
Fabian menepikan mobilnya di parkiran sebuah hotel. Pria itu segera turun bersama Anas. Keduanya berjalan cepat hendak masuk ke sana. Namun, dua orang sekuriti menghalangi.
"Tunggu, kalian siapa dan mau apa kemari?" tanya salah seorang.
"Kayaknya mereka cuma mau bikin masalah. Lihat saja penampilan keduanya. Yang satu kayak preman, yang satu lagi kayak gelandangan. Tidak mungkin mereka ada urusan di hotel ini." Seorang lagi menimpali.
"Kami mau menghadiri pernikahan yang digelar di hotel ini. Tolong biarkan kami masuk!" ucap Anas.
Kedua sekuriti itu tergelak penuh penghinaan.
"Mana mungkin ada tamu undangan yang tampilannya kayak kalian. Jangan bercanda! Acara yang digelar di dalam sana adalah pernikahan anaknya Tuan Arata, pengusaha terpandang di kota ini. Gak masuk akal jika kalian diundang."
Fabian angkat bicara, "Kami kemari karena ada urusan darurat. Temanku harus masuk ke sana untuk menemui istrinya. Kalian tidak akan pernah mengerti bagaimana keadaannya. Jadi tolong, bantu kami menyelesaikan masalah ini!"
"Ini lagi, makin ngaco. Udahhh, buruan kalian pergi dari sini sebelum kami usir dengan cara kasar!"
"Pak, tolonglah. Ini menyangkut keluarga dan hidup saya. Saya benar-benar harus ke dalam sana." Anas memelas sekaligus tegang.
Salah satu sekuriti mendorongnya hingga terjengkang. "Heh, pria gila. Sana pergi, istrimu pasti sedang memasak di dapur!" ucapnya diselingi tawaan hina.
Fabian kini makin naik pitam. Dia meninju sekuriti yang barusan mendorong Anas. "Jaga sikapmu, dia bukan laki-laki tidak waras. Kamulah yang gila dan songong."
Anas kembali diserang tapi oleh sekuriti yang satunya. Perkelahian pun tak terelakkan diantara keempat pria itu. Beberapa orang memperhatikan meskipun ada sebagian yang bersikap acuh.
"Aduh, ada apa ini?" tanya seorang wanita. "Stoooppp. Kalian mau aku laporkan ke polisi karena sudah mengganggu ketertiban umum? Ini lagi Pak sekuriti bukannya menjaga keamanan malah ikutan berkelahi."
Adu jotos pun berhenti. Kedua sekuriti itu membungkuk hormat pada wanita tersebut.
"Maaf, Nona. Kami hanya ingin menjaga keamanan dan kenyamanan para pengunjung hotel ini. Mereka berdua berniat macam-macam, jadi kami harus memberi pelajaran." Jelas salah satu dari sekuriti.
"Tidak, Nona. Kami kemari hanya ingin menemui seseorang yang akan melangsungkan pernikahan di hotel ini." Ucap Fabian.
Wanita itu mengernyitkan dahi. Dia memindai Fabian dari atas hingga bawah, lalu beralih pada Anas. Matanya terbelalak dengan mulut menganga. Astaga, mirip sekali. Tapi apakah itu benar? Mata gue gak katarak deh perasaan. Wait, jangan-jangan ini hantunya aja. Tapi masa hantu gelud sama orang.
"Gladis, kamu mengenalku bukan?!" tanya Anas yang makin mengejutkan wanita itu.
"Berarti benar, kamu Mas Anas. Tampilanmu emang beda banget, tapi aku bisa mengenalimu. Jadi, Mas masih hidup? Kemana aja Mas selama ini? Cantika selalu nangis semenjak Mas dikabarkan meninggal. Terus, siapa laki-laki yang dikubur itu?"
"Ceritanya panjang sekali. Sekarang lebih baik bantu kami untuk mencegah pernikahan itu!" Ucap Fabian.
"Ehhh, tunggu. Kalian jangan berbuat ulah di dalam sana!" Cegah seorang sekuriti.
"Pak, saya kenal mereka. Ini darurat, mereka harus ikut saya ke dalam. Saya janji, tidak akan cari masalah." Jelas Gladis.
Akhirnya kedua sekuriti itu pun mengijinkan mereka masuk.
**
"Saya terima nikah dan kawinnya, Cantika binti Aprilia..." ucap Peter gemetaran.
"Salah, ulang lagi!" Titah sang penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Cantika Aprilia binti Permana Aprilia dengan...."
"Salah lagi. Tolong konsentrasi dan tenanglah. Berdoa sebelum mengucap ijab kabul."
