
"Waduhhh mesra bener pengantin baru." Ucap salah seorang wanita paruh baya saat Anas yang tengah menggendong istrinya, lewat di depan rumah.
"Permisi, Bu..." Anas tersenyum sambil terus berjalan. Sedangkan Cantika memalingkan wajahnya dari ibu tadi.
"Lo gak malu sama mereka ? Dari tadi kita diliatin terus."
"Jika kamu bukan istri saya, sudah pasti saya malu." Jawabnya mantap.
Entah kenapa Cantika begitu senang mendengar jawaban dari suaminya. Apa itu artinya dia juga senang telah menjadi istri pria itu ?
Saat ini mereka berpapasan dengan Mira. Gadis itu memalingkan wajah ketika melihat Anas menggendong istrinya.
"Mira, kamu mau kemana ?" Pria itu berhenti lalu menurunkan tubuh Cantika dari punggungnya.
"Saya mau ke warung."
Nih cewek punya hubungan apa sih sama laki gue ? Kenapa sikapnya mencurigakan ? Ini lagi si Om bewok, gue ampe diturunin gara-gara cuma mau menyapanya. Manyun semanyun-manyunnya.
"Kamu sudah sehat sekarang, Mir ?" tanya Anas lagi.
"Sudah, mas."
"Alhamdulillah kalau begitu."
"Awww, aduhhh." Cantika memegangi kakinya. Bahkan suaranya dibuat mendramatisir.
Anas segera menoleh dan berjongkok lalu mengecek kaki Cantika. "Pasti kakimu masih sakit. Ayo naik lagi !"
Cantika dengan senang hati nempel lagi di punggung suaminya. Emang gue istrinya ! Heyyy, cowok ini punya gue...
Teriaknya dari dalam hati sambil mendelik sekilas ke arah si gadis berlesung pipi.
Mira tertunduk sedih. Hatinya teriris melihat kemesraan mereka.
"Mira, saya permisi. Kaki Cantika harus segera diobati." Anas buru-buru melangkah meninggalkan temannya itu.
"Ya...mas." Sepertinya mas Anas begitu mencintai istrinya. Dia sangat mencemaskan perempuan itu.
Cantika tersenyum penuh kemenangan. Dia senang karena Anas lebih mengutamakannya daripada perempuan itu. Tapi dia tetap penasaran, siapa sebenarnya gadis itu ?
***
Sampai di teras rumah.
Cantika didudukan di kursi. Anas mengambil kotak obat dari dalam kamar. Pria itu segera kembali lalu berjongkok untuk mengobati luka lecet di kaki istrinya.
Nih laki gue perhatian amat. Baik banget sih jadi suami !
"Sudah selesai. Kamu jangan dulu kemana-mana, kalau mau ke kamar bicara saja. Nanti saya bantu memapahmu." Anas mendongak, "Kenapa melihat saya seperti itu, apa ada yang aneh dari wajah saya ?" memegang area muka.
"Bukan....Itu cewek yang tadi siapa sih ?"
"Siapa ?" duduk di sebelah istrinya setelah menyimpan kotak obat di atas meja.
"Itu yang gue diturunin gara-gara lo mau ngobrol dulu sama dia. Cewek yang mau ke warung itu..." terlihat kesal.
"Mira...yang berlesung pipi ?"
__ADS_1
Cantika mendelik, "Malah balik nanya, pokonya cewek yang itu. Apa dia mantan pacar lo ?"
"Bukan, cuma teman. Saya tidak pernah pacaran."
"Tapi kayaknya dia naksir tuh sama lo, beda banget caranya menatap. Apa lo juga suka sama dia ?"
Anas terkekeh, "Tidak mungkin, kami hanya berteman. Lagipula saya hanya menganggapnya seperti seorang adik."
Bagus itu !
Cantika tersenyum puas. "Boleh tanya lagi ?"
"Silahkan, saya suamimu. Kamu berhak tahu tentang semua kehidupan saya."
Wowwww, hanya mendengar perkataan itu saja hati Cantika dibuat meleleh lagi. Pria itu benar-benar kharismatik.
"Lo cuma tinggal sendiri di rumah ini, mana keluarga yang lain ?"
"Kedua orang tua saya meninggal saat saya masih duduk di bangku kelas tiga SMP. Mereka mengalami kecelakaan saat akan pergi ke pasar. Sejak saat itu, saya tinggal berdua bersama adik laki-laki saya yang masih berumur sepuluh tahun."
"Apa tidak ada keluarga lain yang mengurus kalian ?"
"Kami sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain paman dan bibi dari pihak ayah. Tapi mereka keadaannya lebih memprihatinkan, lebih susah daripada kami. Mereka pun tinggal di Indonesia Timur, harus punya banyak uang jika harus menemui kami di sini."
"Gimana cara kalian bertahan hidup ?"
"Kami berjualan nasi kuning di teras rumah. Tapi itu tidak mencukupi semua kebutuhan. Untungnya ada ayahmu yang selalu membantu kami. Beliau bahkan membiayai sekolah Ardan."
