Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Semua Karena Juna


__ADS_3

Setelah selesai mencuci piring bekas ia makan. Juna pun tampak melihat ke arah lantai dua.


“Risa, aku mau berangkat.” teriak Juna dari lantai bawah.


Teriakan dari Juna itu bukan hanya sekedar untuk pamit. Tapi agar Risa turun ke bawah dan mengantarnya sampai depan rumah, layaknya seperti pasangan suami istri lainnya. Itu yang Juna harapkan.


Tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda kalau Risa akan turun ke bawah. Menjawab perkataan Juna saja tidak, apalagi keluar dari kamar dan turun kebawah.


Risa seperti itu, entah karena dia tidak mendengar teriakan dari Juna atau karena memang Risa tidak ingin keluar?


Juna pun menghela nafasnya, “Ck, susah banget sih mau di ajak harmonis, dasar Risa.” ucap Juna yang kemudian berjalan keluar dari dalam rumahnya.


•••


Di rumah sakit universitas Medicalis, ibu kota Jakarta.


Suasana pagi itu terlihat cerah. Walaupun jam besuk belum di buka, tapi sudah banyak orang yang mulai berdatangan. Bukan hanya dari pihak keluarga pasien, tetapi beberapa staff medis yang mendapatkan jadwal kerja pagi ataupun yang ada keperluan lainnya juga terlihat telah mendatangi rumah sakit besar itu.


“Dokter Elia.” panggil seorang perawat bernama Clara ketika ia tidak sengaja melihat sosok perempuan yang beberapa bulan belakangan ini hangat di perbincangkan oleh para staff medis wanita di seluruh penjuru rumah sakit.


“Ya? Ada apa?” tanya Dokter Elia dengan nada ramahnya.


Dokter Elia merupakan seorang wanita berusia dua puluh sembilan tahun lebih yang berprosfesi sebagai dokter spesialis kebidanan dan kandungan.


Perawakan tubuh dari dokter bernama Elia itu sekali lihat saja mampu membuat orang membuka mulutnya menganga sempurna. Tubuh yang menjulang tinggi sekitar seratus enam puluh tujuh centimeter, berat badan yang cukup membuat kakinya terlihat jenjang yaitu sekitar empat puluh enam kilogram, dan lagi, tata letak dan bentuk semua instrumen yang ada di wajahnya begitu pas dan sempurna, sungguh cocok di sebut cantik mempesona.


“Ck, wajahnya biasa saja.” gumam Clara yang tidak sengaja terdengar oleh Luna.


“Dokter Elia, abaikan saja perawat satu ini, dia itu hanya sedang mengabsen satu-persatu kekasih baru dokter Juna.” ujar Luna, setelah mengatakannya, dokter residen tahun pertama itu tampak pergi melangkah menuju ke bagian IGD.


“Ah, begitu ya.” ucap dokter Elia dengan senyum canggungnya.


“Karena dokter Elia sudah tahu alasan saya memanggil anda, bisakah sekarang saya mulai bertanya pada anda?” kata Clara.


“Itu, apa pertanyaan-nya tentang Juna?” tanya dokter Elia.


“Baguslah kalau anda sudah mengetahuinya. Saya tidak perlu lagi basa-basi.” ujar perawat Clara.


Elia tampak tersenyum kaku, ia merasa sepertinya ada kesalahpahaman antara dirinya dan beberapa staff medis wanita di bagian instalasi gawat darurat ini. Elia dapat menebaknya dari tatapan para perawat ataupun dokter wanita yang diam-diam memperhatikan dirinya yang seolah sedang di interogasi oleh Clara, salah satu perawat IGD.

__ADS_1


“Kalau anda ingin tahu tentang dokter Juna, bukankah lebih baik anda menanyakannya langsung kepada dokter Juna daripada saya yang bukan siapa-siapanya?” ujar Elia.


Clara tampak tersenyum sinis mendengar perkataan dari Elia itu.


“Bukan siapa-siapa? Itu artinya ada dua kemungkinan. Pertama, anda sudah putus dengan dokter Juna, dan yang kedua, anda sedang berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian?” kata Clara.


Elia semakin mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan apa yang perawat Clara katakan.


“Putus? Berpura-pura apa? Denger ya perawat Clara, saya dan dokter Juna itu enggak ada sedikit pun hubungan khusus. Saya sendiri juga enggak pernah berpacaran dengannya. Lagian dokter Juna itu hanya sebatas rekan kerja saya dan juga Junior saya saat masih kuliah kedokteran dulu.” ujar Elia.


“Bohong, anda pikir di rumah sakit ini enggak ada yang tau bagaimana kedekatan anda beberapa bulan yang lalu dengan dokter Juna? Bulan Januari lalu anda terlihat sangat intens bertemu dengan dokter Juna.” kata Clara yang mampu membuat Elia tertawa kecil.


“Anda tertawa? Apa perkataan saya terdengar lucu bagi anda?” tanya perawat Clara, ia terlihat semakin tidak senang dengan dokter cantik itu.


“Ah maaf. Saya cuma enggak nyangka, hanya karena saya sering bertemu dengan dokter Juna untuk membahas pasien. Saya malah jadi bahan gosip seperti ini.” ujar dokter Elia sembari menatap satu-persatu staff medis yang memperhatikannya diam-diam.


“Lagian waktu itu saya sering ketemu sama dokter Juna juga karena ada pasien saya yang hamil tapi punya riwayat pneumotoraks. Kalau perawat Clara dan yang lainnya enggak percaya, kalian bisa kok tanya langsung ke dokter Juna.” kata Elia.


