Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Angin Pembawa Kabar


__ADS_3

Sore itu angin berhembus kencang. Daun-daun berterbangan menerpa semua yang menghalanginya.


Sosok Risa berjalan di tengah langit yang mulai menggelap karena mendung.


Warna abu-abunya yang pekat, membuat semua orang memilih bersembunyi di balik atap rumah mereka.


Senyum Risa mengembang tatkala rasa sejuk mengusik hatinya.


Sore itu, entah kenapa Risa memiliki hasrat ingin pergi keluar rumahnya. Berjalan-jalan sejenak di area pedestrian dekat kompleks perumahannya.


Danau buatan yang menjadi icon utama, di tambah jajaran pohon-pohon rindang yang menyejukkan mata. Semua itu mampu melepas penat dan rasa bosan yang ada.


Risa duduk pada salah satu kursi yang ada di pedestrian itu. Wajahnya menghadap ke arah danau buatan berwarna biru bagai lautan.


Angin pembawa kabar tentang hujan semakin berhembus kencang. Menerpa rambut panjang Risa yang kini tampak melambai-lambai.


Satu tetes air membasahi wajah Risa, membuat gadis itu mendongakkan kepalanya, melihat awan yang mulai mengeluarkan tetesan hujannya.


Para pengunjung tempat itu tampak berlarian mencari tempat berteduh. Namun tidak dengan Risa, entah kenapa dirinya merasa enggan untuk beranjak walau hanya sekedar mencari tempat bersembunyi dari air hujan yang semakin mengguyur deras.


Risa masih menengadahkan wajahnya ke atas langit, menikmati setiap tetes air hujan yang membasahi dirinya. Semburat senyum tak lepas dari wajahnya, ia merasa bahwa hujan melunturkan semua rasa penat dalam tubuhnya.


***


“Juna,” panggil seseorang pada pria yang baru saja keluar dari ruang perawatan pasien pasca operasi.


Pria yang di panggil Juna itu pun menoleh.


“Yoga, ada apa?” tanya Juna.


Yoga menghela napasnya sejenak, pria itu tampak terengah-engah. Napasnya memburu, seperti seseorang yang baru saja berlari empat ratus meter.


“Kamu kenapa? Habis RJP ya?” tanya Juna sekali lagi, meras heran dengan kondisi teman baiknya itu.


“Aku enggak tahu ini bakalan jadi kabar buruk atau baik untukmu. Tapi kamu harus tahu ini,” kata Yoga setelah menetralkan napasnya.


“Maksudmu apa? Aku enggak ngerti,” Juna masih tidak paham.


Yoga merogoh saku jas dokternya, lalu mengambil ponsel yang ia simpan di dalam saku tersebut.

__ADS_1


“Buka handphone-mu,” suruh Yoga setelah ia tampak mengirimkan sesuatu pada Juna melalui aplikasi whatsapp-nya.


Detik selanjutnya, mata Juna tampak terbelalak menatap layar ponselnya. Pria itu bahkan sampai terlihat sedikit membuka mulutnya.


“Dia... dia beneran udah kembali ke Indonesia?” tanya Juna sembari menatap sebuah foto seorang wanita yang Yoga kirimkan padanya.


“Jadi kamu beneran enggak di kasih tahu sama dia? Dia bilang sama aku kalau dia mau kasih kamu kejutan. Sebenernya dia larang aku buat kasih tahu kamu. Tapi masalahnya, sekarang ini kamu sama dia enggak mungkin balik kayak dulu lagi,” kata Yoga.


Juna mengusap puncak kepalanya kasar. Dengan wajah yang masih tampak terkejut, tiba-tiba sebuah panggilan masuk membuatnya menatap Yoga dengan ekspresi super anehnya.


“Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?” bingung Yoga, ia pun kemudian sadar dengan ponsel temannya yang tampak menyala karena adanya panggilan masuk.


“Jun, ada yang telepon kamu, kenapa enggak di angkat? Siapa tahu itu dari istri kamu,” terka Yoga.


Juna menghembuskan napas beratnya. Pria itu menatap layar ponselnya yang masih menyala. Lalu kemudian, ia menyerahkan ponsel miliknya itu ke tangan Yoga.


“Ini bukan dari Risa. Kamu tolong bantu aku untuk menjawab panggilannya. Bilang sama dia kalau aku sedang berada di ruang operasi,” suruh Juna pada teman baiknya itu.


Yoga yang masih belum tahu siapa orang yang menghubungi sobat karibnya itu. Ia mengira kalau si penelepon adalah salah satu mantan Juna atau pacar Juna yang belum sempat Juna putuskan.


“Cepetan angkat, kok malah diem aja sih,” keluh Juna, kesal melihat sikap slow respons dari Yoga.


Juna menghela napasnya kasar. Pria itu melirik arlojinya. Jarum jam terus bergerak maju, dan Juna sebentar lagi ada jadwal operasi bersama Dokter Ali.


