Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Raja dan Pelayan-nya


__ADS_3

Setelah melakukan perundingan tentang aturan baru yang saling menguntungkan dan juga merugikan satu sama lain.


Risa kemudian keluar dari kamar Juna, ia kembali ke kamarnya sendiri untuk mandi dan berganti pakaian.


Selesai dengan rutinitas membersihkan diri itu. Risa lalu turun ke lantai bawah, siap memasak untuk sang suami yang hari ini adalah seorang raja yang harus ia layani dengan baik.


Beberapa menit kemudian, Risa sudah di sibukkan dengan kegiatan memasaknya. Gadis itu terlihat sangat menikmati aktivitas yang ia kerjakan saat ini.


Bahkan, Risa terdengar bersenandung ria sembari memasukkan beberapa bahan masakan ke dalam kuali.


“Risa!” panggil Juna dari arah kamarnya yang berada di lantai atas.


Risa yang saat itu masih belum menyelesaikan masakannya, ia pun hanya menyahuti panggilan dari suaminya itu tanpa langsung mendatanginya.


“Ada apa?” tanya Risa dengan nada suara yang sedikit berteriak agar Juna mampu mendengarnya.


“Kesini, cepat!” ujar Juna.


“Apa?” tanya Risa lagi. “Aku lagi masak.” kata Risa.


“Cepetan kesini! Kamu mau ngelanggar aturan yang tadi kita buat ya?!” ujar Juna.


Mendengar itu, Risa pun langsung mematikan kompor gasnya, lalu bergegas menaiki tangga dan berjalan menuju kamar Juna.


Sesampainya di depan kamar Juna, Risa langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.


Karena kecerobohan Risa itu, ia pun mau tidak mau, rela tidak rela, harus membiarkan matanya yang suci itu melihat sesuatu yang sangat horor baginya.


Juna saat itu baru saja selesai mandi dan ingin memakai pakaiannya. Tapi, semua momen yang terjadi begitu pas. Ketika Risa masuk, saat itu pula bertepatan dengan Juna yang baru saja membuka handuknya.


Pada detik selanjutnya, suara teriakan Risa memenuhi isi rumah.


Bahkan, Juna sampai menutup telinganya agar tidak berdenging karena suara teriakan dari Risa yang terdengar sangat nyaring itu.


“Kamu gila ya?!” tanya Risa sembari memalingkan wajah dan menutupinya dengan kedua tangannya.


“Salah siapa yang masuk kamar seorang pria tanpa mengetuk pintu. Di sini aku yang di rugikan, tapi kamu yang ngatain aku gila. Seharusnya aku yang bilang kayak gitu ke kamu.” jawab Juna sembari memakai pakaiannya.


“Ini, ini kamu sengaja kan?! Kamu sengaja panggil aku waktu kamu lagi mau pakai baju, jadi biar momennya itu pas banget. Aku masuk, kamu buka handuk, kamu pasti sengaja liatin itu kamu ke aku, iya kan?! Dasar cabul.” kata Risa yang masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya itu.

__ADS_1


Juna tersenyum miring, pria itu kini telah berpakaian lengkap dengan celana boxer dan kaos putih santainya.


Lalu kemudian, ia tampak berjalan mendekati Risa, menyentuh kedua pergelangan tangan Risa.


“Buka mata kamu, aku udah pakai baju.” ucap Juna lirih, layaknya sebuah bisikan angin sepoi-sepoi yang semilir di telinga Risa.


“Celana? Kamu udah pakai celana juga kan?” tanya Risa yang sekarang lebih waspada daripada sebelumnya.


Juna tertawa mendengar pertanyaan polos dari istrinya itu.


“Udah.” jawab Juna setelah berdehem untuk menetralkan suaranya selepas tertawa.


“Makanya lain kali jangan nakal. Kalau buka pintu kamar milik pria itu ketuk dulu.” ujar Juna.


Risa mencebik, ia menatap Juna kesal, bagaimanapun, Risa juga merasa dirugikan. Ia harus terpaksa melihat sesuatu yang sama sekali tidak ia harapkan. Sesuatu yang mampu membuat pipinya merona kemerahan.


“Sekarang kamu lebih baik cepetan beresin dan rapiin kasur itu.” ucap Juna sembari menunjuk ke arah tempat tidurnya yang masih terlihat berantakan.


“Aku mau sarapan dulu.” kata Juna yang kemudian melangkah ke arah pintu kamarnya.


“Aku belum selesai masak.” ujar Risa.


Pertanyaan dari Juna itu sungguh membuat Risa ingin mencabik mulut pedas pria itu.


