Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Shower


__ADS_3

Good Morning, everyone.


Selamat datang kembali di novel Terpaksa Menikah Dengan Mantan.


Jangan lupa Vote, Komen walau hanya satu huruf sahaja. Dan jangan lupa juga untuk Like dan Favoritkan novel ini.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


Sore itu, Risa kembali ke rumahnya bersama sang suami.


Juna terlihat menarik koper Risa. Dengan susah payah ia menaiki tangga. Pria itu belum sepenuhnya sembuh, tapi ia memaksa untuk membawakan koper tersebut.


“Biar aku aja yang bawa,” tawar Risa, ia tidak tega melihat suaminya yang masih sakit itu kesusahan karena kopernya.


Juna tersenyum tipis, peluh tampak memenuhi area keningnya.


“Enggak usah. Biar aku saja. Aku 'kan suami kamu,” ucap Juna.


Risa menghela napasnya, ia pasrah. Juna memang keras kepala.


Setelah berhasil menaiki belasan anak tangga, Juna akhirnya sampai di lantai dua rumahnya. Pria itu menghembuskan napasnya lega.


Kemudian ia menarik koper itu dan membawanya ke dalam kamar miliknya.


Melihat itu, Risa mengernyit heran. Ia pun berjalan cepat menyusul Juna yang sudah masuk ke dalam kamar.


“Itu koper aku, kenapa kamu bawa masuk ke kamar kamu?” tanya Risa.


Juna meletakkan koper itu di dekat lemari, kemudian membukanya dan mulai mengambil satu-persatu pakaian Risa, menata pakaian istrinya itu di dalam lemari.


“Juna,” panggil Risa.


“Kita tidur bareng, jangan tidur terpisah lagi. Mau sampai kapan kita mau tidur beda kamar?” ujar Juna yang tengah sibuk memasukkan pakaian Risa ke dalam lemarinya.


Mendengar itu, Risa ingin sekali membantah. Tapi hati kecilnya berkata lain. Setidaknya ia harus mencoba.


Dengan helaan napas kepasrahannya, Risa berjalan mendekati Juna.


“Minggir, aku bisa rapiin sendiri baju aku,” kata Risa, ia mendorong pelan tubuh Juna, membuat suaminya itu bergeser sedikit.


Lalu kemudian, Risa mulai menyusun pakaiannya sendiri ke dalam lemari itu.


“Pakaian dan semua barang yang masih ada di kamar kamu nanti bawa kesini juga,” ujar Juna.


Risa hanya diam, tidak menyahuti.


“Denger enggak, Sa?”


“Aku enggak tuli,” jawab Risa, ketus.


Juna menghela napasnya. Nada ketus dari Risa bukan lagi sesuatu yang asing baginya. Ia sudah terbiasa.


“Aku mandi dulu,” kata Juna, kemudian bediri dari posisi jongkoknya.


“Tidak ada yang bertanya,” balas Risa.


Juna tersenyum gemas. Ia gemas dengan sikap Risa yang menyebalkan itu.


“Iya, tapi aku mau kamu tahu,” ujar Juna.


“Oh,” jawab Risa seadanya, ia masih sibuk menata pakaian miliknya itu.

__ADS_1


“Mau ikut mandi bareng enggak?” tawar Juna dengan seringaian jahilnya.


Seketika itu, tangan Risa berhenti bergerak. Ia merasakan panas di wajahnya, tapi juga gemuruh rasa kesal di dalam hati.


Kejadian berikutnya, Risa melemparkan pakaian yang ia pegang ke arah Juna, tepat di wajah pria itu.


“Dasar otak kotor,” umpat Risa. Setelah itu ia memalingkan wajahnya dari Juna, kembali fokus pada pakaiannya.


“Serius enggak mau mandi bareng?” tanya Juna, nadanya masih terdengar menjengkelkan hati Risa.


“Sekali lagi kamu tanya gitu. Aku enggak akan sungkan buat tarik telinga kamu,” ancam Risa.


“Oh... kalau gitu ini maksudnya apa?” tanya Juna sembari menunjukkan pakaian yang tadi Risa lemparkan padanya.


Risa menoleh, melihat apa yang Juna maksud. Detik berikutnya, mata gadis itu terbelalak, ia terkejut, merutuki dirinya. Bodoh, itu umpatan Risa untuk dirinya sendiri.


Coba lihat saja, Juna saat ini sedang memegang pakaian privasi milik Risa. Pria itu memegangnya tanpa rasa ragu sedikitpun.


“Gila kamu,” protes Risa sembari merebut kain berbentuk kaca mata itu dari Juna.


“Kecil ya,” ucap Juna.


Risa kembali melototkan matanya, ia menatap Juna garang.


“Bilang apa kamu?!” tantang Risa. Bahkan ia sudah berdiri tegak menghadapi Juna.


“Kecil,” ucap Juna, tanpa takut dengan ekspresi Risa yang siap meledakkan amarahnya.


“Coba kalau berani sekali lagi bilang gitu,” kata Risa.


“Enggak berani aku,” jawab Juna diiringi tawa cekikikannya.


“Apa yang lucu?!” tanya Risa, geram.


“Enggak, enggak ada,” jawab Juna sembari mengulum tawanya.


“Mau aku bantu besarin?” tanya Juna, masih dalam mode ingin menjahili sang istri.


Risa kembali berdiri, ia menatap Juna dengan berkacak pinggang di hadapan pria itu.


