
Riri sore itu hendak pulang ke rumah. Saat di tengah jalan, mobil yang dia tumpangi tiba-tiba mogok. Sang sopir turun untuk mengecek. Setelah cukup lama, Riri memutuskan untuk ikut turun dan menghampiri Pak Mamat.
"Kenapa, pak ?" tanya Riri.
"Non, sepertinya mobil ini harus dibawa ke bengkel. Sebaiknya nona naik taxi saja, jika menunggu takut terlama lama. Nanti anda terlambat pulang."
"Kalo gitu aku cari taxi saja."
Belum lama Riri berdiri di bibir jalan, sebuah mobil berhenti di dekatnya. Kacanya terbuka, kepala seorang pria nongol dari sana.
"Kamu ngapain di sini ?" tanya sang pria.
Riri mencoba mengenali siapa yang baru saja mengajaknya bicara. "Kak Peter ? Aku lagi nunggu taxi."
"Masuk, aku anterin..." pintanya.
Riri mengangguk dan segera naik ke mobil berwarna hitam itu. Duduk di sebelah Peter.
"Kamu mau pulang ke rumah atau kemana ?" tanya Peter.
"Aku mau pulang, tapi mobilku mogok. Tadinya mau naik taxi tapi kakak keburu datang." Bicara sambil memasang sabuk pengaman.
"Ok, aku anterin kamu ke rumah." Peter melajukan mobilnya.
"Makasih, kakak udah mau anterin aku." Riri tersenyum saat menoleh pada pria di sebelahnya.
"Sama-sama....Kamu kan adiknya Cantika, jadi aku senang bisa berbuat baik pada calon adik ipar, hehe."
Riri mengernyit, "Kak Cantika kan udah nikah, emang kakak gak tahu ?"
Pria itu tersenyum kelu, "Tahu, tapi aku gak diundang ke pesta pernikahan mereka."
"Kak Peter masih mengharapkan kak Cantika ?"
"Emmm, mungkin udah saatnya aku lupain dia. Masih banyak perempuan yang baik dan cantik, contohnya kamu !"
Pipi Riri mendadak merah merona. Dia benar-benar tersanjung dengan perkataan Peter. "Kakak bisa aja bohongnya," menunduk malu.
"Aku serius. Aku suka tipe cewek kayak kamu ini. Kamu malah lebih manis dan ramah daripada Cantika. Emmm, udah punya pacar belum ?" menoleh.
"A...aku...belum punya pacar." Kenapa tiba-tiba jantungku bertalu-talu ?
Peter menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Bagus dong, aku punya kesempatan kalo gitu."
Riri tak dapat lagi berkata. Dia semakin gugup setelah Peter berkata seperti itu. Jujur, sebenarnya dia sedikit menaruh hati pada pria sipit berdarah Indonesia-Jepang itu. Namun dia sadar diri, saat itu Peter masih berhubungan dengan kakak tirinya. Tidak mungkin jika harus berharap cinta pada pria yang telah punya kekasih. Tapi kali ini situasinya berbeda. Cantika telah menikah, itu artinya dia punya kesempatan untuk mendapatkan Peter.
Sepanjang perjalanan, Riri tak berani menoleh pada pria tampan yang tengah fokus menyetir. Tubuhnya seolah membeku karena terlalu gugup.
"Ri, udah sampe depan gerbang. Kamu jadi pulang gak ?"
"Iya, kak makasih. Mau mampir dulu ?"
"Next time aja." Tersenyum.
"Kalo gitu aku masuk ya, kak. Hati-hati di jalan !" melepas sabuk pengaman.
Saat hendak turun dari mobil, tangan Riri dipegang oleh Peter. "Kapan-kapan kita jalan bareng, yuk !" ajak pria itu.
"Bo...boleh." Belum mau bersitatap.
"Ok, aku tunggu." Meng*c*p punggung tangan halus milik Riri.
Gadis itu berdesir, jantungnya makin berguncang. Dia segera menarik tangannya dan keluar dari mobil itu. Melangkah cepat ke dalam rumah. Dia tersenyum bahagia, mungkinkah ini pertanda jika pria yang dia suka juga mulai menyukainya ?
