
Bercengkrama dalam tawa itu menyenangkan. Bahkan terkadang waktu terasa bagaikan petir yang menyambar, sangat singkat dan cepat. Satu jam pun seperti satu detik yang berlalu. Rasanya enggan meninggalkan setiap menitnya.
Hembusan angin yang masuk melalui jendela dapur menyadarkan Risa dari senda guraunya yang terasa singkat. Gadis itu menoleh, menatap keluar jendela. Langit telah menampilkan warna jingganya, dan matahari sepertinya sudah bersiap untuk mundur perlahan dari bumi Indonesia bagian barat. Tidak lama lagi, bulan akan menggantikannya.
“Ada apa, Sa?” tanya Deon ketika gadis itu tampak diam menatap keluar jendela. Risa termenung tanpa suara. Tapi kemudian suara Deon menyadarkannya.
“Tidak, bukan apa-apa.” jawabnya. Setelah itu, ia terlihat meraih tasnya, kemudian berdiri dari kursinya. “Aku harus pulang.” ucap Risa.
Deon terdiam ketika sebuah rasa yang ia benci kembali merasuki hatinya. Kesedihan itu sangat tidak menyenangkan. Deon ingin mengabaikannya, tapi rasa itu seperti parasit yang sulit untuk hilang begitu saja.
“Tidak bisakah lebih lama lagi?” tanya Deon.
“Ya?” Risa tidak paham dengan maksud perkataan itu, dirinya tampak menatap Deon dengan kening yang berkerut.
“Ah tidak, anggap saja angin lalu. Ayo, aku antar kamu pulang.” katanya.
“Aku pulang naik bus saja. Kamu enggak perlu mengantarku pulang. Lagian kalau sampai suamiku tahu ada pria lain yang bersamaku. Dia mungkin bisa marah seperti anak bayi.”
“Suami.” ucap Deon, mengulang kata itu kembali. Lalu ia tampak tertawa, tawa mirisnya. “Bodohnya aku. Bagaimana aku bisa lupa kalau kamu ini seorang perempuan yang sudah bersuami.” katanya.
“Deon.” Risa merasa aneh dengan diri Deon, tawa pria itu membuat hatinya merasa tidak nyaman. Seolah ada sesuatu yang mengusik jiwanya.
“Sa.” panggilnya, setelah ia tampak berdehem beberapakali untuk menetralkan suaranya.
“Em?”
“Kamu tahu kan kalau aku ini orangnya keras kepala, pantang menyerah dan enggan untuk putus asa.”
Risa mengangguk pelan, “I—iya. Itu sifatmu dulu.” jawabnya.
“Sekarang juga masih sama.” kata Deon.
Risa menatap Deon lekat. Ada yang aneh dengan pria itu. “Deon, apa kamu sedang ada masalah? Kamu baik-baik saja kan? Kamu tiba-tiba terlihat aneh. Apa kamu sakit?” tanyanya.
Risa berbeda. Itu yang Deon pikirkan sejak dulu tentang Risa.
Risa adalah perlambang bunga Edelweis, bunga abadi yang berada di pegunungan. Di saat kebanyakan bunga mudah untuk di dekati. Tidak dengan Edelweis. Dia di lindungi, tidak boleh ada yang memetiknya. Hanya untuk melihatnya pun butuh perjuangan dengan pendakian terjalnya jalanan pegunungan.
__ADS_1
Dia juga abadi, seperti kecantikan Risa yang seolah tidak pernah luntur sama sekali. Mungkin walau rambut hitam itu berubah menjadi putih. Risa tetaplah Risa yang selalu elok untuk di pandang oleh hati.
“Sesuatu di dalam tubuhku terasa sakit.” gumam Deon.
“Ha? Kamu bilang apa? Bisakah kamu bicara lebih keras sedikit? Aku kesulitan mendengar perkataanmu.” ucap Risa.
Deon menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku hanya berbicara pada diriku sendiri. Abaikan saja. Ayo cepat, bukannya kamu harus segera pulang sebelum suami kamu pulang duluan?”
“Iya. Tapi kamu sungguh tidak perlu mengantarku pulang. Aku bisa pulang sendiri, Deon.”
“Sa, kamu boleh tolak perasaan aku. Tapi tolong jangan tolak niat baik aku, ya?” katanya.
“Kamu lagi bercanda ya? Tapi barusan Acting kamu sempurna. Kamu itu beneran mirip kayak orang yang lagi mengungkapkan perasaannya. Aku bahkan hampir percaya sama kata-kata kamu barusan.” ujar Risa sembari terkekeh. “Ah iya. Kalau begitu aku terima deh niat baik kamu.”
•••
“Juna.” kaki pria itu berhenti melangkah ketika sebuah suara memanggil namanya. Juna menoleh. Terlihat Dokter Ali berjalan menghampirinya.
“Kamu sudah mau pulang?” tanyanya.