Perkataan dari Elia itu seketika membuat semua orang terdiam, termasuk Clara yang hanya bisa menatapnya sinis.


“Apa ada yang ingin perawat Clara bahas lagi sama saya? Kalau enggak ada saya harus segera pergi, karena ada banyak ibu hamil yang udah ngantri nungguin saya.” ujar Elia yang kemudian pergi dari area IGD ketika ia rasa tidak ada lagi yang ingin menyinggungnya.


Namun ketika dirinya sudah masuk ke dalam lift dan baru saja pintu lift akan tertutup, tiba-tiba terlihat tangan seorang pria menahan pintu lift tersebut.


“Tunggu, tunggu.” ucap pria itu sembari masuk ke dalam lift.


“Eh, kak Elia. Udah lama enggak ketemu.” kata pria itu sembari menekan tombol angka lantai yang akan dituju.


Pria itu adalah Juna, orang yang baru saja membuat dirinya membuang waktu percuma karena harus meladeni para perempuan yang telah menjadi mantan Juna ataupun penggemar pria itu.


“Enggak usah sok akrab deh Jun, nanti ujung-ujungnya juga aku yang di musuhin orang-orang.” kata Elia.


“Loh kok bisa?” tanya Juna yang memang tidak mengerti dengan apa maksud dari perkataan Elia itu.


“Ck, gara-gara bulan Januari kemarin aku sering ketemu sama kamu. Aku jadi di musuhin sama staff medis perempuan di bagian IGD, itu juga baru di bagian IGD, enggak tau di bagian lainnya. Lagian kamu itu dari jaman kuliah sampai sekarang belum berubah juga ya? Masih aja playboy. Laki-laki kayak kamu itu seharusnya migrasi aja ke planet rabbit.” ujar Elia.


Juna tampak tertawa mendengar apa yang senior saat masa kuliahnya itu katakan.


“Maaf deh kak. Lagian gini-gini aku juga udah pernah jadi adek ipar kak Elia loh. Oh iya kak, gimana kabarnya Ella? Apa dia masih secantik dulu? Dia itu satu-satunya perempuan yang paling lama jadi pacar aku, sampai tiga tahun loh kak. Jadi kak Elia harus bangga sama adek kakak itu.” ujar Juna diiringi tawa bercandanya.

__ADS_1


“Bangga jidat kamu itu! Kalau aja dulu aku enggak lagi pelatihan di luar negeri, pasti dulu pas kamu sakitin Ella, udah aku cincang habis kamu.” kata Elia sembari menatap geram ke arah Juna. Walaupun kejadian itu sudah berlangsung tiga tahun yang lalu, tapi sepertinya masih ada sisa-sisa dendam di hati Elia sebagai kakak dari perempuan yang pernah Juna sakiti.


“Saran dari aku ya Jun, lebih baik kamu cepetan tobat deh. Inget, hukum alam aja berlaku apalagi hukum karma. Hati-hati, nanti enggak bisa nikah karena terlalu playboy baru tau rasa kamu. Aku duluan, bye.” ujar Elia yang kemudian keluar dari dalam lift yang telah sampai di lantai tiga.


“Enggak bisa nikah apanya, malahan sekarang aku udah nikah duluan.” gumam Juna ketika pintu lift tampak tertutup kembali.


Tak lama kemudian, lift yang Juna pakai telah sampai di lantai yang ia tuju, yaitu lantai enam, tempat departemen spesialis bedah toraks dan kardiovaskular berada.


“Juna.” panggil Yoga yang terlihat datang dari arah departemen anastesi kardiovaskular.


Kedua departemen yang memiliki keterikatan satu sama lain itu memang berada di satu lantai yang sama, hal itu berguna untuk memudahkan para dokter spesialis bagian OK melakukan pertemuan ketika ingin membahas pasien mereka yang akan di operasi.


“Yoga? Kamu juga dapet jadwal operasi?” tanya Juna.


“Enggak, hari ini sebenernya aku libur. Tapi karena ada seminarnya senior aku, makanya aku terpaksa dateng ke rumah sakit.” kata Yoga.


“Oh, ya udah kalau gitu aku pergi duluan, mau ada briefing sebelum operasi.”


“Eh tunggu dulu. Kamu hari ini ada jadwal operasi?” tanya Yoga.


“Iya.” jawab Juna.


“Gila kamu ya Jun. Kamu kan baru nikah, masa udah main tinggalin istri kamu aja. Kasihan tau si Risa ditinggal di rumah sendirian padahal pengantin baru.” kata Yoga.


“Biasa aja kali Ga, lagian Risa juga enggak protes kok.” ujar Juna.


“Ck, dasar kamu Jun. Ya udah, aku pergi duluan, bentar lagi seminarnya mau di mulai.” ucap Yoga.


“Hm, iya.”


“Semoga istri kamu bisa betah sama orang kayak kamu, good luck.” kata Yoga yang kemudian pergi setelah menepuk bahu Juna sekilas.


💥thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


💌Note Penting : Visual karakternya Deon sebag pemeran pendukung utama alias pemeran utama ketiga sudah ada di bagian perkenalan tokoh.


💌Satu lagi, untuk umur tokoh ada perubahan. Karena setelah baca-baca, untuk dokter spesialis itu butuh waktu lama baru bisa sampai ke tahap itu. Jadi biar nyambung sama real life dan enggak terlalu mengada-ada, umurnya Risa diganti 25th, Juna 27th, Deon 25th. Sekian terima vote and like juga komen. Salam hangat dari author 💃💥

__ADS_1


__ADS_2