
Setelah selesai sarapan bersama di restoran tersebut.
Juna dan Risa tampak kembali ke kamar mereka untuk bersiap-siap check out dari hotel.
“Sa, liat baju kemeja aku yang warna abu-abu enggak?” tanya Juna sembari mengobrak-abrik kembali pakaiannya yang telah Risa tata rapi di dalam koper dengan susah payah.
“Enggak.” jawab Risa, tanpa menoleh ke arah Juna, gadis itu tengah di sibukkan dengan ponselnya.
“Bantuin cari dulu dong Sa, jangan main handphone mulu.” protes Juna.
Risa menghela nafasnya, ia pun kemudian mengalihkan fokusnya ke arah Juna yang masih sibuk mencari bajunya di dalam koper yang sudah berantakan.
Ketika pandangan Risa tertuju kepada Juna, tampak gadis itu membelalakkan matanya, terkejut dengan tindakan Juna yang dengan mudahnya mengacak-acak koper yang telah ia susun rapi.
“Juna! Kamu sengaja ya berantakin baju-baju itu?! Kamu tahu gimana beratnya hati aku waktu rapiin isi koper kamu hah?! Udah susah payah aku susun rapi, sekarang seenaknya aja kamu berantakin kayak gitu! Mau nguji kesabaran aku ya?!” ujar Risa.
Mendengar amukan dari istrinya itu, Juna pun menoleh ke arah Risa.
“Aku bukannya sengaja berantakinnya Sa, aku cuma mau cari baju kemeja abu-abu aku.” sanggah Juna, mencoba mengelak dari amukan Risa.
Kemudian, Risa tampak berdiri dari duduknya, gadis itu terlihat menghembuskan nafas beratnya sesaat, lalu menatap Juna dengan kilatan mata yang penuh amarah.
“Kalau mau cari baju ya cari aja, enggak usah pakai acara lempar baju sana-sini. Pokoknya aku enggak mau tahu, kamu harus beresin sendiri koper kamu itu. Aku enggak mau rapiin lagi, capek.” kata Risa yang kemudian meraih kopernya, lalu ia terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu keluar kamar hotel.
“Risa, mau kemana kamu?” tanya Juna sembari menatap Risa yang tampak berhenti melangkah sejenak. “Bantu aku cari baju dulu dong Sa, emangnya kamu mau liat badan suami kamu ini jadi konsumsi publik?” sambungnya lagi.
Risa terlihat menghela nafasnya kembali.
“Dengernya Arjuna Kaivan. Pertama, aku mau pergi kemana, itu bukan urusan kamu. Lagian itu pertanyaan yang enggak perlu aku jawab. Kedua, aku terlalu males buat bantu kamu cari baju. Terakhir, aku enggak peduli kamu mau jalan kesana-kemari dalam keadaan shirtless, karena kamu kan emang dasar eksibisionis. Enggak heran lagi rasanya.” kata Risa.
“Ah iya, satu lagi. Baju kamu kan banyak, enggak cuma yang kemeja abu-abu itu. Kenapa harus pakai yang kemeja warna abu-abu? Dengar ya Jun, jadi orang itu jangan suka nyusahin diri sendiri.” sambungnya lagi.
Setelah mengatakan itu, Risa pun kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar kamar hotel tersebut. Tapi sebelum Risa membuka handle pintunya, ia tampak menoleh sekilas ke arah Juna yang masih sibuk mencari baju kesayangan pria itu.
“Aku tunggu kamu di bawah. Jangan lama-lama, aku bukan tipe orang yang suka nunggu. Kalau kamu enggak cepetan nyusul aku, aku mending check out sendiri terus pulang sendiri juga. Lagian aku juga enggak butuh kamu.” ujar Risa, setelah itu ia langsung membuka handle pintu kamar hotel tersebut, lalu kemudian keluar dari dalam kamar hotelnya dan menutup keras pintu itu kembali.
Di luar kamar hotelnya, Risa terlihat berdiri selama beberapa detik menatap pintu kamar hotel itu. Lalu kepalanya tampak menggeleng dengan hembusan nafas berat yang mengiringinya.
Setelah itu, Risa segera menarik kopernya dan berjalan menuju ke arah lift untuk turun ke lantai dasar, menunggu Juna di sana.
__ADS_1
Aneh-aneh aja si Juna, ngapain juga harus pakai baju yang warna itu, kan baju dia banyak. Dia itu bodoh atau gimana sih? Suka banget bikin repot diri sendiri. Atau mungkin dia itu punya gangguan psikis?
Ck, ah enggak tau lah, masa bodoh juga, bukan urusan aku.
•••
Risa tampak duduk dengan tenang di salah satu kursi tunggu yang ada di lantai dasar hotel tersebut.
Sudah lewat tiga puluh menit lebih Risa menunggu, namun sampai menit itu pun Risa sama sekali belum melihat sileut Juna di sana.
Risa pun menghela nafasnya, lalu berusaha membendung kembali kesabarannya. Dengan sabar, Risa kembali menunggu suaminya.
Tapi, kesabaran juga ada batasnya, apalagi Risa bukan tipe orang yang suka menunggu.
“Kok belum kelihatan juga sih si Juna itu. Berapa lama lagi aku harus nungguin dia? Ck, bikin mood orang jadi down aja.” keluh Risa.
