
Anas tidak bisa tidur di malam pertamanya. Meski tidak sekasur dengan istrinya, tetap saja dia gusar. Ini adalah pengalaman pertamanya, berada di satu kamar dengan seorang wanita. Bagaimana pun juga, perasaannya saat ini sedang kacau. Miring ke kanan, miring ke kiri masih saja tidak nyaman. Kini dia terduduk dengan bersandar di sofa. Mengusap wajahnya perlahan.
Astaghfirullah....susah sekali untuk tidur.
Akhirnya dia melangkahkan kakinya. Sebelum sampai di kamar mandi, langkahnya terhenti. Perlahan dia mendekat kepada perempuan yang kini terlelap. Membenarkan posisi tidur istrinya yang aneh. Kepala Cantika nyaris terjun ke lantai jika saja Anas tak buru-buru menahannya.
"Tidurnya lincah sekali sampai-sampai hampir jatuh." Menyimpan guling di sisi kanan dan kiri perempuan itu. Menyelimuti seluruh tubuh Cantika sampai ke leher. Tanpa sadar, bibirnya tersungging ketika menatap wajah tenang milik istrinya. "Kamu terlihat lebih manis dan polos saat tidur. Siapa yang menyangka jika kamu adalah perempuan yang judes dan sedikit galak?" bicara pelan. Dan lagi-lagi dadanya berjingkrak-jingkrak riang. Perasaan apa ini sebenarnya?
Anas segera masuk ke kamar mandi ketika Cantika menggeliat. Takut jika wanita itu akan memergokinya. Beberapa menit kemudian, dia sudah keluar. Menatap kembali gadis itu saat melewatinya. Posisi masih aman! Tersenyum manis.
***
Usai melaksanakan ibadah malam, Anas membereskan peralatannya. Berjalan ke arah sofa untuk beristirahat. Baru saja duduk, dia kembali berdiri. Melangkah mendekati istrinya.
Anas geleng-geleng kepala melihat Cantika yang kembali di posisi hampir terjatuh. Perempuan itu sudah sangat mepet di bibir ranjang, sedikit....lagi pasti juntai. Dia membenarkan lagi posisi Cantika agar berada di tengah.
"Aku tidak mengerti, tidurmu ini bagaimana? Kenapa bisa hampir jatuh lagi?"
Anas menghembuskan nafasnya berat. Sepertinya dia harus berjaga di dekat ranjang. Dia mengambil satu bantal dan meletakkannya di atas lantai beralaskan karpet, di sisi tempat tidur. Merebahkan tubuhnya di sana.
Belum ada tanda-tanda dia akan terjun. Tunggu, bagaimana jika jatuhnya ke sisi lain?!
Anas berdiri dan segera membentengi tubuh istrinya dengan bantal dan guling. Mungkin itu akan sedikit membantu. Setelah itu, dia kembali telentang di tempat semula.
Makin lama matanya makin berat dan perih. Kantuk mulai menjalar. Perlahan kedua bola yang hidup itu menutup. Sudah saatnya dia istirahat.
Cantika menendang selimut dan guling yang ada di dekatnya. Bergulingan hingga berada di sisi tempat tidur. Tanpa sadar, perlahan-lahan tubuhnya bergeser dan jatuh menimpa orang yang ada di bawah.
"Awwww!" pekik Anas karena sesuatu yang berat telah menghantam perut dan dadanya. Matanya kembali terbuka. Sejurus kemudian, dia terbelalak karena ternyata Cantika sudah ada di at*snya. Seketika itu jantungnya mengubrak-abrik dada.
Perempuan itu mengerjapkan mata. Wajahnya terlihat bingung. Mungkin nyawanya masih belum terkumpul sepenuhnya. Antara sadar dan tidak. Heyyy, lihat wajah konyol cowok bewokan itu! Kenapa dalam mimpi pun, dia selalu ngeliatin gue sampe segitunya?
"Bisakah kamu menyingkir dari tubuhku? Aku kesusahan bernafas."
Cantika terbelalak dan segera bangkit. Sial, ternyata ini bukan mimpi! Malu-maluin banget.....
Saking kehilangan muka, dia kembali naik ke atas tempat tidur. Menutupi wajahnya dengan selimut. Memegang dadanya yang serasa berdegup kencang.
Sementara Anas pindah ke sofa. Berbaring di sana dengan perasaan tak menentu.
***
Esok paginya.
__ADS_1
Usai mandi dan melaksanakan kewajiban kepada Sang Pemilik Kehidupan, Anas menghampiri Cantika yang masih tertidur di kasur dengan posisi tak tentu arah.
"Cantika, bangun!" Belum ada respon dari yang dipanggil.
"Cantika.....bangun!" mengeraskan suara. Perempuan itu masih diam.
Anas menggoyangkan bahu Cantika. "Ayo bangun!"
