Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Malam Sebelum Pernikahan (Deklarasi Balas Dendam)


__ADS_3

“Juna! Ngapain kamu ada di dalam kamar anak gadis orang?! Pakai acara kunci pintu segala lagi. Kamu itu walaupun besok udah mau nikah sama Risa, tapi harus sabar dong! Jangan gegabah. Ayo sini kamu! Biar ayah kasih kamu pelajaran.” ujar om Henry, ayah Juna yang datang ke rumah Risa bersama ayah dan ibunya Risa.


Juna tampak tersenyum canggung menatap kedua calon mertuanya dan juga ayahnya.


Dengan situasinya yang seperti ini, ia sungguh bingung bagaimana harus menjelaskannya.


Tapi setidaknya, ia masih punya Risa yang akan membantu dirinya untuk keluar dari kesalahpahaman yang sedang terjadi saat ini.


“Ayah, om, dan juga tante. Tolong jangan salah paham, tahan dulu amarah kalian. Aku dan Risa akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, ini semua, apa yang kalian lihat barusan itu, itu hanya salah paham saja. Aku sama Risa enggak ada mau ngelakuin apa-apa, aku juga enggak ada niat buruk sama dia, iya kan sa?” kata Juna, ia kemudian menoleh ke arah Risa, meminta dukungan gadis itu.


Tapi gadis itu entah kenapa malah mengeluarkan senyum seringaiannya, yang membuat Juna memiliki firasat buruk dengan senyuman Risa itu.


“Mama~ Juna jahat, masa dia main masuk kamar Risa lewat jendela. Tuh, lihat tuh buktinya, jendelanya masih terbuka. Terus, terus habis itu dia tiba-tiba lempar Risa ke atas kasur, dia bilang mau tidur bareng Risa. Risa udah nolak dan suruh dia keluar dari kamar. Tapi dia malah ngancem Risa. Kalau Risa enggak diem nanti dia bungkam mulut Risa pakai bibirnya. Risa takut ma~ ” rengek Risa yang tengah mengadu pada ibunya.


“Heh! Kamu kalau bicara jangan sembarang, aku mana ada sengaja masuk kamar kamu kalau bukan karena terpaksa.” ujar Juna, membela dirinya sendiri.


Pria itu tampak menatap Risa dengan tatapan tajamnya, bahkan bola matanya seperti mengeluarkan sinar laser. Tapi Risa, gadis itu tidak mungkin takut hanya karena tatapan seperti itu, apalagi disana ada banyak orang yang akan menjadi kandidat pembelanya.


Risa pun membalas tatapan Juna dengan senyum puasnya sembari mengejek si pria dengan juluran lidahnya.


“Juna, sudahlah tidak perlu membuat alasan lagi, akui saja kesalahanmu. Ayah tau kamu itu laki-laki normal, tapi seharusnya kamu bisa tahan diri sebelum akad.” kata sang ayah, Henry.


“Ayah, aku enggak lagi buat alasan. Tapi apa yang dia bilang tadi itu emang enggak ada yang bener. Semua itu fitnah. Lagian, aku ini bukan jenis pria yang seperti ayah bilang tadi.” ujar Juna.


“Bohong om, Juna bohong itu. Buktinya aja masih ada, lihat tuh om, jendelanya masih kebuka, terus tadi om lihat sendiri kan? Si mesum ini mau rampas ciuman pertama  aku.” kata Risa dengan raut wajah melasnya.

__ADS_1


“Juna, katakan yang sejujurnya pada kami. Kamu sengaja masuk lewat jendela untuk apa?” tanya om Henry.


Juna menghembuskan nafas frustasinya, ia tampak mengusap wajahnya kasar, dirinya yang pada dasarnya sudah lelah karena pekerjaan, kini harus merasa lelah hati karena fitnah kejam dari calon istrinya.


