
Berbulan-bulan lamanya.
Anas masih saja sibuk berkutat di dapur. Menyiapkan masakan untuk dijajakan di depan rumah. Jualan nasi kuning seolah tak dapat dipisahkan dari kesehariannya. Meskipun kini dia punya penghasilan lain tapi tetap setia pada profesi tersebut.
Anas baru beberapa bulan ini membuat 5 rumah kontrakan dan juga beberapa petak sawah. Semuanya hasil dari menabung. Selain itu, Cantika yang hanya ibu rumah tangga pun sudah punya penghasilan sendiri. Dia menjalankan bisnis MLM dari rumah. Tidak ada yang spesial dan wah dari profesi yang mereka geluti. Tapi nyatanya kehidupan mereka benar-benar layak meskipun tidak harus berbalut kemewahan.
Cantika memegang satu buah paper bag berwarna putih. Isinya adalah beberapa produk kesehatan sekaligus kecantikan dari perusahaan ternama yang menaungi bisnisnya. Tak lupa cekrak-cekrek dulu untuk pamer di sosmed, maksudnya untuk promo menggaet konsumen.
"Alhamdulillah, meskipun cuma duduk di rumah tapi bisa tetap dapet penghasilan dan bonus. Bumil jaman now juga bisa berbisnis santai tanpa harus keluar rumah. Join member MMM emang gak rugi. Sehatnya dapet, cuannya juga dapet!" Itulah ulasan yang dia post di beberapa akun media sosialnya.
Sedangkan Anas tengah sibuk melayani para pembeli. Masih saja kebanyakan emak-emak yang heboh. Meski ada beberapa yang kecentilan, tapi kini Cantika sudah tidak terlalu menanggapi. Kecuali jika sudah berlebihan, maka dia akan menyerangnya dengan tatapan atau kata-kata pedas.
Si kecil Afkar? Anak itu kini lebih senang tinggal di rumah Pak Permana. Sejak double honeymoon itu, si bocil memang jadi lebih dekat dengan kakek-neneknya. Apalagi si pria tua itu kini kerjanya hanya duduk-duduk di rumah karena perusahaan telah dihandle oleh Fabian. Iya, menantunya yang satu itu ternyata memiliki bakat terpendam dalam mengurus bisnis. Tak disangka jika pria bertatto itu adalah lulusan administrasi bisnis.
**
Malam ini Anas sudah beberapa kali bolak-balik ke kamar mandi. Perutnya mendadak sakit dan mulas yang amat melilit. Pria itu kini berbaring lemas di atas ranjang.
"Mas, kamu makan apa sih sampe sakit perut gitu?" Tanya Cantika yang duduk bersandar di kasur.
"Tadi pagi makan bubur ayam kebanyakan sambel. Apa mungkin penyebabnya itu?"
"Ehm, pantes. Minum obat dong, Mas. Jangan lupa minum air putih yang banyak!"
"Sudah. Astaga, aku mau ke kamar mandi lagi." Anas memegangi perutnya sambil berlari kecil.
Beberapa menit kemudian pria itu telah kembali lagi. Cantika memijat punggung suaminya.
"Mas, kita ke Dokter aja. Aku khawatir. Wajahmu pucat banget."
"Nggak usah. Sebenarnya ini hanya mulas saja, tapi nggak ada yang keluar. Aku lemes karena harus bolak-balik ke kamar mandi." Berbicara senormal mungkin meski perutnya melilit.
"Mas, kenapa aku juga ikutan mules gini? Perasaan aku gak makan yang pedas-pedas." Memegangi perut buncitnya.
"Nah, kalo kamu wajib ke Dokter. Aku takut ada apa-apa sama kamu dan bayi kita."
Anas memapah istrinya keluar dari kamar. Dengan hati-hati, bumil itu dinaikkan ke atas motor. Kendaraan itu melaju pelan sampai ke depan gang, tepi jalan raya. Di sanalah Anas menyetop sebuah angkot yang kebetulan lewat. Cantika dibawa ke dalam kendaraan umum yang belum berpenumpang itu.
"Pak, tolong bawa kami ke Rumah Sakit! Mungkin saja istri saya akan melahirkan." Ucap Anas panik.
"Baik, Pak." Si mang sopir ikut panik. Tapi dia tetap berusaha fokus membawa kendaraan roda empat itu. Tidak mau terjadi hal yang buruk pada si ibu hamil.
Cantika terus meringis memegangi perutnya. "Kenapa makin mules gini? Mas, punggungku juga panas."
"Sabar sayang, kita akan segera sampai." Anas mengusap punggung istrinya. Sebelah tangannya memegangi perut yang kembali mulas.
Kenapa aku harus sakit perut di saat Cantika seperti ini? Merepotkan sekali!
"Mas, aku mau ke kamar mandi. Mules banget, gak kuat....!" Mencengkram erat lengan suaminya.
"Sabar, sayang. Kita bentar lagi nyampe di Rumah Sakit!" Aku juga mau ke toilet....!
Plakkk...! Cantika memukul keras lengan Anas.
