
"Maaf, Mas. Aku bukannya mau PHP-in kamu. Aku gak tahu kalo tamu bulananku bakalan dateng." Ucap Cantika sambil bersandar di dada suaminya.
Anas membuang nafasnya kasar. Dia tetap berusaha tenang meski hatinya dongkol dan kepalanya mendadak sakit. Bagaimana pun juga ini bukanlah kesalahan siapapun. Meski Cantika sudah terbiasa kedatangan tamu setiap bulan, tapi istrinya itu tidak akan mungkin tahu persis kapan munculnya. Entah hari apa dan jam berapa M akan muncul, tidak ada seorang perempuan pun yang dapat mengetahuinya secara detail.
"Jangan minta maaf, kamu kan memang tidak tahu. Sekarang lebih baik kamu tidur saja, aku juga mau istirahat."
"Senyum dulu dong, aku kangen…" Pintanya dengan manja sambil mendongak.
Anas menuruti keinginan istrinya itu. "Ayo tidur!"
"Nah gitu dong, jangan cuek mulu! Aku gak suka lihat wajah judesmu." Cantika tersenyum lalu mengecup pipi suaminya. "Malam, sayang."
"Hem, stop. Jangan membangkitkan lagi sesuatu yang sudah ku redam dengan susah payah!" Ucap pria itu agak frustasi.
"Ya….jangan marah lagi! Kita tidur sekarang." Cantika memeluknya erat.
"Bisa lepaskan aku? Berdekatan seperti ini denganmu bikin g**rahku bangkit lagi." Tanya Anas dengan nada rendah.
Cantika mencebik sambil mengurai pelukannya. "Ishhhh, aku cuma meluk doang. Aku janji gak bakalan rayu-rayu!"
Anas menggelengkan kepalanya pelan. "Kita tidur dengan saling membelakangi. Itu adalah cara yang cukup aman untuk saat ini."
"Mas ini, sekalian aja tidur di luar gih! Sensitif banget sihh…"
"Ide yang bagus. Malam ini aku tidur lagi di luar."
Anas hendak bangkit namun dihalangi oleh istrinya.
"Aku kangen pengen tidur bareng, makanya aku tadi pancing kamu biar masuk ke dalam kamar. Please, tidur di sini aja ya…" Rengek wanita itu sambil memeluk.
"Cantika, kamu bikin aku kesusahan."
Cantika mendongak dengan wajah memelas. "Mas, aku pengen dipeluk sambil dielus-elus sampe tidur nyenyak."
Meskipun tidak mudah, tapi Anas mengabulkan permintaan istrinya itu setidaknya hingga Cantika terlelap. Setelah itu dia membawa bantal dan karpet ke ruang tengah. Tidur di sana tetap jadi pilihan terbaik agar rasa panas itu tidak kembali muncul.
Setelah beberapa jam berlalu, terdengar suara rengekan dari dalam kamar membuat Anas terbangun. Dia segera menghampiri istrinya meski dalam keadaan kantuk.
"Cantika, kamu jatuh?" Dia membantu perempuan itu untuk naik ke atas kasur.
"Heeh, sakit…! Mas kemana sih? Aku kan udah bilang kalo aku mau tidur bareng." Jawabnya dengan rengekan khas anak kecil.
"Maaf, aku tidur di ruang tengah biar otakku tidak…ngeres."
"Tapi kan aku jadi jatuh. Coba kalo Mas tidur di sini, ada yang nahan aku." Sikap kekanak-kanakannya muncul lagi.
Anas menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tak gatal. Kadang dia merasa tidak nyaman dengan sikap manja istrinya itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia terlanjur cinta berat pada Cantika.
"Baiklah, aku akan di sini menemanimu." Pria itu ikut berbaring.
"Awas kalo pergi lagi ninggalin aku!"
"Tidak akan, aku janji akan tidur di sini."
"Bagus itu. Maaaasss, usapin kepala sama pinggangku. Sakit…." Ucapnya sambil memeluk suaminya dengan erat.
Anas tentu saja menuruti kemauan Cantika. "Cepat tidur, istriku yang manja! Kamu memang senang membuatku susah. Apa kamu tahu, saat ini otakku mulai kotor. Ini gara-gara kamu." Pria itu menghembuskan nafasnya kasar. "Sayang, sepertinya aku akan kesusahan tidur sekarang. Sayang, Cantika….emmm pantas saja diem-diem bae, kamu sudah tidur."
