Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
When the Sky Meet the Cloud


__ADS_3

“Oh iya, bagaimana kabar Juna? Kalian sudah lama enggak main ke rumah,” ujar Dewi.


Risa menoleh ke arah ibunya. Ia meletakkan sayuran yang dipegangnya kembali ke tempat semula. Lalu, mendorong trolinya menuju sisi lain.


“Tanya aja sama Papa atau Kak Aro, mereka kan sering ketemu Juna di rumah sakit,” jawab Risa sembari memasukkan sayuran ke dalam trolinya.


“Dasar. Mama kan tanya sama kamu,” protes ibunya.


Risa tersenyum menanggapinya.


“Nanti kalau Juna libur, aku ajak dia main ke rumah Mama,” ujar Risa.


“Awas kamu kalau bohongi Mama,”


“Enggak, Ma,” balas Risa.


“Eh? Ini Mbak Dewi kan?” tanya seseorang dari arah belakang Risa.


Risa pun menoleh ke arahnya. Begitu juga dengan Dewi yang langsung mengenali orang tersebut.


“Hana ya?” tanya Dewi, menebak perempuan yang tampak lebih muda darinya.


“Iya, Mbak. Ini Hana, juniornya Mbak Dewi waktu koas dulu,” jawab perempuan yang bernama Hana itu.


“Mbak Dewi sama sekali enggak berubah ya. Masih kelihatan muda dan cantik juga,” imbuhnya.


Dewi tersenyum, “Kamu juga tambah cantik loh,” balas Dewi.


“Bagaimana kabar Mbak Dewi? Sekarang kerja dimana? Aro gimana kabarnya? Dulu dia masih kecil, sekarang pasti udah besar,” tanya Hana.


“Oh! Apa ini istri Aro? Wajahnya mirip banget sama Aro. Jodoh emang gitu, suka mirip gini mukanya,” katanya lagi sembari menatap Risa dengan senyum ramahnya.


Sedangkan Risa dan Dewi, mereka saling menatap, lalu tersenyum canggung ke arah Hana.


“Kabar Mbak, baik. Mbak sekarang kerja di rumah sakit Family House. Dan Aro... iya, dia udah besar sekarang. Belum lama ini dia dapet gelar spesialisnya. Lalu, ini, dia bukan istri Aro. Tapi adiknya, dia anak kedua Mbak. Namanya Risa,” ujar Dewi, menjawab satu-persatu pertanyaan dari Hana.


“Oh... jadi ini anak perempuan, Mbak Dewi? Aku pernah denger kabar kalau Mbak Dewi punya anak perempuan. Tapi waktu itu aku lagi sibuk urus gelar spesialisku. Jadi enggak bisa dateng. Terus pas mau main ke rumah Mbak, katanya Mbak Dewi udah pindah. Jadinya kita hilang kontak selama ini. Enggak nyangka bisa ketemu Mbak Dewi di sini,” tutur Hana dengan wajah berserinya.


“Risa, ayo sapa dulu, ini Tante Hana, dia junior Mama waktu koas dulu,” suruh Dewi.


Risa pun mengangguk, lalu menyapa perempuan paruh baya itu dengan keramahannya.

__ADS_1


“Risa cantik ya. Jadi inget Mbak Dewi waktu muda dulu,” puji Hana.


Risa tersipu mendengarnya.


“Risa udah punya pacar belum?” tanya Hana.


Risa menatap ibunya dengan raut bingung. Tapi, kemudian ia menjawab pertanyaan wanita itu dengan senyum ramahnya.


“Enggak punya pacar, Tante,” jawab Risa.


“Enggak punya? Padahal cantik begini loh. Gimana kalau tante kenalin sama anak tante? Dia kayaknya seumuran sama kamu. Anaknya baik, pinter, juga udah punya usaha sendiri. Dia sekarang ada di London. Namanya— ”


“Maaf, Tante. Risa emang enggak punya pacar. Tapi, Risa udah nikah,” sela Risa.


Hana tampak terkejut. Tapi kemudian ia kembali melemparkan senyuman-nya.


“Udah nikah ternyata. Sayang sekali. Ya, wajar sih, perempuan cantik seperti kamu ini pasti banyak yang mau halalin. Iya kan, Mbak Dewi?” ujar Hana sembari meminta dukungan dari Dewi.


