
Deon berjalan masuk ke dalam rumahnya. Pijakan kakinya yang terdengar tegas menandakan pria itu tengah di buru emosi.
Kemudian, seorang wanita tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Minggir,” ucap Deon, mendorong tubuh wanita itu.
“Ada apa dengan raut wajahmu itu?” tanya Runa, wanita itu entah bagaimana bisa berada di dalam rumah Deon.
Deon menghela napasnya, mengabaikan Runa. Tapi kemudian, langkahnya terhenti, pria itu berbalik menatap Runa.
“Bagaimana kamu bisa masuk ke rumahku?” tanya Deon, keningnya berkerut heran.
Runa tersenyum, lalu salah satu tangannya menggantung di udara, ia menunjukkan kunci cadangan rumah Deon.
“Dari mana kamu mendapatkannya?” kesal Deon.
“Papa-mu,” jawab Runa yang langsung memasukkan kunci itu ke dalam tas ketika Deon berjalan menghampirinya.
“Berikan padaku,” perintah Deon.
“Tidak mau,” jawabnya.
Deon mendengus, jika saja Runa bukan seorang wanita, Deon pasti sudah menghabisinya sejak awal. Wanita itu selalu saja membuatnya kesal.
“Pergilah, aku sedang tidak ada minat beradu mulut denganmu,” suruh Deon.
Runa mengernyitkan keningnya, “Beradu mulut?” Pikiran Runa melayang, membayangkan dirinya yang sedang berciuman dengan Deon.
“Apa yang sedang kamu pikirkan? Jangan salah paham dengan kata kiasan yang kupakai,” papar Deon.
“Cih,” balas Runa.
Deon menatap wanita itu sejenak, kemudian ia pergi meninggalkannya.
Runa yang tiba-tiba di terjang oleh rasa penasaran, ia pun mengikuti Deon yang telah masuk ke dalam kamarnya.
“Seleramu sangat buruk,” ujar Runa, membuat Deon terkejut dengan suara wanita itu yang masih ada di sekitarnya.
“Siapa yang menyuruhmu masuk ke dalam kamarku, hah?!” seru Deon, semakin kesal.
“Keluar!” suruhnya dengan nada membentak. Tapi Runa, perempuan itu sudah terbiasa di bentak oleh ayahnya, jadi bentakan seperti yang Deon lakukan tak akan membuatnya takut.
“Kamu kesal bukan karena aku, 'kan?” tebak Runa, mengalihkan pembicaraan, wanita itu kemudian berjalan mendekati tirai kamar Deon yang masih tertutup rapat. Lantas, kedua tangannya pun membuka tirai tersebut, hingga langit malam terlihat oleh mata cokelatnya.
__ADS_1
“Pergilah,” suruh Deon.
“Ceritalah, mungkin dengan begitu kamu bisa tenang,” kata Runa sembari menatap bintang-bintang yang bergantungan di atas sana.
“Kamu tenang saja, aku bukan tipe orang yang suka bergosip, apalagi menceritakan curahan hati seorang pria sepertimu,” ujar Runa, ia membalikkan badannya, lalu menatap Deon yang masih diam membeku di tempatnya.
“Pergi,” suruh Deon, masih mengeluarkan kata yang sama.
“Kamu tahu? Cinta itu membodohi kita,” Runa mengabaikan perkataan Deon, ia kembali membahas sesuatu yang tak berdasar.
“Hanya karena orang itu berbeda, aku mencintainya, percaya kalau dia akan selalu ada untukku. Tapi kemudian, fakta yang aku dapatkan membuatku sadar kalau cinta itu tidak ada, semua hanya fatamorgana,” jelas Runa sembari menerawang jauh ke masa lalunya.
“Pergilah, aku tidak memintamu bercerita tentang kisahmu,” kata Deon sembari melangkah mendekati ranjangnya.
“Pria itu, dia sangat populer, banyak wanita yang menyukainya. Aku pikir dia tidak akan pernah mengenal komitmen, karena itu aku dengan percaya diri meninggalkannya, berpikir kalau dia pasti akan kembali padaku suatu hari nanti. Tapi, apa kamu tahu apa yang aku dapatkan saat aku kembali?” Runa menatap Deon yang duduk di tepi ranjang membelakanginya.
“Dia berubah,” katanya sembari berbalik menatap langit kembali, “Dia menjadi sosok pria dewasa dengan komitmennya yang tegas. Aku bahkan tidak percaya dengan dirinya yang sekarang. Dia seperti orang yang berbeda,” lanjut Runa, setitik air mata mengaliri wajahnya.
