
Warning!!! Chapter ini mengandung banyak 🔥 🔥 🔥 Buat yang belum cukup umur harap minggir dulu!
Siang itu Riri sengaja menemui Peter di rumahnya tanpa memberi tahu pria itu terlebih dahulu. Dia tersenyum ceria tatkala menapaki anak tangga menuju kamar tunangannya. Riri memang sudah beberapa kali diajak ke ruangan itu, hingga membuatnya tidak canggung lagi.
Wajahnya merah merona saat beberapa langkah lagi sampai di tempat tujuan. Bayangan erotis itu begitu jelas mampir di kepalanya. Dia memang melakukan itu bersama tunangannya setiap datang ke rumah ini. Keadaan rumah yang terlalu besar dan sepi membuat mereka begitu leluasa berbuat seenaknya.
"Kak Peter pasti seneng dengan kedatanganku."Â
Riri menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar. Tadinya ingin mengetuknya tapi karena sedikit terbuka, dia langsung masuk ke sana.
"Kak Peter….!" Teriaknya pelan sambil menyisir semua ruangan dengan bola matanya.Â
Pria itu tak ada di sana. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, mungkin dia ada di sana. "Kak Peter pasti lagi mandi." Ucapnya sambil tersipu-sipu.
Tak lama berselang, terdengar lagi suara dari dalam kamar mandi. Namun kali ini bukan hanya suara air, tapi juga suara aneh yang berasal dari seorang pria dan wanita.
Deg! Hati Riri sudah tidak enak. Banyak pikiran negatif berseliweran di kepalanya. Meski berusaha menepis semua itu, tetap saja dia penasaran. Otaknya memerintah untuk lebih mendekat ke kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka. Tanpa ijin, dia masuk ke dalam sana dengan langkah yang begitu pelan.
Apa ini?
Tubuhnya membuntang saat menyaksikan adegan panas yang diperankan tunangannya bersama seorang wanita asing, yang entah kenapa bisa ada di sana.
Peter terlihat tengah men c*m bu wanita itu dalam guyuran air shower dengan posisi sama-sama berdiri. Suara er*ng*n dan de s*h*n itu kian nyaring terdengar di telinga Riri, hingga membuatnya meloloskan air mata.
Saat tak mampu lagi menyaksikan peristiwa menjijikan itu, Riri akhirnya memilih pergi. Di saat tak sengaja pintu dibanting keras, Peter dan teman wanitanya menghentikan aktivitas mereka.
"Tunggu di sini!" Ucap pria itu sambil mengambil handuk dan segera memakainya.
"Jangan lama-lama!" Teriak perempuan itu dengan agak kecewa. Bahkan wajahnya kini terlihat masam.
Peter setengah berlari mengejar gadis yang baru saja pergi. "Riri, tunggu!"
Dia menarik paksa tangan Riri agar mau berhenti melangkah. "Ri, apa kamu barusan…"
"Ya, aku lihat jelas semuanya dengan mata kepalaku sendiri. Aku gak nyangka Kak Peter akan mengkhianatiku." Teriaknya sambil berurai air mata.
"Riri, aku gak tahu kalo kamu bakalan ke rumah." Mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau kita putus. Mulai detik ini aku bukan tunanganmu lagi!"
Peter terbelalak namun sejurus kemudian dia malah terbahak-bahak. "Putus? Kamu kira aku takut? Ok, fine. Kita putus dan mulai saat ini kita bukan siapa-siapa lagi."
Riri menatapnya lebih jijik. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh kakak tirinya. Pria bernama Peter memang seorang playboy. "Aku nyesel udah mau deket sama kamu, aku benci kamu!" Dia pun pergi dengan hati yang luluh lantak.
Peter malah tertawa lebih kencang. "Gue gak peduli, dasar cewek cengeng." Dia begitu senang karena akhirnya bisa lepas dari gadis itu. Tidak usah lagi cape karena pura-pura bersikap manis.
Pria itu kembali ke dalam kamar. Kali ini dia mengunci pintunya agar dapat leluasa bermain-main dengan wanita yang dia bawa. "Ok, aman. Sekarang gak bakal ada lagi gangguan."
