
Halo semua. Sisipan sedikit. Enaknya episode ini kalian bacanya sambil dengerin lagu ini deh 👉 Dia Milikku — Yovie and Nuno 👈
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
Risa terbaring di kasurnya setelah selesai mandi dan berganti pakaian.
Rasa empuk dari kasur yang mengundang nyaman di hatinya membuat Risa tersenyum tipis.
Gadis itu kemudian mengusap kasurnya, ingatan tentang dirinya dan Juna tidur bersama pun tetoreh dalam benaknya. Kemudian rasa hangat menyapa wajahnya.
Risa menyentuh kedua pipinya, hangat, benar-benar terasa hangat seperti seseorang yang sedang demam tiga puluh delapan derajat celcius.
Lalu kemudian, ia menggelengkan kepalanya, “Apa yang aku pikirkan?” gumamnya sembari menepuk-nepuk pelan pipi mulusnya itu.
“Enggak, enggak boleh Risa. Kamu enggak boleh kebawa perasaan.” ucapnya, memperingati sang hati.
Kalau sampai aku suka sama Juna, bisa habis aku. Yang ada setiap hari cuma galau terus. Pokoknya enggak boleh suka. Enggak boleh Risa. — batinnya, memantapkan hati dan dirinya sendiri.
Drrt... Drrt... Drtt...
Suara deringan yang berasal dari ponsel miliknya itu membuat si empunya teralihkan dari fokusnya. Risa pun menoleh, menatap sang ponsel yang tergeletak di atas nakas dekat tempat tidur.
“Siapa sih? Ganggu aja.” ucap Risa pada dirinya sendiri.
Gadis itupun kemudian bergerak malas, merangkak di atas tempat tidur, lalu meraih si ponsel yang terus rewel meminta untuk segera di sentuh tombol hijaunya.
“Deon?” gumam Risa saat manik matanya melihat nama teman baiknya itu tertera di layar ponselnya, Deon memanggil.
Tanpa menunggu lebih lama. Risa segera mengangkat panggilan tersebut. Kata ‘Halo’ pun mengawali pembicaraan mereka.
“Halo, Deon.”
“Risa, kamu ada di mana sekarang?” tanya Deon dari seberang sana.
“Aku? Aku ada dirumah. Ada apa?” jawab Risa, di akhiri dengan kalimat tanyanya.
“Baguslah.” gumam Deon yang terdengar samar di telinga Risa.
“Eh? Kamu bilang apa?” tanya Risa.
“Enggak. Enggak bilang apa-apa kok. Oh iya, Sa. Aku ada di depan rumah kamu. Ada sesuatu yang mau aku bicarain sama kamu. Itupun kalau kamu ijinin aku main ke rumah kamu.” kata Deon.
“Kamu ngomong apa sih, Deon. Atas dasar apa aku enggak ijinin kamu dateng ke rumah aku, huh?” sela Risa.
“Tunggu sebentar ya. Aku bukain pintu buat kamu.” ucap Risa. Kemudian mematikan panggilan tersebut.
Setelah itu, Risa beranjak turun dari kasurnya. Ia berlari kecil untuk segera sampai di lantai bawah.
Sesampainya di depan pintu rumah. Risa segera membuka pintu tersebut. Di sana terlihat Deon berdiri dengan memegang buket bunga Jasminum. Ya, itu bunga melati putih yang dirangkai cantik dengan daun hijau segarnya.
“Ini buat kamu.” ucap Deon dengan senyum manis menghiasi wajahnya.
“Oh? Bunga ini— ”
__ADS_1
“Em, dulu aku sering kasih kamu bunga itu. Sekarang walaupun kamu udah nikah, enggak masalah 'kan kalau aku kasih bunga itu ke kamu?”
“Enggak, enggak masalah kok. Makasih ya.” ucap Risa. “Oh iya, ayo masuk.”
Deon pun mengangguk, lalu masuk mengikuti Risa yang lebih dulu berjalan di depannya.
“Ayo duduk.” suruh Risa dengan nada ramahnya.
“Em, terimakasih.” ucap Deon, kemudian duduk pada salah satu sofa yang ada di ruang tamu tersebut.
“Kamu mau minum apa?” tanya Risa.
“Enggak usah deh, Sa. Aku enggak mau repotin kamu.” katanya.
“Repotin apaan sih. Biasa aja kali. Ayo cepetan bilang aja, kamu mau aku buatin minum apa?”
“Terserah kamu aja deh kalau gitu.” jawab Deon.
“Yaudah, kamu tunggu sebentar ya. Aku ke dapur buatin kamu minuman sekalian ambil camilan.” katanya. Deon pun mengangguk menanggapi perkataan Risa.
•••
“Kamu pulang aja, istirahat di rumah tiga hari. Nanti biar aku yang urus surat ijin kamu.” kata Dokter Ali setelah selesai memeriksa kondisi juniornya.
Juna mengancingkan kembali kemejanya setelah stetoskop milik Dokter Ali menjauh dari dadanya.
“Aku masih sanggup kerja.” jawab Juna. Nadanya lemah, ia terlihat lemas dan juga letih.
