Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Rasa


__ADS_3

Pukul empat lewat dua puluh menit, kesyahduan pagi sudah terasa dengan semerbak aroma embun yang terasa segar.


Suara alarm yang berdering membuat indra pendengaran merasakan kebisingan dan menggangu tidur seseorang.


Dengan gerakan malas, Risa meraba nakas yang ada di sisi kiri tempat tidurnya. Dengan satu kali tekan, jam weker itu pun tidak lagi mengeluarkan bunyinya.


Risa menggeliatkan tubuhnya. Tapi sesuatu yang berat terasa menimpa perut gadis itu. Ia pun menyipitkan matanya, ingatannya tentang suaminya yang ingin tidur bersamanya semalam sudah menempel sempurna dalam memori gadis itu.


Tapi yang mengejutkan bagi Risa, bukan tangan Juna yang menimpa perutnya, melainkan kepala pria itu.


Juna menjadikan perut rata Risa sebagai bantalan untuknya tidur.


Apa yang dia lakukan?!


“Juna, bangun. Kamu berat. Perut aku sakit. Juna, Juna bangun.” ucap Risa sembari menepuk pelan kepala Juna yang masih berada di atas perutnya.


Beberapakali Risa menepuk kepala suaminya itu, Juna tidak menunjukkan responnya sama sekali. Pria itu bagai benda mati yang tidak bergerak.


Padahal sebenarnya, Juna sudah bangun beberapa menit lebih awal dari Risa. Pria itu hanya enggan untuk menyingkir dari tubuh hangat Risa. Karenanya, ia memilih berpura-pura tertidur lelap dengan mata tertutup rapat sempurna.


“Juna, bangun, ayo bangun. Aku mau sholat subuh ini. Juna. Ish, kamu pagi-pagi sudah buat orang naik darah aja sih.” keluh Risa sembari menatap kesal wajah Juna yang tampak tidur dengan tenang di atas perutnya.


“Juna, bangun dong Jun. Aku kebelet mau buang air besar ini. Kamu mau aku buang air besar di sini?”


Masih tidak ada respon. Risa pun kemudian mendengus kasar. Ia menatap Juna geram. Ingin rasanya ia mencakar wajah tampan suaminya itu.


“Juna, bangun enggak?! Kamu tidur di atas perut aku gitu, nanti kalau rahim aku bermasalah gimana? Kamu mau aku enggak bisa hamil anak kamu, huh?!” tanya Risa dengan penuh rasa kesalnya.


Tapi sepertinya, kali ini ia berhasil membuat Juna mau membuka matanya.


Terlihat dengan cepat Juna langsung membuka matanya ketika ia mendengar kata ‘hamil’ dan ‘anak kamu’ keluar dari bibir mungil gadis itu.


“Kamu tadi bilang apa?” tanya Juna dengan kepala yang sudah terangkat dari atas perut Risa. “Hamil? Anak aku? Kamu mau aku hamilin kamu?” tanya Juna dengan raut antuasiasme-nya.


Risa kembali mendengus kesal. Ia sudah menduga kalau Juna hanya berpura-pura tidur di atas perutnya.


“Tuh kan bener. Kamu itu memang ngeselin.” kata Risa. “Minggir, aku mau ke kamar mandi.” ucap Risa sembari mendorong tubuh Juna yang menghalanginya.


“Tunggu dulu.” Juna terlihat menahan lengan Risa, melarang gadis itu pergi sebelum Risa mengklarifikasi atas perkataannya tadi.

__ADS_1


“Apa lagi?” tanya Risa dengan nada di batas kesabarannya.


“Jelasin dulu apa maksud dari kata-kata kamu tadi.”


“Kata-kata yang mana?”


“Itu tadi kamu bilang— hamil sama anak, itu maksudnya kamu mau hamil anak aku, kan?” tanya Juna dengan wajah seriusnya.


Dia mengira kalau perkataanku yang tadi itu serius ya?


Ya ampun Juna, kamu pikir aku mau punya anak sama orang yang sulit untuk dipercaya seperti kamu ini. Tentu saja aku tidak mau.


Risa membalas tatapan Juna dengan ekspresi datarnya. Dalam adu pandang itu, Juna terlihat semakin serius. Hal itu membuat Risa tidak dapat lagi menahan rasa geli yang menggelitik hatinya.


Tawa gadis itu pun pecah, menggema ke seluruh penjuru kamar, memecah keheningan subuh yang tenang.


“Kok kamu malah ketawa sih, Sa?” tanya Juna dengan raut bingungnya.


