
“Apa ini rumahmu?” tanya Deon ketika Risa menyuruhnya berhenti di sebuah rumah dengan gaya milenial.
“Iya.” jawab Risa.
“Besar juga.”
Risa tersenyum sembari melepas seatbelt-nya, “Ini hadiah dari orangtua kami.”
Kata-katanya itu kembali menohok hati Deon. Kepingan harapan satu demi satu terjatuh berserakan di dalam hatinya. Tapi, sebanyak apapun kepingan itu terlepas dari tempatnya. Deon akan tetap menyatukannya kembali. Selama Risa belum berkata kalau dirinya mencintai suaminya. Deon akan terus memantapkan harapannya pada gadis itu.
“Deon? Kamu melamun?” tanya Risa, memiringkan kepalanya, menatap Deon yang diam bergeming.
“Ah tidak.” ucap Deon. “Tunggu sebentar ya, aku akan membukakan pintunya untukmu.” katanya, kemudian ia melepaskan seatbelt-nya sendiri, keluar dari mobil itu dan beralih ke sisi pintu bagian kiri mobil. Ia membukakan pintu mobil itu untuk Risa, ratunya, pemilik hatinya.
“Terimakasih.” ucap Risa sebelum kemudian keluar dari dalam mobil tersebut.
Deon menutup kembali pintu mobilnya setelah Risa turun. Dalam kegelapan malam dan minimnya penerangan. Ia menatap Risa dalam diam. Sinaran kasih sayang tampak tersorot jelas dari matanya.
Saat ini, pikirannya di penuhi dengan khayalan. Andai saja ini adalah rumahnya dan Risa. Andai saja ia adalah suami dari perempuan itu. Deon pasti tidak akan merasa hampa seperti saat ini.
“Kamu tidak pulang?” tanya Risa yang melihat Deon hanya diam saja. Pria itu terlihat enggan untuk pergi.
“Risa.”
“Ya?”
“Apa kamu tahu kenapa aku memilih untuk dekat denganmu seorang sedangkan di luar sana banyak wanita yang ingin dekat denganku tapi aku menolaknya?” tanya Deon tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari gadis itu.
Risa mengernyit heran, merasa aneh dengan sikap Deon yang tiba-tiba terasa serius seperti ini. “Kamu kenapa? Dari tadi kamu mengatakan hal-hal yang aneh sekali. Apa kamu ada masalah?” alih-alih menjawab, Risa malah balik bertanya, membuat Deon tersenyum miris dalam gelap, tapi sayangnya, Risa tidak dapat melihatnya.
“Kamu selalu bertanya seperti itu. Apa kamu benar-benar khawatir padaku?”
Risa terdiam. Pertanyaan itu sangat menggangu dirinya. Hatinya bertanya-tanya, apakah ia khawatir pada Deon? Pria itu sudah lama dekat dengannya.
Deon bisa menjadi apa saja untuknya. Pria itu pernah menjadi dinding kokoh yang melindunginya ketika ia di fitnah merebut kekasih orang. Pria itu pernah menjadi pohon sebagai tempatnya berteduh dari panasnya kehidupan. Pria itu pernah menjadi air sungai yang memberinya kesegaran dalam lelahnya hidup. Dan pria itu selalu menjadi matahari yang memberinya cahaya ketika dirinya tersesat dalam kegelapan. Seperti itulah Deon bagi Risa. Pria itu tentu saja bisa membuatnya khawatir.
__ADS_1
“Aku, tentu saja aku khawatir padamu.” ucap Risa setelah diam untuk beberapa saat lamanya.
Senyum senang mengembang di wajah tampannya. Hanya karena mendengar beberapa kata itu, Deon sudah merasa seperti terbang ke angkasa bebas. Tubuhnya terasa ringan, angin seperti sedang melambai-lambai hangat padanya.
“Benarkah? Kalau begitu, jika aku berkata kalau hatiku sedang tidak baik, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Deon.
“Hatimu sedang tidak baik?”
“Hm. Begitulah. Aku mendapatkan segalanya. Aku memiliki segalanya. Tapi itu seperti bangunan kokoh yang kosong. Aku merasa sangat aneh. Aku lebih suka diam melamun daripada melakukan sesuatu.”
Aku kesepian, Sa. Dan obatnya hanya kamu seorang.
“Kamu sedang kesepian.” jawab Risa. Gadis itu seolah sudah paham dengan isi hati Deon. Hanya sekali berkata saja, Risa sudah paham dengan apa yang Deon rasakan.
Deon semakin mengembangkan senyumannya. “Aku kesepian?” tanyanya, mengulangi kembali perkataan Risa. “Ya, aku pikir juga begitu.” sambungnya sembari tersenyum lebar ke arah gadis itu. “Apa kamu tahu bagaimana cara mengobatinya?”
“Cara mengobatinya? Eng, obat kesepian ya? Aku rasa kamu butuh bertemu dengan orang-orang yang kamu sayang atau mungkin orang yang kamu cintai jika ada.” kata Risa.
“Benar. Aku memang butuh itu.” ucap Deon.
Risa tersenyum hangat, “Kalau begitu temui mereka yang kamu sayangi dan temui dia yang kamu cintai.”
