
‘Risa, karena besok itu hari pernikahan kamu. Pokoknya kamu enggak boleh pergi kemana-mana. Inget kata orangtua jaman dulu, pamali. Jadi, kamu harus diem di rumah aja, jangan pecicilan kemana-mana apalagi keluyuran. Lagian kamu kan sudah ambil cuti libur di tempat kerja kamu, jadi enggak ada alasan kamu buat pergi keluar rumah. Jangan coba-coba kabur, inget, rumah kita ini ada cctv-nya loh.’
Risa mendesah kesal mengingat ucapan ibunya pagi tadi.
Dirinya saat ini sungguh bosan harus terus berada di rumah selama dua puluh empat jam penuh sebelum hari pernikahannya besok.
Ia bahkan dilarang pergi walaupun hanya beberapa meter dari rumah.
Sungguh menjengkelkan, membuat Risa setiap detiknya merasa geram, ingin berteriak tapi sangat mustahil.
“Nona Risa, sudah waktunya untuk makan malam, ayo nona segera keluar.” ujar seorang wanita paruh baya yang bekerja sebagai pembantu rumahtangga di rumah Risa.
“Nanti aja bi, Risa belum lapar.” jawab Risa dari dalam kamarnya.
“Tapi Nona, nanti kalau tuan besar pulang, terus nona Risa-nya belum makan, saya bisa kena marah. Saya mohon nona Risa untuk makan tepat waktu. Kalau nona Risa telat makan, nanti jatuh sakit gimana? Apalagi, besok kan nona Risa sudah mau nikah. Jadi harus jaga kesehatan tubuh baik-baik.” kata si pembantu rumahtangga, bi Asih.
“Ck, nikah, nikah, nikah mulu yang di bahas. Enggak mama, enggak papa, bi Asih pun juga sama, yang di omongin selalu tentang pernikahan terus. Sungguh membuatku semakin badmood saja. Lagian, dari satu minggu yang lalu, kata nikah itu rasanya bener-bener bikin telingaku ini iritasi.” oceh Risa sembari bergerak turun dari tempat tidurnya. Ia kemudian berjalan mendekati pintu kamarnya, lalu membukanya dengan sangat terpaksa.
“Akhirnya nona buka pintu juga. Ayo nona Risa, makan malam dulu. Tadi siang nona makannya cuma dikit loh. Bibi bener-bener takut kalau nanti nona Risa sakit sebelum hari pernikahan.” kata bi Asih.
“Mama sama papa udah pulang?” tanya Risa.
Bi Asih tampak tersenyum, tapi kepalanya menggeleng, membuat Risa merasa hambar dengan senyum bi Asih itu.
“Belum pulang?! Ck, terus kak Aro, apa belum pulang juga?” tanya Risa.
Bi Asih kembali menggelengkan kepalanya.
“Tuan muda Aro juga belum pulang, yang saya tahu, tuan muda Aro mungkin sedang sibuk dengan pasien-pasiennya.” kata bi Asih.
“Pasien apanya?! Kakak sialan itu, adiknya sedang menderita karena sebentar lagi mau nikah sama pria jahat, tapi dia malah dua hari ini enggak pulang ke rumah dan milih tidur di rumah sakit. Dan sekarang mama sama papa juga ikut-ikutan enggak pulang. Keterlaluan.” ucap Risa yang langsung berbalik ke arah kamarnya kembali.
“Eh, nona Risa mau kemana? Kok balik lagi masuk ke dalam kamar? Ayo nona kita ke ruang makan, nona Risa harus makan.” kata bi Asih, namun di abaikan oleh Risa, gadis yang sebentar lagi menjadi istri dari mantan pacarnya itu segera menutup pintu kamarnya setelah ia masuk kembali ke dalam kamar.
“Nona Risa, aduh nona, bibi mohon, nona harus makan, nanti nona bisa sakit. Nona Risa, kalau nyonya dan tuan menelpon bibi, terus nanya nona udah makan apa belum, bibi harus jawab apa? Nona, ayo keluar, nona makan malam dulu baru tidur.” panggil bi Asih.
__ADS_1
“Bilang aja sama mereka kalau Risa enggak mau makan sebelum mereka pulang. Pokoknya Enggak akan makan kalau mereka enggak pulang.” jawab Risa dari dalam kamarnya.
Mereka itu bener-bener udah enggak sayang sama aku lagi ya? Jahat, aku benci papa, mama, kak Aro! Aku benci semuanya, terutama pria bernama Juna itu! Sialan, inikah awal dari masa suramku?
•••
Aro terlihat mengelap wajahnya yang berkeringat.
Musim hujan yang telah melanda negara tropis ini, sungguh menimbulkan banyak kecelakaan lalu lintas.
Hal itu membuat unit bagian kegawatdaruratan selalu di penuhi dengan pasien luka dalam ataupun luar karena kecelakaan lalu lintas yang sering sekali terjadi selama lebih dari tiga hari ini.
