TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Peter's plan part 2


__ADS_3

Seorang pria berkepala plontos terlihat memegang sebuah kantong plastik hitam. Di dalamnya terdapat bungkusan plastik bening berisi cairan mudah terbakar. 


Seorang lagi laki-laki bertubuh kekar terlihat mengamati situasi. Dia tetap harus waspada meskipun ada dua temannya yang lain tengah berjaga-jaga di tempat berbeda. 


Kedua laki-laki itu bicara dengan nada pelan dalam jarak yang agak berjauhan.


"Cepat tumpahkan bensinnya, mumpung kondisi masih aman!" Ucap si pria kekar.


Si plontos malah menjauh dari tembok rumah dimana mereka berada, mendekat kepada temannya. "Aduhhh, nanti saja ya? Tunggu sebentar lagi."


"Kenapa kamu malah gemetaran seperti habis lihat setan?" Bertanya dengan mata melotot.


"Di dalam kamar, ada suara-suara…." Mengusap keringat dari pelipisnya sambil menarik nafas panjang. 


"Suara apa? Ngomong yang jelas!" 


"Sepertinya mereka…se-sedang…anu-anuan."


"Anu-anuan apa? Cepat selesaikan tugas ini sebelum Bos menelpon!" 


"Tapi mereka sedang ber…" Pria plontos berbisik-bisik di telinga rekannya. "Mereka sedang asik bermain kuda-kudaan. Kalo kita beraksi sekarang, nanti mereka akan terganggu. Kasihan kan kalo sedang asik begituan, tiba-tiba harus di-stop." Pria itu adalah tipe penjahat yang masih punya toleransi, karena dia merasakan sendiri bagaimana puyengnya saat itu tidak tersalurkan.


Laki-laki kekar menjitak kepala plontos itu dengan cukup keras. "Itu bukan urusan kita. Yang penting kita secepatnya harus menjalankan perintah Bos, kecuali kamu tidak butuh uang dan ingin dihukum Bos Peter."


"Ya, ya….paham." Pria itu mengelus kepala plontosnya yang sakit.


Keduanya pun mulai bergerak sesuai rencana awal.


**


Cantika dan suaminya duduk di tepi ranjang sambil berpelukan dan berbagi saliva. Tangan wanita itu menjelajahi d* da berbulu milik Anas. Pria itu pun begitu anteng mempermainkan bagian kenyal nan menawan yang kini sudah tak terhalang oleh sehelai benang pun.


"Mas…." Cantika me le nguh ketika b*bir itu berpindah ke bagian kembarnya. Bulu dari dagu suaminya menggelitik dan mengalirkan setrum bertegangan tinggi. Saking asyiknya, dia menekan kepala Anas agar lebih masuk ke dalam sana.


Wanita itu mendesis sambil mer*mas rambut suaminya. Dan itu menyebabkan Anas makin bersemangat untuk beraksi.


Kini mereka berganti posisi jadi berbaring. Cantika berada di bawah sana dengan wajah yang sudah sangat pasrah dan mata yang sayu. Anas menatapnya dengan nafas yang tidak beraturan.


Untuk ke sekian kalinya, b*bir itu kembali beradu. Setelah begitu lama, kini bagian leher yang dieksplor.


"Sayang…." Lagi-lagi mulutnya tak dapat dikendalikan. Cantika begitu mabuk cinta. Apalagi saat sen tuhan itu pindah ke area lebih bawah pada si kembar yang menggemaskan. Dia nyaris berteriak ketika benda miliknya dih*s*p sembari diuleni. "Mas….!"


Anas menghentikan gerakannya sejenak, agar dia bisa menghempas penutup terakhir yang masih menempel di bagian bawahnya. Setelah itu, dia kembali mendekat. 


Pria itu menc**m kening dan bibir istrinya dalam sekejap. Mata sayu mereka bertemu. Anas menyosor bagian ceruk leher jenjang itu sambil berusaha masuk ke inti bawah.


Cantika terpejam dengan mulut sedikit menganga. Saat sedikit lagi penyatuan itu terjadi, tiba-tiba suaminya bangkit karena indera penciumannya menangkap sesuatu yang menusuk. Matanya menelisik ke segala penjuru kamar dan berakhir di jendela yang tertutup.


"Cantika, ada kepulan asap. Pasti ada yang terbakar." Mata sayu itu kini berubah menjadi tajam tapi penuh kecemasan.


Wanita itu segera bangkit. "Apa rumah kita kebakaran? Perasaan tadi gak apa-apa."


"Cepat pakai baju!" Perintah Anas sambil memungut berlembar-lembar kain penutup yang berserakan di bawah. "Ini pakaianmu." Menyodorkan benda tersebut pada istrinya.


