
Aku mencintainya, Bukan karena rupanya. Bukan karena tutur katanya. Dan, bukan pula karena janji yang telah dia ikatkan padaku.
Aku mencintainya, karena hatiku berkata seperti itu.
Aku mencintainya, karena sosoknya yang dengan teguh meyakinkanku bahwa dia adalah takdirku.
Aku mencintainya tanpa alasan.
Dan sekarang, aku semakin sadar bahwa cintaku padanya seperti langit yang selalu ada di atas sana. Tidak akan pernah runtuh walaupun tak ada tiang yang menyangganya. Tetap terbentang luas, selebar dunia. Ya, begitulah cintaku padanya.
Senyum Risa mengembang, tangannya bergerak mengusap rambut Juna yang terasa lembut menggoda tangan Risa untuk terus membelainya.
“Sayang.”
“Hm?”
“Kalau kamu hamil lagi, aku janji, pasti aku akan menjagamu dengan benar. Aku juga tidak akan mengulangi kebodohanku lagi,” kata Juna.
Risa tersenyum simpul, ia menatap wajah suaminya itu dengan raut mukanya yang tampak tenang.
Juna, pria itu kini membaringkan kepalanya ke atas paha istrinya, bermanja ria menikmati waktu yang berlalu melewati mereka.
“Pegang janjimu dengan baik,” ujar Risa.
“Em, pasti,” balas Juna sembari membenamkan wajahnya pada perut rata Risa.
“Sayangku yang saat ini sedang berjuang menuju sel telur calon ibumu, semangat ya,” cakap Juna yang tengah berbicara pada perut Risa.
Mendengar perkataan suaminya itu. Risa terkikik dibuatnya.
__ADS_1
“Siap calon ayahku,” ucap Risa menyahuti perkataan Juna.
“My Wifey,” panggil Juna.
“Iya, My Hubby?” balas Risa yang mengikuti cara Juna memanggilnya.
“I love you,” kata Juna.
”Aku bosan mendengarnya,” keluh Risa.
“Ck, kamu itu memang sulit sekali di ajak romantis,” protes Juna, dengusan kesal pun terdengar darinya.
“Marah?” tanya Risa.
“Enggak, aku mana bisa marah sama kamu. Kalau pun aku marah, nanti ujung-ujungnya juga malah kamu yang marah sama aku,” papar Juna.
Risa tersenyum geli, “Wanita kan memang seperti itu, Sayang,” katanya.
“Tanya apa?”
“Kenapa wanita itu rumit?”
Risa diam untuk beberapa saat, sebelum kemudian ia menjawab, “Lebih tepatnya suka memperumit sesuatu yang sebenarnya terlihat sederhana.”
“Jadi, apa alasannya?” tanya Juna.
“Enggak tahu,” jawab Risa.
“Kok enggak tahu?” tanya Juna, lagi.
__ADS_1
“Ya enggak tahu. Lagian, emangnya aku ini rumit dan suka memperumit keadaan, ya?”
“Eh, bukan gitu, Sayang. Aku enggak bilang gitu kok,” kilah Juna.
“Aku ini seorang wanita juga,” ujar Risa, wajahnya terlihat kesal.
“Iya, kamu emang seorang wanita. Tapi kamu itu beda dari wanita lainnya,” sanggah Juna.
“Apa bedanya?” sungut Risa.
“Bedanya, kamu bisa memiliki jiwa dan ragaku sepenuhnya, sedangkan wanita lain tidak,” lontarnya dengan kerlingan mata yang menyertai.
Risa mencebik, ia menahan senyumnya yang hampir mengembang bahagia.
“Bagaimana dengan hatimu? Apa hatimu juga milikku?”
“Milik sang pencipta, Sayang. Tapi, semua ini, semua tubuhku adalah milikmu,” kata Juna, senyumannya berubah menjadi seringaian.
“Ck, menjauh dariku, aku benar-benar bosan melihatmu,” ujar Risa sembari menyingkirkan kepala Juna dari pahanya.
Wanita itu kemudian berjalan menjauhi suaminya, ia melangkah menaiki tangga, hendak menuju kamarnya.
“Sayang,” panggil Juna.
“Berhentilah bersikap manja. Aku mau siapin pakaian yang akan kita bawa ke rumah Mama sama Papa nanti malam,” seru Risa dari lantai atas.
NP :
Halo, anak emak mau tanyaaaa, gimana kalau Risa hamil lagi? Terus, kapan momen yang tepat Risa hamilnya? Komen yaaa...
__ADS_1
Jangan lupa untuk Vote dan Like juga, sebagai bentuk dukungan kalian untuk cerita ini, biar tetap up tiap hari terus. sending vitual love for y'all