isi hati dan pikiranmu. Kalo memang aku salah, tegur saja." Ucapnya dengan tenang.
"Kamu suka ya, lihat yang sexy dan bohay kayak artis dangdut tadi? Aku ampe dicuekin pas manggil-manggil. Kamu malah fokus nonton goyangan hot penyanyi itu." Suaranya meninggi.
Anas menyugar rambutnya kasar lalu mengambil nafas panjang. "Cantika, aku bukan melihat penyanyi itu. Aku tadi memperhatikan tukang kendang yang kayaknya aku kenal. Perasaan mungkin orang itu adalah salah satu teman sekolahku waktu di SMP." Berusaha tetap tenang.
"Alahhhh ngeles aja." Masih belum mau bersitatap.
"Aku tidak bohong, serius. Masa gak percaya?"
Cantika kini bungkam. Anas memeluknya erat dan menempelkan pipi mereka. "Sayang, jangan marah. Aku gak berniat untuk melirik perempuan manapun selain kamu. Masa gitu aja ngambek, kamu ini kadang seperti anak kecil."
Perempuan itu masih belum bersuara lagi.
"Aku mencintaimu, cuma kamu." Bisik Anas pelan tapi hembusannya berhasil membuat istrinya merasakan gelenyar yang sudah tidak asing lagi.
Owww, please... Masa gini aja gue lemah sih. No, gue musti tahan. Ceritanya kan lagi ngambek.
Sayangnya otak dan tubuh perempuan itu kini sedang tidak konek. Pikirannya menyuruh menolak tapi tubuhnya merespon lain.
Cup! Kecupan di pipi kanannya makin membuat Cantika goyah. Apalagi saat bulu-bulu itu merayap ke area leher jenjangnya.
Bahaya, godaannya makin kuat. Astaga...nyerah aja gitu??
Saat tangan Anas merayap kemana-mana dengan nakal, akhirnya pertahanan perempuan itu pun benar-benar hancur. Gak kuat...serah ahhh, ngambeknya pending aja dehhh.
Bukan cuma dipending, nyatanya dia kini benar-benar melupakan amarahnya. Cantika makin terhanyut oleh buaian mesra suaminya.
**
Esoknya di saat bumi masih gelap dan udara masih terasa dingin. Di saat itulah Anas mengerjap. Matanya melirik jam dinding yang menempel di tembok sebelah kanan.
__ADS_1
"Jam 3." Pria itu hendak bangkit tapi tubuhnya ditahan oleh pelukan erat istrinya.
"Mau kemana?" tanya wanita itu dengan suara lenguhan khas bangun tidur.
"Aku mau mandi."
"Ntar aja, aku masih pengen meluk kamu." Tangannya makin kuat menahan tubuh Anas, matanya masih menutup.
"Cantika, aku kan harus ke pasar. Jika tidak, nanti aku tidak bisa jualan. Bahan makanan di dapur juga sudah menipis."
"Jangan kemana-mana, sehari gak jualan kan gak apa-apa."
"Sayang, jangan manja begini. Aku kan wajib menafkahi kamu. Lagipula ini kan bukan hal yang baru. Kenapa kamu malah seperti ini?"
Cantika menatap lekat pada suaminya. "Sayang, aku gak mau lepasin kamu. Aku rasanya berat kalo harus berjauhan meskipun sebentar aja. Hari ini aku pengen terus meluk kamu. Pokoknya jangan kemana-mana!"
Anas mengecup kening istrinya lalu mengusap rambut tergerai itu. Nafasnya terlempar agak kasar, pertanda jika dia pun sebenarnya memang tidak mau berjauhan walau sedetik saja dengan Cantika. Namun hasrat tersebut harus dia kalahkan karena ada hal yang lebih penting yang harus dia laksanakan.
"Sayang, aku harus ke pasar. Istriku yang baik, tolong mengertilah. Aku tidak mau jadi suami yang pemalas dan banyak berleha-leha. Ini semua aku lakukan demi kamu."
Cantika terdiam. Dia tetap tidak rela, tapi di lain sisi dia harus mendukung suaminya.
Anas tersenyum saat menatap wajah yang masih saja cantik meski dalam keadaan berantakan.
"Sayang, aku mandi dulu. Kamu lebih baik tidur lagi, tapi jangan kebablasan. Kamu juga harus mandi wajib nanti!"
"Iya...." jawabnya malas.
"Aku sangat mencintaimu, Cantika Aprilia. Istriku yang baik dan cantik."
