Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
The Wedding Day


__ADS_3

Hari pernikahan adalah hari dimana dua orang berbeda jenis dinyatakan bersatu dalam sebuah ikatan resmi, disaksikan oleh puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan orang.


Hari pernikahan adalah hari yang paling bersejarah, kebanyakan orang berharap hari seperti ini cukup terjadi sekali dalam seumur hidup, bukan karena menakutkan, tapi momentum seperti ini adalah suatu hal yang sakral, sangat kurang baik jika di lakukan berulang kali.


Di dalam sebuah ruangan khusus pengantin wanita, Risa tampak duduk di sofa berwarna putih yang disediakan khusus untuknya.


Tubuh idealnya itu kini telah dibaluti oleh gaun pengantin dengan warna pada umumnya, putih susu.


Kedua tangannya tampak menggenggam sebuket bunga baby breath yang masih segar, seperti baru di petik dari akarnya.


Namun, walaupun semua itu terlihat mempesona hati orang-orang yang melihatnya, tapi tidak dengan Risa yang notabenenya adalah tokoh utama dalam acara pernikahan ini.


Raut wajah gadis itu tampak lesu, sama sekali tidak ada pancaran kebahagiaan sedikitpun.


Ia sedih, kesal, kecewa dan bahkan frustasi. Semua tercampur dan teraduk menjadi satu, membentuk sebuah kombinasi emosi yang tidak dapat Risa lepaskan begitu saja. Ia harus menahan semua rasa itu di dalam hatinya yang paling dalam.


Tok. Tok. Tok


Bunyi pintu terketuk membuat Risa mengangkat wajah dengan ekspresi suramnya, tanpa Risa beri ijin, pintu ruangan itu terbuka, menampilkan sosok paruh baya yang masih tampak gagah dan tegap.


“Papa, ada apa?” tanya Risa.


“Sebentar lagi acaranya akan dimulai. Papa disuruh masuk ke dalam sini untuk menunggu bersamamu. Nanti kalau ada tim wedding organizer datang, baru kita keluar.” jawab sang ayah yang kemudian duduk di kursi lain, tidak terlalu jauh dari Risa.


“Pa.” panggil Risa.


“Hm? Apa?” tanya sang ayah.


“Batalin aja ya pernikahannya.” ucap Risa, yang mampu membuat jantung ayahnya berdesir untuk sesaat.


“Kamu jangan aneh-aneh sa, sebentar lagi kamu itu mau akad, jangan buat masalah deh. Suka lihat papa-nya kena serangan jantung ya?!” kata ayahnya.


Risa mendengus, “Risa cuma bercanda kok, enggak usah di anggap serius.” kata Risa sembari mengalihkan pandangannya dari sang ayah.


“Sa.” ayahnya itu kemudian berdiri dari kursinya, ia berjalan menghampiri putrinya itu dengan langkah tegap.


“Maafin papa.” ucap Fero, lirih, tepat di hadapan Risa yang masih mengalihkan pandangannya.


“Buat apa papa minta maaf kalau itu enggak akan pernah ngubah apa yang bakalan terjadi. Papa enggak perlu minta maaf. Lagian, Risa nikah sama Juna selain karena terpaksa juga karena ingin membalas budi ke papa sama mama yang selama ini udah ngurusin Risa juga udah turutin apa mau Risa.” ucap Risa sembari mengusap sudut matanya yang terlihat mengeluarkan buliran air mata.

__ADS_1


“Sa.”


“Seperti yang papa bilang waktu itu. Dulu papa sama mama selalu turuti apa mau Risa, bahkan Risa menekuni dunia yang berbeda dengan mama, papa dan kak Aro, kalian enggak protes. Sekarang, gantian Risa yang turuti maunya papa sama mama. Jadi, anggap saja kita impas.” kata Risa, lagi.


“Tapi, gimanapun juga, Risa enggak akan bisa balas semua jasa papa sama mama kan? Jadi kalau papa minta maaf sama Risa kayak tadi, Risa ngerasa kalau Risa ini anak yang enggak tahu diri.” sambungnya.


Fero menghela nafasnya, ia mengusap pelan kepala putrinya itu.


“Sa, kamu tahu? Banyak orang yang bilang, menjadi seorang dokter itu adalah hal yang sulit karena banyak rintangan yang harus dilalui. Tapi sebenarnya, yang paling sulit itu menjadi seorang ayah. Setiap hari, setelah seorang pria menjadi ayah, pikirannya itu hanya dipenuhi oleh satu hal, yaitu, apakah aku sudah menjadi ayah yang baik?” ujar Fero sembari menatap lembut anaknya.


Risa membalas tatapan ayahnya dalam diam. Matanya itu tampak berbinar, memancarkan rasa haru di dalamnya.


“Permisi, mohon segera bersiap, sudah waktunya akad akan dilangsungkan. Silahkan kalian anak dan ayah keluar dari ruangan ini. Terimakasih.” ucap seorang perempuan yang memakai seragam wedding organizer.


“Ayo, genggam tangan ayahmu ini. Karena setelah akad nanti, yang akan menggenggam tanganmu saat kau takut seperti ini, bukan ayah lagi, melainkan Juna, suamimu.” kata sang ayah sembari mengulurkan tangannya.