Semua orang cekikikan menertawakan sikap mempelai pria. Kedua orang tua Peter sudah tak terkira lagi malunya. Mereka begitu geram pada Peter yang begitu bodoh, selalu saja salah saat mengucap ijab kabul.
Riri dan Bu Sofi sama-sama puas melihatnya. Mereka harap pria itu selalu gagal agar pernikahan ini tidak pernah terlaksana. Sedangkan Cantika tidak terlalu memperhatikan, pikirannya kalut saat ini.
Peter mengambil napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ayo, Peter. Lo harus bisa, masa gini aja salah melulu. Jangan bikin harga diri Lo anjlok di depan Cantika!
"Saya terima nikah dan kawinnya, Cantika Aprilia binti Per..."
__ADS_1
"Tunggu, pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan!" Suara itu menggema, membuat semua orang menoleh ke belakang.
Terlihat dari kejauhan, Gladis berdiri. "Cantika, Mas Anas masih hidup. Dia ada di sini."
Cantika hendak berdiri tapi dicegah pria di sampingnya. "Ika, dia pasti sedang mengingau. Mana mungkin Anas ada di sini, dia kan udah meninggal."
Anas muncul dan menghampiri dengan jarak yang agak jauh. "Cantika, ini aku."
Suasana pun jadi riuh. Cantika memperhatikan pria itu. Meski sosoknya terlihat berbeda, tapi suara yang dia dengar jelas menunjukkan jika laki-laki itu adalah benar-benar suaminya.
"Mas Anas....!" lirihnya.
Peter terlihat geram. Sialan, kenapa dia bisa ada di sini? Gak boleh, Cantika hanya milik gue!
Peter mencengkram tangan Cantika. "Mau kemana?"
"Aku mau temui Mas Anas."
"Gak boleh, kita harus melanjutkan pernikahan ini!"
"Gak bisa, suamiku masih hidup. Kita harus membatalkan pernikahan ini!"
Cantika bangkit tapi baru selangkah, dia berhenti. Peter berdiri dan menangkapnya. Pria itu menodongkan senjata api tepat di kepala wanita itu.
"Untung aja aku berinisiatif bawa pistol ini. Ternyata emang berguna."
Semua orang berteriak histeris, bahkan semua tamu berhamburan keluar.
"Peter, ternyata kamu cuma pura-pura lumpuh. Dasar cowok licik!" ucap Cantika sambil berontak.
Keluarga Cantika terlihat tegang dan marah. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tuan dan Nyonya Arata saling tatap. Mereka memang tidak tahu jika Peter pura-pura lumpuh.
"Peter, lepaskan Cantika!" teriak Anas.
"Peter, lepasin Cantika! Daddy dan Mommy merestui pernikahan ini karena kami pikir bahwa suaminya sudah meninggal. Peter, masih banyak wanita di luar sana yang mau jadi istrimu." Ucap Tuan Arata.
"Aku cuma mau Cantika, titik!" Peter mengeratkan tangannya pada pinggang wanita itu. Sementara senjata api itu masih menempel di kepala Cantika.
"Peter, apa belum puas selama ini kamu sudah mengurung dan memisahkan aku dari Cantika dan anakku?" teriak Anas sambil mendekat.
Dor....! Peluru itu melesat ke atas.
"Aaaa....." semuanya histeris.
"Stop, Anas. Kalo Lo mendekat, gue gak akan segan-segan nembak Cantika. Mending dia musnah dari dunia ini, daripada gue gak bisa miliki dia."
Anas terpaksa menghentikan langkahnya. Cantika bercucuran air mata. Rasa takut yang menggunung kini menderanya.
"Tenanglah, Peter. Jangan bertindak gegabah, nanti kamu akan menyesal." Bujuk ayahnya.
"Sayang, Mommy akan pilihkan gadis yang lebih cantik dan kaya daripada Cantika. Lepaskan dia, please....!" ibunya menimpali.
Tapi itu semua sama sekali tidak bisa merubah apapun. Peter tetap bersikeras dengan pemikiran gilanya.
"Peter, tolong lepasin aku. Apa kamu gak kasihan sama aku? Aku ini selain seorang istri, juga seorang ibu. Gimana nasib anakku kalo aku mati?" Cantika memelas.
Peter tergelak, "Benar, anakmu. Dimana dia? Biar sekalian aku musnahkan."
