
Beberapa detik Risa berteriak, tak lama kemudian, lampu kamarnya tiba-tiba menyala, membuat Risa mau tak mau membuka matanya dan akhirnya berteriak.
“Berisik.” ucap Juna yang tampak berdiri di dekat sakelar lampu. Dialah orang yang telah menghidupkan lampu kamar Risa, dan dia pulalah yang seperti hantu masuk ke dalam kamar Risa melalui jendela.
“Ooo— jadi kamu yang masuk lewat jendela tadi?! Dasar mesum, asal main masuk kamar perempuan, enggak tahu malu. ” kata Risa.
“Terserah kamu mau bilang apa, yang penting sekarang ayo kamu ikut aku keluar, terus makan.” ujar Juna sembari memegang kunci pintu kamar Risa, berniat untuk membukanya.
“Eeeh! Kamu mau apa? Jangan buka pintunya!” ucap Risa, spontan membuat Juna menghentikan gerakan tangannya yang ingin membuka pintu kamar tersebut.
“Enggak boleh dibuka?” tanya Juna.
“Enggak, enggak boleh. Nanti kalau kamu buka, bi Asih bakal maksa aku buat makan. Aku enggak mau.” jawab Risa.
“Oh, jadi, itu artinya aku enggak bisa keluar dari sini dong? Ck, Risa, Risa, bilang aja kalau kamu mau berduaan sama aku di dalam kamar. Kamu itu dasar ya, enggak sabaran banget pengen tidur bareng aku.” ujar Juna, yang kemudian berjalan menjauh dari pintu.
Juna tampak melangkahkan kakinya menuju ke arah tempat tidur Risa yang berukuran queen size.
“Kamu itu kalau bicara jangan sembarang. Jadi orang juga jangan percaya diri banget. Lagian Siapa juga yang mau berduaan sama kamu. Mending kamu cepetan keluar dari kamar aku.” kata Risa.
“Keluar? Kamu aja ngelarang aku buka pintu. Udah deh sa, enggak usah malu-malu kucing, kalau mau berduaan ya tinggal bilang aja, lagian aku ini kan calon suami kamu.” ucap Juna sembari merebahkan tubuhnya di atas kasur Risa.
“Eh, eh! Itu ngapain kamu tidur di tempat tidur aku?! Ayo bangun! Siapa yang ijinin kamu tidur disana hah?! Juna!” kata Risa, ia tampak kesal dengan sikap Juna yang malah acuh tak acuh dengan perkataannya.
“Duh sa, kamu bisa enggak sih, enggak usah teriak-teriak? Sakit tahu telinga aku. Lagian tadi, aku ajak kamu keluar, kamu larang aku. Sekarang aku udah turutin kamu, kamu malah berisik, kamu itu bisa diem enggak sih?!” keluh Juna.
“Aku ini capek, kemaren dapet jadwal operasi tiga kali. Tadi sore baru libur, mau istirahat tapi ayah aku tiba-tiba nelpon, nyuruh aku nyari kakak kamu karena kakak kamu itu enggak bisa dihubungi. Setelah aku ketemu sama kakak kamu, eh kakak kamu itu sialnya malah nyuruh aku bujuk kamu buat makan. Kamu itu harusnya terimakasih, karena aku mau peduli sama kamu. Bukannya malah teriak-teriak. Lagian kamu itu kayak anak kecil aja, pakek acara marah enggak mau makan. Kamu itu udah dewasa, makan ya tinggal makan, enggak usah pakai acara mogok makan segala, bikin orang lain susah aja.” sambungnya lagi.
Setelah itu, Juna menutup matanya, mengabaikan Risa yang menatap dirinya tanpa ekspresi.
“Keluar.” ucap Risa, satu kata namun penuh penekanan.
__ADS_1
Juna yang mendapatkan aura tidak menyenangkan dari Risa pun terpaksa harus membuka matanya. Ia menatap Risa yang juga sedang menatapnya dalam diam tapi tajam.
“Sa—”
“Keluar! Aku bilang keluar dari kamar aku! Aku enggak pernah nyuruh kamu buat peduli sama aku. Sekarang kamu keluar! Cepat keluar!” kata Risa, hatinya marah karena perkataan Juna sebelumnya.
“Ck, oke, oke aku keluar. Puas kamu?! Bener-bener cuma bisa bikin orang kesal saja.” ujar Juna sembari turun dari atas tempat tidur Risa.
Pria itu kemudian berjalan mendekati pintu kamar Risa, berniat untuk keluar dari sana. Tapi kemudian, tiba-tiba Risa bergerak cepat dan menghalangi langkah Juna. “Stop.” ucap Risa.
“Apa lagi sih sa? Tadi kamu suruh aku keluar. Sekarang aku mau keluar, kamu malah halangin jalan aku. Mau kamu apa sih sa?!” tanya Juna dengan raut wajah frustasinya karena harus menahan amarah.
“Tadi kamu masuk lewat mana?!” Risa balik bertanya.