Satu kecupan lagi di kening wanita itu. Anas pun bangkit lalu masuk ke dalam kamar mandi.
**
Cantika menatap lekat pada pria yang kini sudah rapi dengan setelan celana jeans dan jaket kulit. Anas menghampirinya dan duduk di tepi ranjang.
"Kenapa tidak tidur lagi?" tanya Anas sambil mengusap kepala istrinya.
"Gak bisa tidur. Mas, aku ikut ya?"
"Jangan lama-lama, aku gak mau di rumah sendirian."
Cantika memeluk erat suaminya. Entah kenapa perasannya hari ini jadi lebih sensitif? Dia bahkan saat ini banjir air mata. Tidak rela melepas kepergian pria itu.
"Heyyy, kenapa menangis? Kamu ini aneh, aku hanya pergi ke pasar sebentar." Anas mengusap pipi istrinya.
"Mas hati-hati di jalan. Jangan lupa berdoa. Aku cemas banget, lebih khawatir daripada sebelum-sebelumnya."
"Iya, kamu juga harus mendoakan aku. Sudah, sekarang kamu tidur lagi. Aku mau berangkat."
"Aku anterin sampai depan." Cantika bangkit.
Keduanya melangkah bergandengan tangan. Sampai di pintu utama, dua pasang kaki itu berhenti bergerak. Cantika mengecup tangan suaminya.
"Mas, hati-hati."
Anas mengangguk lalu mencium puncak kepala istrinya. "Aku berangkat, assalamualaikum."
"Waalaikumussalam. Mas, I love you."
"I love you too." Tersenyum manis.
Cantika menatap kepergian suaminya hingga sosok itu tak dapat lagi terlihat. Entahlah, hari ini dia merasa begitu berat melepas kepergian Anas.
**
Cantika termenung di atas sofa ruang tamu setelah suaminya pergi. Hatinya gusar dan pikirannya berlarian ke arah yang negatif.
Apa gue ini kelewat manja dan lebay? Masa segini aja mewek. Mas Anas cuma pergi ke Pasar kayak biasanya, tapi kenapa rasanya kayak mau ditinggal ke Baghdad selama bertahun-tahun?
Lamunannya berhamburan saat mendengar suara lantunan ajakan beribadah umat muslim. Dia melangkah ke lantai atas. Masuk ke kamar dan mengambil handuk lalu membersihkan badan di dalam kamar mandi.
Jam 8 pagi.
Cantika mondar-mandir di depan rumah. Matanya terus tertuju ke depan, menunggu sosok suaminya muncul. Telinganya lebih tajam saat mendengar suara motor yang lewat. Namun selalu saja hatinya kecewa karena bukan Anas yang muncul.
__ADS_1
"Mas Anas kemana dulu ya? Apa jangan-jangan ada yang ngeroyok lagi kayak waktu itu? Ah, amit-amit... Semoga aja gak terjadi sesuatu yang buruk."
Wanita itu mencoba lagi menghubungi nomor suaminya menggunakan smartphone baru pemberian Anas. Tapi lagi-lagi panggilannya tidak terhubung.
"Mbak, gak jualan ya?" seorang gadis belia datang.
"Kayaknya hari ini gak jualan dulu. Mas Anas masih belum pulang dari pasar."
"Gitu ya, padahal aku mau beli nasi kuning. Tapi gak apa-apa deh, besok aja. Assalamualaikum..." Gadis itu pun pergi.
"Waalaikumussalam. Mas Anas kemana sih, aku tambah cemas?!" masih celingukan.
Cantika duduk di kursi teras rumah. Dia masih menunggu kepulangan suaminya dengan hati yang tidak tenang.
Satu jam kemudian, muncul dua orang pria berpakaian seragam coklat.
"Selamat pagi, Bu. Apa benar ini rumah dari Bapak Anas Malik?"
Cantika bangkit dengan ekspresi wajah bingung. Kenapa kedua orang itu menanyakan tentang suaminya? Apa yang sudah Anas perbuat hingga berhubungan dengan pihak kepolisian?
"Iya benar, beliau adalah suami saya. Ada apa ini?" tanyanya dengan cemas.
"Kami mendapat laporan dari warga bahwa ada sesosok mayat yang diduga adalah jenazah dari Bapak Anas. Untuk lebih meyakinkan lagi, maka kami membawa jenazah tersebut ke Rumah Sakit untuk diautopsi."
Buggg! Tubuh Cantika seolah dihantam benda raksasa dari atas langit, membenamkannya hingga ke dasar bumi. Dia terduduk lesu setelah mendengar kabar yang begitu mencabik hatinya. "Gak mungkin, pasti itu bukan Mas Anas."