Risa terdiam. Ia ingin merasa bangga kalau yang Deon maksud adalah dirinya. Tapi Risa entah mengapa ia merasa ini sangat menyedihkan.
“Deon, kamu— ”
“Ya, aku mencintaimu, Risa. Dari awal kita bertemu. Dari awal aku dekat denganmu. Apa kamu sama sekali tidak menyadarinya?” tanya Deon.
“Kalau dari awal aku menyadarinya, apa semua akan berbeda?” Risa bertanya balik. Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Bahkan Risa pun tidak menyadari apa yang sedang ia katakan.
“Kamu, apa kamu juga— ”
Belum sempat Deon menyelesaikan perkataannya. Risa terdengar menghela nafasnya panjang. Gadis itu tampak menarik rambutnya frustasi. “Apa yang sedang kamu pikirkan, Risa?!” ucapnya lirih, seakan sedang memperingati dirinya sendiri.
“Apa kamu baik-baik saja, Sa?” tanya Deon, ia khawatir.
__ADS_1
“Deon, lebih baik kamu pulang.” ucap Risa ketika Deon ingin mendekati dirinya.
Langkah kaki pria itu berhenti. Untuk pertama kalinya ia merasa ragu melangkah menuju gadis itu. Untuk pertama kalinya ia merasa seperti ada sesuatu yang menahan dirinya untuk bergerak mendekati Risa. Rasa sesak pun kembali menggerogoti hatinya. Seperti ada batu besar yang mengganjal di organ dalamnya.
Di saat itu juga, sebuah sorot lampu mobil mendekati mereka. Tidak lama kemudian, sorotan itu padam. Mobil itu berhenti, lalu tampak keluar seorang pria dari dalam mobil tersebut. Dia suami Risa, Juna.
“Risa?” ia melangkah mendekati Risa tanpa ragu, tidak seperti Deon yang merasa kesulitan mendekat ke arah gadis yang dicintainya itu.
“Ada apa?” tanya Juna ketika melihat Risa tampak menggigit bibir bawahnya. Bahkan gadis itu terlihat menggigiti kukunya dan mengusap-usap tengkuknya pelan. Ia gelisah. Bukan karena ketahuan Juna yang melihat dirinya bersama Deon. Tapi karena sesuatu lain yang saat ini mengusik dirinya.
“Apa yang telah kamu lakukan pada istriku? Kenapa dia terlihat seperti ini?” tanya Juna.
“Aku— ”
“Aku baik-baik saja.” sela Risa. Gadis itu memaksakan senyumannya. Ia tersenyum ke arah Deon dan Juna. Lalu tampak melangkah mundur. “Aku masuk lebih dulu.” ucapnya.
“Terimakasih untuk hari ini, Deon. Terimakasih.” kata Risa. Setelah itu ia pergi dari hadapan kedua pria yang telah membuat hatinya merasa tidak nyaman.
“Aku yakin dia sedang tidak baik-baik saja.” ucap Deon sembari menatap Risa yang telah masuk ke dalam rumah. “Tolong jaga dia.”
Mendengarnya, Juna merasa ingin tertawa. “Cih, tanpa kamu suruh pun aku tentu akan menjaganya. Karena dia itu istriku. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk melindungi dan menjaga dirinya.” jawab Juna.
“Baguslah. Aku merasa sedikit lebih tenang.” ucap Deon, kemudian pria itu berbalik, berniat untuk masuk ke dalam mobilnya.
“Kamu, bisakah kamu jangan merusak rumah tangga orang lain?” tanya Juna. Deon pun menoleh, ia menatap Juna sejenak, sebelum kemudian kembali menghadapkan dirinya ke arah suami Risa itu.
“Aku tidak bermaksud seperti itu. Lagian kenapa kamu terlihat percaya diri sekali kalau rumah tangga kalian akan baik-baik saja walau aku tidak masuk ke dalamnya? Asal kamu tahu, Risa, dia tidak mencintaimu. Kamu pikir cintanya padamu di masa putih abu-abu akan bertahan sampai sekarang? Dasar bodoh. Kamu itu jadi orang jangan terlalu percaya diri. Semakin kamu percaya diri, semakin kamu membuat Risa susah dan muak padamu. Ingat itu.” kata Deon.
Ia kemudian tersenyum menyeringai setelah melihat wajah Juna yang tampak terpukul berat dengan kata-katanya barusan. Sebelum masuk ke dalam mobilnya. Deon menatap Juna kembali.
“Ah iya. Satu lagi yang harus kamu ingat. Aku baru mendapatkan kata-kata ini beberapa menit yang lalu. Kamu, ah tidak, maksudku kita. Ada saatnya kita harus berjuang daripada terus diam dan menerima. Dan ada saatnya kita harus menyerah agar seseorang tidak tersakiti oleh ambisi kita. Aku harap kamu mengingatnya sebelum kamu menyesal karena Risa mungkin saja suatu hari nanti akan melangkah padaku.”
Karena cinta itu sesuatu yang rumit. Ia tanpa permisi masuk ke dalam hati. Seperti sebuah virus. Dia tidak terlihat, namun ketika terkena dampaknya. Seseorang akan merasa kesulitan tidur dan hanya memikirkan satu orang di dalam kepalanya.
💥thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💥
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
Terimakasih sudah mengikuti novel ini. Jangan lupa komentar dan vote kalian. Ty