"Apa...itu alasan lo nikahin gue ?"
Anas menatapnya, "Ya, tapi itu bukan alasan utamanya." Mereka kembali bertatapan. Cantika memalingkan wajah dan mencoba mengalihkan pikirannya.
"Ardan saat ini telah pindah ke pulau lain bersama istrinya yang memang asli orang sana. Mereka sudah punya keluarga sendiri."
Cantika manggut-manggut paham. Saat itu suara adzan berkumandang. Anas membantunya berdiri dan melangkah ke dalam rumah.
"Kotak obat..." ucap Cantika.
"Nanti saya bawa...."
***
Anas sudah siap dengan pakaian kokonya. "Kamu belum ambil wudhu ? Wajahmu masih kering." Tanyanya pada perempuan yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Aku...lagi dapet." Menunduk malu.
"Ya sudah, kamu istirahat saja. Saya mau sholat di masjid."
Cantika mendongak, "Masjid mana ? jauh gak, lama gak ?"
"Dekat, lima menit juga sampai. Paling habis isya saya pulang."
"Jangan kemana-mana dulu. Aku takut sendirian di sini."
"Ya, kunci pintunya. Jangan buka jika itu bukan saya !"
Cantika mengangguk. Anas berlalu setelah mengucapkan salam.
__ADS_1
"Waalaikumussalam," Coba kalo gak keburu datang bulan, pasti gue gak sendirian sekarang. Rumah ini sepi kalo gak ada dia.
Baru sebentar saja dia sudah enggan berpisah dari Anas. Cantika mulai nyaman ketika berdekatan dengan suaminya itu.
Setelah mengunci pintu dari dalam, Ika duduk di kursi sambil menyalakan TV. Tak ada acara satu pun yang membuatnya tertarik. Akhirnya matanya beralih pada handphonenya. Saat dia sibuk bermain game, Pak Permana menghubungi. Cantika segera menerimanya.
"Nak, apa kabarmu dan Anas ?"
"Baik."
"Kamu bahagia menikah dengannya ?"
"Yaaa, aku bahagia. Setidaknya di rumah kecil ini aku gak perlu bertemu wajah-wajah munafik." Jawabnya ketus.
"Apa maksudmu ?"
"Gak perlu dibahas, males juga. Ada apa papi nelpon ?"
"Papi kangen padamu, nak. Apa kamu tidak merindukan papi ?"
"Papi, aku bukan anak kecil lagi. Aku baik-baik saja di sini. Bukankah papi juga tahu kalo Anas itu adalah laki-laki yang baik ? Jadi jangan terlalu cemas begitu !"
Sebenarnya ada rasa rindu di hati Cantika. Namun dia berusaha mencegah agar rasa itu tak menguasai pikirannya.
"Ika, jika kalian ada masalah apapun, bicaralah pada papi."
"Papi, aku mau istirahat."
"Baiklah, salam untuk Anas. Semoga kalian selalu bahagia."
Cantika mengklik tanda merah di layar ponselnya. Menyimpan benda itu di atas meja.
Dia akui jika saat ini ingin memeluk ayahnya. Sudah terlalu lama dia merindukan kehangatan antara mereka. Pak Permana yang selalu marah karena ulahnya, justru semakin melebarkan jarak diantara keduanya. Ditambah lagi kesalahan pahaman Cantika pada ayahnya masih belum hilang, sepertinya mereka belum bisa mengembalikan keharmonisan hubungan antara ayah dan anak.
***
"Assalamualaikum...!"
"Waalaikumussalam...!" Cantika segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
Setelah pintu terbuka, muncullah sosok manis nan menyejukkan pandangan itu tengah tersenyum padanya. Kali ini dengan ikhlas, Cantika membalas senyum bahkan menc**m tangan suaminya. Dalam sekejap mereka bersitatap.
"Sampai kapan kamu berdiri di situ ?" Cantika melangkah lalu duduk di kursi tadi.
Anas mengunci pintu lalu ikut duduk. "Saya bawa ini, kamu mau ?" menyimpan sebuah kantong plastik di atas meja.
Cantika mengambilnya dan melihat apa isinya. "Sate kambing, pantesan wangi banget dari tadi."
Anas senang melihat senyum di wajah cantik itu. Dia pergi ke dapur untuk mengambil alat makan. Setelah menyimpannya di atas meja, dia masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
"Makasih kamu udah bawa makanan ini, aku suka banget sama sate kambing." Ucap Cantika saat suaminya kembali duduk.
"Saya senang jika kamu menyukai apa yang saya bawa."
"Bisa gak jangan bilang saya-saya terus ? Itu terlalu formal, tahu."
"Baiklah, tuan putri. Mari kita makan, aku sudah lapar !"
__ADS_1
Keduanya tertawa kecil, lalu makan dengan lahap. Bagi Cantika, ini adalah makan malam paling romantis yang pernah dia alami. Meski dinner ala rakyat jelata, tapi kesannya sungguh bermakna.