"Lebih baik Anda ikut kami ke Rumah Sakit."
Ketika itu muncul seorang wanita yang merupakan tetangga dekat Anas. Kedua polisi tersebut memberi tahu kabar duka pada wanita itu.
"Inalillahiwainailaihirojiun, apa itu benar? Cantika, biar Ibu yang temani kamu ke Rumah Sakit." Memegang bahu perempuan yang kini tengah menangis tersedu.
Tak ada kalimat balasan dari mulut Cantika. Pikirannya terlalu kacau saat ini. Hanya Anas sajalah yang memenuhi isi kepalanya.
**
Cantika perlahan membuka kain penutup sesosok tubuh di sebuah ruang jenazah. Tangannya gemetaran dan dadanya berdegup hebat. Ia harap jika tubuh kaku itu bukanlah milik suaminya.
"Astaga...." ucap Bu Nani, tetangga yang setia menemaninya. Wanita itu terkejut saat melihat wajah mayat yang tidak lagi bisa dikenali itu.
Cantika terus membuka kain itu hingga seluruh tubuh jenazah terlihat. Dia membuntang setelah memperhatikan baju yang menempel pada mayat tersebut. Meski sebagian sudah gosong, tapi dia yakin benar jika itu adalah baju terakhir yang dikenakan suaminya.
"Gak mungkin, ini bukan Mas Anas." Menangis sambil geleng-geleng kepala. Tak lama kemudian tubuhnya pun ambruk.
**
Cantika mengerjap. Dia saat ini ada di sebuah ruangan. Bu Nani berdiri di sampingnya. Ada juga Pak Permana beserta istri dan anak sambungnya di sana.
Cantika mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi. Tangisnya kembali pecah tatkala memorinya memutar tentang suaminya.
"Mas Anas mana? Papi, aku tahu kalo jenazah itu bukan suamiku meskipun baju dan postur tubuhnya mirip. Itu bukan Mas Anas, suamiku masih hidup."
Bu Sofi dan Pak Permana mencoba menenangkannya.
"Cantika, kamu harus ikhlas. Faktanya adalah, mayat itu memang Anas." Ucap Bu Sofi dengan berat hati.
"Bohong! Kalian jangan bodoh, itu bukan Mas Anas!" teriak-teriak.
"Ika sayang, Dokter sudah melakukan identifikasi dengan mengambil sidik jari. Dan ternyata itu adalah Anas." Pak Permana mengusap kepala putrinya.
Cantika terus saja histeris hingga akhirnya pingsan lagi. Semua orang begitu berduka saat ini. Kabar kepergian Anas dan terpuruknya Cantika begitu menguras air mata.
Bu Nani pamit pulang karena sekarang sudah ada pihak keluarga yang menemani Cantika.
Pak Permana saling bertatapan dengan istrinya. Pandangannya beralih ke arah Riri. Mereka bertiga sebenarnya sama-sama bingung saat ini. Dokter mengatakan jika saat ini Cantika tengah hamil. Dan usia kandungannya baru memasuki bulan ke-2.
Mereka sangat bahagia dengan kabar tersebut, tapi di lain sisi juga cemas. Di saat seperti ini, rasanya kurang tepat jika harus memberitahu Cantika tentang kehamilannya. Mungkin saja wanita itu akan lebih shock karena tidak ada sosok suami yang mendampinginya.
"Jadi untuk sementara waktu, kita harus merahasiakan kehamilan ini dari Cantika. Tunggu sampai kondisinya lebih stabil." Ucap Pak Permana.
Hari ini ada 2 berita tak terduga. Pertama, kepergian Anas yang disebabkan kecelakaan tunggal karena mesin motornya terbakar bersama dirinya. Yang kedua, kehamilan Cantika di saat sosok suaminya telah tiada. Kabar suka dan duka datang bersamaan. Entah ujian apalagi yang akan dihadapi seorang Cantika?
*Teman-teman terima kasih banyak karena sudah selalu support. Jangan lupa kasih kritik dan saran jika terdapat kesalahan pada penulisan ataupun cerita ini.
Btw, author sekarang lagi kangen pengen baca cerita science fiction. Boleh dong rekomendasikan novel yang bergenre seperti itu. Bukan cerita pendekar, tapi kayak cerita Alpha Veta tentang rusaknya bumi dan nyaris kiamat tapi masih bisa terselamatkan meski rotasi planet jadi berubah.
__ADS_1
Makasih 🤗🤗🤗