“Boleh aku bertanya padamu?”
Deon diam.
“Ketika kita memaksakan cinta, dan berharap agar cinta kita di balas oleh orang yang kita cintai, menurutmu apakah itu sungguh cinta atau sebuah obsesi?”
“Itu obsesi.” Runa masih melanjutkan ceritanya.
“Pergi!” seru Deon, pria itu semakin di rundung emosi. “Pergi atau aku paksa kamu pergi dari sini?” tegasnya.
Runa menghela napasnya, merasa melas pada pria itu, dia tahu apa yang sedang Deon rasakan, karena, apa yang Deon rasakan juga ia rasakan sendiri. Mencintai tapi tidak di cintai.
Runa tersenyum miris, ia kemudian melangkah menuju pintu keluar kamar itu, tetapi sebelum kakinya benar-benar melangkah keluar, Runa berhenti sejenak, dia mengucapkan sebuah kalimat yang sepertinya akan tersangkut abadi di benak Deon.
“Obsesi yang kita kejar, pada dasarnya hanya akan melukai diri kita sendiri, dan juga dia, orang yang kita cintai,” katanya, setelah itu dia melangkah kembali, pergi dengan air mata yang menetes tanpa seorang pun yang mengetahui.
***
“Kamu kenapa?” tanya Juna. Ia merasa heran dengan istrinya yang tampak murung sejak ia kembali dari membeli buah tangan untuk mertuanya.
Risa diam, tetapi wanita itu kemudian menoleh, menatap ke arah Juna yang masih menunggunya berbicara.
Sesaat setelah mereka saling diam dan melempar pandangan. Risa mengulas senyumnya, sebuah senyum yang membuat hati Juna merasakan keanehan.
“Aku baik-baik saja,” jawab Risa. Dia berbohong, raganya memang baik-baik saja tapi jiwa dan batinnya tersiksa. Pikirannya melayang, mengingat perkataan yang sudah dengan kasar ia lontarkan pada Deon.
__ADS_1
Bodoh, begitulah Risa merutuki dirinya, ia menyesal karena sudah mengatai Deon seperti itu. Rasa menyesal menjamahi hati Risa hingga ke akarnya.
“Apa ada masalah? Jujur padaku,” ujar Juna.
“Enggak ada, Sayang. I'm fine, serius,” ucapnya.
Juna mengangguk, “Baiklah,” katanya, mengalah, walaupun dia tahu kalau istrinya itu berbohong.
“Kemari,” suruh Juna, sembari menepuk-nepuk pahanya. “Tidur di sini,” imbuhnya.
Risa tersenyum, kemudian menuruti perkataan suaminya itu, dia tidur di paha Juna, menatap wajah suaminya yang terasa lebih tampan dari sudut pandangnya.
“Sayang,” panggil Juna seraya mengelus rambut istrinya itu lembut.
“Hm?”
“Kamu ... mau enggak kalau kita bulan madu?” tanya Juna.
“Bukannya dulu udah pernah?”
“Dulukan kita bulan madu cuma karena terpaksa, sekarang beda,” ujar Juna.
“Oh ya? Apa bedanya?”
“Kalau sekarang ... karena aku ingin, aku mau kita pergi ke tempat romantis bedua sama kamu, tanpa ada yang mengganggu. Hanya berdua, sampai kita merasa dunia hanya ada kita, aku dan kamu,” kata Juna.
Risa tersenyum, ia mesem dengan wajahnya yang tampak bersemu merah. Suaminya terdengar sangat romantis, tidak heran, seorang mantan playboy seperti Juna seharusnya memang ahli mengaduk kata hingga menjadi sesuatu yang manis didengar oleh telinga istrinya.
“Jadi ... kamu mau kita honeymoon kemana?” tanya Risa.
“Maldieves?” usul Juna.
“Kesana lagi?”
“Ada tempat yang ingin aku kunjungi sama kamu di sana,” terang Juna.
“Tempat seperti apa?”
Juna tersenyum, ia menatap istrinya itu lekat, kecupan singkat pun mendarat di bibir mungil Risa, membuat jantung Risa berdegup kencang, rona merah pada wajahnya pun semakin terlihat jelas.
“Lihat saja nanti, kamu pasti suka,” ujar Juna.
“Kamu tahu, selama kamu yang ada disisiku, aku tidak pernah peduli di mana kita akan pergi, karena bersamamu, semuanya terlihat menyenangkan dan jaaauh lebih indah,” ucap Risa. Serangan balas dendam sebagai godaan jitu untuk suaminya.
__ADS_1