Tanpa berkata apa-apa, Cantika segera menempelkan kain itu ke tubuhnya dengan tangan yang gemetaran.


Anas menarik tangannya, "Kita harus segera keluar!" 

__ADS_1


Keduanya segera meninggalkan kamar yang sudah mulai terlalap api.


"Cantika, tolong cari bantuan. Aku mau mengamankan beberapa barang yang penting!"


"Gak, kamu gak boleh masuk lagi ke rumah. Apinya makin gede." Menggeleng sambil menggenggam tangan.


"Ada beberapa dokumen penting yang harus aku selamatkan." 


"Tapi…aku takut kalo…"


"Aku bisa mengatasinya." Tatapan mata itu penuh keyakinan.


Namun Cantika tetap tidak rela jika suaminya harus bermain-main dengan nyawanya sendiri. "Mas, aku takut…"


"Doakan saja." Ucap Anas sambil berlalu.


Pria itu masuk ke dalam kamar tidur. Segera membuka lemari pakaian miliknya untuk mengambil barang-barang berharga, antara lain buku nikah dan sertifikat tanah. 


"Astaghfirullahaladzim, aku menaruhnya di sini. Tapi kenapa malah tidak ada?"


Pria itu begitu panik apalagi saat melihat jika api kini merambat ke sebagian lemari pakaian yang satunya. Tangannya terus bergerak mencari. "Astaga, aku yakin menaruhnya di sini." Kepalanya makin kalang kabut. Tapi dia tetap harus berusaha lagi.


"Alhamdulillah… akhirnya ketemu." 


Sebenarnya dokumen-dokumen penting itu sedari tadi juga ada di sana. Hanya saja karena Anas begitu panik, matanya melewati benda itu begitu saja.


Anas berbalik dan entah sejak kapan api menyentuh daun pintu kamar? Pria itu belum melangkah. Jika diam di tempat maka itu bahaya, maju juga tetap beresiko. 


"Mas…! Cepetan keluar!" Teriakan istrinya membuatnya makin panik.


Dan ada lagi suara banyak orang di luar sana. Mungkin para warga sudah berdatangan untuk menolong. Semoga saja pria itu bisa selamat.


**


"Mas…! Cepat keluar dari sana!" 


Air matanya tumpah karena sosok suaminya belum juga muncul. Pikiran-pikiran buruk bermunculan di otaknya. Bagaimana jika Anas terjebak di rumah itu dan tidak terselamatkan?


Cantika menggeleng sambil terus berontak. "Mas Anas gak boleh pergi ninggalin aku. Heyyyy, cepat tolong suamiku! Kenapa kalian diam saja?"


"Maaf, apinya makin besar. Bahaya jika kita masuk ke sana." Ucap salah seorang wanita yang memeganginya.


Cantika makin naik pitam. Bicaranya makin meledak-ledak. "Kalo gitu lepasin, aku gak mau Mas Anas kenapa-napa. Aku mau selamatkan dia."


"Tenanglah, lebih baik berdoa. Lagipula saat ini orang-orang sedang berusaha memadamkan api. Inshaa Allah Anas akan selamat." Ucap yang lain menimpali.


"Mas….Mas Anas…" Cantika terus menangis menatap rumah yang masih menyala itu. 


"Ika, ada apa ini?" tanya seorang pria yang baru saja muncul.


Cantika menoleh dan tangisnya makin pecah. "Peter, Mas Anas masih ada di sana. Tolongin suamiku, Peter!" Tanpa sadar wanita itu memelas pada laki-laki yang sebenarnya dia benci. 


Peter tersenyum dalam hati. Dia senang karena suami perempuan yang dia sukai, sedang berada dalam bahaya. "Gue harap cowok miskin itu musnah saat ini juga. Tapi gue tetep harus manfaatin kesempatan ini untuk bikin Cantika kagum. It's time to be a Hero!"


Peter memegang kedua pundak Cantika, "Aku akan berusaha selamatkan suamimu."


Orang-orang menatapnya heran. Kenapa pria tampan itu mau mengorbankan diri untuk menyelamatkan Anas? Ada juga yang malah salah fokus. Segelintir ibu-ibu mempertanyakan siapa gerangan laki-laki bermata sipit itu? Apa hubungan dia dengan Cantika?

__ADS_1


"Saya butuh dua handuk basah sebelum masuk ke sana." Ucap Peter.


Salah seorang tetangga terdekat Anas, segera pergi ke dalam rumah untuk mengambil apa yang Peter minta. Dia segera menyodorkannya pada pria itu.


"Baiklah, Cantika. Aku masuk sekarang. Yang lain, tolong segera hubungi pihak pemadam kebakaran!"