Keluarga Cantika menangis sesenggukan. Tapi mereka bersyukur karena bayi kecil itu tidak ada di sana. Sedari tadi, Afkar ada dalam pangkuan pengasuhnya. Dan di saat terjadi keributan itu, sang baby sitter melarikan diri bersama tamu yang lain. Keduanya kini ada di tempat yang aman.
"Peter, stop! Kamu sudah bikin Daddy malu dan kecewa." Tuan Arata kini naik pitam.
"Daddy yang bikin aku kecewa. Dari kecil semua permintaanku selalu dipenuhi, tapi kenapa yang satu ini tidak? Aku cuma mau Cantika. Kenapa Daddy sama Mommy gak bisa mengabulkannya? Harusnya kalian bantu aku untuk miliki dia sepenuhnya!" teriak-teriak.
__ADS_1
"Bukan seperti itu, Sayang. Jika keadaannya kayak gini, mana mungkin kami akan mendukungmu?" Nyonya Arata sesenggukan frustasi. Jika saja dia tahu bahwa anaknya tidak lumpuh, maka dia tidak akan memaksa Cantika untuk menjadi menantunya.
"Peter, tolong lepaskan putriku! Saya yakin bahwa kamu sebenarnya adalah laki-laki yang baik." Bujuk Pak Permana.
"Aaarghhh... Kalian semua br*ngsekkkk. Cantika, ayo kita tinggalkan dunia ini sama-sama, biar kita hidup di alam lain tanpa ada gangguan dari mereka."
Peter mulai menarik pelatuk pistol itu, sedikit. Semua orang makin panik dan berteriak-teriak histeris. Cantika gemetaran dengan air mata yang makin bercucuran. Apakah dia harus pergi secepat itu di saat baru saja bertemu lagi dengan suaminya?
"Mas Anas.... Aku cinta banget sama kamu..." ucapnya lirih.
Anas tersedu-sedu, "Peter, lepaskan istriku! Jika kamu membiarkannya hidup, maka aku tidak akan melaporkanmu atas penculikan itu."
"Cantika sayang, say good bye sama mereka semua! Tenang aja, aku akan menyusulmu ke alam sana." Peter membuat semua orang merinding.
"Tiga.... dua..... sa..." Pria gila itu hendak melepas tembakan.
Dor.... dor.... dor...!
"Aa.....!" Lagi-lagi semuanya histeris.
Tapi bukan Cantika yang terkena peluru itu. Seseorang tiba-tiba datang dari belakang si pria gila. Dia mengambil alih benda berbahaya itu meski masih ada dalam genggaman Peter, lalu mengarahkannya ke atas lantai.
"Sialan, siapa yang udah ganggu gue?" umpat Peter sambil menoleh.
"Halo, Bos." Merebut pistol lalu menyimpannya ke dalam saku celana bagian belakang.
"Fabian? Pantas aja si Anas bisa ada di sini, ternyata Lo yang ada di balik semuanya."
"Maaf, Bos. Saya harus menghentikan tingkah gila Anda!" selesai bicara, dia meninju wajah tampan si pria sipit.
Cantika segera berlari menjauh menghampiri suaminya. Peter yang saat itu terlentang, menatap anak buahnya dengan geram.
"Brengsek, dasar pengkhianat!"
Akhirnya kedua pria itu saling serang. Dan pemenangnya adalah Fabian. Peter kini tak sadarkan diri. Dia segera diamankan ke pihak berwajib oleh beberapa sekuriti yang baru saja muncul.
Anas dan Cantika belum melepas pelukannya sedari tadi. Mereka sesenggukan melepas rindu. Keluarga Cantika ikut terharu.
"Mas, aku senang karena ternyata kamu masih hidup."
"Cantika, aku sangat merindukanmu."
"Aku juga, Mas."
Fabian tersenyum bahagia. Ternyata keputusannya membantu Anas memang tepat.
"Maaf, bukannya mau mengganggu. Tapi kita harus pergi ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian atas kejahatan Peter." Ucapnya pada Anas.
"Baiklah. Cantika, aku pergi dulu."
"Jangan, kita baru ketemu. Mas jangan kemana-mana!" memeluk lebih erat.
"Tapi aku harus pergi. Peter harus segera mendapat hukuman atas semua kejahatannya. Aku janji akan kembali lagi."
Anas meraup wajah istrinya dan mengusap air mata itu.
"Cantika, Papi akan temani Anas ke sana." ucap Pak Permana.
Akhirnya meskipun berat, Cantika melepas suaminya. Anas mengecup kening wanita itu cukup lama, sebelum dia pergi.
"Jangan takut, aku pasti kembali!"
Dan senyum yang selalu dirindukan itu, kembali muncul.
__ADS_1