
“Eh, mama mertua kok bisa tau sama apa yang lagi kita omongin? Kita jadi malu rasanya.” jawab Juna, semakin membuat Risa ingin mencubit, mencakar, bahkan kalau perlu menendang pria itu lagi.
“Ck, kalian berdua ini, dasar pengantin baru.” ucap Dewi, ibunya Risa.
Juna pun tersenyum lebar menanggapi perkataan ibu mertuanya itu.
“Kamu bicara sembarangan lagi, aku beneran bakal eksporin kamu ke kutub selatan. Awas aja kamu.” bisik Risa pada Juna.
Juna menatap Risa tidak peduli, ia menganggap perkataan Risa itu hanyalah sebuah bualan belaka, yang tidak akan mungkin pernah terjadi.
Lalu kemudian, terlihat pelayan yang tadi mencatat pesanan, telah datang kembali ke meja makan mereka.
Tapi kali ini pelayan itu tidak datang seorang diri, tetapi ia datang bersama seorang pria rupawan yang sepertinya seorang chef di restoran tersebut. Hal itu dapat dinilai jelas dari pakaian yang orang itu kenakan.
“Selamat pagi.” ucap chef itu sembari menampilkan senyum ramahnya.
Semua orang yang ada di meja makan itu pun menoleh, lalu membalas senyuman ramah dari chef tersebut. Kecuali Risa, gadis itu terlihat menganga dengan mata terbelalak sempurna menatap ke arah si pria yang berprofesi sebagai chef itu.
“Hai Risa.” sapa chef tersebut dengan senyum hangatnya. “Udah lama enggak lihat kamu, kamu makin cantik aja ya.” sambungnya lagi.
Perkataan dari pria yang berprofesi sebagai chef itu spontan membuat Juna merasa hatinya di hantam oleh batu besar, Juna sungguh tidak suka mendengarnya.
“Deon. Ini, ini beneran kamu?” tanya Risa yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Biasa aja kali Sa lihatnya. Enggak usah pakai acara euforia segala.” ujar Juna dengan nada ketidaksukaannya.
Mendengar Juna sedang berbicara padanya, Risa pun menoleh sekilas ke arah Juna. Namun kemudian ia kembali menatap ke arah Deon dan lebih memilih menghiraukan raut masam yang tercetak jelas di wajah Juna saat ini.
Sedangkan Deon, ia membalas tatapan Risa itu dengan senyum menawannya, Deon pun menjawab pertanyaan Risa. “Iya Risa, ini aku, Deon.” katanya.
Risa semakin melebarkan senyuman-nya, tidak henti-hentinya gadis itu menatap Deon. Dua insan itu pun akhirnya saling lempar pandangan dan juga senyuman. Hal itu membuat Dewi, ibunya Risa merasa tidak senang dengan situasi saat ini.
__ADS_1
Dewi merasa posisi Juna sebagai menantunya terancam hengkang dari hati Risa.
Dewi pun akhirnya mengambil inisiatif dengan berdehem keras secara tiba-tiba, yang secara tidak langsung membuat Risa dan Deon terpaksa memutus tatapan mata mereka.
“Bisa tolong cepet taruh makanannya enggak? Kami udah laper.” ucap Dewi.
“Oh iya. Maaf, maaf tante.” kata Deon.
“Tante? Emangnya kita seakrab itu ya?” tanya Dewi dengan nada sarkasme-nya.
“Ma, mama ngomong apa sih, enggak boleh tau kayak gitu. Deon itu temen baik Risa waktu kuliah, dia yang udah banyak bantu Risa ini itu sampai Risa bisa lulus kuliah dengan gelar cumlaude. Bukannya dulu mama sama papa pernah Risa kenalin sama Deon? Masa lupa sih ma.” kata Risa.
“Mama sama papa kamu ini kan udah tua Sa. Jadi wajar dong kalau kami enggak inget sama temen baik kamu ini. Oh iya nak Deon, maaf ya kami enggak inget sama sekali. Tapi saya senang bisa ketemu kamu lagi.” ujar Fero, ayahnya Risa.
Deon pun tersenyum, “Iya om, enggak apa-apa kok. Saya paham.” katanya. “Oh iya, ini makanan pesanan kalian, semuanya saya masak sendiri dengan sepenuh hati karena saya tadi enggak sengaja tahu kalau ini pesanan keluarganya Risa.” sambungnya lagi.