Perlahan-lahan tangan Risa ter-ulur, membalas uluran tangan ayahnya.


“Percayalah, kau pasti akan bahagia.” ucap Fero.


Kemudian, mereka berjalan keluar dari ruangan.


Risa duduk di samping Juna yang beberapa menit lalu telah duduk lebih dulu disana. Kemudian sang ayah yaitu Fero, ia tampak duduk di kursi yang bersebelahan dengan seorang penghulu.


Ayah Risa itu, ia duduk tepat dihadapan Juna.


Setelah semua tampak menempati posisinya masing-masing.


Kini, suasana gedung resepsi pernikahan itu semakin dibuat syahdu dan penuh rasa haru.


Beberapa orang terdekat tampak mengusap matanya, mereka menangis, bukan karena sedih tapi terharu, itulah tangisan kebahagiaan.


Tidak butuh waktu lama, akad nikah pun terlaksana dengan baik.


Juna, pria itu dengan satu tarikan nafas, mengucapkan lafal pernikahan dengan lancar tanpa salah sedikitpun.


Lalu kemudian, sorakan kata ‘sah’ menjadi pertanda resminya dua insan itu. Kini, mereka resmi menjadi suami dan istri.


•••

__ADS_1


Risa berdiri di sisi Juna dengan raut wajah tertekuknya, sesekali ia tersenyum ketika ada orang yang datang memberikan ucapan selamat kepadanya dan juga Juna yang beberapa jam lalu telah resmi menjadi suaminya.


Kapan ini akan berakhir? Kakiku sepertinya sudah mati rasa, enggak sanggup lagi kalau harus berdiri terus. Lagian mama sama papa katanya pestanya sederhana, tapi kok orang-orang yang datang kayak enggak ada habis-habisnya.


Risa terus mengeluarkan keluhannya di dalam hati, sebenarnya ingin mengeluh langsung pada sang ibu, tapi ibunya itu sekarang entah ada dimana, pasti ibunya itu saat ini sedang mengobrol ria bersama teman-temannya.


“Cih.” decih Risa ketika ia memikirkan asumsi itu.


“Cih? Apa maksud dari cih-mu itu hah?” tanya Juna.


“Bukan urusanmu.” ucap Risa lirih, sembari membalas uluran tangan dari tamu undangan.


“Kalau capek bilang, biar aku anterin kamu ke kamar hotel.” kata Juna.


“Kalau aku capek, aku bisa jalan ke kamar sendiri, enggak perlu kamu anterin.” katanya.


“Ck, terserah kamu saja.” ucap Juna.


“Risa sayang.” panggil ibunya, Risa pun menoleh, “Mama, mama darimana saja? Risa kangen.” rengeknya sembari memeluk ibunya dari samping.


“Ya ampun, baru aja ditinggal sebentar sama mamanya, udah main kangen aja. Lagian nanti kamu bakalan tinggal sama Juna, yang artinya kamu bakal jarang ketemu sama mama. Jadi dari sekarang, kamu itu harus belajar mandiri, jangan dikit-dikit mama terus. Ngerti kamu?” ujar mama Dewi.


Mendengar perkataan dari ibunya itu, Risa langsung tersenyum, sebuah senyum yang menyungging kebawah. Sedih.


“Risa enggak mau ma. Risa maunya tinggal dirumah sama mama, papa dan juga kak Aro. Risa enggak mau pisah rumah sama kalian. Risa juga enggak mau tinggal sama Juna.” keluh Risa.


“Heh, enggak boleh ngomong gitu. Kamu kan udah nikah, udah punya suami. Sudah seharusnya kamu ikut sama suami kamu, masa iya masih mau tinggal sama papa, sama mama. Terus emangnya kalau kamu tinggal sama papa, sama mama, Juna dirumah tinggal sama siapa? Masa kamu tega tinggalin dia sendirian, kan kasihan suami kamu enggak ada yang ngurusin.” kata Dewi.


“Kan dia tinggal sama om— eh maksudnya ayah mertua. Jadi enggak mungkin dia sendirian. Boleh ya ma, Risa boleh ya tinggal di rumah sama papa, sama mama aja. Boleh ya?” pinta Risa sembari mengeluarkan puppy eyes andalannya.


Biasanya ibunya itu akan langsung luluh ketika Risa sudah mengeluarkan jurus merayunya. Tapi tidak untuk kali ini, sang ibu masih menatapnya dengan tatapan penuh ketegasan.


“Enggak boleh. Lagian kamu dan Juna, setelah hari ini, kalian bakal langsung pindah ke rumah kalian. Mama, papa sama ayah mertua kamu kan udah beliin kalian rumah. Emangnya Juna, kamu belum kasih tahu Risa ya?” kata mama Dewi.


“Maaf ma, belum sempet, niatnya sih mau surprise ke dia.” jawab Juna.


“Rumah? Kami berdua? Surprise apanya?!” gumam Risa sembari menoleh ke arah Juna yang tampak tersenyum lebar hingga deretan gigi putihnya itu terlihat menyebalkan di hati Risa.


💥 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💥

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2