
Aroma masakan tercium sedap dari arah dapur. Bau gurih yang begitu menggoda lidah membuat penghuni perut menabuh genderangnya.
Risa tersenyum puas melihat hasil masakannya sendiri. Ia menatap dua piring fried rice dengan topping super lengkap tersaji di atas meja makan itu dengan senyum mengembang di wajahnya.
Gadis itupun kemudian beralih pandang ke arah lantai atas. Ia ingin tahu, apakah Juna sudah keluar dari kamarnya atau belum. Beberapa menit ia menunggu, tidak ada tanda-tanda bahwa suaminya akan turun.
Risa kemudian melepaskan appronnya, lalu menggantungkannya di dekat set kitchen.
Juna kok belum turun ya? — batinnya pun bertanya.
Beberapa menit menatap lantai atas. Akhirnya, Risa memutuskan melangkahkan kakinya, berniat mengajak sang suami untuk turun dan sarapan bersama.
Tapi, baru saja salah satu kakinya berpijak pada anak tangga. Juna terlihat menuruni tangga dengan pakaian kerjanya yang sudah melekat di tubuh pria itu.
“Aku baru aja mau panggil kamu.” ucap Risa ketika Juna berada dalam jarak satu meter di depannya.
Mereka berhadapan untuk beberapa detik lamanya. Tapi kemudian, Juna melewati Risa begitu saja tanpa menjawab perkataannya gadis itu. Ekspresinya pun tampak datar.
“Aku berangkat.” pamit Juna.
“Loh, enggak sarapan dulu?” tanya Risa, ia berbalik dan melangkah mengikuti Juna.
“Enggak. Belum lapar.” katanya dengan nada ketus.
Risa menghentikan langkahnya sembari mengernyit heran, ia pun bertanya, “Kamu kenapa? Marah ya?”
“Enggak.” jawab Juna cepat.
Risa menghela napasnya, ia merasa kalau suaminya itu sungguh marah padanya karena candaannya subuh tadi.
“Juna...” panggil Risa lirih, “Kamu beneran marah 'kan sama aku?” tanyanya sekali lagi.
“Enggak, Sa. Aku enggak marah sama kamu. Aku berangkat cepet karena memang lagi buru-buru.” sanggahnya.
“Bohong.” ucap Risa.
“Ya terserah kamu mau percaya sama aku atau enggak. Lagian kamu 'kan emang enggak pernah percaya sama aku sedikitpun.” kata Juna, kemudian kembali melangkahkan kakinya hingga keluar dari dalam rumah.
“Aku yakin, dia beneran marah sama aku.” ucap Risa, menatap punggung Juna yang sudah lenyap dari pandangannya.
“Padahal aku sudah masak makanan kesukaan dia. Ck, dasar. Dia itu emang paling buruk dalam menghargai kerja keras orang lain.” kata Risa sembari berdecih kesal menatap mobil sang suami yang telah keluar dari pekarangan rumah.
__ADS_1
•••
Beberapa menit perjalanan. Juna sampai di rumah sakit tempat ia bekerja.
Pria itu memarkirkan mobilnya di basemen lantai dua.
Selepas memarkirkan mobilnya, ia meraih jas dokternya yang berada di bagian belakang mobil. Lalu setelah itu, Juna keluar dari dalam mobil tersebut.
Dengan santai, Juna melangkah masuk ke dalam rumah sakit itu.
“Juna.” panggil seorang pria dari arah sisi kirinya. Juna pun menghentikan langkahnya, ia menatap ke arah pria yang sedang berlari menghampirinya.
“Kakak ipar.” sapa Juna.
“Enggak usah terlalu formal deh Jun. Panggil Kak Aro aja.” kata pria itu, dia kakak kandung Risa, Alvaro.
“Oh, oke.” jawab Juna.
“Oh iya, gimana kabar Risa? Dia itu udah lama enggak ada kabar.” tanya Aro.
“Risa? Dia baik-baik aja kok. Happiness terus tiap hari.”
“Oh... Syukurlah. Eh, kalian kapan-kapan main ke rumah dong. Soalnya Mama rindu sama Risa.” ujar Aro sembari berjalan beriringan dengan adik iparnya.
“Nanti deh Kak, kalau kami sama-sama punya waktu luang. Aku sama Risa pasti dateng ke rumah.” kata Juna.