Anas perlahan melepas pelukannya. Dia tersenyum memperhatikan wajah tenang milik istrinya. "Kamu itu ada-ada saja. Aku baru tidur sebentar, kamu malah terjun ke lantai. Terpaksa, aku harus kembali ke kamar. Sayang, tidur yang nyenyak dan jangan nakal! Aku juga mau istirahat."
Anas membalikkan badannya membelakangi Cantika. Setelah cukup lama, matanya pun terpejam. Mungkin karena rasa kantuk dan lelah sudah semakin menggerogoti tubuhnya.
**
Sore hari ini Cantika berdiri di samping motor suaminya. Wanita itu terlihat gusar dan sendu. Hatinya begitu gelisah setelah mendengar kabar bahwa ayahnya tengah sakit.
Anas menghampirinya setelah mengunci pintu rumah.
"Kita berangkat sekarang." Ucapnya sambil memakai helm.
Cantika sama sekali tidak merespon. Pikirannya melayang pada sosok pria yang selama beberapa tahun ini selalu dia musuhi. Pria yang sebenarnya sangat dia kasihi. Tapi karena ego dan kesalahan pahaman, dia sering bersikap buruk pada laki-laki yang dia panggil Papi itu.
__ADS_1
Anas memakaikan benda yang sama pada kepala istrinya dengan hati-hati. Tangannya memegang kedua pundak wanita itu. "Doakan papi supaya cepat sembuh! Itulah salah satu cara untuk berbakti pada orang tua."
Perempuan itu menatapnya meski tak berucap.
"Cantika, ayo kita berangkat sekarang! Papi pasti merindukan kamu."
Anas menaiki kendaraan itu dan istrinya duduk di belakang. Motor pun melaju menuju Rumah Sakit tempat Pak Permana dirawat.
Sepanjang perjalanan, Cantika terus saja memikirkan ayahnya. Banyak pikiran buruk berseliweran di kepalanya. Bagaimana jika ayahnya sebentar lagi juga akan meninggalkannya?
"Tidak, Papi gak boleh pergi!" Cantika bergumam sendiri sambil berderai air mata. Meski mencoba menepis pikiran buruknya, tetap saja kesedihan itu tak mau sirna.
**
Cantika sedikit membuka pintu kamar yang ditempati ayahnya. Namun dia masih berdiri sambil memperhatikan sosok wanita yang sedang duduk menghadap Pak Permana. Wanita itu tengah mengusap kepala pria yang berbaring lemah di ranjang Rumah Sakit. Sesekali terdengar suara isak tangisnya.
"Mas, cepat sembuh. Aku tidak mau kehilangan suami lagi."
"Sofi, apa kamu takut aku pergi?" Tanya Pak Permana dengan suara yang lemah.
Bu Sofi mencium tangan suaminya. "Aku ingin Mas tetap bersamaku dan anak-anak kita."
"Jika aku pergi, aku titip Cantika. Dia memang sudah bersuami tapi tolong perhatikan dia. Jangan sampai merepotkan Anas terus."
"Itu dengan senang hati akan aku lakukan tapi kamu tidak perlu pergi, Mas." Wanita itu makin sesenggukan.
Deg! Hati Cantika teriris menyaksikan semua itu. Bukan hanya ikut terharu dengan ketulusan pasangan tersebut. Yang jauh lebih menyentuh hatinya adalah, sikap lembut yang ditunjukkan ibu sambungnya pada ayahnya. Baru kali ini dia merasa jika wanita itu benar-benar tulus.
"Ternyata Bu Sofi gak seburuk yang aku kira. Dia bener-bener tulus menyayangi Papi. Kalo gak ada dia, mungkin Papi sakitnya akan jauh lebih parah." Cantika berucap dalam benaknya.
Anas menepuk pundaknya. "Ayo masuk!"
Keduanya pun melangkah mendekati mereka. Bu Sofi bangkit dari duduknya. Cantika langsung memeluk ayahnya sambil tersedu.
"Papi….Papi harus sembuh!"
"Cantika, Papi cuma sakit lambung biasa kok. Kamu jangan terlalu cemas begitu!" Ucap Pak Permana sambil mengusap kepala putrinya.
"Aku takut, Pi…." Dia semakin mengeratkan pelukannya.
