Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Jeaolusy (bagian dua)


__ADS_3

“Ada apa?” tanya dokter Ali.


Juna menatap dokter Ali dengan wajah tanpa ekspresinya.


Sedangkan Risa, ia merasa kalau Juna sudah tidak dapat lagi menahan amarahnya. Walaupun Risa tidak tahu pasti penyebab kemarahan pria itu. Tapi yang terpenting sekarang, Risa harus membuat Juna meredam amarahnya. Kalau tidak, pria itu mungkin akan menyesalinya esok hari.


“Juna.” Risa memanggilnya lirih, lalu menggelengkan kepalanya pelan.


Juna menatap istirnya itu sekilas, kemudian dengan tatapan yang kembali terarah ke dokter Ali. Juna langsung menarik pergi Risa keluar dari ruangan itu.


“Juna, kamu mau bawa dia kemana?” tanya Ali.


Juna mengabaikan pertanyaan dari seniornya itu, ia terus menarik Risa menuju ke arah lift, membawa Risa masuk ke dalam lift tersebut bersamanya.


“Juna, lepasin tangan kamu.” ujar Risa sembari meronta meminta Juna melepaskan genggaman tangannya yang terasa kuat, membuat Risa meringis kesakitan.


“Diam.” ucap Juna, seketika itu juga mampu membuat Risa menciutkan nyali-nya untuk melawan.


Melihat Juna saat ini, entah kenapa Risa merasa takut padanya. Juna terlihat sedang marah besar, aura emosional yang tinggi sangat terpancar jelas dari diri pria itu.


Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka, mereka sampai di lantai satu.


Setelah lift itu terbuka, Juna langsung menarik Risa keluar dari dalam lift, ia ingin membawa gadis itu pergi dari rumah sakit.


“Juna, kamu sebenernya mau bawa aku kemana?” tanya Risa ketika mereka sedang melewati bagian IGD.


“Pulang.” jawab Juna, sangat singkat dan terkesan dingin.


“Aku bisa pulang sendiri, kamu enggak perlu tarik tangan aku kayak gini.” ujar Risa dengan nada ketidaksukaannya, hal itu membuat hati Juna semakin bergemuruh kesal.


“Juna, lepasin tangan kamu. Banyak orang yang ngelihatin kita, aku malu.” keluh Risa.

__ADS_1


Juna pun tiba-tiba menghentikan langkahnya, ia berhenti tepat diantara bagian administrasi dan ruang IGD. Dimana banyak pegawai medis, pasien dan juga keluarga pasien yang berlalu-lalang keluar-masuk rumah sakit tersebut.


“Lepasin.” ucap Risa sembari menarik tangannya dari genggaman Juna.


“Kenapa?” tanya Juna.


“Apa?”


“Kamu tadi di peluk sama dokter Ali enggak ada ngeluh sama sekali. Dan waktu itu aku lihat Deon pegang tangan kamu, kamu juga enggak ngeluh sama sekali. Tapi setiap— ” ujar Juna sengaja menghentikan perkataannya sejenak, lalu ia terlihat meraih tangan Risa kembali. “Setiap aku pegang tangan kamu, kamu selalu saja ngeluh. Maksud kamu apa?” tanya Juna.


Risa tampak diam, ia sebenarnya ingin membalas perkataan Juna dengan kata-kata pemberontakannya seperti biasa. Tapi karena ia berada di tempat ramai, apalagi kini mereka hampir menjadi pusat perhatian. Risa hanya bisa menggigit bibir bawahnya, lalu menundukkan kepalanya.


“Risa.” dua orang pria berbeda usia terdengar memanggil Risa, hampir secara bersamaan.


Orang yang memanggil Risa dari arah lift, dia adalah Ali yang memang sedang mengejar Risa. Sedangkan, satunya lagi adalah kakak Risa, yaitu Aro yang saat ini kebetulan sedang mendapatkan shift pagi, ia tidak sengaja melihat Risa yang seperti sedang di marahi Juna di depan umum.


Lalu, kedua pria tersebut, secara bersamaan, mereka tampak berjalan menghampiri Risa dan Juna yang masih berdiri di tempat.


Tapi kemudian, langkah mereka terhenti ketika Juna tiba-tiba mencium Risa.


Semua orang yang melihat perbuatan Juna itu tampak menganga tidak percaya. Apalagi para pegawai medis wanita yang menyaksikannya. Hati mereka saat ini bagaikan piring yang di lempar dari lantai tiga puluh, pecah dan hancur lebur.


Beberapa menit ciuman itu berlalu, Juna pun akhirnya melepaskan Risa.