Dia tersenyum saat wanitanya menghampiri. Matanya tak dapat berpaling dari tub*h molek yang hanya dibalut handuk itu.
"Sayang, siapa tadi?" tanya perempuan itu sambil memegang pundak Peter.
"Gak penting, gak usah dibahas." Jawabnya sambil memindai wajah yang masih basah itu. Hemmm, beautifull and very hot!
"Hem, ini semua salahmu. Harusnya tadi kunci dulu pintunya biar gak ada yang masuk." Jemari tangannya bermain di area wajah.
"Tapi sekarang udah aman, kita bisa lanjut lagi." Usai bicara, dia menyisir bibir pink itu dengan rakus.
Pelukannya makin erat seiring permainan bibirnya yang makin brutal. Di saat semua sudah tak lagi bisa dibendung, mereka pindah ke atas sofa.
Di sanalah, kembali terjadi pergelutan panas antara dua orang yang bukan haknya. Suara desa h*n dan era Ngan kembali menggema ke seluruh ruangan.
"Sayang…" Gadis itu bahkan menjerit saat menuju puncak.Â
Dan setelah semua kebutuhan biologis mereka tersampaikan, keduanya pun tumbang. Setengah jam kemudian, Peter bangkit untuk membersihkan diri. Sedangkan perempuan itu masih terlelap.
***
Peter baru saja berganti pakaian ketika ponselnya berbunyi. Dengan santai, dia menerima panggilan masuk tersebut.
"Hem, ada apa?"
"Bisa ketemu sekarang? Gue pengen ngomong sama Lo." Ucap seseorang di sebrang sana.
"Ok, dimana tempatnya?"
__ADS_1
"Ntar gue share lokasinya."
"Hem, gue berangkat sekarang."Â
Setelah menutup telpon dan merapikan penampilannya, dia pun pergi tanpa mempedulikan wanita yang masih tergeletak di atas sofa kamarnya.
***
Peter kini tengah duduk berhadapan dengan seorang gadis di sebuah restoran. Setelah menyeruput sedikit minumannya, dia pun berbicara.
"Eca, Lo mau ngomong apa?"
"Peter, yang kemarin malem…keenam begal itu apa orang suruhan Lo?"
Pria itu tergelak penuh kebanggaan. "Ya, mereka semua anak buah gue."
Eca mencebik kesal, "Lo mau bikin gue mati beneran? Kenapa gak bilang dulu? Gue pikir rencananya kayak yang udah kita omongin waktu itu. Gue pura-pura mogok, maksudnya mobil gue seolah mogok gitu. Nah terus Lo dateng sebagai pahlawan."
"Itu kurang asik. Lagian kalo kayak semalem, aura kepahlawanan gue jauh lebih mencolok. Meskipun tangan gue jadi luka, itu gak masalah yang penting Cantika melihat sisi baik gue."
"Lo beneran cinta sama Ika, kan?! Lo bakalan bikin dia bahagia?! Gue gak mau usaha ini sia-sia karena Lo masih belum berubah. Gue gak mau Cantika terluka lagi."
"Terus, ngapain gue cape-cape ngelakuin ini semua kalo bukan karena cinta? Apa Lo tahu, gue juga udah putusin Riri biar bisa balik lagi sama Cantika."
"Tapi Ika masih terikat sama suaminya."
"Cowok itu cuma suami statusnya doang. Faktanya yaitu guelah yang ada di hati Cantika. Buktinya dia cemas banget saat ngeliat luka di tangan gue."
Eca manggut-manggut. Gadis itu sama bodohnya dengan Peter. Mereka sama sekali tidak menyadari jika Cantika sudah tidak lagi mencintai si playboy.
"Terus apa rencana Lo biar bisa balik lagi sama Ika?"
"Rahasia. Ntar kalo gue butuh bantuan lagi, Lo orang pertama yang gue konfirmasi."
"Ok, gue siap bantu agar kalian kembali lagi bersama. Dua orang yang saling mencintai memang tidak boleh berpisah."
Eca adalah tipe teman yang ingin membantu tapi malah jadi salah kaprah karena sikap so tahu yang dia miliki.