Cantika mengangguk cepat lalu melepas pelukannya. "Aku kangen banget sama Papi. Maafin aku karena selama ini udah egois dengan ngelarang Papi nikah lagi. Aku baru sadar jika Papi emang butuh pendamping hidup untuk berbagi cerita dan suka-duka. Dan keputusan Papi menikahi Mama Sofi adalah keputusan yang tepat. Dia begitu menyayangi Papi."
Pak Permana tersenyum bahagia mendengar perkataan tulus putrinya. Dan Bu Sofi kini menangis haru karena akhirnya dia mendapat pengakuan dari sang anak tiri.
Cantika memeluk wanita itu. "Mama, maafin aku karena selama ini sering kasar sama Mama dan Riri." Andai adik tirinya pun ada di sana, maka suasana akan lebih haru lagi.
"Terima kasih karena sudah mau menerima Mama dan Riri." Bu Sofi mencium kening anak sambungnya.
Cantika mengangguk, "Mama…!" Dia memeluk lagi wanita itu lebih erat. Rasa rindunya pada sosok ibu, seluruhnya dia tumpahkan pada Bu Sofi.
Anas tersenyum melihat kehangatan keluarga itu. Dia bersyukur karena istrinya bisa bersikap dewasa.
**
Selama beberapa hari dirawat di Rumah Sakit, hari ini Pak Permana diperbolehkan pulang. Pria itu sekarang tengah berbaring di kamarnya. Bukan karena kondisinya yang masih lemah, tapi karena memang masih harus beristirahat.
Wajah Pak Permana kini terlihat jauh lebih cerah dan bersemangat. Hal itu disebabkan oleh keadaan keluarganya yang kini menjadi hangat. Cantika beserta istri dan anak tirinya, terlihat begitu kompak dan tulus saat merawatnya. Tidak ada lagi kebahagiaan yang lebih besar daripada hal tersebut.
"Nas, terima kasih banyak karena sudah membuat putriku menjadi baik. Dia kini bisa menerima istriku dan juga Riri." Ucap Pak Permana pada menantu laki-lakinya yang duduk di tepi ranjang.
Anas tersenyum, "Semua ini bukan karena jasaku, Pi. Cantika sendirilah yang sudah begitu berbesar hati untuk menerima Bu Sofi dan Riri. Ini adalah berkat dari Yang MahaKuasa."
"Tapi kamu juga ikut andil dalam mengubahnya menjadi lebih baik. Saya memang tidak salah memilih menantu."
Saat itu datanglah ketiga perempuan beda usia, menghampiri mereka. Cantika membawa semangkuk bubur, Riri membawa segelas air herbal sedangkan Bu Sofi hanya membawa senyum manisnya.
Pak Permana begitu sumringah melihat ketiganya. Anas pun ikut tersenyum sambil bangkit dari duduknya.
"Papi, aku suapin ya?! Ini bubur buatanku lho… sebenernya dibantu mama dan Riri, hehe." Ucap Cantika dengan semangat.
"Pasti enak jika kalian yang membuatnya." Pak Permana membuka mulutnya lebar-lebar agar makanan itu dapat segera masuk ke perutnya.
__ADS_1
Bu Sofi tersenyum memperhatikan sambil memijat tangan suaminya.
**
Malam ini Cantika dan suaminya menginap di rumah Pak Permana. Keduanya sedang duduk di sofa kamar sambil menonton TV.
"Kangen juga sama kamarku ini. Papi benar-benar ngerawatnya. Selain keadaannya yang bersih dan rapi, barang-barangku juga gak ada sedikitpun yang dipindah. Masih tetap sama kayak terakhir aku ada di sini." Ucap Cantika sambil bergelayut manja.
"Kamarmu besar sekali, luasnya hampir sama dengan rumahku. Pasti selama tinggal denganku di kampung, kamu merasa kurang nyaman."
"Awalnya sih iya. Rumahmu kelewat sempit, mau ke kamar mandi aja kudu lewat dapur dulu. Banyaklah adaptasi yang harus aku lakuin. Tapi yang bikin aku bahagia adalah, sikapmu yang selalu bikin aku nyaman dan merasa dihargai. Aku gak masalah tinggal dimana pun asalkan bisa terus sama kamu." Cantika menatap suaminya dalam-dalam.
"Aku juga bahagia karena kamu mau menerima semua kekuranganku." Tersenyum manis sambil mengusap kepala.
