TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Aku mencintaimu.


__ADS_3

Cantika mengerjapkan mata dengan perlahan. Ia memegangi kepalanya yang seolah masih terasa sakit. Anas yang memang sedari tadi duduk menunggu di tepi ranjang, kini tersenyum lega menatapnya.


"Alhamdulilah...kamu akhirnya sadar."


"Dimana ini, apa di surga ? Kenapa ada malaikat yang tampan ?" bergerak ingin bangkit namun suaminya melarang.


"Jangan dulu bangun, istirahat saja !" membaringkan tubuh perempuan itu.


"Apa kamu malaikat ? Tampan sekali....Aku baru tahu kalo ada malaikat yang bewokan" nyengir.


"Kamu masih hidup, ini bukan di surga dan aku bukan malaikat. Ada-ada saja." Tertawa kecil. "Tunggu sebentar, aku ambilkan dulu sarapan untukmu." Pria itu pergi dalam waktu singkat. Kembali lagi dengan membawa sepiring makanan dan duduk di tempat tadi.


"Makanya nanti kalo pagi-pagi itu kamu harus sarapan, bukan marah-marah seperti tadi. Jadinya kan pingsan." Ucap Anas sambil membantu istrinya duduk.


"Lain kali jangan terlalu murah senyum apalagi pada cewek-cewek ganjen itu. Terutama sama si Mira, jangan terlalu akrab nanti dia suka lagi sama kamu." Manyun.


"Sudah aku bilang jika kami hanya berteman. Lagipula aku tidak tertarik pada semua perempuan di dunia ini."


"Kalau aku, gimana ? Kamu tertarik gak sama model cewek kayak aku ?"


Anas tersenyum, "Kamu itu istriku, jangan lagi ditanya ! Sekarang buka mulut dan jangan lagi membahas ini !" Bersiap menyuapi.


Tapi maksudnya apa ? Tertarik gak sama gue ?


"Aaa....cepat makan !" pinta Anas.


Dengan semangat, Cantika membuka mulutnya. Asikkk disuapin ! Enaknya dimanja sama suami....


Terdengar suara dari luar rumah. Seorang pria mengucap salam, "Assalamualaikum....Mas Anas, nasi kuningnya masih ada ?"


"Waalaikumussalam, sebentar....!" Agak berteriak. "Cantika, aku ke depan sebentar. Nanti aku kembali lagi untuk menyuapimu."

__ADS_1


Cantika manggut-manggut, dia dengan ikhlas mengijinkan suaminya pergi karena pembeli yang datang adalah seorang laki-laki. Tidak perlu ada yang dicemaskan.


Dalam waktu yang tak lama, Anas kembali lagi dan menyelesaikan tugasnya untuk menyuapi. Setelah habis setengah piring, Cantika menolak untuk makan lagi.


"Udah ah, aku kenyang. Lain kali jangan terlalu banyak jika memberiku makan."


"Tidak apa-apa, aku akan menghabiskannya." Anas memang sengaja mengambil nasi yang banyak agar dia bisa melahap makanan sisa istrinya. Maksudnya sih ingin makan sepiring berdua.


"Apa kamu gak jijik makan makanan sisa ?"


"Tentu tidak, bekas makan perempuan cantik pasti rasanya enak." Memasukkan nasi ke mulut.


Cantika mesem-mesem sendiri. Wajahnya memerah jika memikirkan bahwa mereka sudah berbagi sendok yang sama. Itu berarti secara tidak langsung, bibir mereka menempel pada alat yang sama dalam waktu berbeda. Bisakah dibilang jika itu adalah ci*m*n yang memakai perantara ? Cantika geli memikirkannya.


***


Jam setengah sepuluh pagi, Cantika menghampiri suaminya yang duduk di teras rumah. "Mas, kamu liat baju-baju kotorku yang ada di keranjang cucian gak ?"


"Ada di belakang, tapi masih basah."


"Ya, tadi shubuh sebelum masak, aku mencuci pakaian."


"Apa ? Padahal gak usah, aku mau mencucinya sendiri kok. Lain kali jangan repot-repot begitu !" Ahhhh, malu-maluin banget ! Nih suami baiknya kebangetan. Terlalu berlebihan....


"Tidak masalah, itu adalah salah satu tugasku. Aku ikhlas melakukannya." Menjawab dengan santai, padahal saat praktek mencuci dalaman milik Cantika, badannya menggigil.


"Tapi....lain kali biarin aku yang nyuci sendiri."