Pria itu kemudian mengambil satu persatu piring dari nampan yang dibawa oleh seorang pria pelayan disampingnya.
Lalu, ia terlihat mulai meletakkan piring-piring berisi makanan itu sembari menjelaskan secara detail tentang makanan tersebut.
“Ini piring terakhir, makanan pesanan Risa. Makanan kesukaan kamu Sa. Aku enggak nyangka kalau kamu masih suka sama Spaghetti Bolognese.” ucap Deon sembari memberikan piring berisi Spaghetti bolognese itu kepada Risa.
Risa pun segera menerima piring itu dengan senyum yang senantiasa mengembang diwajahnya.
“Terimakasih. Aku juga enggak nyangka kamu masih inget sama makanan kesukaan aku ini.” ujar Risa dengan wajah menatap Deon. “Enggak kayak seseorang.” sambung Risa, kali ini tatapannya sedikit beralih pada Juna yang sudah mulai memakan makanannya.
Juna yang merasa kalau dirinya yang Risa maksud, ia pun menoleh pada istrinya itu. “Apa?” tanya Juna dengan nada dinginnya.
Risa mengangkat bahunya, mengabaikan pertanyaan dari pria itu.
“Kalau begitu silahkan dinikmati, saya permisi.” pamit Deon pada orangtua Risa dan ayah Juna, serta Juna. “Sa, aku ke belakang ya. Jangan lupa hubungi aku, nomor aku masih yang dulu kok, enggak pernah ganti.” ucap Deon.
__ADS_1
Risa langsung menanggapinya dengan anggukan kepalanya, diiringi dengan senyuman-nya yang seolah-olah tidak akan pernah luntur dari wajahnya. “Iya, pasti nanti aku hubungi kamu kok. Tapi, kalau enggak lupa ya.” ujar Risa sembari melemparkan candaannya.
Deon pun tersenyum mendengarnya,
“Kalau gitu sampai jumpa lagi ya, Bye Sa.” ucap Deon, sebelum akhirnya pergi dari hadapan mereka.
“Enggak capek apa kamu natap dia terus? Pakai acara enggak berhenti senyum lagi.” sindir Juna.
Risa tampak mencebik mendengar apa yang Juna katakan padanya, gadis itu pun kemudian kembali mengabaikan suaminya itu dan memilih untuk memakan makanan yang telah Deon buatkan spesial untuknya.
“Kamu kayaknya deket banget sama koki itu tadi Sa.” ujar Henry, ayah mertua Risa.
“Iya, aku sama Deon emang deket banget om— eh, maksudnya ayah. Bahkan dulu, orang-orang mikir kalau kami itu pacaran, padahal enggak.” kata Risa sembari menguyah makanannya.
“Kalau makan itu jangan sambil ngomong, kesedek baru tau rasa kamu.” ucap Juna.
“Yang makan aku, kenapa kamu yang ribut sih.” keluh Risa.
“Risa, kalau suaminya lagi nasehati itu di dengerin. Jangan coba-coba ngebantah, dosa kamu nanti.” ujar Dewi, ibunya.
Risa menghela nafasnya, “Iya deh, maaf.” ucap Risa, memilih untuk mengalah.
“Minta maafnya ke Juna dong Sa, bukannya malah ke mama.” ujar Dewi.
“Iya iya.” ucap Risa, lalu kemudian ia beralih menatap ke arah Juna yang duduk disampingnya. “Juna, maaf.” katanya.
“Loh kok manggilnya masih nyebut nama sih Sa? Kalian berdua kan udah nikah, jadi harus yang romantis dong. Risa kamu harusnya panggil Juna itu sayang atau suamiku. Juna juga, panggil Risa yang romantis. Kalian kan masih muda, masa masalah kayak gituan perlu kita para orangtua yang ajarin. Iya enggak besan?” ujar Dewi sembari meminta dukungan pada ayahnya Juna.
“Sudahlah sayang, kamu jangan godain Risa sama Juna terus. Lihat tuh, mereka mau makan pun jadi canggung. Biarin dulu mereka makan dengan tenang.” kata Fero, ayahnya Risa.
“Tapi yang namanya godain pengantin baru itu emang paling seru Fer. Wajar aja kalau Dewi kayak gitu.” sahut Henry, ayahnya Juna.
__ADS_1
💥thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💥
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