Peter pun saat ini tengah tersenyum sambil menggerakkan kendaraannya, meninggalkan tempat itu. Gadis yang polos ! Baru diperlakukan begitu, tangannya gemetaran.
***
__ADS_1
Usai sholat berjamaah, Cantika pergi ke teras rumah. Anas ikut duduk di sebelahnya, terhalang oleh sebuah meja kecil.
Ika mengusap-usap rambutnya sendiri untuk menghilangkan rasa gugup. Nih cowok ngapain ngikutin gue dan ikut duduk ? Bikin jantungan aja.
"Cantika, kamu sudah lapar ?"
Cantika melongo sambil melirik sebal, "Pertanyaan apa itu ?"
"Lhooo, kok pertanyaan apa ? Saya cuma ingin tahu, apakah kamu mau makan atau tidak. Kalau mau, saya akan memasak lagi."
"Gue gak laper. Gue bosen, mau jalan-jalan."
"Ikut saya, di sini pemandangannya bagus." Berdiri.
Cantika mendongak, "Kemana ?"
"Ikut saja, kamu pasti suka." Tersenyum manis.
Perempuan itu sedikit berdehem karena tenggorokannya mendadak seret. Wajah suaminya begitu tampan dengan senyum khas itu.
"Jangan cengar-cengir mulu, senyum lo jelek !" memalingkan muka.
Anas malah terkekeh, "Ayo, mau jalan-jalan tidak ?"
Cantika berdiri, "Bentar, gue ganti baju dulu." Melangkah pergi ke dalam kamar.
Anas kembali duduk selama menunggunya. Setelah setengah jam, barulah perempuan itu muncul.
"Gue udah siap."
Anas menatapnya heran, "Kamu mau kemana ?"
Cantika memakai gaun sebawah lutut dengan tangan panjang. Memakai tas kecil yang talinya diselipkan di bahu. Tak lupa kakinya beralasan sepatu berhak tinggi. Dan kacamata hitam yang semakin membuat penampilannya kian wahhhh.
"Lo bilang mau ajak gue jalan-jalan. Pikun ya ?"
"Ya, tapi kenapa penampilanmu seperti mau ke kondangan ? Kita cuma mau jalan-jalan di sekitar sini, tidak jauh kok."
"Ayo !"
Anas berdiri dan mengunci pintu rumah. Cantika melangkah dan menunggu di dekat motor butut suaminya yang terparkir di halaman rumah.
"Mana helmnya ?" tanya Ika.
"Kita jalan kaki, dekat kok tempatnya."
"Hah ?" melongo.
"Kan katanya mau jalan-jalan, bukan motor-motoran." Nyengir.
Cantika geleng-geleng kepala, "Serah lo dehhh...!" Daripada diem di rumah terus, lumayanlah gue bisa menghirup udara segar.
Keduanya jalan beriringan melewati beberapa rumah tetangga. Selama itu, Anas tak henti tersenyum dan mengangguk sopan saat berpapasan dengan warga kampung.
Cantika mendengus, "Lo gak cape dari tadi nyengir mulu ?"
"Tidak. Apa kamu tidak cape, jutek terus seperti itu ?"
"Apaan sih ?" memalingkan wajah.
Mereka terus berjalan selama sepuluh menit. Cantika mulai uring-uringan karena belum juga sampai di tempat yang dimaksud suaminya.
"Lo mau ngerjain gue ? Kenapa kita malah ke tempat sepi, mau ke hutan ?"
"Sabar, sebentar lagi sampai." Pasti dengan tersenyum.
"Awas ya bohong !" menunjuk wajah manis Anas dengan jarinya.
__ADS_1
Jangan ditanya lagi, pria itu pasti hanya mesem menghadapi kejutekan istrinya.
Beberapa menit kemudian....
"Lo mau bawa gue kemana sih ? Kaki gue udah pegel..."
"Mau saya gendong ?" menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Ogahhhh, modus lo !"
Anas kembali melangkah pelan sambil mesem-mesem. Dan Cantika memaksakan diri untuk terus berjalan mengikuti om bewok.
Akhirnya mereka sampai di sebuah danau kecil di dekat pemakaman umum. Duduk di bangku menghadap pemandangan indah itu.
