Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Love On Progress (bagian tiga)


__ADS_3

Juna masuk ke dalam rumah dengan tatapan kosong. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu yang mengganjal hati.


Pria itu, bagaimana bisa perkataannya sangat menggangu pikiranku? — batinnya, helaan nafas pun tak henti-hentinya terdengar dari dirinya.


Kemudian, kakinya berhenti melangkah ketika ia beradu tatap dengan istrinya. Risa, gadis itu berdiri di depan pintu kulkas setelah minum air dingin untuk menjernihkan pikirannya yang sempat kacau.


Dalam hening yang berkolaborasi dengan kecanggungan. Keduanya diam dalam posisinya masing-masing. Tatapan mata mereka pun masih tetap beradu pandang dalam hitungan menit.


Ehem. Risa berdehem, memutus kontak mata diantara mereka. Juna mengalihkan pandangannya seketika.


“Apa Deon sudah pulang?” tanya Risa.


Juna kembali menoleh ke arah sang istri, sejenak ia terdiam. Lalu kemudian melangkah mendekati Risa. Dalam jarak setengah meter, mereka kembali beradu pandang.


Hembusan nafas berat terdengar dari pria itu. Ia kemudian beralih menghadap ke arah kulkas, berdiri menyampingi istrinya.


“Lain kali jangan sebut nama pria lain di depan aku, kecuali keluarga kamu.” kata Juna sembari membuka pintu kulkas kemudian mengambil salah satu botol air mineral.


Risa terdiam. Bukan karena tidak ingin menjawab. Tapi karena perasaan yang tadi sempat mengacau hatinya, kini kembali mengacaukan dirinya lagi.


Juna menatap Risa sejenak sebelum kemudian berjalan menuju kursi yang ada di meja makan. Ia duduk disana untuk meminum air mineralnya.


“Dan jangan pernah masuk ke dalam mobil pria lain kecuali keluarga kamu, sopir taksi, atau driver online.” katanya lagi setelah menenggak habis air mineralnya.


“Bos aku, teman baik aku, boleh?” tanya Risa.


“Maksudnya?”


“Kamu larang aku dekat sama pria lain. Tapi kalau itu bos aku sendiri dan juga teman baik aku. Bolehkan?”


Juna menghela nafasnya berat. Ia kemudian bangkit dari kursinya. Berjalan mendekati Risa.


“Enggak.” jawab Juna, tepat dihadapan gadis itu. Wajah Juna saat menjawabnya pun terlihat tegas dan penuh peringatan di setiap suku katanya.


“Aku— ”


“Aku tidak menerima bantahan ataupun protes.” sela Juna dengan cepat. “Sa, kamu itu istri aku. Dan aku sebagai suami kamu sangat tidak suka kalau aku harus lihat kamu sama pria lain yang bukan kerabat dekat kamu.” sambungnya.


Risa menundukkan kepalanya. Gadis itu tidak seperti biasanya. Biasanya ia suka sekali membantah dan mengeluarkan protesnya. Tapi kali ini, ia seperti seseorang yang mengakui kesalahannya. Walaupun ini terlihat bagus. Tapi Juna merasa aneh sekaligus heran dengan perginya sikap Risa yang dulu.


“Kalau hati kamu bertanya, apa aku cemburu? Maka jawabanku mungkin iya. Anggap saja aku sedang cemburu melihatmu dengan pria yang bernama Deon itu.” kata Juna.

__ADS_1


Tangan pria itu pun kemudian terlihat bergerak, ia mengusap-usap pelan kepala Risa seperti seorang ayah kepada anaknya.


“Walaupun dia teman baikmu. Tapi kalian itu tetap laki-laki dewasa dan perempuan dewasa. Jadi, jaga jarak aman dengannya.”


Risa mendengus pelan. “Aku mengerti. Jauhkan tanganmu dari kepalaku.” ucapnya.


Sikapnya yang dulu sepertinya telah kembali. Matanya pun kini terlihat menyorotkan sinaran semangat perlawanan.


“Kamu lebih baik pergi mandi. Aku tidak suka bau badanmu.” kata Risa. Setelah itu ia berlalu dari hadapan Juna. Melewati suaminya dan pergi menaiki tangga untuk sampai ke kamarnya.


•••


Mobil berwarna hitam itu terparkir sembarangan di sebuah halaman rumah bergaya klasik.


Si pemilik mobil terlihat berdiri di pinggir danau yang berada di halaman samping rumah. Matanya menatap lurus kedepan, wajahnya terlihat muram, mimik mukanya pun tampak sendu.


Tangannya kemudian bergerak, merogoh kantung jaket denimnya, mengambil sesuatu dari dalam sana.


Satu bungkus rokok yang masih tersegel tampak ia keluarkan dari dalam sakunya. Sejenak ia menatapnya. Lalu kemudian tangannya kembali merogoh kantung jaketnya, mencari si pemantik api.


