
Selamat pagi menjelang siang.
Selamat datang kembali di novel Terpaksa Menikah Dengan Mantan.
Jangan lupa Vote, Komen walau hanya satu huruf sahaja. Dan jangan lupa juga untuk Like dan Favoritkan novel ini.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
“Ka...kamu mau apa?” tanya Risa, ia menutup matanya, menyangka kalau Juna tidak memakai sehelai benangpun. Padahal sebenarnya pria itu memakai celana boxernya.
“Buka...bu...buka pintunya, biarkan aku pergi,” ujar Risa, memohon.
Juna tertawa cekikikan, ia merasa perutnya seperti di gelitik oleh ribuan ulat bulu yang menggelikan.
“Sejak kapan kamu jadi gagap seperti itu, huh?” tanya Juna disela-sela tawa cekikikannya.
“Kamu hobi tutup mata ya? Ayo buka mata kamu,” suruh Juna.
“Enggak mau,” ucap Risa sembari mundur satu langkah, mencoba sejauh mungkin dari suaminya itu.
“Buka, Risa...,” suruh Juna lagi.
“Apanya?!” tanya Risa ketus, “Kamu kalau ngomong jangan ambigu dong,” keluhnya.
“Emangnya maksud omongan aku apa? Aku cuma suruh kamu buka mata kok, bukannya buka yang lain,” kata Juna, masih diiringi tawa kecilnya.
“Mesum,” umpat sang istri.
“Sama istri sendiri enggak masalah 'kan? Ayo sini...,” kata Juna.
Risa semakin mundur ke belakang, menjauh dari Juna yang terus melangkah mendekatinya.
“Juna, kamu kalau macam-macam aku laporin sama— ”
“Sama siapa? Kamu mau lapor sama Mama? Yang ada Mama malah seneng denger laporan kamu,” sela Juna.
“Bukan lapor ke Mama kok,” cicit Risa, masih dengan mata terpejam.
__ADS_1
“Terus mau lapor sama siapa? Polisi?” tanya Juna kemudian kembali tertawa, “Risa, Risa. Asal kamu tahu ya, kalau kamu lapor polisi, kamu itu malah jadi bahan tertawaan mereka. Jangan ngelucu deh,” kata Juna.
“Kan sekarang ada undang-undang tentang suami yang enggak boleh maksa istri,” sanggah Risa.
Juna terdiam sejenak. Namun kemudian ia kembali tertawa lagi, “Mimpi kamu. Itu peraturan kan cuma rencana yang gagal,” ucapnya.
Risa mencebik kesal. Gadis itu kembali memutar otaknya, mencari cara agar terbebas dari suaminya itu.
“Kok diem? Udah enggak punya cara lagi buat kabur?” tanya Juna.
Risa masih menutup matanya, entah sampai kapan gadis itu akan menutupnya.
“Sayang...,” panggil Juna, suaranya parau, mendayu-dayu, namun terasa menjijikan di telinga Risa. Bahkan tangan gadis itu sudah terasa gatal, ingin sekali mencakar wajah pria dihadapannya itu.
“Juna, kamu, kamu enggak mungkin mau, mau, mau...,”
“Mau apa?” tanya Juna dengan nada menggodanya, kembali dalam mode jahil.
“Pokoknya kamu enggak boleh gitu ke aku,” tegas Risa.
“Kenapa? Kamu kan istri aku. Halal buat aku. Kenapa enggak boleh? Lagian itu hak aku, sekaligus kewajiban kamu sebagai istri,” kata Juna.
Tapi kemudian, ia terpikirkan oleh dua kata. Ya, dua kata yang mungkin bisa membuat Juna berhenti melangkah maju untuk menerkamnya.
“Kamu enggak suka sama aku. Kamu juga enggak cinta sama aku. Jangan egois, Juna. Kamu ngelakuin ini semua karena nafsu pribadi kamu aja 'kan?” ceplos Risa, ia masih menutup matanya.
Benar saja, Juna langsung diam seketika. Raut wajah pria itu pun berubah tanpa ekspresi. Dingin, auranya pun menguar kuat, membuat hati Risa semakin merasa tidak nyaman.
