
“Semoga istri kamu bisa betah sama orang kayak kamu, good luck.” kata Yoga yang kemudian pergi setelah menepuk bahu Juna sekilas.
Setelah Yoga pergi, Juna pun segera bergegas menuju ke divisinya.
Sesampainya disana, para staf medis yang merupakan bagian dari tim operasi yang sama dengan Juna, mereka terlihat sudah duduk di kursinya masing-masing, siap menerima arahan dan diskusi bersama dokter penanggungjawab operasi kali ini.
“Maaf, saya terlambat.” ucap Juna sembari masuk ke dalam ruangan timnya dan duduk di kursinya.
“Kebiasaan.” ujar seniornya, Leo.
Juna hanya menanggapinya dengan senyum samar.
“Lain kali jangan di ulangi lagi. Waktu kita itu adalah waktu hidup bagi pasien. Kalau kamu terus-terusan terlambat gimana mau jadi dokter yang baik.” kata seorang senior lainnya, Ali.
“Maaf.” ucap Juna dengan kepala tertunduk ke bawah.
Mungkin Juna ketika di marahi oleh dokter Leo, dia masih bisa bersikap santai. Tapi jika dokter bernama Ali itu yang memarahinya, Juna sungguh tidak berani melawan sama sekali.
Bukan karena dokter Ali sangat menakutkan. Tapi, dokter Ali itu adalah dokter yang terkenal dengan keahlian bedahnya, kredibilitas kemampuannya dalam bedah organ dalam juga di akui oleh pemerintah nasional. Semua orang menghormatinya, termasuk Juna yang merupakan seorang pengagumnya.
“Dengar ya kalian. Saya disini bukan untuk main-main, tapi untuk menyelamatkan pasien. Apa ini cara kerja tim kalian?! Buruk sekali. Kalau sampai ada yang membuat masalah lagi, saya lebih baik tidak perlu menjadi dokter penanggungjawab operasi ini.” kata dokter Ali yang mulai marah.
“Ini salah saya dokter. Saya minta maaf, mohon kepada dokter Ali untuk tetap menjadi penanggungjawab operasi ini. Karena ini adalah operasi besar, kami butuh seorang dokter ahli bedah yang jenius seperti dokter Ali.” ujar Juna yang langsung mampu menyihir dokter Ali untuk tetap duduk dan menerima perkataannya.
Sesempurna apapun seseorang, tetap saja ia akan memiliki sebuah celah kelemahan. Seperti dokter Ali, kelemahannya itu adalah pujian.
Intinya, selama pujian itu dirangkai dengan kata-kata yang baik dan tidak berlebihan. Dokter Ali yang tadinya marah besar, ia bisa menjadi lunak dalam hitungan menit.
“Baiklah, kali ini saya maafkan, tapi jangan di ulangi lagi.” katanya.
“Dimengerti dokter.” ucap Juna.
“Oke kalau gitu ayo mulai briefing nya. Cepat berikan dokumen rekam medis pasien itu pada saya.” ujar Ali.
“Juna, cepetan kasih dokumennya ke dokter Ali.” ujar Leo.
Juna yang tiba-tiba disuruh seperti itu, ia pun tampak terkejut dan bingung.
__ADS_1
“Eh? Dokumen apa ya senior?” bisik Juna pada Leo yang saat itu kebetulan memang ada di sampingnya.
“Pakai tanya segala. Tiga hari yang lalu kan aku kasih kamu flashdisk warna putih, itu isinya dokumen rekam medis pasien yang mau di operasi hari ini. Aku juga udah suruh kamu buat print terus fotocopy tujuh rangkap untuk briefing hari ini. Jangan bilang kamu lupa.” kata Leo dengan suara pelannya.
“Ada masalah apa lagi?” tanya dokter Ali.
“Maaf dokter, sepertinya Juna— ”
“Eh itu, dokumennya saya bawa kok. Udah saya print dan juga udah saya fotocopy tujuh rangkap. Tunggu sebentar.” kata Juna sembari membuka tas kerjanya dengan ragu.
Dokumen itu emang udah aku print, juga udah aku fotokopi tujuh rangkap. Tapi masalahnya, aku bawa apa enggak ya? Soalnya ini tas rasanya ringan banget.
Juna kemudian melihat isi tasnya, disana ia tidak melihat apa-apa selain beberapa lembar kertas tidak penting. Sepertinya ia memang lupa membawa dokumen tersebut.
Mampus, beneran kan enggak aku bawa. Aduh gimana ini? Sial.
“Ada enggak Jun?” tanya dokter Leo.
Juna pun dengan wajah bersalahnya menatap para seniornya, ia siap menerima amukan dari mereka.
