Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Love Calling Out


__ADS_3

Selamat Siang~


Selamat datang kembali di novel Terpaksa Menikah Dengan Mantan.


Jangan lupa Vote, Komen walau hanya satu huruf sahaja. Dan jangan lupa juga untuk Like dan Favoritkan novel ini.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


Pagi itu, Juna terlihat berdiri di depan lemarinya. Ia tengah sibuk memilih dasi yang akan dikenakannya untuk seminarnya hari ini.


Lalu kemudian, pintu kamar itu terbuka. Juna pun menoleh, ia tersenyum kala istrinya terlihat masuk ke dalam kamar mereka.


“Sarapannya sudah siap,” tutur Risa.


Juna mengangguk, lalu kembali fokus pada jajaran dasi dengan motif yang berbeda itu.


“Sedang apa?” tanya Risa, penasaran. Ia pun mendekat ke arah Juna.


“Pilih dasi, hari ini aku ujian seminar proposal untuk tugas akhir,” jawab Juna.


“Oh,” ucap Risa, “Sini, aku bantu kamu pilih dasinya,” tawar Risa.


Gadis itu kemudian mulai memilih dasi yang pas untuk suaminya. Motif pin-dot dengan warna navy menjadi pilihan Risa. Ia kemudian meraih dasi tersebut dan mulai memasangkannya ke leher Juna.


“Kamu kalau kayak gini, aku jadi beneran merasa punya istri,” ujar Juna.


Risa hanya tersenyum, tangannya sibuk mengait dan menyimpul dasi tersebut.


Selesai memakaikan dasi itu, Risa menatap hasilnya dengan senyum puas.


“Siap,” ujarnya sembari mengalihkan tatapannya ke arah Juna.


“Terimakasih,” ucap Juna.


Risa mengangguk, “Sama-sama,” balasnya.


Juna pun kemudian mengambil tas kerjanya yang ia letakkan di atas tempat tidur.


“Kamu sarapan dulu, aku sudah masak buat kamu,” kata Risa sembari mengambilkan jas dokter milik Juna.


“Iya,” tuturnya, sembari meraih jas dokter yang Risa berikan padanya.


“Kamu duluan aja, aku mandi dulu, nanti aku susul kamu ke bawah,” kata Risa.


Juna mengangguk, setelah itu ia keluar dari dalam kamar tersebut.


•••


Ruangan itu memiliki nuansa warna hijau dan putih. Aroma antiseptik dan obat-obatan menguar memasuki indra penciuman.


Seorang pria yang terbaring selama hampir delapan jam itu akhirnya menunjukkan pergerakan.


Perlahan matanya terbuka, lalu sebuah suara dengan penuh rasa syukur menyapanya.


“Deon, kamu sudah sadar? Papa panggil dokter dulu, kamu jangan banyak bergerak ya,” tukas ayahnya, kemudian pria paruh baya itu lekas berlari keluar memanggil dokter yang sedang berjaga.


Tak lama setelah ayahnya keluar, seorang dokter dan satu orang perawat masuk ke dalam ruangan itu, diikuti oleh sang ayah yang ada di belakang mereka.

__ADS_1


“Bagaimana kondisinya?” tanya Herman, ayahnya Deon.


“Kondisinya sudah membaik, tapi lukanya belum pulih. Pasien masih butuh beberapa hari untuk istirahat dan menyembuhkan lukanya agar tidak terjadi infeksi. Setidaknya, sampai jahitannya mengering, dia baru boleh pulang,” jelas dokter itu.


“Syukurlah,” ucap sang ayah.


“Kalau begitu kami permisi,” ucap dokter itu, kemudian pergi bersama si perawat.


“Apa yang terjadi?” tanya Deon.


“Apa yang terjadi katamu? Justru Papa yang seharusnya tanya seperti itu. Bagaimana bisa kamu mengalami kecelakaan? Dan bagaimana bisa kamu malah pergi ke rumah gadis itu daripada ke rumah sakit?! Kamu sudah tidak waras ya? Mau ganggu rumah tangga orang lain seperti suami keduanya Mama kamu?!” tanya sang ayah, penuh dengan teguran.


Deon menundukkan kepalanya, “Jadi Papa sudah tahu ya?” cicitnya.


“Deon, dengarkan Papa. Papa tidak melarangmu jatuh cinta pada siapapun. Tapi Papa minta sama kamu, kamu jangan jatuh hati pada wanita yang sudah menikah,” tegas ayahnya, membuat Deon semakin menundukkan kepalanya.


“Setelah kamu sembuh, Papa akan mengirimmu kembali ke London,” tukas sang ayah.


Deon langsung mendongakkan kepalanya, menatap sang ayah dengan sorot mata tak setuju.


“Tidak, aku tidak mau,” sergah Deon.


Herman menghela napasnya, kemudian menatap anaknya sendu, “Papa tidak mau kamu jadi pria yang mengganggu istri orang. Deon, Papa tidak bisa diam saja melihatmu berperilaku buruk seperti itu,” tuturnya.


“Apa Papa tahu kenapa aku tidak berhasil mendapatkan Risa?” tanya Deon.


Ayahnya diam, ia tidak ingin menjawab.


“Itu semua karena Papa,” tandasnya.


“Apa maksudmu?” Herman tak paham.


“Hanya karena mereka sudah menikah. Tapi bukan berarti rumah tangga mereka akan langgeng selamanya. Karena Risa dan pria itu menikah karena perjodohan. Tidak ada cinta di antara mereka,” imbuh Deon.