"Sudah, mereka sedang dalam perjalanan kemari." Jawab salah seorang wanita paruh baya.


Peter pun masuk setelah memakai handuk basah itu. Dia sama sekali tidak mengindahkan perkataan orang-orang untuk tidak nekad masuk ke sana. Ini semua bukan demi menyelamatkan Anas, dia hanya ingin terlihat baik di mata Cantika.


**


Anas terus merapal doa sambil memikirkan cara untuk menyelamatkan diri. Dokumen-dokumen penting tidak terlepas dari tangannya. 


Jika saja jendela itu belum terbakar, maka dia dengan mudah bisa keluar dari kamarnya. Satu-satunya jalan keluar adalah lewat pintu yang kini sudah ikut terbakar. 


Anas masih berdiri di sana. Pikirannya buntu saat ini. Dia sama sekali tidak mengira jika si jago merah itu dapat menyebar dengan begitu cepat.


"Uhukk uhukk…" Kepulan asap tebal memasuki rongga hidungnya dan mengaburkan pandangannya. Seluruh tubuhnya makin panas meski belum tersentuh api secara langsung. 


"Mas…!" Suara istrinya samar terdengar berlomba dengan suara warga yang ikut panik. 


"Aku harus bisa keluar dari sini demi Cantika!" Dia mendorong pintu yang masih menyala-nyala itu. Jika saja tadi dia tidak menutup lagi pintu kamar, maka hal itu tak perlu dilakukan.


Anas memaksakan berjalan meski dalam keadaan sakit karena telapak kakinya terluka. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti karena ruangan tengah pun sudah dikelilingi api. Jalan menuju pintu utama pun terhalang. Bahkan kini api makin mendekat ke arahnya berdiri.


Anas mulai putus asa. Sepertinya dia tidak akan selamat. Mungkin dia tidak bisa lagi melihat wajah istrinya.


Anas membungkuk masih memeluk kertas-kertas itu. Dia meringis kesakitan saat kulit kakinya terkena nyala api. "Aaarghhh…." Mungkin inilah akhir hidupnya. Dia terus mengucap kalimat Tahlil sampai akhirnya seseorang muncul.


"Ayo kita keluar!" Ucap pria itu membantu Anas untuk berdiri. Dia bahkan menutupi punggung dan kepala si pria bewok dengan handuk basah.


"Peter…?" Ucap Anas lemah saat tubuhnya dipapah oleh pria tersebut.


"Ya, ini gue. Ayo kita keluar secepatnya!" 


Keduanya pun berhasil keluar dari rumah yang masih berapi itu. Sementara yang lain terus berusaha memadamkan api karena petugas Damkar belum juga datang ke lokasi.


Cantika berlari memeluk suaminya sambil menangis. "Mas…. akhirnya kamu muncul juga."


Anas terlihat lemah dan tak mampu lagi berkata-kata. 


"Cantika, kita harus bawa suamimu ke Rumah Sakit sekarang juga!" Ucap Peter yang langsung disambut dengan anggukan wanita itu.


Beberapa orang pria membantu membawa Anas untuk masuk ke dalam mobil Peter yang terparkir di depan gang. Karena jaraknya agak jauh, maka dia dibawa menggunakan tandu.


Anas dibaringkan di kursi belakang, ditemani istrinya. 


"Cantika, kita berangkat sekarang!" Ucap Peter sambil menghidupkan mesin. Mobil pun melaju menuju Rumah Sakit terdekat.


Sepanjang perjalanan, matanya menatap pada kaca spion mobil bagian tengah. Dadanya panas melihat wanita di kursi belakang terus menangisi si pria yang kini tak sadarkan diri. Dalam hatinya dia menggerutu, "Gue harap si Anas beneran gak bangun-bangun lagi. Kalo gitu kan, gue bisa lebih gampang dapetin Cantika lagi."


Cantika mengusap wajah suaminya yang bersandar di pahanya. "Mas, bangun. Jangan tinggalin aku! Aku sangat mencintaimu, Mas." Kini keningnya ditempelkan di kening Anas. 


"Ika, suamimu pasti terlalu banyak menghirup asap saat kebakaran itu. Makanya saat ini keadaannya tidak stabil. Tapi aku yakin dia akan baik-baik aja setelah mendapat perawatan medis." Ucap Peter. Padahal sebenarnya dia menginginkan kebalikannya. Itu semua demi pencitraan saja. Dia ingin dicap sebagai laki-laki yang baik oleh perempuan yang dia incar.


Note:

__ADS_1


Terima kasih banyak atas dukungan dan doa kalian semua. Alhamdulillah ayang beb-ku sekarang udah mendingan.


Terima kasih juga karena sudah selalu menunggu cerita ini up 🤗🤗🤗


__ADS_2