“Kamu!” ucap Risa dengan deruan nafas yang tampak terengah-engah. Mata gadis itu bahkan terlihat sudah berkaca-kaca, ia merasa dirinya itu sedang di permalukan di depan umum. Walaupun sebenarnya Juna tidak bermaksud seperti itu padanya.


“Kamu udah hilang akal ya?! Aku ben— ”


“Deon aja bisa pegang tangan kamu, dokter Ali juga bisa peluk kamu. Aku!” ucap Juna, sembari menunjuk dirinya sendiri. “Aku sebagai suami kamu, tentu saja bisa ngelakuin lebih dari apa yang enggak akan pernah bisa mereka lakuin ke kamu. Aku lebih berhak atas diri kamu daripada mereka.” ujar Juna.


Pernyataan Juna yang mengaku sebagai suami Risa itu semakin membuat orang yang memang belum mengetahui hubungan mereka merasa semakin terkejut. Dan para pegawai medis wanita, bahkan diantara mereka ada yang sampai hampir jatuh karena kakinya seketika terasa lemas.

__ADS_1


Mereka para pecinta Juna, hatinya benar-benar hancur.


“Risa, ayo ikut kakak pulang.” kata Aro yang sudah berada di samping Risa, pria itu kemudian menarik Risa pergi dari hadapan Juna.


“Kak Aro mau bawa istri aku kemana?” tanya Juna, sengaja menggunakan sebutan istri agar Aro menghentikan langkahnya.


“Jun, aku tau Risa itu istri kamu, tapi apa perlu kamu berbuat seperti itu di depan umum? Mungkin kamu enggak merasa malu, tapi gimana dengan Risa? Dia malu. Kamu bisa enggak sih, sedikit saja jaga harga diri istri kamu sendiri?” kata Aro.


“Aku ngelakuin itu bukan karena ingin buat Risa malu. Tapi buat negasin ke dia dan semua pria, kalau dia itu istri aku, milik aku. Enggak ada seorang pria pun yang boleh sentuh dia sembarangan.” ujar Juna.


“Oh?! Enggak boleh seorang pria pun sentuh dia? Bagaimana dengan ini?” tanya Aro sembari mengangkat genggaman tangannya pada Risa ke arah Juna. “Aku sebagai kakaknya, apa juga enggak boleh pegang dia? Apa kamu juga bakal marah ke aku?”


“Kalian berdua, sudah cukup, hentikan.” ucap Risa yang kemudian langsung menarik tangannya dari sang kakak.


“Risa.” ucap Aro lirih, ia tahu kalau adik perempuannya itu sudah sampai pada titik puncak emosi.


“Aku mau pulang.” ujar Risa. “Sendiri.” sambungnya.


Setelah itu, Risa pergi dengan langkah kaki yang seperti ingin berlari. Gadis itu terlihat sesekali mengusap sudut matanya sembari terus melangkah cepat agar segera keluar dari rumah sakit tersebut.


“Risa.” panggil Juna, ia ingin mengejar Risa. Tapi Aro menahan pria itu untuk pergi.


“Jangan kejar dia. Biarkan dia tenang dulu. Kalau Risa udah kayak gitu, itu artinya dia butuh ruang untuk nangis sendirian. Dia paling enggak suka kalau ada orang yang lihat dia lagi nangis.” kata Aro.


Juna menghela nafasnya, mau bagaimana lagi, ia hanya bisa menatap kepergian Risa dengan sedikit rasa bersalahnya pada gadis itu.


“Aku enggak tahu kenapa kamu tiba-tiba ngelakuin hal itu ke Risa di depan umum. Tapi perbuatan kamu itu berlebihan Jun. Kalau hanya karena alasan cemburu sekalipun, enggak seharusnya kamu lakuin hal itu di depan umum. Urat malu kamu udah putus ya? Mending buruan deh kamu operasi biar enggak bikin malu lagi.” ujar Aro. Setelah itu ia berbalik pergi dari hadapan Juna.


Tapi kemudian, Aro tampak berhenti di antara orang-orang yang sepertinya masih belum tersadar dari keterkejutan mereka.


“Kalian semua, kalau tadi ada yang merekam perbuatan pria itu ke adik perempuan saya. Saya harap kalian segera menghapusnya. Kalau sampai saya tahu ada yang menyebarnya ke sosial media, saya pastikan orang itu akan saya tindak secara hukum, baik hukum legal ataupun ilegal sekalipun.” kata Aro dengan nada yang mampu membuat hati orang-orang merasa takut seketika.

__ADS_1


💥thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2