“Bagus. Kalau gitu di tunggu kabarnya. Ya udah, aku duluan. Salam buat Risa, bilang Kak Aro kangen sama dia.” ucap Aro sebelum kemudian pergi ke bagian Instalasi Gawat Darurat.
“Dia bisa ramah juga ya ternyata.” gumam Juna seraya menatap kepergian iparnya itu dalam hening.
•••
Risa menatap nasi goreng spesial yang ia buat untuk suaminya itu dengan tatapan sedihnya.
Ia sedih karena harus membuang makanan yang sudah ia buat dengan ketulusan hati.
Helaan napas pun tak kunjung luntur dari dirinya.
“Juna jahat banget sih. Kalau tau dia enggak mau sarapan. 'Kan aku enggak perlu susah-susah masak. Buang-buang waktu sama tenaga aja.” kesalnya.
Setelah membereskan dapur, Risa beralih ke tempat lain dan mulai membersihkannya. Padahal hari ini yang bertugas menjadi pelayan adalah Juna. Tapi gadis itu sepertinya sudah tidak peduli lagi dengan peraturan yang ia buat dengan Juna.
__ADS_1
Kalau bukan karena Juna yang lagi marah. Aku mana mau bersihin rumah yang seharusnya hari ini jadi tugas dia.
Ya, anggap saja ini permintaan maafku karena sudah membuatnya marah. — batin Risa sembari terus bergerak kesana-kemari untuk membersihkan rumahnya.
Gadis itu sebenarnya berinsiatif membersihkan rumah bukan hanya karena sekedar permintaan maafnya pada Juna. Tapi juga agar ia tidak merasa bosan di hari liburnya saat ini.
Padahal ia baru saja berangkat bekerja kemarin. Tapi entah kenapa jadwal kerjanya berubah aneh. Ia memiliki banyak hari libur di waktu dan hari tertentu.
•••
Matahari mulai meninggi. Hari sudah beranjak siang.
Terlihat Juna berdiri di depan meja informasi untuk mengisi data pasien yang baru saja ia rawat.
Wajah pria itu terlihat pucat, pandangannya pun terasa mengabur. Sesekali ia pun tampak menggelengkan kepalanya, mengusir rasa pening yang sangat menggangu kerjanya.
Semua ini terjadi karena pagi tadi dirinya langsung pergi bekerja tanpa sarapan. Semalam karena kesal dengan Deon, ia juga tidak makan. Perutnya itu kini benar-benar kosong.
“Dokter Juna. Anda kelihatan pucat sekali. Apa anda merasa tidak enak badan?” tanya seorang perawat pria bagian Intensive Care Unit.
Juna menoleh ke arah perawat itu, ia menggelengkan kepalanya. Namun rasanya munafik kalau dirinya baik-baik saja. Tubuh pria itupun tampak terhuyung.
“Dokter Juna.” pekik si perawat sembari menopak tubuh Juna yang hampir ambruk.
Pekikan itu akhirnya mengundang perhatian beberapa pasang mata yang ada di ruang ICU tersebut.
“Ada apa dengan Juna?” tanya Dokter Ali, ia tampak berlari menghampiri Juna yang kini sudah berdiri tegak, seolah dirinya baik-baik saja.
“Tidak apa-apa. Aku hanya kelelahan.” ucap Juna.
“Ayo ikut aku ke ruang istirahat. Aku akan memeriksa kondisimu.” kata Dokter Ali.
“Enggak, enggak perlu di periksa. Aku baik-baik saja kok.” kata Juna mencoba meyakinkan dengan perkataannya. Tapi sayangnya, fisiknya berkata lain. Darah segar pun mengalir dari dalam hidung pria itu.
“Juna. Kamu udah mimisan gitu masih mau bilang enggak apa-apa? Ayo cepet ikut aku ke ruang istirahat. Mau enggak mau aku tetep bakal periksa kondisi kesehatan kamu. Kalau kamu kenapa-kenapa yang repot juga siapa? Tentu saja aku sebagai mentor kamu.” kata Dokter Ali dengan tegas. Tidak dapat lagi Juna sanggah ataupun tolak.
💥thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT AND VOTE💥
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
Terimakasih sudah mengikuti novel ini. Jangan lupa komentar dan vote kalian. Ty vm.
__ADS_1