Tempat tersebut memang masih begitu asri dan sepi. Surga tersembunyi di desa itu. Belum banyak yang mengetahui keberadaannya, kecuali para warga sekitar.
"Apa gak ada tempat yang lebih serem dari ini ?" celetuk Cantika.
"Pemandangannya sejuk dan indah, bukan ? Apalagi jika kita kemari di pagi hari. Membawa bekal dan makan di sini. Pasti seru." Pria itu tersenyum menatap air danau yang jernih.
"Seru darimana ? Lebih rame jalan-jalan di mall, nonton bioskop atau ke cafe."
"Di sini lebih menenangkan hati."
Cantika terdiam. Memang benar juga. Saat dirinya nongkrong bersama teman-temannya, hatinya tetap tidak tenang meski mungkin sering tertawa-tawa. Hatinya seolah hampa sejak ibunya tiada. Tak ada kebahagiaan dan ketenangan yang benar-benar dirasakannya.
Perempuan itu memperhatikan suasana sekitarnya. Banyak pohon besar dan rindang di sana. Warna hijau dari daun-daun begitu sejuk dipandang mata. Angin terasa halus membelai kulitnya. Matanya tertutup untuk merasakan sensasi ketenangan. Tenang, baru kali ini dia begitu rilex. Harus diakui jika tempat itu memang menyenangkan.
Anas menoleh pada istrinya yang tengah tersenyum sambil menutup mata. Rambut tergerai itu menari-nari karena terkena angin. Hidung mancung dan bibir merah perempuan itu, semakin menambah daya tariknya. Anas semakin terpesona pada keindahan istrinya itu.
Cantika membuka matanya lalu menghirup udara segar. Perasaan lega kini menghampirinya. Rasanya beban di hatinya sedikit berkurang.
"Ngapain liat-liat ?" menoleh pada pria yang kini memalingkan wajah.
Apa dari tadi, dia liatin gue ! Ahhhh, malu...
Cantika mengorek tasnya. "Mana kacamata gue ?"
"Itu, di atas kepala !" ucap Anas.
Upss, gue lupa !
Dia menurunkan kaca mata itu dari rambutnya, ditempelkan pada area wajah yang seharusnya. Jika sudah begitu, dia bisa leluasa melirik-lirik pria di sampingnya.
*Kayaknya emang seru kalo pagi-pagi dateng ke sini. Sambil liat danau yang cantik, sambil disuapi sama om bewok...romantis gak tuh, romantislah masa enggak !
Ehhhh, nih otak oleng lagi. Kenapa ya ? Musti diservis kayaknya*.
Sekitar satu jam mereka pun memutuskan untuk pulang karena hari menjelang petang.
"Kamu jalan di depan," pinta Anas. Dengan begitu dia bisa memantau istrinya. Cemas jika membiarkan Cantika berada di belakangnya.
Perlahan Cantika berjalan ke depan dengan terpincang-pincang. Kakinya masih sakit bekas tadi berjalan menuju ke danau.
"Tunggu !" Ucap Anas. Cantika menyetop langkahnya. Pria itu berjongkok.
"Mau ngapain lo ?" panik.
"Apa kakimu sakit ?" balik bertanya. Cantika tidak menjawab. Anas dengan perlahan memegang kaki mulus itu dan membuka sepatunya.
"Heyyy, mau apa ?" berusaha protes. Namun suaminya tak mengindahkan.
"Pantas saja jalanmu pincang, kakimu lecet." Dia kemudian memegang kaki Cantika yang satunya lagi lalu membuka sepatu high heels berwarna merah itu.
"Pakein lagi, gue gak mau nyeker !"
"Ini pegang saja ! Biar kamu ku gendong." Menyodorkan sepasang sepatu itu lalu menawarkan punggungnya untuk dinaiki Cantika.
__ADS_1
Awalnya perempuan itu menolak, tapi karena Anas terus memaksa, maka dia pun menurut. Meski kaku tapi lama-lama Cantika merasa nyaman berada di punggung suaminya. Dia bahkan menyenderkan kepalanya di sana.
Anas sedikit tersenyum ketika berjalan sambil menggendong istrinya. Hatinya bermekaran seiring debaran jantungnya yang memuncak.