Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Si Rubah


__ADS_3

Risa menatap kepergian Runa dalam diam. Wanita itu termenung cukup lama.


Kemudian, helaan napas pun terdengar, “Haruskah aku menceritakannya pada Juna?” gumamnya.


Namun, sesaat kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Ah entahlah. Aku tidak ingin memikirkannya,” ucap Risa, setelah itu ia berjalan masuk ke dalam rumahnya.


***


“Juna.”


Pria itu menoleh, “Ada apa?” tanyanya.


“Ada tamu untukmu,” kata seorang pria, Yoga.


“Tamu?” Juna menatapnya dengan kening berkerut, “Jangan bercanda, aku bukan orang penting, atas dasar apa aku punya tamu? Mungkin maksudmu pasien?” terka Juna.


“Tamu, bukan pasien,” sanggah Yoga, “Runa, dia ada di ruanganmu,” paparnya.


Mendengar nama itu, mata Juna seketika melebar, pria itu kemudian berlari menuju ruangannya, ia bahkan mengabaikan Yoga yang belum selesai berbicara padanya.


Cepat, Juna membuka pintu ruangannya.


Saat ruangan itu terbuka, matanya langsung bertumpu pada sosok wanita yang tengah berdiri menatap luar jendela. Runa bersedekap, tubuh rampingnya itu ia sandarkan pada dinding dekat jendela.


“Sedang apa kamu di sini?” tanya Juna, ia masuk ke dalam ruangan itu sembari menutup pintunya.


Runa menoleh, menatapnya dengan senyum manis yang terukir di wajah cerahnya.

__ADS_1


“Aku merindukanmu,” terang Runa, tanpa rasa sungkan sedikitpun.


Juna mengalihkan pandangannya, ia meletakkan stetoskopnya ke atas meja, lalu tangannya sekilas menyentuh foto kecil yang terpajang di meja kerjanya, foto pernikahannya dengan Risa.


“Aku sudah menikah,” ucap Juna, perkataannya itu memiliki dua tujuan. Pertama, ia sedang mengingatkan dirinya sendiri. Kedua, Juna menegaskan pada Runa kalau pira itu tak mungkin kembali lagi padanya.


“Aku tahu,” jawab Runa, “Aku bahkan sudah tahu bagaimana rupa istrimu, aku akui kalau dia memang cantik,” imbuhnya.


Juna mengernyitkan keningnya bingung, “Kamu bertemu dengannya?”


Runa tersenyum, kakinya melangkah mendekati Juna yang berdiri dekat meja kerjanya.


“Em,” jawabnya sembari mengangguk pelan, “Kamu tahu apa yang aku katakan padanya?” katanya kemudian.


“Jangan coba-coba mengganggu istriku,” tegas Juna.


“Apa yang kamu katakan?” Mata Juna berkilat tajam menatap Runa.


“Aku adalah cinta pertamamu,” ujar Runa dengan senyum puasnya.


Juna menghela napas beratnya, “Apa kamu sudah tidak waras? Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu padanya, hah?!” kesal Juna.


“Ah, iya. Aku baru ingat,” ucap Runa, “Istrimu juga mengatakan hal yang sama seperti yang kamu katakan barusan,” paparnya.


“Maksud kamu apa?”


“Siapa tadi namanya? Risa? Itu namanya, 'kan?” tutur Runa dengan ekspresi yang mampu membuat orang geram melihatnya.

__ADS_1


“Bagaimana kamu bisa tahu namanya? Apa saja yang sudah kamu katakan padanya?!” seru Juna, kesabarannya sudah sampai pada titik puncak, ia kesal dan geram pada wanita yang pernah menjadi hal terindah baginya itu.


Runa lagi-lagi menampilkan senyum menyeringainya, “Kami hanya berkenalan dan... dia banyak mengumpatiku dengan kata-kata buruk, dia bilang aku sudah tidak waras, bodoh, gila, hilang akal dan umpatan buruk lainnya. Sungguh tidak menyangka kalau kamu akan menikahi gadis barbar seperti itu,” katanya.


Juna mencebik, “Kamu pikir aku percaya dengan omong kosongmu itu, huh?”


“Aku tidak berharap begitu. Tapi faktanya memang seperti itu. Kamu tahu kenapa dia berkata seperti itu padaku?”


Juna diam, menunggu kalimat selanjutnya dari Runa.


“Karena aku berkata padanya kalau dia sangat cantik sampai membuatku ingin sekali mencabik-cabik wajahnya,” papar Runa, “Ah! Aku juga berkata padanya 'kalau seandainya kamu mati, apakah Juna akan menikah lagi?'. Apa kamu tahu bagaimana ekspresi istrimu setelah aku berkata seperti itu?”


Juna mengepalkan tangannya kuat, jika saja Runa seorang pria, mungkin tinju itu sudah melayang sejak tadi.


Sedangkan Runa, gadis itu berjalan semakin mendekati Juna. Dia kemudian mengarahkan wajahnya ke arah telinga Juna yang diam membisu di tempat.


“Dia... terlihat ketakutan,” bisik Runa, membuat Juna langsung mendorong tubuh gadis itu menjauh darinya.


Runa tersenyum miring, “Aku pikir dia sangat syok, sampai wajahnya pun terlihat pucat. Aku— ”


Runa menggantungkan kalimatnya bukan karena sengaja, tapi Juna yang tiba-tiba pergi dari ruangannya setelah menyambar kunci mobil yang tak jauh dari jangkauan pria itu.


“Aish, sial! Dia benar-benar mencintai perempuan itu,” gumam Runa, kesal.


**NP :


Halo semua, novel ini akan di usahakan update setiap hari🌷

__ADS_1


Satu lagi, besok aku akan up novel baru 'My Posesif Brother : Diary Yuna' novel ini merupakan spin off dari the destiny 2 : Extraordinary Love**


__ADS_2