Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Afternoon


__ADS_3

Langit senja mengiringi waktu sore, Risa berdiri di balkon kamar. Siang tadi ia baru pulang dari rumah orangtuanya, setelah dirinya beradu mulut dengan Juna yang memaksanya pergi ke rumah sakit. Pikir Risa, Juna terlalu berlebihan, padahal ia hanya merasa mual sesaat.


Suara pintu terdengar dibuka, seorang pria masuk ke dalam kamar tersebut.


Risa menoleh, menatap suaminya yang terlihat melangkah mendekatinya.


“Sayang,” panggil Juna sembari memeluk istrinya itu dari belakang.


“Ada apa?” tanya Risa.


“Aku sayang kamu,” ucap Juna.


“Apaan sih. Udah langsung ngomong aja, aku tahu kamu mau ngomong sesuatu,” cakap sang istri.


Juna terkekeh, pria itu kemudian mengecup leher Risa sekilas.


“Tadi aku di telepon sama Dokter Ali,” ujar Juna.


“Kamu disuruh ke rumah sakit?” tebak Risa. Perempuan itu kemudian berbalik, menghadap ke arah suaminya.


Juna mengangguk, tangannya bergerak merapikan rambut Risa yang diterpa angin sore.



“Ada pasien yang harus di operasi nanti malam, Dokter Ali minta aku jadi asistennya untuk operasi ini,” jelas Juna, tangannya masih sibuk memainkan rambut Risa, mata pria itu bahkan tak lepas dari memandang sang istri. “Sayang, kamu cantik banget sih,” imbuh pria itu sembari menangkup istrinya, gemas.


Risa mencebik, ia menyingkirkan tangan Juna dari wajahnya. “Ya udah buruan pergi ke rumah sakit,” kata Risa.


“Eh? Kok ngusir sih? Kamu marah, ya?” tanya Juna, mengerutkan keningnya.


“Enggak, siapa yang marah?” kilah Risa, perempuan itu kemudian berjalan melewati suaminya, ia melangkah menuju tempat tidurnya, duduk di sana dengan tenang.


“Pulang jam berapa?” tanya Risa kemudian.

__ADS_1


Juna berbalik, menatap ke arahnya, lalu mendekati istrinya itu lagi.


“Kurang tahu pasti, kalau operasi selesai, aku langsung pulang kok,” jawab Juna, “kenapa? Kamu enggak mau aku tinggalin lama-lama, ya?” godanya.


“Apaan sih, pede banget jadi orang,” cibir Risa.


Juna lagi-lagi terkekeh, pria itu kemudian mengusap puncak kepala istrinya, “Kamu udah enggak mual lagi, 'kan?”


Risa menggeleng pelan, “Enggak, aku enggak pa-pa,” jawabnya.


“Syukurlah,” ucap Juna, “ya udah, aku mau mandi, kamu siapain baju buat aku ya, istriku. Suamimu mau berangkat kerja,” cakapnya sembari mengerlingkan matanya genit.


Risa memutar bola matanya jengah, perempuan itu kemudian bangkit dari duduknya, “Iya, sudah sana mandi, kamu bau,” ujar Risa.


Juna tersenyum lebar, pria itu lantas mencium sudut bibir istrinya kilas. “Aku cinta kamu,” ucapnya. Lalu, ia melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi.


“Ish, pria itu,” kesal Risa, “nyebelin,” timpalnya sembari memegang pipinya yang merona.


***


Tangannya mulai mengetuk-ngetuk meja cafe itu, gelas berisi kopi cappucino di hadapannya pun telah kosong, ia meminumnya habis.


“Apa aku membuatmu menunggu lama?” tanya sebuah suara, Runa. Dia berdiri di samping kanan Deon.


Deon menoleh, menatap perempuan itu dari atas sampai bawah. Pakaiannya sangat glamor, mencerminkan kalau perempuan itu baru saja menghadiri sebuah pesta.


“Maaf, membuatmu menunggu lama,” ucap Runa sembari duduk di hadapan Deon, matanya menangkap gelas kopi cappucino milik Deon yang sudah habis, pertanda kalau pria itu memang sudah lama menunggunya.


“Aku harus menghadiri pesta ulang tahun temanku, karena itu aku datang terlambat. Sorry,” terang Runa.



Deon mengembuskan napas beratnya, pria itu kemudian bersandar pada kursi yang ia duduki.

__ADS_1


“Jika saja bukan karena Papa bisa sering bertemu dengan Mama lagi, aku tidak akan sudi melihatmu, apalagi menerima perjodohan ini,” gumam Deon.


“Ya?” tanya Runa.


Deon tak menjawab, pria itu memilih menghela napasnya panjang.


“Langsung ke intinya aja,” ujar Deon, pria itu lalu melemparkan sebuah amplop cokelat ke hadapan Runa.


“Apa ini?” tanya Runa sembari mengambil amplop tersebut.


“Surat perjanjian kontrak pernikahan kita,” jelas Deon.


Runa mengerutkan keningnya, “Jadi ... maksud kamu, kamu mau menerima perjodohan orang tua kita?”


“Bukan menerima, lebih tepatnya terpaksa menerima perjodohan itu,” terang Deon.


“Apa untungnya untukku?”


“Kita bisa saling melampiaskan perasaan satu sama lain,” kata Deon.


“Melampiaskan perasaan? Atas dasar apa?”


“Cinta kita sama-sama bertepuk sebelah tangan,” ujar Deon.


Runa terkekeh, “Aku tidak merasa begitu,” cakapnya.


“Terserah, intinya, pria yang dulu mencintaimu sudah tidak mencintaimu lagi, apa bedanya dengan bertepuk sebelah tangan?”


Runa mencebik, ingin sekali menepis fakta itu, tetapi sebuah fakta tidak mungkin ia tepis, karena itu kenyataannya.


“Oke, aku setuju, tapi aku ingin mengajukan beberapa syarat jika kita menikah nanti,” kata Runa.


“Ya, silakan, selama itu tidak merugikan aku.”

__ADS_1


“Oke, pertama, tidak ada cinta dalam pernikahan kita, dan kedua, tidak ada anak dalam pernikahan kita, yang artinya ... ketiga, aku tidak ingin kontak fisik denganmu, atau—lebih vulgarnya, hilangkan kata hubungan intim dalam pernikahan kita,” terang Runa.


Deon tersenyum miring, “Oke, kamu pikir aku tertarik untuk menyentuhmu? Cih, sama sekali tidak,” ucap Deon. Pria itu kemudian bangkit dari kursinya, “aku pergi duluan. Karena kamu sudah membuatku menunggu lama. Jadi, kamu yang bayar kopinya,” ujar Deon, setelah itu ia melenggang pergi.


__ADS_2