Dokter Ali pun sampai menghela napasnya panjang. Sulit sekali rasanya menasihati juniornya yang satu ini. Juna sungguh keras kepala. Kepalanya itu seperti batu yang sulit di goyahkan.
“Iya, iya. Aku pulang. Tapi enggak ijin tiga hari. Besok aku tetep berangkat kerja. Aku—”
“Enggak. Pokoknya aku bakal buat surat ijin untuk kamu selama tiga hari. Tambah dulu zat besi kamu, naikin tekanan darah sama Hb kamu, baru masuk kerja. Dokter itu tugasnya rawat orang sakit. Kalau dokternya aja sakit, pasiennya mau gimana nantinya?” sela Dokter Ali.
“Sudah, aku masih ada pasien lain. Kamu lebih baik pulang terus istirahat, jangan buat kepala aku pusing karena sifat keras kepala kamu itu. Nurut, nurut sama senior kamu sekali... ini aja. Ngerti kamu?” kata Dokter Ali, setelah itu ia pergi dari hadapan Juna sembari memasukkan stetoskopnya ke dalam saku jas dokternya kembali.
Selepas kepergian seniornya itu. Juna pun menghembuskan napas beratnya. Kali ini ia hanya bisa pasrah dan menurut. Lagipula, tubuhnya memang terasa sangat lelah.
Juna pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah.
•••
Risa kembali ke ruang tamu dengan membawa sebuah nampan berisi dua gelas minuman ice chocolate dan satu toples kaca berisi makanan ringan.
“Ini minumnya.” ucap Risa sembari meletakkan satu gelas ice chocolate itu ke arah Deon.
“Makasih. Maaf jadi repotin kamu.” kata Deon.
Risa pun tersenyum, “Jangan sungkan. Kita ini udah temenan lama masih aja kamu bilang gitu.” ujar Risa.
“Soalnya kita 'kan juga udah lama enggak ketemu dan bahkan sampai hilang kontak” jawab Deon.
“Iya juga ya. Rasanya agak canggung. Tapi tetep aja enggak boleh sungkan.” kata Risa.
“Iya Risa. Oke siap. Aku enggak akan sungkan lagi sama kamu.”
__ADS_1
“Bagus.” ucap Risa.
“Oh iya. Kamu datang kesini memangnya restoran lagi sepi ya?” tanya Risa.
“Enggak kok. Restoran masih rame seperti biasa.” jawab Deon sembari meminum ice chocolate miliknya. “Aku 'kan bosnya, jadi bebas dong kapan masuknya.”
Risa terkekeh mendengar perkataan terakhir dari pria itu, “Sejak kapan kamu jadi sombong kayak gini?”
“Eh? Aku sombong? Masa sih?” tanya Deon dengan nada pura-pura tidak tahu.
“Ck, dasar.” ucap Risa.
Kemudian, keduanya pun saling tertawa.
Tapi tawa itu tidak bertahan lama. Tawa itu padam ketika pintu rumah terbuka.
Di sana Juna berdiri memegang jas dokternya. Menatap Risa dengan wajah yang lebih datar dari sebelumnya.
“Juna?” ucap Risa.
“Kamu udah pulang?” tanyanya pada sang suami.
“Hm.” jawab Juna, sangat dingin.
“Kok cepet banget pulangnya? Biasanya sampai malam.” kata Risa.
Juna yang tadinya ingin berjalan menaiki tangga. Ia pun mengurungkan niatnya. Pria itu kemudian berbalik, menatap Risa dan Deon bergantian.
“Memangnya kenapa kalau aku pulang cepat? Kamu terganggu sama kehadiran aku? Kamu enggak perlu merasa terganggu. Lanjutin aja selingkuhannya.” kata Juna yang tidak lagi menutupi rasa kesalnya.
“Juna aku— ”
“Aku udah enggak peduli lagi kamu mau ketemu laki-laki manapun, dimanapun atau kapanpun.” ucap Juna, menyela Risa dengan cepat. Ia kesal.
“Juna kamu ngomong apaan sih?” tanya Risa. Ia pun kemudian berdiri, lalu berjalan menghampiri suaminya itu.
“Wajah kamu pucat gitu. Kamu sakit ya? Kamu pulang cepet karena sakit?” tanya Risa yang kini sudah berada di hadapan Juna.
Juna mengalihkan wajahnya dari Risa. Tapi kemudian, Risa menolehkan wajah suaminya itu dengan tangannya. Ia menatap lekat Juna sembari menyentuh kening pria itu.
“Badan kamu panas. Kamu beneran lagi sakit Juna.” ungkap Risa sembari menempelkan kedua telapak tangannya ke pipi sang suami.
“Ini pasti karena kamu enggak makan dari kemarin malam.” sambungnya.
“Kamu khawatir sama aku?” tanya Juna.
Risa mengernyitkan keningnya, heran. Tapi kemudian ia menjawab, “Iya.”
“Kalau gitu suruh pria lain itu pergi dari rumah kita dan rawat suami kamu ini dengan baik.” kata Juna.
💥thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT AND VOTE💥
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
Terimakasih sudah mengikuti novel ini. Jangan lupa komentar dan vote kalian. Ty vm.
__ADS_1