“Lewat jen— tunggu, kamu enggak bermaksud nyuruh aku keluar lewat sana kan?” tanya Juna sembari menunjuk ke arah jendela kamar Risa yang masih terbuka.
“Itu kamu tahu. Cepetan keluar, tapi lewat sana, jendela itu. Dimana kamu masuk, disitu juga kamu harus keluar.” ujar Risa.
Juna mendengus, menatap Risa kesal, ia jengkel dengan sikap Risa yang terlihat kekanak-kanakan baginya.
“Siapa yang bercanda?! Emang muka aku ini kelihatan mau bercanda sama kamu?! Aku juga serius. Kamu pokoknya keluar dari sana. Itu hukuman buat kamu yang asal masuk kamar perempuan.” kata Risa.
“Astaga, lagian kamu itu kan besok juga udah jadi istri aku. Jadi enggak usah lebay deh pakek acara hukuman segala, kayak bocah aja.” protes Juna.
“Terserah, kamu mau ngatain aku apa, terserah kamu! Pokoknya kamu keluar lewat sana.”
“Aku takut ketinggian.” ucap Juna dengan wajah datarnya.
“Persetan dengan alasan kamu yang enggak masuk akal itu. Kalau kamu takut ketinggian kenapa kamu bisa manjat terus masuk ke kamar aku hah?!” tanya Risa yang merasa kesal dengan alasan Juna itu.
“Itu tadi karena ada angin yang bawa aku sampai di depan jendela kamar kamu.” jawab Juna yang semakin tidak masuk akal.
__ADS_1
“Halah banyak alasan, pokoknya kamu keluar lewat jendela itu, enggak boleh lewat pintu.”
“Astaga! Sa, kamu itu kalau beneran mau berduaan sama aku dan enggak mau aku keluar dari kamar kamu ini, tinggal jujur aja. Aku bakal turutin kemauan kamu itu kok. Tapi diem, jangan berisik, biarin aku tidur di kasur, nanti kalau mama sama papa kamu udah pulang, baru bangunin aku. Aku sekarang beneran capek banget, serius.” kata Juna, kali ini ia tampak memohon dengan tulus.
Tapi sayangnya, di setiap kalimat permohonannya itu selalu saja terselip ungkapan kepercayaan dirinya yang terlalu tinggi, hal itu membuat Risa merasa kesal dan juga geram padanya.
“Enggak, kamu pokoknya harus ke— ”
Belum sempat Risa selesai berkata. Juna, ia tiba-tiba meraih lengan Risa lalu melemparkan gadis itu ke atas kasur.
“Aww.” keluh Risa ketika tubuhnya terlempar empuk di atas tempat tidurnya yang untungnya tidak keras.
“Ka—kamu mau ap— Tunggu! Juna, kamu jangan ikutan naik ke atas tempat tidur dong, nanti kalau ada yang lihat gimana?! Mereka bisa salah paham sama kita.” ucap Risa ketika Juna sudah berada di atas tempat tidur yang sama dengannya.
“Mulut kamu itu berisik banget, bisa enggak di mode silent dulu? Aku mau tidur, kalau kamu masih enggak mau diem, aku terpaksa bungkam mulut kamu itu pakai ini.” ujar Juna sembari menunjuk ke arah bibirnya.
“I—iya, iya aku diem, tapi, tapi kamu mending keluar deh, kamu, kamu boleh kok keluar lewat pintu.” kata Risa dengan nada gugupnya.
“Kenapa? Sekarang baru tahu rasanya takut ya? Makanya lain kali jangan main-main sama raja singa.” ujar Juna sembari mendekatkan wajahnya ke arah Risa, hingga jarak mereka hampir terhapus, hanya tinggal beberapa centimeter saja.
“Juna, wajah kamu terlalu deket sama aku.” protes Risa.
Tepat di saat wajah keduanya tampak cukup dekat. Tiba-tiba pintu kamar Risa terbuka, lalu kemudian sebuah suara nyaring dari seorang wanita paruh baya menggema ke dalam kamar Risa.
“Risa, mama terpaksa ambil kunci cadang— astaga! Apa yang sedang ingin kalian lakukan?!” pekik mama Dewi, ibunya Risa.
Perkataan dari wanita paruh baya itu pun membuat Risa dan Juna langsung saling mendorong dan menjauh satu sama lain.
Mereka berdua bahkan sampai sama-sama terjatuh dari atas tempat tidur karena terburu-buru untuk turun dari atas kasur itu.
“Juna?! Ngapain kamu ada di dalam kamar anak gadis orang?! Pakai acara kunci pintu segala lagi. Kamu itu walaupun besok udah mau nikah sama Risa, tapi harus sabar dong! Jangan gegabah. Ayo sini kamu! Biar ayah kasih kamu pelajaran.” ujar om Henry, ayah Juna yang datang ke rumah Risa bersama ayah dan ibunya Risa.
__ADS_1
💥 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💥
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