Tapi, setelah merogoh dan memeriksa kantung kiri dan kanan, ia sama sekali tidak menemukan keberadaan si pemantik api. Pria itu pun kemudian menghela nafasnya kasar. Kembali menatap rokok itu, lalu tiba-tiba melemparnya jauh ke depan. Sebungkus rokok yang tidak berdaya itupun akhirnya tenggelam di dasar danau.


Deon menatap langit malam, menengadahkan wajahnya ke atas, menahan air matanya yang ingin keluar tapi tidak pernah mendapatkan ijin sama sekali.


Pria itu pun kemudian mendesah pelan. Merasa kalau dirinya benar-benar bodoh. Ia menyesali dirinya yang telah mengaku atas perasaannya terhadap Risa. Ingatannya tentang bagaimana respon Risa setelah ia mengungkapkan perasaan pada gadis itu terus-menerus menggangu kepalanya.


Apalagi ketika dirinya harus kembali menerima kenyataan bahwa Risa saat ini sudah bersuami. Gadis itu, gadis yang dicintainya itu kini sudah berstatus menjadi istri pria lain.


“Sial.” umpatnya.


•••


Juna tampak berdiri di depan pintu kamar istrinya. Beberapakali tangan pria itu terangkat untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Tapi selalu saja urung karena hatinya yang ragu.


“Dia istri kamu Juna. Kenapa kamu ragu? Ayolah, Juna.” ucapnya pada dirinya sendiri.


Setelah cukup lama meyakinkan dirinya. Juna pun pada akhirnya mengetuk pintu kamar itu.


“Risa.” panggilnya sembari mengetuk pintu kamar tersebut. “Buka pintunya.”


“Ris—”

__ADS_1


“Apa?” tanya Risa setelah membuka pintu kamarnya.


Melihat Risa yang sudah berada di hadapannya. Rasa ragu kembali menyelinapi seluruh wilayah hati Juna. Ia pun tampak menggaruk kepalanya sesaat, mengalihkan rasa canggungnya.


“Boleh, aku masuk?” tanya Juna.


Risa mengernyitkan keningnya, “Ha?”


“Ini tidak akan berhasil.” gumam Juna sebelum kemudian ia mendorong Risa pelan dan menerobos masuk ke dalam kamar istrinya.


“Malam ini aku akan tidur bersamamu.” ucap Juna, nadanya sedikit terdengar kaku. Tapi pria itu tampak santai.


Awalnya Risa merasa bingung. Tapi kemudian gadis itu tampak tersenyum hambar.


“Kamu bicara seperti itu, kenapa aku merasa kalau kamu itu seolah-olah punya banyak istri ya?” ujar Risa.


“Malam ini tidur di kamar istri A, besok malam tidur di kamar istri B, dan seterusnya. Ya, itukan memang ciri khas kamu. Laki-laki dengan banyak wanita di sisinya.” kata Risa sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


Juna menatap Risa sembari menghela nafasnya. Gadis itu benar-benar sudah kembali ke sikap awalnya. Penuh dengan kecurigaan dan ketidaksukaan terhadapnya.


“Istri aku cuma satu.” ucap Juna seraya melangkah menuju ke arah tempat tidur. “Dan itu adalah kamu.” sambungnya lagi setelah ia naik ke atas tempat tidur dan berbaring disana.


“Oh.” jawab Risa sembari melangkah menuju tempat tidurnya.


“Yakin enggak ada niat buat nambah istri lagi?” tanyanya.


Sesaat Juna terdiam. Ia sepertinya terkejut dengan pertanyaan Risa barusan. Tapi kemudian, pria itu tampak tertawa, ia merasa pertanyaan Risa itu menggelitik hatinya.


“Kamu barusan kasih ijin aku buat nikah lagi?”


Risa menganggukkan kepalanya tanpa ragu, “Ya, tapi sebelum itu, ceraikan aku dulu.”


Seketika itu tawa Juna pun menghilang. Ia menatap Risa datar.


“Aku hanya bercanda. Jangan terlalu serius. Lihatlah, wajahmu itu kalau sedang marah terlihat sangat buruk. Tidak ada handsome-nya sama sekali.” kata Risa. Setelah itu ia naik ke atas tempat tidurnya. Mengabaikan Juna yang terus menatapnya dalam diam.


Risa pun kemudian tidur di sisi Juna tanpa protes sama sekali.


Entah kenapa, aku merasa tidak kesal ataupun marah waktu dia bilang ingin tidur bersamaku. Malahan, hatiku ini merasa senang.


💥thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💥

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


Terimakasih sudah mengikuti novel ini. Jangan lupa komentar dan vote kalian. Ty


__ADS_2