“Jangan bilang kalau kamu lupa print sama fotokopi.” kata dokter Meta, dokter spesialis Anastesi.
“Lupa kamu bawa?!” tanya dokter Ali yang sudah masuk ke dalam mode marahnya lagi.
“Maaf dokter, saya beneran lupa.”
“Ah udah enggak usah alasan. Saya beneran udah enggak tau lagi mau ngomong apa sama kamu. Udah dateng terlambat, sekarang malah enggak bawa bahan untuk keperluan briefing. Kamu tau enggak?! Itu dokumen penting buat kita semua, kalau kita enggak tau rekam medisnya, gimana nanti kita bakal operasi itu pasien?!” ujar dokter Ali.
“Eng, itu dokter Ali. Gimana kalau kita pakai proyektor aja, kan itu juga sama aja, yang penting kita bisa bahas rekam medis pasien itu.” kata Leo yang mencoba menengahi situasi saat ini.
Dokter Ali terlihat menghela nafas beratnya, kemudian duduk bersandar pada kursi yang ia pakai.
Tapi, baru saja Ali bersandar untuk menenangkan dirinya, tiba-tiba Juna berbicara dengan sebuah pernyataan yang membuat kepala Ali kembali berdenyut.
“Maaf, tapi saya juga lupa bawa flashdisk nya. Soalnya semua dokumen sama flashdisk nya saya taruh di tempat yang sama.” ujar Juna yang benar-benar mampu membuat semua orang menghela nafas berat bersamaan.
“Kamu itu niat enggak sih jadi dokter?! Kalau bukan karena ayah kamu pimpinan rumah sakit, saya udah tendang kamu keluar dari tadi. Saya dari tadi nahan diri karena saya masih ngehormatin ayah kamu sebagai pimpinan rumah sakit ini.” kata dokter Ali.
__ADS_1
Juna yang dikata seperti itu, ia merasa tidak senang sama sekali. Selama ini, ia paling benci jika dirinya dikaitkan dengan sang ayah yang notabenenya memang pimpinan rumah sakit universitas tempatnya melanjutkan progam spesialisasi.
“Dokter, saya— ”
“Udah, enggak usah banyak bicara. Sekarang kamu pikirin gimana caranya dokumen atau file yang ada di flashdisk itu ada disini. Lima jam lagi kita bakal lakuin operasi besar. Jangan sampai operasi dibawah tanggung jawab saya ini gagal gara-gara kamu.” kata dokter Ali sembari menunjuk Juna tajam.
“Jun, mending kamu suruh orang rumah buat anterin itu dokumen kesini. Cepetan sana jangan buat dokter Ali marah terus.” ujar seorang perawat yang juga termasuk anggota dalam operasi tersebut.
Orang rumah? Mereka pikir aku ini masih tinggal sama ayah ya? Ck, mau gimana lagi. Lagian Risa juga ada dirumah. Ya udah lah suruh dia aja buat anter.
Aku cuma berharap dia enggak ngebantah dan mau nurutin perintah aku.
“Kalau gitu saya permisi mau hubungi orang rumah buat anterin dokumennya.” kata Juna yang kemudian pergi dari ruangan tersebut.
•••
Di rumah Juna dan Risa.
Risa terlihat sedang terbaring malas di atas tempat tidurnya. Gadis itu bahkan terlalu malas untuk bergerak.
“Bosen, pengen keluar, tapi males gerak.” ucap Risa sembari menghela nafas lesunya.
“Lagian Juna kenapa sih udah harus pergi kerja?! Kalau aja sekarang ada dia, mungkin aku enggak akan terlalu bosen kayak gini. Dia kan bisa jadi temen berantem aku.” katanya.
“Kalau pas kayak gini, itu orang berasa juga ya manfaatnya. Ck, Juna, Juna, baru sadar aku, ternyata kamu berguna juga ya. Berguna buat ngusir bosen aku.” ucap Risa dengan tawa kecilnya.
Lalu, tidak lama kemudian terdengar bunyi panggilan masuk dari arah ponsel Risa.
Risa pun menoleh, menatap ponsel yang ia letakkan tidak jauh darinya.
Dengan malas, gadis itu kemudian menggerakkan tangannya untuk meraih ponselnya tersebut.
Setelah mendapatkan ponsel itu, Risa dapat melihat siapa orang yang sedang menghubunginya.
“Juna? Baru juga di omongin, sekarang udah langsung telepon aku. Apa disini ada kamera pengawas ya? Kok bisa kebetulan banget sih? Tapi ada apa dia tiba-tiba telepon aku?” ujar Risa penuh dengan tanda tanya.
💥thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💥
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