
“Kamu, kamu mau apa?” tanya Risa dengan nada gugup yang tidak dapat ia sembunyikan.
“Aku mau apa? Terserah aku mau apain kamu.” jawab Juna.
“Juna, kamu jangan macem-macem ya. Kamu harus ingat kalau aku enggak akan pernah sungkan buat ngehajar orang kayak kamu.” ancam Risa sembari mendorong tubuh Juna agar menjauh dari atas tubuhnya.
“Ck, kamu kan istri aku, aku mau apa-apain kamu juga terserah aku. Kecuali aku ngelakuin kekerasan ke kamu, itu baru salah.” kata Juna.
Tidak lama kemudian, pria itu menjauh dari atas tubuh Risa, kini Juna telah berdiri di sisi ranjangnya.
“Bangun.” ucapnya, memerintah Risa.
Risa yang tidak mengerti dengan maksud Juna itu, ia hanya diam memandang Juna dengan posisi yang sama sekali tidak berubah.
“Ayo cepet bangun, kamu mau sampai kapan tidur di atas kasur aku terus?! Lagian kamu juga harus memulai hukuman kamu.” kata Juna.
Risa pun mendengus kesal, rasanya ingin sekali ia mencakar wajah rupawan suaminya itu.
Apa yang sedang dia rencanakan? Perasaanku beneran enggak enak. — batin Risa sembari berdiri dari posisi tidurnya.
“Bagus.” ucap Juna dengan senyum puas setelah melihat Risa bangkit dan kini berdiri di hadapannya dengan raut masam.
“Kamu sebenernya mau hukum aku apa sih? Lagian tadi itu belum tentu aku yang buang bantal sama gulingnya.” protes Risa, bermaksud ingin membela dirinya sendiri.
“Gimana kalau semalam pas aku tidur, kamu sengaja singkirin itu pembatas? Terus kamu peluk aku.” Tuduhnya.
“Kamu pasti sudah rencanain itu semua kan?” tanya Risa sembari menatap Juna dengan tatapan curiganya.
Juna yang di tatap dan di tuduh seperti itu, ia tertawa, lalu tersenyum miring ke arah Risa, merendahkan pikiran buruk gadis dihadapannya itu.
Juna sebenarnya bisa saja melakukan semua yang baru saja Risa katakan padanya itu. Tapi semalam, dirinya terlalu lelah, untuk hanya sekedar mengerakkan tangan saja rasanya malas, apalagi memindahkan guling dan bantal pembatas itu.
__ADS_1
Dan yang sebenarnya terjadi adalah Risa sendirilah yang membuang semua bantal dan guling pembatas zona aman mereka itu.
Risa yang membuatnya dan Risa pulalah yang telah membuangnya sendiri.
“Kamu kebanyakan nonton drama ya? Ck, tuduhan kamu itu beneran enggak mendasar banget. Lagian untuk apa aku sengaja buang bantal sama gulingnya? Enggak ada faedahnya sama sekali.” kata Juna.
“Sekarang gini deh. Logikanya aja ya, tadi itu emangnya siapa yang peluk siapa?” tanya Juna, balik melemparkan kalimat tuduhan yang sepertinya akan skakmat pada Risa.
“Iya, itu, aku, itu— emang aku yang peluk kamu.” ucap Risa sembari menundukkan kepalanya sejenak. Lalu kemudian, ia tampak memberanikan diri untuk menatap Juna lagi.
“Tapi, itu, semua yang terjadi tadi bukan atas dasar kemauan ku sendiri. Aku bukannya sengaja peluk kamu apalagi elus perut kamu. Semua yang tadi aku lakuin ke kamu, semua itu dibawah kesadaran aku.” jawab Risa dengan raut wajah yang tampak tertekuk lesu.