***
 Malam ini Cantika menghampiri suaminya yang masih saja duduk di kursi ruang tengah. Dia ikut duduk di sebelahnya.
"Mungkin." Jawab pria itu tanpa menoleh.
"Kamu masih ngambek? Katanya udah maafin aku, tapi masih aja cuek gitu."
Anas menghembuskan nafasnya kasar. "Aku memang sudah memaafkanmu, tapi aku masih ingin sendiri dulu." Tidak bisa dipungkiri jika hatinya masih memendam kekesalan.
"Sampai kapan, apa kamu sengaja mau hukum aku?"
"Tergantung mood. Sebaiknya kamu tidur duluan, aku masih mau di sini."
Cantika sebenarnya kecewa dan kesal, tapi karena semua ini terjadi karena kesalahannya, maka mau tidak mau dia harus menerima keputusan suaminya.
"Ya udah, pintunya gak dikunci. Kalo mau masuk, masuk aja! Selamat malam, sayang." Ucapnya sambil bangkit lalu meng*c*p pipi Anas. Karena pria itu masih saja acuh, maka Cantika menc**m bagian wajahnya yang lain, di kening dan paling lama di bagian bawah hidung.Â
Mata mereka saling bersirobok. Dan jantung itu bertalu-talu hebat. Cantika berbisik di telinga suaminya.
"Aku ke kamar sekarang. Ingat, kalo mau tidur bareng, masuk aja. Aku gak akan kunci pintunya." Dia pun melangkah sambil tersenyum.
"Kenapa dia malah terkesan menggodaku?" gumam Anas.
Ga*r*h pria itu memang sedikit bangkit namun bayangan istrinya ketika bersama Peter dengan memakai baju terbuka, membuatnya kembali kesal.Â
**
Cantika terus menunggu di kamar. Namun suaminya itu tak kunjung menghampiri. Dia sudah bergulingan kesana-kemari karena gusar. Tidak, dia gusar bukan karena ingin begituan. Cantika hanya merindukan pelukan suaminya sebelum tidur.Â
Waktu terus bergulir. Saat ini sudah tengah malam, tak ada tanda-tanda suaminya akan tidur di dalam kamar menemani dirinya. Terlalu lama menunggu, wanita itu pun akhirnya kesal juga.Â
"Ishhhh, tuh laki emang aneh. Udah digoda juga tetep aja so jual mahal." Dia bangkit lalu duduk di tepi ranjang. "Tapi itu gara-gara Mas Anas masih ngambek. Ahhhh, ini hukuman yang berat. Gue gak mau dia jadi jutek kayak gitu." Kini dia merengek sambil menginjak-injak lantai dengan keras.
Ceklek! Pintu terbuka. Anas menatap istrinya dengan heran. "Ada apa? Suaramu berisik sekali, kenapa belum tidur?"
"Ahhhh, gak apa-apa kok. Tadi ada nyamuk." Wanita itu nyengir untuk menutupi rasa malu.
__ADS_1
"Sekarang tidur, ini sudah tengah malam!"
"Iya…" Dia segera berbaring dengan posisi miring menghadap tembok.
Sedangkan Anas kembali lagi ke ruang tengah setelah membawa karpet dan peralatan tidur lainnya.
"Ihhh, masih aja jutek. Aku kangen senyum kamu, Mas…" Cantika merengek lagi tapi dengan suara yang pelan.
**
Esoknya sikap Anas belum juga melunak. Meski dia tetap perhatian pada istrinya, tapi senyumnya belum juga muncul.
Saat ini dia tengah sibuk melayani pembeli. Sedangkan Cantika berada di belakang rumah untuk menjemur pakaian.
"Sampai kapan sih Mas Anas ngambeknya? Udah kangen senyumnya…." Merengek sendiri sambil menggantungkan pakaian ke jemuran.
"Cantika, ini semua karena kesalahan Lo. Dia pasti masih marahlah. Coba aja Lo bayangin kalo jadi Mas Anas. Bukan cuma ngambek, pasti Lo juga bakalan ngamuk sambil mewek. Main labrak, main caci-maki. Atau semua barang Lo banting!"