"Dari tadi bilang sabar, bentar lagi sampai. Tapi kenapa belum nyampe-nyampe juga?!" Teriak-teriak.
"Tenanglah, lebih baik simpan tenagamu buat nanti jika memang benar-benar akan melahirkan. Jangan lupa berdoa agar semuanya lancar!" Mengusap kepala istrinya.
Si bumil itu menepis tangan Anas yang bergerak-gerak di rambutnya. "Jangan pegang-pegang, gerah! Astaga, Ya Allah.... Perutku makin mulas. Mas, aku gak kuat lagi."
Cantika mengeratkan giginya untuk menahan sakit. Tangannya memegang pundak Anas dengan kuat. Mamang sopir ikut panik. Dari tadi matanya melirik-lirik ke spion untuk mencari tahu apa yang terjadi di belakang. Keringat dingin sebesar biji jagung, memenuhi kening lebar pria itu.
Cittt....! Mobil berhenti tepat di depan lobby Rumah Sakit. Anas segera turun untuk memanggil beberapa perawat yang tengah lalu-lalang. Tak lama kemudian, mereka kembali.
Cantika didudukkan di kursi roda menuju ruang persalinan. Anas masih berbicara pada sopir angkot.
"Mang, berapa ongkosnya?"
"Sekian, Pak."
"Ini, terima kasih banyak." Menyodorkan uang dari dalam dompet kemudian berlari menyusul istrinya.
Seorang perawat hendak menutup pintu ruang bersalin saat Anas ingin masuk. "Maaf, Pak. Lebih baik Anda tunggu di luar saja!"
"Tidak bisa, saya ingin menemani istri saya." Pintanya dengan wajah sembab.
__ADS_1
"Tapi kami tidak mau jika Anda malah mengganggu nanti."
"Tolong, ijinkan saya masuk!"
"Maaf, Pak. Anda tunggu saja sambil berdoa."
Pintu benar-benar tertutup. Anas mengusap wajahnya kasar. Baru kali ini dia menemani istrinya melahirkan, tapi malah dilarang. Tidak adil sekali!
Tiba-tiba perutnya kembali melilit dan mulas. Pria itu pun menyempatkan diri untuk pergi ke toilet.
**
"Mana suami saya, Dokter?" tanya Cantika yang berbaring di ranjang Rumah Sakit.
"Ada di luar."
"Tolong panggilkan, saya mau dia menyaksikan bayi ini lahir!"
"Tapi, apa nanti tidak akan mengganggu?"
"Saya mohon, Dokter. Lahiran pertama dia tidak bisa menemani. Masa untuk kali ini saya harus kembali melahirkan sendirian?"
Akhirnya Dokter wanita itu pun menyerah. Dia menyuruh perawat untuk memanggil Anas.
"Maaf, suami Anda tidak ada." Ucap Suster.
"Apa? Kemana sih Mas Anas? Dokter, pokoknya saya gak mau mengejan jika suami saya belum ada di ruangan ini."
Dokter dan Suster saling tatap. Merepotkan sekali!
Walaupun begitu, tetap saja suster kembali menemui suami pasien. Untung saja Anas ada di sana.
"Kemana saja Bapak tadi? Istri Bapak ingin ditemani."
"Saya habis dari toilet."
"Ya sudah, cepat. Istri Anda akan segera melahirkan."
Coba kalo dari tadi aku diijinkan masuk, pasti tidak akan seriweuh ini!
"Kamu siap, sayang? Jangan lupa berdoa!"
Cantika mengangguk pelan, matanya sudah berkaca-kaca. Anas mengecup keningnya sebentar.
"Ayo, Bu sekarang tarik napas yang panjang. Konsentrasi dan semangat!"
"Bismillahirrahmanirrahim, ehmmm......!"
Dalam dua kali mengejan, bayi itu pun lahir. Bayi mungil berjenis kelamin laki-laki dan berambut hitam lebat itu, kini menangis menyapa dunia.
Suster segera membersihkan bayi merah itu lalu memberikannya pada sang ibu. Cantika dan Anas tak kuasa menahan air mata yang dari tadi sudah membendung. Tangis haru dan syukur atas datangnya buah hati kedua mereka.
Anas beberapa kali mengusap dan mengecup kepala istrinya. "Terima kasih banyak, sayang."
Cantika tersenyum lebar meski air mata itu belum berhenti membasahi pipinya. Dia bahagia karena kali ini suaminya ada di sisinya.
Anas dengan hati-hati menggendong bayinya. Mengumandangkan adzan dan iqamah pada kedua telinga anak itu. Suaranya terdengar parau dan tersendat karena menahan haru. Si kecil dibelai dan dikecup ayahnya lalu dikembalikan pada ibunya.
Sementara Cantika memberikan ASI pertama pada bayinya, Anas merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Dia baru ingat untuk memberi tahu semua anggota keluarga.
**
"Papih, Cantika sudah melahirkan. Alhamdulillah anak kedua kami lahir normal dan sehat." Suara Anas melalui sambungan telepon.
"Kapan?" Pak Permana balik bertanya.
"Baru 15 menit yang lalu."