Mendengar semua perkataan sang anak. Herman mengusap wajahnya kasar. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Kisah hidup Deon hampir sama seperti kisah hidupnya. Hanya saja, dulu, dirinya berada di posisi Juna. Menjadi sosok suami yang tidak di inginkan.


“Kamu salah, Nak,” lirih Herman.


“Mereka saling mencintai. Gadis yang kamu sukai itu mencintai suaminya. Papa bisa melihatnya dengan jelas dari sorot mata gadis itu. Dia sangat mencintai suaminya. Begitupun juga dengan suaminya. Hanya saja, mungkin mereka butuh waktu untuk terbuka satu sama lain,” nasihat Herman.


“Kalau kamu paksakan diri kamu buat dapetin gadis itu. Pertama, kamu hanya akan menjadi pria brengsek. Kedua, kamu hanya akan menjadi pria yang menyedihkan. Kamu harus tahu, tidak ada bagusnya mendekati perempuan yang sudah menikah,” imbuh sang ayah.


Deon tetap diam. Namun hatinya meresapi setiap nasihat yang dituangkan oleh ayahnya.


Semuanya benar, apa yang ayahnya katakan adalah sesuatu yang kenyataannya seperti itu.


Deon sendiri merasakannya, kalau Risa masih menyimpan perasaan pada Juna. Dan Juna, Deon merasakan kalau pria itu tanpa sadar sudah jatuh hati pada Risa.


Tapi bodohnya, mereka tidak sadar akan hal itu.


•••


“Sa,” panggil Juna.


“Ya?” jawab Risa sembari memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


“Kalau kamu berhenti kerja gimana?” tanya Juna, penuh kehati-hatian.


Seketika itu, Risa menghentikan gerakan tangannya. Ia meletakkan sendoknya pada piring yang masih terisi nasi goreng itu.

__ADS_1


“Berhenti kerja?” Risa balik bertanya sembari menatap Juna lekat.


Suaminya itu menjawab pertanyaannya itu dengan anggukan kepala sembari berkata, “Iya,” ucapnya.


“Kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba suruh aku berhenti kerja?” tanya Risa dengan kening berkerut heran.


Juna menghela napasnya, ia pun ikut meletakkan sendoknya di atas piring yang sudah kosong. Kemudian fokus menatap Risa yang juga menatapnya.


“Karena sebentar lagi aku udah dapet gelar spesialisku. Dengan begitu, gajiku juga akan naik. Itu artinya, aku lebih dari sanggup buat biayayain kebutuhan hidup kamu dan kita,” jelas Juna.


“Kalau aku enggak mau berhenti kerja giman?” tanya Risa.


Juan terdiam sejenak, kemudian menghela napasnya, mencoba mengerti.


“Ya, itu terserah kamu. Tapi aku sangat berharap kamu berhenti kerja dan fokus sama urusan rumah tangga kita. Lagian, walaupun kamu berhenti kerja, kamu masih bisa masak. Kamu bisa masakin aku sebagai suami kamu,” tukas Juna.


Risa menatap Juna semakin dalam. Mata pria itu ia selami bagai lautan bawah tanpa dasar. Risa berpikir, apakah ia akan setuju atau tidak? Ini memang bukan keputusan yang sulit, tapi bukan pula keputusan yang mudah.


“Risa?” panggil Juna, membuyarkan lamunan pendek Risa.


“Itu, aku— ”


“Tidak bisa?” potong Juna.


Risa menggelengkan kepalanya, “Aku akan mencobanya. Aku akan berhenti. Tapi, jika sewaktu-waktu aku ingin bekerja kembali, bolehkan?” tanya Risa.


Juna mengangguk setuju, “Iya,” jawabnya.


“Terimakasih,” imbuhnya.


“Oh iya, nanti aku pasti akan banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Tapi percayalah, aku akan menyempatkan waktu untuk pulang biar kamu enggak kesepian,” ujar Juna.


Risa mencebik, tapi kemudian tersenyum dengan tawa kecilnya.


“Terserah kamu saja,” tukasnya.


“Sa,” panggil Juna lagi.


“Hm?”


“Aku mau kita saling membuka hati masing-masing. Aku mau kita menjadi suami istri yang saling memiliki satu sama lain dan mencintai. Bukannya kamu sudah lihat sendiri? Banyak orang yang mendukung dan mendoakan pernikahan kita agar terus langgeng selamanya,” kata Juna.


“Maukah kamu sama-sama berjuang untuk pernikahan ini? Kita bisa mencobanya perlahan-lahan,” bujuk Juna.


Risa diam berpikir, ia ragu tapi juga ada dorongan dalam hatinya untuk menyetujui permintaan Juna.


Haruskah ia mencobanya?


“Baiklah, aku akan mencobanya. Tapi berjanjilah padaku untuk membuang sikap burukmu di masa lalu. Dan jaga jarak dengan para wanita yang mendekatimu,”


Juna tersenyum, kemudian tangannya bergerak, meraih tangan Risa, menggenggam tangan itu dengan kehangatannya.


“Aku berjanji,” ucap Juna.


“Terimakasih, Istriku,” imbuh Juna.


💥thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT AND VOTE💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


Terimakasih sudah mengikuti dan membaca novel ini. Jangan lupa untuk beri komentar, like dan vote kalian. Dan juga rekomendasikan cerita ini ke teman kalian yaaa. Ty vm.


__ADS_2