“Bagus kalau kamu sudah sadar diri. Lagian di aturan yang kamu buat semalam, kamu enggak ada nyebut sadar atau enggaknya, jadi sekarang, walaupun kamu mabuk sekalipun, kamu masih terap harus di hukum. Intinya, siapa yang di rugikan bakal ngasih hukuman ke pihak yang merugikan.” kata Juna.
Risa menghela nafasnya sembari menggaruk kepalanya yang terasa sedikit gatal.
“Baik, aku tahu, maaf, karena aku enggak sengaja peluk kamu dan juga— eng, itu, elus perut kamu ” ucap Risa.
“Oke, aku terima maaf kamu, tapi setelah kamu selesaikan hukuman kamu.” ujar Juna.
“Iya, kamu tinggal bilang aja, apa hukumannya?” tanya Risa dengan raut wajah muram seperti mendung yang sangat gelap.
“Kamu hari ini masih libur kan?” Juna balik bertanya.
Risa tampak menganggukkan kepalanya, “Iya.” jawabnya sembari menatap Juna dengan hati penuh kewaspadaan, ia curiga kalau hukuman yang Juna berikan padanya pasti sesuatu yang membuatnya merasa kesal.
“Bagus, hari ini aku juga libur.” ucap Juna, ia terlihat kembali tersenyum puas.
Dia, apa yang ada di dalam pikirannya? Apa yang dia rencanakan? Hukuman apa yang sudah dia siapkan untukku?
Lagian, kamu itu bodoh banget sih Sa? Kenapa juga buat peraturan konyol kayak gitu? Padahal kamu sendiri tau kalau diri kamu itu enggak bisa diem pas lagi tidur.
__ADS_1
Ck, kalau seperti ini, bukankah ini yang dinamakan senjata makan tuan. Aku yang buat aturan, tapi aku yang dapat hukuman, sial.
Pagi-pagi sudah sial, aku rasa hari ini akan menjadi hari yang teburuk sepanjang perjalanan hidupku.
Tidak, bukan hanya hari ini saja. Tapi lebih tepatnya, hari ini adalah awal mula hidupku yang suram. — batin Risa dengan segala macam keluhannya.
“Hari ini, kamu harus menuruti semua perintahku. Hari ini aku adalah raja di rumah in dan kamu adalah pelayannya. Jadi, semua yang aku katakan, kamu harus turuti, itu hu— ”
“Itu peraturan baru.” ucap Risa sengaja menyela perkataan Juna.
“Siapa yang bilang kalau itu peraturan baru huh?! Itu hukuman untukmu.” kata Juna.
Risa yang tadinya terlihat menciut bagaikan anak ayam yang tersesat. Tapi sekarang, gadis itu sepertinya sudah kembali pada jati dirinya sendiri yang dipenuhi ambisi untuk balas dendam pada pria yang kini telah menjadi suaminya itu.
“Kamu tanya siapa yang bilang? Tuli ya? Barusan aku yang bilang kalau itu adalah peraturan baru kita.” ucap Risa.
“Enggak, aku enggak setuju.” sanggah Juna.
“Ya udah kalau kamu enggak setuju, aku juga enggak mau nuruti hukuman tidak resmi itu.” ucap Risa sembari berjalan menuju ke arah pintu keluar kamar tersebut.
“Eh! Tunggu.” panggil Juna.
Risa pun berhenti, diam-diam ia tampak menyeringai dengan senyum penuh kemenangan. Lalu kemudian, gadis itu bebalik dan menatap suaminya yang hanya bisa pasrah dengan dirinya yang selalu mudah mengalah.
“Iya baiklah, itu akan menjadi aturan baru kita.” ucap Juna setelah Risa berbalik dan menatapnya dengan raut wajah dingin seperti batu es yang telah membeku selama puluhan tahun.
“Oke sepakat. Hari ini kamu adalah raja dan aku adalah pelayan. Tapi besok, aku adalah ratu dan kamu adalah pelayannya. Jadi adil kan?” kata Risa tanpa tahu kesialan apa yang telah menunggu dirinya.
💥thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💥
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1