“Lagian mama sama papa pakai acara pulang duluan segala lagi. Beneran enggak ada niat buat tungguin aku. Jahat banget sih mereka, mentang-mentang aku udah nikah, tanggungjawab udah ada ditangan Juna, sekarang enggak peduli lagi sama aku.” ujar Risa.
Dengan wajah masamnya, Risa terlihat menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Gadis itu semakin menekuk wajahnya ketika melihat jarum panjang pada arlojinya yang terus bergerak maju.
“Udah setengah jam lebih aku nungguin si Juna sialan itu, tapi dia belum kelihatan juga. Pokoknya, tunggu sepuluh menit lagi deh, kalau dia enggak muncul-muncul, mending aku check out sendiri, terus langsung pulang, biar bisa cepet-cepet istirahat.” kata Risa lagi.
“Risa?” panggil seseorang dari arah belakang Risa.
“Deon!” pekik Risa, merasa senang karena bisa melihat Deon lagi.
Deon tersenyum, lalu dengan diiringi senyuman-nya itu, Deon melangkah mendekati Risa, kemudian duduk di samping gadis itu.
“Kamu udah selesai kerjanya?” tanya Risa setelah Deon duduk disampingnya.
Deon mengangguk, “Em, sudah.” jawab Deon.
“Kamu udah mau pulang?” kali ini Deon yang balik bertanya. Deon bertanya pada Risa sembari melihat ke arah koper yang ada disisi kiri gadis itu.
“Hm, iya.” jawabnya. “Oh ya Deon, tadi aku cari kontak kamu di handphone aku, tapi udah enggak ada, kayaknya enggak sengaja hilang deh waktu handphone aku error beberapa bulan yang lalu.” kata Risa.
“Ya udah, nanti biar aku aja yang hubungi kamu duluan.” ucap Deon dengan senyum hangatnya.
Melihat senyum hangat dari Deon itu, Risa merasa nyaman berada di dekatnya.
__ADS_1
Deon itu sebagai pria idaman bukan hanya karena pandai memasak, tapi dia itu juga sangat lemah lembut dan penuh pengertian. Rasanya, Risa sama sekali tidak pernah melihat Deon melukai hati seseorang. Deon itu benar-benar pria yang baik.
“Oke, tapi janji ya, kamu harus inget buat ngehubungi aku duluan, karena aku bakal tunggu kamu hubungi aku.” ujar Risa yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Deon.
“Iya, aku janji.” kata Deon.
“Oh ya, Sa, aku boleh nanya sama kamu enggak?”
“Boleh, kamu mau tanya apa?”
“Cincin yang ada di jari manis kamu itu, itu cincin perhiasan kamu atau— ” Deon sengaja menggantungkan kalimatnya, menunggu Risa untuk berkata yang sebenarnya.
Dengan helaan nafas dan raut wajah yang kembali tertekuk muram, Risa pun melanjutkan perkataan dari Deon.
“Ini cincin nikah aku.” ucap Risa dengan raut wajah lesunya.
“Aku di jodohin sama orangtua aku.” ucapnya lagi.
Deon yang tadinya tampak melunturkan senyuman-nya karena sedih sekaligus kecewa. Sekarang ia menampilkan senyuman-nya kembali, senyum yang ia tampilkan dengan terpaksa, karena ingin menghibur Risa.
Kemudian, tangan Deon tampak mulai bergerak, mengusap lembut kepala Risa.
“Mereka lakuin itu juga pasti untuk kebaikan kamu Sa. Ambil sisi positif aja. Siapa tau nanti lama-kelamaan kamu bisa jatuh hati sama suami kamu.” kata Deon. Walau sejujurnya hatinya merasa sesak ketika mengatakan kalimat itu.
“Enggak Deon, aku enggak akan pernah jatuh hati sama dia.” ujar Risa, seperti menegaskan pada dirinya untuk tidak terjerat kembali dengan pesona Juna.
“Deon.”
“Hm?”
“Andai aja yang dijodohin sama aku itu kamu. Pasti kehidupan aku kedepannya enggak akan suram. Aku pasti enggak akan ngerasa kesel, malah dengan senang hati langsung nerima perjodohan itu.” ujar Risa sembari menatap Deon yang juga tengah menatapnya lembut.
Diantara pembicaraan kedua teman dekat yang sudah lama tidak pernah bertemu itu, terlihat beberapa meter dari mereka, seorang pria dengan koper di tangan kanannya melihat dan mendengar apa yang sudah mereka bicarakan.
Pria itu adalah Juna, ia mendengar semua yang Risa katakan pada Deon tadi.
Sebuah kata-kata yang membuat hati Juna merasa aneh. Entah kenapa, Juna merasa seakan-akan dirinya itu sedih dan juga kecewa. Rasa sesak pun tiba-tiba terasa menggerogoti hatinya.
“Aku enggak mungkin cemburu kan? Ck, enggak mungkin, iya, aku enggak mungkin cemburu. Pasti ini karena aku kesel sama Risa, dia bisa lembut gitu ke pria lain, sedangkan ke suaminya sendiri enggak. Bener-bener deh rubah kecil itu.” gumam Juna.
__ADS_1
💥thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💥
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