“Aku emang masuk ke kamar Risa lewat jendela, tapi— ”


“Tuh kan, benerkan, Risa enggak bohong, si mesum ini emang beneran masuk ke dalam kamar Risa lewat jendela, terus abis itu asal naik ke atas ranjang Risa. Risa udah suruh dia pergi, tapi si mesum ini malah ngancem mau cium Risa, untung mama cepet dateng terus buka pintu, kalau enggak, udah enggak tau deh, Risa bakal di apain sama dia. Ck, dasar pria mesum.” ujar Risa, ia sengaja menyela perkataan Juna, agar pria itu tidak dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Juna yang mendengar perkataan Risa, hatinya semakin membara. Jika saja ia seorang perempuan, sudah pasti saat ini dirinya itu langsung menarik kasar rambut Risa, apalagi ketika Risa terus-terusan memanggilnya ‘si mesum’.


Di sisi lain, Risa sungguh senang bisa menyudutkan Juna. Bahkan ia semakin senang ketika pria itu terlihat sangat kesal padanya.


Melihat Juna yang tampak melarat seperti itu, hati Risa seperti kebun bunga yang sedang bermekaran, sangat senang, seakan-akan dendam masa lalunya pada pria itu perlahan-lahan terbayarkan.


“Ayah, ayah mau apa?” tanya Juna yang merasa tidak nyaman dengan tatapan dari ayahnya.


Henry yang sudah percaya seratus persen dengan calon menantunya, ia pun langsung menghampiri Juna.


Tepat di hadapan semua orang yang ada di dalam kamar Risa, Henry menarik telinga anaknya, membuat Juna mengaduh kesakitan dan juga memprotes tindakan sang ayah yang membuatnya malu di hadapan Risa dan calon mertuanya.


“Aduh, ayah. Aku enggak salah. Ayah! sakit, lepasin, jangan asal narik telinga aku, sakit Ayah! Ayah, ayah jangan bikin aku malu.” ujar Juna, merengek meminta ampun pada sang ayah.


“Eng, Henry, aku pikir itu sudah cukup. Lagian kan Risa juga enggak apa-apa, mereka besok juga udah mau nikah. Jadi masalah ini, enggak perlu sampai marahin Juna kayak gitu.” kata Fero, ayahnya Risa.


Helaan nafas dari Henry pun membuat Juna menghela nafas juga, merasa lega karena sang ayah akhirnya melepaskan telinganya yang tadi ditarik cukup kuat oleh.

__ADS_1


“Bikin malu ayah aja.” ucap Henry, lirih, hanya pada Juna.


“Seharusnya aku yang malu, udah di fitnah, di tarik telinga juga.” gumam Juna, dengan hati yang sangat kesal.


“Ya sudah, kalau begitu, Risa dan juga Juna, ayo ikut kami ke ruang makan. Kita makan malam bersama. Ayo cepat.” kata mama Dewi dengan nada lembutnya. Setelah itu, ia pergi dari kamar Risa diikuti oleh suaminya dan juga Henry yang tampak sesekali menatap Juna tajam.


Sepertinya, ia benar-benar marah dengan putranya.


“Oke ma.” jawab Risa, gadis itu terlihat riang gembira, bahkan tawa kecil tidak pernah luntur dari wajahnya yang manis itu.


Juna yang melihat Risa terus merasa senang dengan penderitaan yang dialaminya, ia pun mendekati Risa.


“Sekarang kamu silahkan ketawa puas  karena sudah berhasil membuatku kesal dan malu. Tapi ingat, aku ini tipe orang yang pendendam. Awas aja kamu sa, tunggu pembalasan dariku.” bisik Juna pada calon istrinya itu.


Risa yang tiba-tiba mendapat bisikan berupa ancaman itu, ia langsung menoleh, menatap Juna dengan ekspresi datarnya, seolah memberitahu Juna kalau dirinya tidak takut dan juga tidak peduli.


“Ya, baiklah, aku akan menunggu pembalasan dendammu.” ucap Risa yang kemudian pergi menyusul ibunya.


Melihat Risa yang tidak peduli dengan ancamannya, Juna terlihat semakin kesal, tangannya pun terkepal kuat sampai buku-buku jarinya tampak memutih.


“Sialan! Kalau aku tahu dia itu seekor rubah yang sangat licik. Dari awal seharusnya aku berhati-hati dengannya. Ck, keparat kecil itu, benar-benar telah membuatku malu. Tunggu saja pembalasan dariku. Setelah kita menikah nanti, aku pastikan kamu akan mendapatkan pembalasan yang setimpal rubah kecil sialan!”


💥 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2