"Tapi sebenarnya yang paling bikin aku gak nyaman adalah, sikap para cewek itu yang suka deketin dan cari perhatian sama kamu. Apalagi tuh si Mira, dia ampe stress gegara cinta banget sama kamu." Kini ekspresi wajahnya jadi kecut.
"Tapi kan yang penting aku gak cinta sama dia. Lagipula Mira sekarang sudah tidak lagi tinggal di kampung. Dia dikirim ke Pesantren di luar kota oleh Pak Yoga."
"Iya, aku juga denger sih. Syukurlah kalo di..." Perkataannya terpotong karena mendengar suara ketukan pintu.
Cantika bangkit dari duduknya. "Mas, aku lihat dulu siapa yang dateng."
Anas mengangguk. Perempuan itu melangkah menuju pintu kamarnya. Setelah pintu terbuka, tampaklah sosok seorang gadis berdiri menatapnya.
"Riri, masuk!" Ucap Cantika pada adik tirinya.
"Kak, bisa kita bicara di kamarku?"
"Aku ngomong dulu sama Mas Anas, bentar. Yuk masuk dulu!"
"Tunggu di sini aja, aku gak enak sama suami Kakak."
Cantika berjalan lagi ke arah sofa. Setelah mengutarakan maksud kedatangan Riri, dia pun kembali lagi menemui gadis itu.
"Ayo, Mas Anas udah kasih ijin kok."
Keduanya pun pergi ke ruangan yang dimaksud tadi. Mereka duduk di tepi ranjang.
"Kak, maaf waktu itu aku marah karena kakak bilang Peter itu playboy. Ternyata Kakak emang bener, aku udah lihat buktinya dengan mata kepalaku sendiri." Ucap Riri sambil menunduk dengan wajah sendu. Dia pun menceritakan semuanya pada Cantika, kecuali hubungan intimnya dengan pria itu.
"Syukurlah kalo kamu udah tahu. Aku seneng karena kamu gak jadi nikah sama cowok brengsek kayak dia. Kamu itu baik, harus dapet juga calon suami yang baik."
"Tapi aku belum bisa lupain dia." Kini gadis itu menangis.
Cantika memeluknya erat. "Yang pertama kamu harus ikhlas dengan semua ini. Dan yang kedua, cobalah untuk cari kegiatan yang kamu sukai. Kalo gitu kan pikiranmu dikit-dikit bisa lupa tuh sama si playboy itu."
Riri tersenyum menatap wajah kakak tirinya. "Makasih banget karena Kakak udah mau dengerin curhatan aku. Aku seneng karena sekarang hubungan kita bisa jadi baik."
"Aku juga seneng. Rasanya beban dalam dadaku hilang."
Dan setelah puas mengungkapkan isi hati masing-masing, Cantika pun kembali ke kamarnya.
**
Anas sudah berbaring di tempat tidur saat istrinya muncul. Wanita itu langsung memeluknya erat sambil menyembunyikan wajah di dadanya.
"Lama gak aku ninggalin kamu?" tanya Cantika.
"Lumayanlah, ada satu jam lebih."
"Maaf, Mas. Aku keasikan ngobrol sama Riri."
"Gak apa-apa. Itu malah bagus agar hubungan kalian makin akrab lagi."
"Tadi dia banyak curhat gitu sama aku. Dia sekarang udah tahu kalo Peter itu ternyata adalah playboy. Jadi sekarang mereka udah gak punya hubungan apapun lagi. Aku seneng karena akhirnya Riri tahu yang sebenarnya."
"Benarkah? Apa kamu senang mereka putus karena masih berharap kembali pada pria itu?"
Cantika mendongak, "Isssh, aku udah gak cinta sama dia. Aku cintanya cuma sama kamu. Aku seneng lihat Riri gak lagi sama dia karena Riri emang berhak dapet laki-laki yang lebih baik."
"Emmm, aku cuma masih merasa rendah aja jika dibandingkan dengan Peter."
__ADS_1
"Kamu kalo dibandingin sama dia, jelas jauh banget. Kamu itu yang terbaik. Aku cuma mau sama kamu, Mas."
Kedua pasang bola mata itu saling beradu. Mereka pun saling melempar senyuman dan berpelukan. Anas melihat kesungguhan dari tatapan mata Cantika, itu membuatnya merasa lega.