“Kamu kalau sekali lagi bicara sembarangan, aku keluar dari kamar ini,” ancam Risa lagi.


“Iya, keluar aja. Tapi nanti masuk lagi ya,” kata Juna.


“Juna.”


“Apa, istriku?” goda Juna.


Risa sungguh geram dengan pria itu. Hatinya luar biasa jengkel, ingin rasanya ia menarik rambut Juna, lalu melemparkan pria itu ke kandang macan betina.


“Lebih baik kamu cepetan masuk ke kamat mandi, mandi terus istirahat,” suruh Risa.


“Mandiin,” manjanya.


“Mandi sendiri. Sudah besar juga enggak tahu malu,” cibir Risa.


“Sama istri sendiri kenapa harus malu? Kamu juga, sama suami sendiri jangan malu-malu dong. Ayo mandi bareng,” ajak Juna, lagi dan lagi.


Risa sudah sampai di puncak kesabarannya. Gadis itu sudah tidak tahan lagi dengan godaan jahil Juna. Dengan gemas, Risa mendorong suaminya itu masuk ke dalam kamar mandi. Lalu, setelah Juna masuk, ia langsung menutup pintu kamar mandi itu.


“Mau mandi aja bikin orang naik darah,” keluh Risa. Ia kembali menuju kopernya, merapikan pakaiannya yang belum selesai ia rapikan.


•••

__ADS_1


Beberapa menit Juna berada di dalam kamar mandi. Pria itu pun akhirnya membuka pintu. Tapi Juna tidak segera keluar dari dalam sana. Ia hanya menyembulkan kepalanya, menatap ke arah Risa yang baru saja selesai menata rapi pakaiannya.


“Sa,” panggil Juna.


Risa pura-pura tidak mendengarnya, ia pikir, Juna akan menggodanya lagi. Karena itu, Risa mengabaikan panggilan dari suaminya.


“Risa,” panggil Juna lagi. Namun Risa masih diam bergeming, tidak menoleh sama sekali.


“Farisa,” sekali lagi Juna memanggilnya. Tapi masih Risa abaikan.


“Farisa Irie Kwan,” panggil Juna dengan nama lengkapnya. Namun tetap tidak ada jawaban.


Aku tidak akan menjawabnya. — batin Risa.


“Sa, kalau kamu enggak jawab. Aku bakal keluar tanpa sehelai benangpun loh,” ujar Juna.


Risa langsung menoleh, ia menatap Juna yang masih bersembunyi di balik pintu kamar mandi, hanya sebatas kepalanya saja yang terlihat.


“Aku enggak bawa handuk,” ungkap Juna.


Risa menatap tajam ke arahnya, “Pasti kamu sengaja 'kan?”


“Sengaja gimana sih, Sa? Bukannya tadi kamu yang asal dorong aku masuk ke kamar mandi. Aku 'kan jadinya lupa enggak bawa handuk,” jawab Juna, ia jujur.


“Kamu kan bisa pakai baju kamu yang tadi, terus keluar ambil pakaian baru, masuk lagi ke kamar mandi buat ganti. Simple 'kan?” kata Risa, menyampaikan ide cemerlangnya.


“Udah basah,”


“Apanya?”


“Pakaian aku yang tadi,” jawab Juna.


“Kok bisa?” tanya Risa lagi.


“Ya bisalah, tadi aku mandinya pakai baju,” ucap Juna.


Risa menghela napasnya, “Aneh kamu,” sindirnya.


“Udah deh, ambilin aja handuk buat aku. Kecuali kamu mau aku keluar enggak pakai pakaian, mau?” ancamnya.


“Enggak lah,” jawabnya, “Tunggu sebentar, aku ambilin kamu handuk,” ujar Risa sembari berjalan menuju lemari, mengambil handuk bersih untuk sang suami.


Setelah itu, ia melangkah ke arah Juna, dalam jarak kurang lebih satu meter setengah, Risa menyodorkan handuk itu kepada suaminya, “Ini,” ucap Risa dengan mata tertutup dan wajah berpaling dari Juna.


Melihat tingkah Risa itu, Juna menyeringai jahil ke arahnya, “Enggak sampai, Sa. Kamu lebih deket lagi dong,” pinta Juna.


“Ini udah deket,” jawab Risa.


“Kurang,” protes Juna.


Risa pun akhirnya mengambil satu langkah kembali, “Nih, udah,” ucapnya, masih dengan mata yang sengaja ia tutup.


“Kurang deket, Risa,” keluh Juna. Entah ide apa yang tersemat di kepala pria itu. Tapi, semakin Risa melangkah maju, semakin Juna mundur dan membuka pintu kamar mandi.


Risa yang terus-menerus menutup matanya. Tentu saja, ia tidak menyadarinya.


“Kurang deket gimana sih, Juna? Dari tadi aku sudah maju— loh kok aku ada di dalam kamar mandi?” kagetnya setelah ia membuka matanya karena kesal. Tapi kekesalannya itu dengan cepat berganti dengan rasa bingungnya.


“Ayo, aku mandiin kamu sekalian,” ucap Juna sembari menutup pintu kamar mandinya.


💥thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT AND VOTE💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


Terimakasih sudah mengikuti dan membaca novel ini. Jangan lupa untuk beri komentar, like dan vote kalian. Ty vm.


NP : Jujur ya, saya ngetik, ngedit, revisi bab ini senyum-senyum sendiri, gemes. Gimana dengan kalian? Semoga kita sama :'D


__ADS_2