Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Perubahan Risa


__ADS_3

Juna masuk ke dalam kamar tepat saat Risa tengah mengeringkan rambutnya.


Pria itu kemudian berjalan mendekati Risa, meraih hair dryer yang dipegang oleh perempuan itu, lalu membantu Risa mengeringkan rambutnya.


“Kamu tahu, aku suka sama rambut kamu, cantik,” ucap Juna sembari mengulas senyumnya.



“Enggak usah tebar gula, aku males denger gombalan kamu,” ujar Risa. Namun, diam-diam ia mengukir senyumannya.


“Aku serius, Sayang,” kelit Juna.


“Ya, terserah kamu,” kata Risa sembari beranjak dari duduknya.


Juna menghela napas pendek melihat istrinya itu yang masih bertingkah ketus padanya.


“Kamu itu kenapa sih, Sa? Lagi PMS, ya?” tanya Juna, sudah tak tahan lagi dengan tingkah Risa.


Risa menoleh, menatap suaminya itu dengan raut kesalnya. Tapi kemudian, perempuan itu kembali melangkahkan kakinya, menuju koper besar yang tergeletak di atas meja.


“Kamu kalau ada masalah bilang sama aku, jangan diem terus marah-marah enggak jelas kayak gini, bikin orang bingung tahu,” ujar Juna.

__ADS_1


Risa diam tak menjawab. Perempuan itu hanya fokus memilah pakaian yang ada di dalam kopernya.


Melihat sikap istrinya itu, Sekali lagi Juna menghela napasnya berat. Pria itu kemudian melangkah mendekati Risa, memeluk tubuh perempuan itu hangat.



“Aku minta maaf kalau aku ada salah sama kamu,” bisik Juna. “Jangan seperti ini,” katanya lagi.


Pria itu kemudian memutar tubuh Risa. Lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Risa. Sedangkan Risa, dia hanya diam, siap menerima apa yang akan suaminya itu lakukan padanya.


Dan, Juna pun menempelkan bibirnya pada bibir ranum istrinya itu. Tak ada gerakan dari keduanya, mereka hanya saling menempelkan bibir satu sama lain.



“Sayang, aku—”


“Huek ....” Suara mual itu berasal dari Risa. Ia merasa mual setelah Juna menciumnya. Ada gejolak tidak nyaman yang mendesak perutnya untuk mengeluarkan sesuatu yang bergelora.


Merasa ingin muntah, Risa berlari ke kamar mandi. Perempuan itu berjongkok di atas kloset duduk. Memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya. Namun, beberapa kali dia berusaha memuntahkannya, tak ada apa pun yang keluar.


__ADS_1


Risa mendesah pelan. Ia kemudian terduduk lemas di lantai kamar mandi itu.



“Sayang, kamu kenapa?” seru Juna, pria itu menatap Risa panik.


Risa diam, ia menatap suaminya tanpa selera. Entah kenapa perempuan itu terkadang merasa ingin berdekatan dengan Juna, bermanja ria bersama pria itu. Namun, detik selanjutnya, dia merasa jengah melihat suaminya itu. Risa sendiri bingung dengan moodnya yang bagai rollercoaster. Naik turun tak menentu.


“Kita ke rumah sakit, ya?” ajak Juna.


Risa menggelengkan kepalanya, perempuan itu kemudian berusaha bangkit. Juna membantunya, ia menopang tubuh istrinya itu untuk beranjak keluar dari kamar mandi.


Perlahan, Juna menuntun Risa menuju ranjang mereka. Merebahkan pelan tubuh lemah istrinya itu di atas tempat tidur, lalu menarik selimut untuk Risa dan menutup tubuh perempuan itu hingga sampai sebatas leher.


“Istirahatlah, aku akan buatkan teh hangat untukmu,” ucap Juna seraya mengecup pelan kening Risa. Setelah itu, Juna menjauh, berniat keluar dari dalam kamar tersebut.


Namun, tiba-tiba tangan Risa menahannya, membuat Juna kembali menatap wajah Risa yang kini berubah pucat.


“Jangan beritahu yang lain kalau aku seperti ini. Aku enggak mau buat mereka khawatir. Nanti kalau mereka tahu, Mama sama Kak Aro pasti suruh aku ke rumah sakit,” tuturnya.


Juna mendesah pelan, ia menatap wajah istrinya itu intens. “Kamu itu lagi sakit, Sayang. Muka kamu aja pucat begitu. Pokoknya nanti setelah kamu minum tehnya, kita ke rumah sakit,” kata Juna. Pria itu kemudian melenggang pergi, tidak memberi kesempatan bagi Risa untuk menolaknya.

__ADS_1


__ADS_2