Juna tidak ingin waktunya terbuang sia-sia. Ia pun menghadapkan layar ponselnya tepat di depan wajah Yoga, yang seketika itu mampu membuat Yoga terdiam membisu.


Sekarang pria itu paham kenapa Juna tidak mau mengangkat panggilan tersebut. Itu karena si penelepon adalah ‘dia’ yang baru saja mereka perbincangkan.


“Haruna?” ucap Yoga membaca nama si penelepon.


“Iya, itu Runa, makanya aku suruh kamu buat angkat teleponnya, terus bilang sama dia kalau aku ada operasi,” kata Juna.


“Kenapa enggak kamu sendiri aja yang angkat?” Yoga masih bertanya. Bersamaan dengan itu, layar ponsel Juna mati, lalu sebuah notifikasi panggilan tidak terjawab tertera di beranda ponsel Juna.


“Sudah mati,” cicit Yoga, ia mengembalikan ponsel itu pada si empunya.


Juna menerima ponselnya itu dengan helaan napas berat, wajahnya itu seperti seseorang yang sedang memiliki banyak beban di pundaknya.


“Aku saranin kamu lebih baik temui Runa secara langsung, terus bilang sama dia kalau kamu sudah menikah dan bahagia dengan rumah tanggamu. Jadi, janji dan hubungan di antara kamu dengan Karin pasti otomatis akan berakhir,” pesan Yoga, mencoba memberikan saran terbaiknya.

__ADS_1


“Ya, aku tahu, ini pasti sulit untukmu. Apalagi, dulu sebenarnya hubunganmu dengan Runa belum berakhir, kalian hanya berpisah dengan baik karena dia tidak bisa melakukan hubungan jarak jauh denganmu waktu itu. Tapi, ikrar janji diantara kalian yang akan kembali bersama setelah Runa pulang dari Jepang. Sekarang, itu tidak mungkin terjadi, kamu sudah menikah, Juna,” imbuhnya.


“Karena itu kamu harus temui Runa dan katakan langsung padanya. Ini mungkin berat, karena aku tahu bagaimana kalian sudah bersama sejak kamu lulus SMA. Tapi, sekarang kamu punya Risa, istri kamu. Kamu jangan seperti orang bingung gini dong, Jun. Kamu harus tegas,” sambung Yoga, memberikan petuahnya.


Juna kembali menghela napas beratnya. Pria itu kemudian memasukkan ponselnya kembali ke saku jas dokternya. Lalu, tangannya tampak bergerak, ia menepuk pelan bahu teman baiknya itu.


“Aku tahu, kamu tidak perlu khawatir, aku akan menemuinya, lalu mengatakan yang sebenarnya,” putus Juna.


Yoga pun tersenyum senang mendengarnya.


***


Malam hari telah tiba, rembulan masih di tutupi oleh awan kelabu yang sepertinya enggan berlalu.


Risa berdiri di dekat jendela, sembari menyesap teh hangatnya, ia menyandarkan tubuhnya pada jendela kamarnya yang berada di lantai dua.


Tiga jam yang lalu, pukul enam sore menjelang petang. Risa baru pulang ke rumahnya. Perempuan itu pulang dengan kondisi tubuh yang basah kuyup karena puas menjadi penengadah hujan.


Rasa senang masih menggeliat manja di dalam hati Risa. Walaupun kepalanya sedikit terasa pening karena efek terlalu lama kehujanan. Tapi diri Risa merasakan euforia.


Ia senang bisa bermain-main dengan hujan. Air hujan yang menghantam lembut tubuhnya, membuat Risa seolah kembali ke masa kanak-kanaknya. Bahagia tanpa beban pikiran.


Risa melirik ke arah jam dinding yang menempel kuat di tengah kamarnya dan Juna.


Pukul sembilan malam, Juna sebentar lagi akan pulang.


Semenjak Risa tidak bekerja, wanita itu benar-benar menjadi istri yang baik. Melakukan pekerjaan rumah, melayani suaminya, dan yang paling ia sukai adalah menyambut suaminya yang pulang dari kerja.


Melemparkan senyum pada Juna yang terlihat lelah sehabis bekerja memberikan rasa bengga tersendiri di hati Risa. Apalagi ketika Juna mulai berkeluh kesah tentang pekerjaannya. Rasanya senang sekali.


Di saat Risa asyik dengan senyum sumringahnya. Ponselnya terdengar mengeluarkan bunyi pemberitahuan pesan masuk.


Risa menatap ponsel yang tergeletak di atas nakas dekat tempat tidurnya itu. Lalu, mendekatinya, membuka pesan masuk yang ternyata dari suaminya.


Maaf, malam ini aku pulang terlambat. Kamu tidur duluan aja. Jangan tunggu aku.


Note penting... Aku mencintaimu, sending virtual kiss untuk istriku.


JANGAN LUPA UNTUK LIKE, VOTE DAN KOMEN!🍁🌹

__ADS_1


__ADS_2