Cantika buru-buru pergi ke belakang rumah. Dia memeriksa jemuran dengan mata terbelalak dan mulut yang menganga. Semua pakaian luar dan dalamnya telah tergantung di sana. Bisa-bisanya Anas bersedia mencuci semua itu. Untung saja underwear miliknya telah dia bersihkan dari bercak merah, sebelum disimpan ke dalam keranjang cucian. Tapi tetap saja itu memalukan.


Ihhhh, apa dia gak jijik ? Malu banget....

__ADS_1


Perempuan itu kembali menghampiri suaminya. Aduhhh, gimana ini ? Bahas jangan ? Malu tapi gue gak enak hati udah nyusahin dia mulu.


Perlahan dia ikut duduk di samping Anas. "Eehmmmm, maaf karena selama aku tinggal di rumah ini, selalu bikin kamu susah. Lain kali biar aku yang beres-beres rumah dan cuci baju atau piring. Tapi untuk urusan masak, nanti aku coba belajar dulu deh." Ucapnya sambil menunduk.


Anas menoleh, "Jangan dipikirkan ! Kamu tahu tidak ? Sebenarnya semua pekerjaan rumah itu pada dasarnya adalah tugas suami."


Cantika menatapnya serius, "Begitu ya, baru tahu...Tapi kasihan para suami kalo harus sibuk cari uang sekaligus ngurusin kerjaan rumah, pasti cape banget. Aku mau bantuin beres-beres biar kamu bisa istirahat."


Anas tersenyum manis, "Terima kasih banyak, istriku yang baik...."


Kemesraan mereka harus terpotong oleh datangnya pembeli. Anas beranjak dari duduknya untuk melayani salah satu pelanggannya tersebut. Dan Cantika, dia sedang monyong karena pembeli itu adalah seorang perempuan muda.


***


Malam ini Cantika meminta kembali ditemani tidur, dibelai-belai rambutnya hingga terlelap. Anas perlahan menyimpan tangannya di pinggang Cantika. Dia begitu ingin memeluk istrinya itu. Dengan lembut, Anas mengec*p puncak kepala Cantika. Membiarkan dadanya yang berdebar hebat, menempel pada punggung perempuan itu.


Ada perasaan ingin selalu melindungi dan membuat istrinya bahagia. Mungkin memang benar jika hatinya sudah dimiliki oleh si cantik itu.


Anas terkesiap saat Cantika berbalik menghadapnya. Memeluk dan menempelkan wajah mereka hingga kedua bibir itu nyaris tabrakan. Tapi Cantika melakukan itu tanpa sadar, dia sudah ada di alam mimpi.


Pria itu menyibakkan rambut yang menutupi wajah istrinya. Membelai semua pahatan indah ciptaan Sang Pencipta. Sungguh saat ini seluruh tubuhnya bergetar hebat seiring detak jantungnya yang memacu begitu kencang.


"Sesuai namamu, kamu memang cantik." Bisiknya begitu pelan. Jika saja istrinya sedang terjaga, maka pasti dia tidak akan seberani itu.


"Aku....mencintaimu, istriku." Mengec*p kening milik Cantika begitu lama.


Beberapa saat kemudian, Anas meringis kesakitan karena bagian perutnya ditendang oleh istrinya yang masih tertidur. "Astaghfirullah....Cantika kumat lagi. Untung bukan inti-ku yang diserang." Memegang perutnya.


Serangan dadakan itu belum berhenti sampai di situ. Cantika kembali mendorongnya hingga terjatuh ke atas lantai. "Pergi lo...gue benci cowok playboy !" teriaknya masih dalam keadaan tak sadar.


Anas geleng-geleng kepala. "Cantika benar-benar lebih galak saat mengigau seperti itu. Harusnya aku rekam biar dia tahu bagaimana kelakuannya saat tidur." Pria itu tersenyum jahil lalu mengambil handphone dari atas lemari. Dia merekam video istrinya yang begitu lincah menendang guling dan juga melemparkan bantal saat tidur.

__ADS_1


Anas tertawa terbahak-bahak, baginya kelakuan Cantika yang pecicilan adalah suatu hiburan gratis. "Cantika pasti shock melihat ini." Setelah itu, dia menyimpan kembali ponselnya di tempat semula.


Dia setengah berlari ketika melihat istrinya hampir terjun ke atas lantai dengan posisi kepala di bawah. Dengan sigap, Anas membaringkan tubuh Cantika ke posisi aman. Dia ikut berbaring dan memeluk lagi tubuh istrinya. Keduanya terlelap dengan saling berpelukan.


__ADS_2