
Netra cokelat itu terbuka perlahan. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya lampu yang ada.
Risa meringis saat ia bergerak namun rasa sakit langsung menyapa bagian perut bawahnya.
Ringisan Risa pun terdengar oleh sosok yang tengah menyandarkan kepalanya pada brankar rumah sakit tempat Risa berbaring.
“Kamu sudah sadar?” suara itu membuat Risa menoleh padanya.
“Juna, kita ada di mana?” tanya Risa, matanya menyipit, melihat ke sekelilingnya.
“Rumah sakit,” jawab Juna, nadanya lirih tanpa daya.
“Rumah sakit?” ulang Risa dengan penuh tanda, “Aku sakit apa?”
“Apa maag ku kambuh? Atau aku sedang menstruasi? Perutku rasanya sakit,” lontar Risa.
Juna menghela napas beratnya. Ia bingung harus mulai menjelaskan dari mana. Bagaimanapun awalannya, intinya kabar yang akan Juna sampaikan tentu mampu membuat Risa merasakan kesedihan yang tak berujung.
“Bukan,” lirihnya, “Bukan karena semua itu,” sambung Juna.
“Lalu?”
__ADS_1
“Kamu, kamu...,” Juna menggantungkan kalimatnya, sejujurnya ia tak sanggup menyampaikan kabar duka ini pada istrinya yang baru saja membuka mata setelah beberapa jam tak sadarkan diri.
“Aku kenapa, Juna?” gemas Risa yang tak sabar mendengarkan penjelasan dari suaminya.
“Keguguran,” pelan Juna, suaranya bagai bisikan angin di kala hujan deras. Risa tak mampu mendengarnya.
“Kamu ngomong apa? Aku enggak bisa denger,” keluh Risa.
“Kamu keguguran,” cicit Juna, sedikit lebih keras dari sebelumnya.
Tubuh Risa seketika itu membeku, jantungnya seolah berdesir mendengar kabar yang menyedihkan ini. Risa berharap semua ini adalah mimpi, tapi rasa sakit yang menyerang perutnya membuat Risa sadar kalau ini adalah sesuatu yang nyata.
“Enggak mungkin, Juna. Aku, apa aku sebelumnya hamil? Terus sekarang pas aku tahu kalau aku hamil, calon bayiku sudah hilang, begitu?”
Juna menundukkan kepalanya, tak berani menatap istrinya yang terdengar mulai mengeluarkan isak tangisnya.
“Maaf, ini semua salahku, karena kesalahanku, kamu keguguran. Karena kebodohanku, kita kehilangan calon bayi kita. Ini salahku, ini salahku. Kamu berhak marah padaku, kamu bisa membenciku sepuas hatimu, karena ini benar-benar salahku,” tutur Juna. Suaranya serak, pria itu menangis.
“Maksud kamu?” Risa masih belum mengerti kenapa suaminya itu menyalahkan dirinya sendiri.
Mata hitam Juna menatap istrinya dengan sendu. Gejolak kepedihan tercetak jelas pada wajah rupawan itu. Rasa sedih yang tidak memiliki ujung pun menjadi petaka bagi hatinya.
__ADS_1
Sebelum Juna menjawab, pria itu menghela napasnya sesaat, “Usia kandungan kamu masih terlalu muda dan berada di trimester pertama, seharusnya tidak boleh melakukan anestesi, karena itu tidak baik untuk calon bayi kita,” ungkap Juna dengan nada tanpa daya.
“Anastesi?” Risa mengulang kata itu, hatinya kemudian mencelos saat ingatannya tentang kejadian malam itu membingkai memorinya.
“Karena itu aku keguguran?” tanya Risa yang merasa sulit mempercayai duka ini.
Juna mengangguk pelan, hatinya mewanti-wanti kalau istri yang sekarang begitu ia cintai itu akan marah padanya. Juna tidak sanggup jika Risa akan membencinya atau bahkan menjauhinya. Juna tidak berharap itu akan terjadi. Tapi mengingat kesalahannya sendiri, Juna hanya bisa pasrah dengan semua yang akan Risa lakukan padanya.
“Seharusnya malam itu kamu jangan membuatku luluh,” ujar Risa sembari mengalihkan pandangannya ke sisi lain.
“Mungkin, kalau malam itu kamu menerima penolakanku, pasti saat ini bayiku masih ada,” imbuh Risa.
“Kenapa kamu harus merayuku untuk menerima anastesi itu? Dan kenapa juga aku mau di anastesi olehmu? Ini bukan salahmu,” timpalnya.
Juna berkerut kening mendengar perkataan Risa yang terakhir. Bagaimana bisa ini bukan salahnya? Padahal jelas sekali kalau saja Juna tidak melakukan anastesi pada Risa, bayi mereka pasti masih hidup.
“Ini salahku, Sayang,” papar Juna.
“Bukan, ini salah kita, kita berdua sama-sama salah,” tutur Risa, wanita itu sungguh terdengar bijak.
bersambung...
__ADS_1