Kemudian, pria di hadapannya itu terlihat menggaruk kepalanya. Dokter Ali sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tapi rasa gengsinya membuat pria itu merasa bingung harus bagaimana mengatakan sesuatu itu.
“Dokter Ali? Apa ada yang ingin anda katakan?” tanya Juna.
“Eng— itu, aku, aku cuma mau bilang terimakasih karena tadi siang sudah membantuku berbicara dengan keluarga pasien. Karenamu, sekarang mereka merasa lebih tenang dari sebelumnya.”
“Ah itu, iya sama-sama. Sebenarnya itu bukan bantuan, saya hanya mengatakan sebuah kebenaran, itu saja.” ujar Juna.
Setelah itu, hanya keheningan yang ada. Rasa canggung pun bahkan tertarik untuk singgah di hati keduanya. Kecanggungan itu seolah membunuh rasa santai di antara mereka.
“Apa— ada yang ingin Dokter Ali katakan lagi? Sebenarnya saya harus segera pulang. Istri saya mungkin sudah menunggu saya di rumah.” ucap Juna.
“Ah begitu ya. Aku hampir lupa kalau kamu sudah memiliki seorang istri. Sungguh tidak disangka. Ya baiklah. Tidak ada lagi yang ingin aku katakan padamu, kamu boleh pergi. Aku juga tidak ingin membuat Risa menunggumu karena aku.” ujar Ali.
“Aku juga harus pergi, masih ada pasien yang harus aku periksa. Sampai jumpa. Lain kali kalau kamu ada waktu luang, mari kita minum kopi bersama, aku akan mentraktirmu.” kata Dokter Ali, lagi. Pria itu kemudian maju satu langkah ke depan. Menatap Juna sekilas sembari menepuk bahu pria itu. Lalu berbalik dan pergi dari hadapan Juna.
“Dokter Ali.” panggil Juna ketika pria yang lebih tua darinya itu tampak berjalan menjauhinya.
__ADS_1
“Ya?”
“Itu, apa, apa hubungan anda dengan Risa cukup dekat?” tanya Juna.
Lalu, sebuah senyum tipis pun terukir di wajah orang yang di tanya. Dokter Ali kemudian berbalik lagi menghadap Juna. Dengan jarak sekitar dua meter, ia menatap juniornya itu lekat.
“Kamu penasaran dengan hubunganku dan Risa?”
Juna mengalihkan pandangannya sejenak, tapi kemudian kembali menatap seniornya itu lagi. “Sedikit.” jawabnya.
Senyum tipis pun berubah menjadi tawa kecil. Dokter Ali terkekeh melihat Juna yang seperti itu. “Aku bisa saja menceritakan hubunganku dengan Risa kalau kamu punya banyak waktu. Tapi sepertinya kamu tidak punya banyak waktu untuk itu. Bukannya tadi kamu bilang kalau Risa sedang menunggumu?” tanyanya.
Juna mengangguk sembari menggaruk keningnya dengan satu jarinya. “Ya, Dokter Ali benar. Mungkin lain kali saja. Lagian saya juga tidak terlalu penasaran. Hanya sedikit saja. Sedikit sekali.” ucap Juna.
Tawa kecil yang tadinya sempat hilang pun kembali tersemat di wajah dokter hebat itu. Ia tahu kalau Juna sebenarnya sangat penasaran sekali. Pria di hadapannya itu pasti sudah lama ingin menanyakan perihal hubungannya dengan Risa, bagaimana dan dimana serta seperti apa hubungannya dengan Risa.
“Aaa— hanya sedikit ya. Kalau begitu lain kali saja. Sekarang aku harus pergi, pasienku pasti sudah lama menungguku.” katanya.
“Itu, tunggu sebentar Dokter Ali. ” ucap Juna, menghentikan gerakan Dokter Ali yang ingin membalikkan badannya.
“Ada apa?”
“Apa, apa Risa, apa istriku adalah mantan pacar anda?” tanya Juna.
Ali mengernyitkan keningnya. Pertanyaan Juna sungguh di luar dugaannya. Ia tidak menyangka kalau Juna berpikir sejauh itu tentang hubungannya dengan Risa.
“Kamu pikir Risa itu perempuan yang mudah di dapatkan? Aku sudah dua tahun mengenalnya, dan satu tahun lebih mengejarnya. Tapi selama itu aku sama sekali tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk merengkuh hatinya. Aku beritahu kamu ya, Jun. Risa itu perempuan yang sulit ditaklukkan. Dia bahkan lebih dingin dari Kutub Utara dan Selatan” jawab Dokter Ali. Lalu kemudian tersenyum, senyum hangat bak mentari pukul sepuluh pagi. “Apa kamu cukup puas dengan jawabanku?” tanyanya.
Juna mengulum senyumannya. Ia merasa senang mendengar jawaban itu. Rasanya seperti ada kucing yang menjilati hatinya.
“Sangat puas.” jawabnya.
💥thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💥
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
Terimakasih sudah mengikuti novel ini. Jangan lupa komentar dan vote kalian. Ty
__ADS_1