Cantika terus berceloteh sendiri. Kedua sisi pikirannya saling beradu argumen.Â
"Ya juga, Mas Anas termasuk yang sabar sih. Haaaa, Mas. Jangan lama-lama ngambeknya….!"Â
**
Saat bumi kembali gelap.
Cantika sengaja tidak memakai pakaian tidur. Dia hanya menggunakan CD yang sangat transparan hingga menonjolkan semua bagian sensitif itu dengan jelas.
"Mas Anas pasti gak bakalan nolak. Kalo udah gitu kan, dia pasti gak bakal ngambek lagi." Dia tersenyum nakal.Â
"Ok, saatnya beraksi." Dia menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.
"Mas, tolong…!" Teriak-teriak untuk menarik perhatian suaminya.
Tak lama berselang, Anas pun muncul. Cantika langsung memeluknya erat.
"Ada apa?" tanya pria itu panik.
"Itu tadi ada kecoa di kasur kita, Mas." Wajahnya merangsek masuk ke dada Anas sedangkan sebelah tangannya menunjuk ke arah tempat tidur.
"Tunggu di sini, aku lihat dulu!"Â
Meski hanya perihal kecoa, tapi jika istrinya merasa terganggu maka dia akan bertindak. Anas menyisir semua area kasur tapi tak ada makhluk kecil itu.Â
"Mungkin sudah pergi kecoanya." Ucap Anas sambil masih mencari-cari.
Cantika mendekat, "Syukurlah kalo udah pergi, aku bisa tidur sekarang."
Anas melongo saat menoleh ke arah istrinya yang kini berbaring di tempat tidur. "Kenapa tidak pakai…ba…ju?"
Cantika kini telungkup mengarah ke suaminya hingga bulatan itu nongol dengan jelas. "Gerah, Mas. Ehmmm, kamu masih mau tidur di luar?" Suaranya dibuat mendayu membuat Anas makin kepanasan. Ayo....kamu pasti terpancing Mas.
"Aku…"
Cantika bangkit dan duduk menatap lekat pria itu. "Kenapa gugup gitu? Mas kan udah sering lihat aku lebih terbuka daripada ini."
Anas menghembuskan nafas dengan keras lewat mulut. Tangannya menyeka keringat dingin yang menetes di pelipisnya. Meski kesusahan menelan salivanya sendiri, dia mencoba untuk mengeluarkan suara. "Apa kamu mau menggodaku?"
Cantika tersenyum nakal sambil mengg*ray*ng seenaknya. "Emang gak boleh? Aku kangen kamu, Mas." Kali ini dia memeluk suaminya dengan erat.Â
Anas menggigil saat merasakan kehangatan itu.
"Kamu ini kayak yang baru pertama kali dis*ntuh."Â Lihat, Mas Anas makin gugup berarti misiku akan berhasil.
Cantika terkekeh lalu tak lama berselang, dia melanjutkan aksinya. Tangannya meraup wajah Anas. Tanpa basa-basi lagi, dia bermain di wajah yang masih tegang itu.
Makin lama Anas makin ikut hanyut dalam romansa indah malam itu. Sikap agresif istrinya menambah rasa itu makin bangkit.Â
"I love you so much." Bisik Cantika di telinga suaminya sambil merasakan nik mat saat bagian sensitif kembarnya dil*m*t pria itu.
Anas setengah berteriak saat menurunkan CD bagian bawah milik istrinya yang tercoreng noda merah.Â
"Ini….apa kamu sedang datang bulan?" Tanyanya sambil menyodorkan kain itu.
Cantika menautkan kedua alisnya seraya mengambil CD itu. Dia pun sama terkejutnya ketika mengetahui si tamu bulanan itu telah tiba.Â
__ADS_1
"Mas, tadi belum ada kok. Pasti ini baru muncul. Tahu gini, aku juga gak bakalan ngajakin kamu….begituan. Gawat, aku harus buru-buru pake pemb*lut!"
Anas menghembuskan nafasnya kasar. Dia harus menurunkan rasa yang sudah hampir memuncak itu. Malam ini adalah malam yang benar-benar menegangkan sekaligus mengecewakan.