"Apa? Kenapa kamu baru memberi tahu?"
"Maaf, Pih. Saya terlalu panik jadi lupa."
"Kalian ada di Rumah Sakit mana?"
"Rumah Sakit Kasih Ibu."
__ADS_1
"Baiklah, kami akan segera ke sana."
Panggilan terputus. Pak Permana segera memanggil Bu Sofi untuk mengajaknya ke Rumah Sakit tersebut.
**
Sebulan kemudian.
Hari ini di rumah Anas diadakan aqiqah untuk anak keduanya. Acara itu diisi dengan penyembelihan dua ekor kambing yang akan dibagikan pada warga yang membutuhkan. Selain itu, ada pembagian sedekah dan acara pencukuran rambut bayi. Acara itupun dilengkapi dengan pengajian oleh jamaah masjid, mereka menyebutnya Marhabaan.
Usai acara semuanya berkumpul di ruang tengah. Makan bersama seperti biasanya. Setelah itu ngobrol-ngobrol santai.
"Kak Cantika sudah punya dua jagoan. Berarti nanti harus berusaha lagi untuk membuat anak perempuan." Celetuk Riri yang diselingi tawa kecil penghuni rumah.
"Mau anak laki, mau perempuan sama aja. Buatku yang penting sehat, normal dan semoga saja jadi anak-anak yang shaleh." Ucap Cantika yang saat itu asik ngemil.
Sedangkan suaminya berada di kamar bersama si sulung untuk menjaga Dede bayi bernama Adam Malik.
"Aamiin. Kamu kapan mau kasih kami cucu?" Bu Sofi mengarahkan tatapannya pada Riri.
"Ini juga lagi usahain kok, ya kan Mas?!"
Fabian hanya nyengir malu. Sementara Pak Permana tertawa kecil.
Tak lama berselang, Riri berlari kecil menuju toilet. Fabian segera menyusul karena khawatir.
"Uuoo..... uo....."
Semuanya saling tatap bergantian tatkala mendengar suara dari dalam kamar mandi. Ada senyum lebar pada bibir ketiganya.
"Kayaknya Mama sama Papi akan punya cucu lagi dari Riri." Cantika terlihat begitu antusias.
Sama dengan pasangan suami-istri itu. Semoga saja prediksi mereka tepat.
**
Beberapa bulan berikutnya.
Malam ini Cantika dan Anas saling berpelukan di atas tempat tidur. Suasana sudah aman karena Afkar dan Adam sudah bermain di alam mimpi. Mata bertemu mata, tangan bertemu tangan.
"Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin aku menikahi gadis jutek. Tapi sekarang gadis itu malah memberikanku dua orang putra yang tampan. Makasih banyak, sayang."
"Gak nyangka kalo kita berjodoh. Aku beruntung bisa jadi istrimu. Aku sangat bahagia, Mas. I love you so...... much!"
"Hem, aku juga sangat mencintai kamu. Cantika Aprilia, satu-satunya ratu yang ada di hatiku."
"Om bewok juga satu-satunya yang ada di hatiku." Cantika tersenyum nakal sambil mengusap bulu-bulu di pipi suaminya.
"Istri nakal!"
Kening bertemu kening. Debaran jantung dan hembusan napas masing-masing dapat terdengar jelas. Meski bukan lagi pengantin baru, tapi perasaan mereka makin menggebu. Kini saatnya bibir bertemu bibir. Saling mengecap dan bergoyang. Sesekali ada gig*tan nakal yang membuat seluruh tubuh merinding disko.
Tangan kedua orang itu masih aktif berselancar ke area manapun sesuka hati. Saat suasana makin gerah, maka terlepaslah seluruh kain penutup itu. Jatuh berserakan di atas lantai.
Ranjang pun makin memanas saat keinginan itu hampir menaiki puncaknya. Bersama-sama mereka terbang menggapai surga dunia yang tidak pernah membosankan itu.
"Aku mencintaimu, istriku." Bisik pria itu sambil mengecup kening Canfika, usai pergelutan asik barusan.
"Aku juga mencintaimu, Mas Bewok."
Keduanya pun terlelap dengan saling berpelukan. Malam yang indah yang pastinya akan terulang selama mereka masih bernyawa, hingga akhirnya membentuk nyawa yang baru suatu saat nanti.
Note:
Saya nyatakan bahwa novel ini benar-benar tamat. Ambil hikmah dari cerita yang belum famous ini. Mohon maaf jika cerita ini belum sampai pada ekspektasi kalian.
Terima kasih banyak atas doa dan dukungan kalian selama ini. Jangan lupa kasih like, vote, gift dan rate juga komentar kalian. Nggak apa-apa meskipun di detik-detik terakhir.
Mohon maaf apabila ada kesalahan yang membuat kalian tidak nyaman.
Untuk sementara belum ada karya baru yang akan saya terbitkan di Noveltoon Mangatoon. Semoga kita bisa bersua lagi di lain kesempatan.
Terima kasih banyak berkali-kali ribu lagi karena kalian sudi mampir di novelku. Penulis tanpa pembaca adalah kosong, hampa.
I love you so much 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.