Perlahan matanya menyipit, sepertinya masih ingin tidur. "Kenapa sih ganggu aja? Gue masih ngantuk." Suaranya terdengar serak. Matanya tertutup lagi.
"Jangan tidur lagi, cepat bangun! Mandi dan sholat, ini sudah shubuh."
Cantika menggelengkan kepala, "Males, ngantuk..."
Anas menghempas paksa selimut yang dipakai istrinya. Lalu menarik kedua tangannya agar segera bangun.
"Apaan sih, gue bilang masih ngantuk?! Itu artinya gue masih pengen tidur." Kesal.
"Tidak bisa. Kamu harus melaksanakan kewajibanmu kepada Tuhan! Bukankah kamu itu seorang muslim? Cepat sholat shubuh!"
"Lo makin ke sini makin nyebelin. Perasaan Papi gak parah-parah amat kayak Lo." Teriak-teriak.
"Mau saya gendong ke kamar mandi, sekalian saya mandikan?" mengulurkan kedua tangan seperti ingin memangku.
Anas tersenyum geli. Lagi-lagi tingkah istrinya begitu menggemaskan. Selain itu, dia juga senang karena Cantika mau menurutinya meski terpaksa. Bukankah suatu kewajiban itu memang awalnya harus dipaksakan agar lama-lama terbiasa?
***
Cantika telah selesai melaksanakan sholat atas paksaan dari suaminya. Dia membuka mukena dan berganti pakaian. Kemudian duduk di sofa. Anas mendekat dan berdiri di depannya.
"Sudah sholatnya? Kenapa sebentar sekali?"
"Udahhhh. Kan cuma dua rekaat, beberapa menit juga kelar. Ribet banget sih, terus aja ngatur-ngatur!"
"Kamu tidak punya pakaian yang lebih tertutup daripada ini?"
Cantika mendelik, "Apalagi? Gue emang kayak gini. Ini belum seberapa, masih banyak cewek di luar sana yang bajunya lebih sexy daripada gue. Belum tahu atau pura-pura bego?"
"Saya tahu. Mulai saat ini, belajar berpakaian yang lebih tertutup! Bukankah seorang perempuan itu tidak boleh memperlihatkan lekuk tubuhnya?!"
Cantika beranjak dari duduknya dan menatap pria itu dengan garang. "Lo makin ngelunjak, baru sehari jadi suami udah banyak aturan. Pernikahan kita cuma status, gue gak ngerasa jadi istri Lo!"
"Pernikahan bukan main-main. Makanya waktu itu saya bertanya, apa kamu yakin mau menikah dengan saya. Karena kita memang sudah sah menjadi pasangan suami-istri, berarti kamu adalah tanggung jawab saya. Seorang suami bukan hanya berkewajiban memenuhi nafkah lahir dan batin, tapi juga harus bisa memastikan jika istrinya berada di jalur yang benar. Saya harap kam...."
__ADS_1
"Udah stop, jangan ceramah lagi! Emang Lo itu ustadz?"
"Saya suamimu!" menatap lekat.
Cantika memalingkan wajah, "Gue tahu, tapi bisa gak Lo jangan terlalu ngatur? Kita kenal belum lama, gue belum nyaman dengan semua ini." Nada suaranya melemah.
"Maafkan saya jika terlalu memaksa, tapi ini semua demi kebaikanmu."
"Gue laper, buka pintunya!"
"Saya sudah pesan agar makanan diantar ke kamar. Sebentar lagi pasti datang."
Cantika menghembuskan nafasnya berat. Menatap sebal pada pria itu dan kembali duduk. Cowok gila so alim!
***
Usai sarapan, Cantika berbincang dengan ayahnya lewat sambungan telepon. Sedangkan Anas sedang membereskan barang-barang.
"Ika, bagaimana malam pengantin kalian?" tanya ayahnya dari sebrang telpon.
"Pertanyaan apa itu? Jangan berpikir aneh-aneh!" marah.
"Hahaha, maaf. Mana suamimu ?"
"Dia sedang beresin barang-barang."
"Kalian mau pulang sekarang?" kaget.
"Ya...." menjawab malas.
"Kenapa buru-buru pulang, kalian masih banyak waktu untuk berbulan madu ?"
"Terserah akulahhh..." menutup telpon. Makin kesal rasanya saat digoda Pak Permana tentang bulan madu itu. Gak akan pernah ada yang namanya honey moon!
Anas menghampirinya. "Saya sudah selesai. Kita pulang sekarang?"
"Bentar, gue ganti baju dulu." Menjawab ketus.
Pria itu menunggu di sofa. Setelah setengah jam barulah perempuan itu muncul. Dia berdiri di depan suaminya.
"Gue udah siap. Heyyy, kenapa Lo malah bengong?"
Anas tersenyum, "Emm, ya..." Dia sebenarnya senang karena Cantika mengganti pakaiannya dengan yang lebih panjang meski belum menutupi tubuhnya secara sempurna. Itu berarti nasehatnya didengar.
__ADS_1