Tampak mereka para tenaga medis sangat kelelahan dan juga kewalahan menangani pasien yang seolah seperti semut yang datang bergerombol ke bagian unit gawat darurat itu.
Aro melihat arloji yang melekat di tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat lima belas menit.
Pria itu kemudian menghembuskan nafasnya.
Apa hari ini juga akan menginap di rumah sakit lagi? Walaupun tenaga medis rumah sakit ini banyak, tapi dalam situasi seperti ini, kami seperti kekurangan tenaga medis saja. — batin Aro, mendesah pelan.
“Terimakasih atas perhatianmu. Tapi saya masih harus memeriksa beberapa pasien di bawah tanggungjawabku, saya juga tidak bisa abai begitu saja.” ujar Aro.
Luna tersenyum,
“Dokter Alvaro, anda memang pria yang bertanggungjawab, benar-benar membuat saya kembali bersemangat. Anda memang senior yang baik untuk dijadikan sebagai contoh. Saya kagum pada anda.” kata Luna.
Aro tersenyum,
“Hm, ya, kalau begitu kamu harus segera pergi periksa pasienmu. Aku juga akan pergi untuk memeriksa pasienku.” ujar Aro yang kemudian pergi dari hadapan Luna yang menatapnya dengan senyum hangat.
“Kalau dilihat dengan baik-baik, dokter Alvaro itu lumayan juga ya. Ah Luna, Luna sadarlah! Untuk saat ini, lupakan soal laki-laki, sekarang pasienmu sedang menunggu.” ucap Luna.
“Luna.” panggil seorang pria yang membuat Luna terpaksa menghentikan langkahnya ketika ia hendak menuju salah satu bangsal pasien.
Luna menoleh, kemudian matanya tampak terbelalak, melihat siapa yang telah memanggil namanya.
__ADS_1
“Ju— Juna? Kamu, kamu barusan panggil aku?” tanya Luna.
“Memangnya di unit gawat darurat ada perempuan lain yang bernama Luna?” Juna balik bertanya dengan wajah datarnya.
“Eh itu, tidak ada sih.” ucap Luna.
“Tapi, kenapa kau memanggilku?” tanya Luna dengan nada antuasiasnya yang tidak dapat ia sembunyikan.
“Ck, aku hanya ingin bertanya, jangan terlalu senang hanya karena aku memanggil namamu.” ujar Juna. Mungkin— kalau Risa yang mendapatkan perkataan seperti itu dari Juna, Risa pasti sudah menyumpal mulut Juna itu dengan satu kilogram cabai pedas.
Tapi Luna bukanlah Risa yang sangat bar-bar. Luna, ia hanya tersenyum menanggapi perkataan Juna yang seharusnya membuatnya kesal.
“Oh, begitu ya, jadi Juna, apa yang ingin kamu tanyakan padaku?” tanya Luna dengan nada lembutnya.
“Kamu kenal dokter bernama Alvaro? Aku sedang mencarinya, tapi unitmu ini sepertinya ramai sekali ya, sulit sekali aku bisa menemukannya. Karena aku enggak sengaja lihat kamu, makanya langsung panggil kamu dan nanya ke kamu, kenal dia apa enggak, terus kalau kenal, tau enggak dia ada dimana?” tanya Juna. Ia itu sedang bertanya tapi raut wajahnya terlihat sangat datar seperti lantai yang dingin.
“Ah dokter Alvaro ya. Barusan aku ngobrol dikit sama dia, tapi udah pergi. Tadi dokter Alvaro pergi ke arah sana, mau periksa pasien dia katanya.” jawab Luna sembari menunjuk ke arah Aro pergi.
“Oh, okey.” ucap Juna, tanpa berterimakasih, ia langsung pergi dari hadapan Luna.
“Iya, sama-sama.” ucap Luna dengan helaan nafasnya, walaupun Juna tidak mengucapkan terimakasih padanya. Tapi Luna tetap berkata seolah Juna berucap terimakasih padanya.
•••
“Dokter Alvaro, ah tidak, maksudku, calon kakak ipar.” panggil Juna.
Panggilan Juna kepada Alvaro itu membuat orang-orang disekitarnya menoleh kepadanya.
Mereka yang mengenal Juna langsung memasang telinga dengan baik, mencoba mencari tahu, siapakah calon koleksi mantan baru Juna?
Aro yang mendengar seseorang memanggil namanya di bagian awal, lalu kemudian ia dipanggil dengan sebutan ‘kakak ipar’, Aro pun langsung menoleh, mengalihkan fokusnya dari seorang pasien yang sedang ia periksa.
“Dia? Untuk apa dia datang kemari?” gumam Aro sembari mengernyit heran pada Juna yang tampak mendekat ke arahnya.
💥 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💥
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