“Suka? Cinta? Kamu selalu ungkit dua hal itu setiap kali kita lagi berduaan. Sepenting itukah mereka?” tanya Juna.
“Buka mata kamu, tatap aku,” suruh Juna kemudian.
Tangan pria itu bergerak, menangkup wajah Risa, memaksa gadis itu untuk membuka matanya.
“Buka mata kamu, Risa. Tatap aku,” perintah Juna dengan nada tegasnya, membuat Risa terpaksa membuka matanya karena takut.
“Tatap mata aku,” suruh Juna setelah istrinya itu membuka matanya.
Risa menurut, ia menatap mata dengan manik hitam legam itu.
__ADS_1
Sorotnya begitu dingin, namun sebenarnya menyimpan kasih sayang yang penuh di dalamnya. Hanya saja, ia tidak tahu bagaimana cara menumpahkan kasih sayang tersebut. Semua itu karena sejak kecil Juna hanya tahu tentang bagaimana memberikan kasih sayang kepada seorang pria, yaitu sang ayah.
Juna sama sekali tidak tahu bagaimana menunjukkan kasih sayangnya pada seorang wanita, apalagi isterinya. Sekalipun ia suka atau cinta pada sang istri. Juna tidak akan paham itu, ia tidak akan pernah menyadarinya.
Karena itu, Juna hanya bisa menyuruh Risa menatap matanya. Memberitahu gadis itu kalau ada curahan kasih sayang di dalam dirinya yang bisa Risa ambil dan pertahankan selamanya.
“Bisakah kamu beri aku sedikit kesempatan untukku belajar mencurahkan semua rasa yang tersimpan di sini?” tanya Juna sembari meraih tangan Risa, kemudian meletakkan tangan gadis itu di sisi kanan perutnya.
“Di sini hati manusia terletak,” ucap Juna, “Kamu mungkin tidak bisa merabanya ataupun merasakannya, karena dia bersembunyi dan dilindungi oleh tulang rusukku. Dan aku, aku butuh kamu sebagai tulang rusukku yang hilang untuk bersedia di sisiku selamanya dan menjaga hatiku ini,” jelasnya.
Risa terenyuh, ia hanyut dalam perkataan yang Juna ucapkan. Mata pria itu tampak bening, memancarkan kejujuran di dalamnya.
“Aku tidak paham dengan apa itu cinta pada seorang wanita. Kamu tahu 'kan kalau aku tumbuh tanpa cinta dari seorang wanita, karena itu aku sama sekali tidak paham dengan perasaan seperti itu,” kata Juna.
“Jadi, bisakah kamu mengajariku? Bisakah kamu beri aku kesempatan dan percaya padaku? Ajari aku, istriku...,” pinta Juna.
Risa benar-benar hanyut, ia sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain diam dan menikmati keromantisan yang Juna berikan.
Apakah ini romantis? Ya, bagi Risa begitu. Kata-kata Juna sangat memukau, membuat hatinya berteriak kagum.
“Pakai handukmu, kamu bisa masuk angin nanti,” kata Risa tanpa menanggapi perkataan Juna sebelumnya.
Gadis itu kemudian menarik tangannya dari genggaman Juna. Lalu kemudian berjalan melewati pria itu.
“Aku siapin kamu baju, nanti kamu pakai. Kalau sudah, nanti langsung turun ke bawah, makan lalu minum obat kamu,” suruh Risa, kemudian ia keluar dari dalam kamar mandi tersebut.
Juna terdiam di tempatnya, ia masih meresapi perkataannya sendiri.
Apa yang aku katakan tadi? Apa itu tadi sungguh keluar dari mulutku? Sejak kapan aku pandai bermain kata?
Astaga Juna, ada apa denganmu?
💥thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT AND VOTE💥
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
Terimakasih sudah mengikuti dan membaca novel ini. Jangan lupa untuk beri komentar, like dan vote kalian. Ty vm.
Q&A : Sebenernya... Juna itu suka enggak sih sama istrinya?
__ADS_1