“Dokter Juna yang terhormat. Anda pikir saya ini mau mengandung anak anda? Itu tidak mungkin.” jawab Risa sembari menepis tangan Juna.


“Maksud kamu, tadi itu kamu cuma bercanda?”


“Lucu ya?” tanya Juna yang mampu membuat Risa menghentikan langkah kakinya. Kemudian ia menoleh ke arah suaminya itu.


“Aku— ”


“Bagus, bagus sekali. Terus, terus aja bercandanya.” ucap Juna. Ia kemudian turun dari atas tempat tidur, berhadapan dengan Risa sejenak. Setelah itu ia berjalan melewati Risa. Juna keluar dari dalam kamar itu sembari menutup pintu kamar dengan keras, hingga menimbulkan bunyi dentuman yang memekakkan telinga.


“Juna, kamu— ” Risa tidak melanjutkan perkataannya. Ia memilih menghela nafasnya sembari mengelus dadanya pelan.


“Dia itu kenapa? Marah ya? Apa aku bercandanya terlalu berlebihan?” tanya Risa pada dirinya sendiri.


•••


“Selamat pagi, Pa.” sapa seorang pria muda ketika ia melihat sang ayah yang terlihat sibuk memasak sarapan untuk mereka berdua.


“Deon, kamu sudah bangun? Tidak biasanya kamu bangun sepagi ini. Apa ada hal penting yang harus kamu urus?” tanya ayahnya dengan tangan yang fokus mengaduk masakan.


“Tidak ada hal penting. Aku hanya ingin pergi ke restoran lebih awal. Itu saja.” jawab Deon sembari menarik salah satu kursi meja makan, kemudian duduk di sana.

__ADS_1


“Sepagi ini kamu ingin berangkat ke restoran?”


“Em, iya.” jawab Deon.


“Sepertinya ada sesuatu yang spesial.”


“Ya begitulah.” jawab Deon. “Oh iya, Pa. Apa Papa ingat dengan Risa? Perempuan yang dulu pernah aku ceritakan pada Papa.” kata Deon.


“Risa? Apa maksud kamu perempuan yang bekerja di restoran kita? Apa karena itu kamu berangkat lebih awal dari biasanya? Kamu masih suka sama dia?” tanya ayahnya itu sembari meletakkan masakannya ke atas meja makan.


“Papa dulu terima dia bekerja di restoran kita juga karena kamu. Tapi walaupun bukan karena kamu, dia juga bakal tetep Papa terima bekerja karena skill masaknya memang bagus.” kata ayahnya, lagi.


“Kamu kalau suka sama dia kenapa tidak mencoba untuk berkata jujur padanya tentang perasaanmu?”


“Sudah. Deon sudah jujur. Tapi— ”


“Tapi apa? Kamu di tolak?” tanya sang ayah sembari menyodorkan piring berisi makanan ke arah Deon. “Sarapan dulu.” ucapnya.


Deon menerima piring berisi makanan itu dengan lesu. Ia bahkan tidak memiliki selera untuk makan. Pria itu terlihat murung sejak semalam.


“Pa.”


“Hm, kenapa?” tanya sang ayah yang tampak menguyah makanannya. “Ada yang kurang dengan masakan Papa?”


“Bukan, aku— ”


“Kamu kalau mau bahas soal perempuan jangan ke Papa. Datang berkunjung ke rumah Mama kamu, konsultasi sana sama dia. Papa bukannya tidak mau mendengarkan curhatanmu. Tapi Papa sama sekali tidak paham dengan masalah seperti itu.” kata sang ayah, menyela dengan cepat.


Deon menghela nafasnya. Memiliki orangtua yang sudah bercerai memang bukan hal yang mudah. Terkadang Deon harus menahan rasa kebutuhannya sebagai seorang anak.


Saat ia butuh ibunya, maka pria itu akan menginap di rumah sang ibu. Saat ia merasa butuh ayahnya, maka Deon akan menginap di rumah sang ayah. Dan saat dirinya lelah dengan semua itu, ia akan tinggal di rumahnya sendiri. Rumah kenangannya bersama Risa.


“Baik, aku mengerti.” ucap Deon menanggapi perkataan sang ayah.


Ayahnya itu kemudian tampak mengusap kepala putranya dengan lembut. “Cepat habiskan sarapanmu.”


💥thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT AND VOTE💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


Terimakasih sudah mengikuti novel ini. Jangan lupa komentar dan vote kalian. Ty vm.


__ADS_2