Risa sejak sekolah menengah pertama, dirinya sudah terbiasa dengan hal dapur, bahkan di usia empat belas tahun masalah masak-memasak adalah tanggung jawab gadis itu.


Tapi, selama itu pula, tidak ada yang pernah berani memprotes apapun tentang dirinya yang terkadang terlambat menyajikan makanan.


Namun, sepertinya tidak untuk kali ini. Ini adalah pertama kalinya ada yang begitu tidak sabaran sampai mengeluarkan kata-kata yang sangat membuat hatinya merasa kesal.


Benar-benar keterlaluan.


“Ada apa dengan cara pandangmu itu? Kamu mau marah sama aku? Ck, kamu jangan lupa, hari ini aku adalah rajanya. Jadi aku berhak untuk memerintah atau mengatakan apapun padamu.” kata Juna.


“Kamu daripada berdiri terus seperti itu, lebih baik cepetan beresin tempat tidurnya, terus selesaikan masakanmu. Jangan buat aku nunggu lebih lama lagi.” sambungnya. Lalu kemudian, Juna keluar dari dalam kamarnya.


Setelah Juna keluar dari dalam kamar tersebut. Risa segera membereskan tempat tidur milik suaminya itu.


Tidak butuh waktu lama bagi Risa untuk membereskannya. Hanya berkisar sekitar delapan menit ia mampu merapikan kamar yang tidak terlalu berantakan itu. Lalu kemudian, Risa pun keluar dari dalam kamar Juna, ia berjalan menuruni tangga dan kembali ke dapur, melanjutkan kegiatan memasaknya.

__ADS_1


Tapi, lagi dan lagi, kegiatan memasak Risa terganggu ketika suara Juna mengintruksi Risa untuk segera menghampiri pria itu.


“Risa.” panggil Juna.


“Ada apa?” tanya Risa yang sedang mengaduk masakannya. “Aku belum selesai masak. Tunggu sebentar lagi.” kata Risa.


“Tinggalkan dulu masakanmu, ini darurat! Ayo cepat kesini.” ujar Juna yang berada di ruang keluarga.


Risa menghela nafasnya, ia merasa kesal, tapi tidak bisa mengeluarkan keluhan apalagi protesnya.


“Iya, iya sebentar.” ucap Risa sembari mematikan kompor gasnya.


“Cepetan! Ini beneran darurat.” kata Juna.


“Iya, ini aku lagi jalan.” ujar Risa yang tampak berlari kecil dengan appron yang masih terpasang di badannya.


Sesampainya Risa di ruang keluarga, ia melihat Juna yang tampak terbaring malas di atas sofa ruang keluarga itu.


“Kenapa? Ada apa lagi kamu panggil aku? Kalau kamu terus panggil aku, aku gimana bisa selesaiin masakan aku?!” tanya Risa dengan nada kesalnya.


“Handphone aku.” ucap Juna “Handphone aku jatuh, tolong ambilkan.” katanya sembari menunjuk ke arah ponselnya yang tampak berada di bawah meja, ponsel itu tergeletak di atas karpet beludru dengan layar yang masih menyala, menampilkan game rgp yang sedang Juna mainkan.


Sebenarnya, Juna hanya perlu menggeser tubuhnya sedikit, maka ia bisa meraih ponsel tersebut tanpa harus memanggil Risa dan bahkan sampai menyuruh gadis itu untuk mengambilkannya.


Melihat tingkah Juna yang sangat menjengkelkan itu, di dalam pikiran Risa, ia sudah berkhayal tentang dirinya yang sedang menendang Juna sampai ke planet Merkurius.


“Kok malah diem aja sih Sa, cepet ambilin. Mau mengabaikan perintah raja ya?!” kata Juna yang kembali menyinggung masalah peraturan baru mereka.


Risa menghela nafasnya, berusaha menahan amarahnya sekuat tenaga, menghembuskan segala macam kekesalannya pada pria itu.


“Ini kan kamu tinggal geser dikit, terus ambil sendiri kan bisa. Kenapa hal kecil kayak gini harus suruh aku?! Pakai acara bilang darurat segala lagi.” gerutu Risa sembari meraih ponsel Juna yang berada di bawah meja.


Setelah mendapatkan ponsel milik suaminya itu, Risa langsung meleparkannya ke atas perut Juna.


Juna yang mendapat lemparan ponsel itu, ia sama sekali tidak terlihat kesakitan, pria itu malah tersenyum lebar, seolah mengatakan kalau dirinya merasa sangat puas karena sudah membuat Risa kesal untuk yang kesekian kalinya.


💥thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2