Dewi tersenyum, lantas mengangguk menyetujui pendapat Hana.


Risa hanya bisa tersenyum menanggapinya.


“Oh iya. Kalau Mbak Dewi sama Risa ada waktu luang. Mampir dulu ke rumah. Rumahku deket sama supermarket ini kok,” tawarnya.


Hana tampak mengangguk paham. Ia kemudian kembali tersenyum.


“Enggak pa-pa, lain kali kan bisa main juga. Bisa bawa suami Risa sekalian,” jawab Hana.


“Iya, Tante. Sekali lagi maaf,” ucapnya.


“Em, enggak masalah,” kata Hana, “Ya udah, kalau gitu, Tante duluan ya, suami Tante udah nungguin di luar, takut kelamaan,” imbuhnya.


“Mbak Dewi. Aku duluan ya. Ini kartu namaku, nanti kirim pesan ya, biar aku bisa simpen nomor Mbak Dewi juga,” tambah Hana sembari menyerahkan kartu namanya kepada Dewi.


Dewi pun menerima kartu nama itu dengan tangan terbuka.


“Duluan ya,” pamitnya. Setelah itu pergi dari hadapan Risa dan ibunya.


“Dia temen deket Mama atau gimana? Kok ramah banget,” tanya Risa, merasa heran dengan sikap Hana yang terlalu terbuka pada mereka.


“Dia orangnya emang gitu. Banyak yang suka sama sikapnya. Enggak pernah benci sama orang. Baik juga,” jawab ibunya.

__ADS_1


“Oh, pantes,”


“Ya udah, ayo cepet belanjanya. Katanya kamu harus segera pulang,” kata Dewi.


“Iya. Juna hari ini masuk siang. Aku mau bikinin bekal buat dia. Makanya aku belanja,” ujar Risa.


Dewi tersenyum. Tanpa ia bertanya pada Risa. Dewi seolah tahu kalau rumah tangga anak dan menantunya sudah membaik. Mengetahui hal tersebut, Dewi merasa bahagia.


•••


Salju lebat masih menyapa kota London. Ibu kota dari negara konstituen. Sebuah kota yang menjadi wilayah metropolitan terbesar di Britania Raya. Kota yang terletak di sepanjang Sungai Thames, sungai indah nan bersih yang berada di selatan Inggris.


Sungai yang menjadi peraduan dari seorang pria bernama Deon. Pria itu berdiri di Queen's Walks, tepi Sungai Thames yang kini sepi karena di guyur salju.


Mata elangnya menatap lurus ke depan. Menghujam bagai anak panah yang melesat menuju sasaran.


Jaket tebal dengan syal hitam membungkus tubuhnya. Musim dingin rasanya terlalu lama menyelimuti kota tempatnya kini tinggal.


Rasa dingin yang menghujam kulitnya. Seolah menjadi pendamping sempurna bagi kegundahan hatinya.


Setiap hari ia mencoba melupakan sosok itu. Tapi, selalu saja ia gagal.


Sepertinya, Deon tak akan pernah bisa menghapus rasa itu dari hatinya. Kecuali, ada sosok lain yang mampu menggantikan. Tapi, apakah ada sosok lain untuknya?


•••


Risa membuka pintu rumahnya.


“Aku pulang,” ucap Risa sembari berjalan menuju ke arah dapur.


“Sudah pulang? Mama enggak mampir ke rumah?” Juna tiba-tiba muncul dari arah ruang tengah. Ia pun mengambil belanjaan yang Risa bawa. Lalu membawanya menuju dapur.


“Enggak,” jawab Risa, ia mengikuti Juna yang telah meletakkan belanjaannya ke atas meja.


“Kamu mau masak apa? Kok banyak banget belanjaannya?” tanya Juna, matanya menatap kantong-kantong plastik berisi bahan makanan itu.


“Masak biasa aja, itu belanjaan sekalian untuk stok minggu ini,” jawab Risa.


“Ini udah jam sebelas. Kamu mandi sana. Aku mau buat bekal untuk kamu bawa kerja nanti,” ujar Risa.


“Oke,” balas Juna.

__ADS_1


“Masak yang enak ya, sayang,” timpalnya sembari mengacak gemas rambut Risa.


__ADS_2