
“Kaki?” Juna pun sedikit menyingkap dress yang Risa gunakan. Lagi-lagi Juna terbelalak saat perban yang tak lagi putih itu di tangkap oleh matanya.
“Kaki kamu kenapa?!” paniknya.
Risa tidak berani menjawab. Wanita itu takut Juna memarahinya karena sudah ceroboh menjatuhkan cangkir kaca hingga melukai kakinya sendiri.
“Maaf,” lirih Risa.
Juna menatapnya, lalu menghela napasnya saat tahu kalau Risa tidak mau membuatnya khawatir atau mungkin wanita itu takut kalau Juna akan marah padanya.
Dengan satu kali gerakan. Juna menggendong tubuh Risa ala bridal style, Juna melangkahkan kakinya sembari membopong Risa yang masih terkejut dengan tindakan spontanitas dari suaminya itu.
“Turunkan aku. Aku berat,” ujar Risa.
“Diam atau kamu mau aku menggendongmu, lalu membawamu ke rumah sakit? Biar kak Aro tahu kalau kamu—”
“Jangan, iya aku diam,” serobot Risa. Ia tidak mau apa yang Juna katakan itu benar-benar terjadi. Risa tidak ingin kakaknya tahu kalau adiknya masih belum sembuh dari sikap cerobohnya. Cukup Juna saja yang tahu perihal kakinya yang terluka.
Sampainya di kamar. Juna menurunkan Risa perlahan ke atas tempat tidur mereka. Kemudian, pria itu membuka nakasnya, mengambil sebuah kotak P3K dan satu kotak kecil berwarna perak.
“Aku buka perbannya ya?” ijin Juna.
Risa mengangguk, kemudian ia memalingkan wajahnya saat Juna mulai membuka perban yang sudah berwarna merah darah itu.
“Ini— bagaimana bisa selebar ini lukanya? Kamu ketusuk benda apa?” tanya Juna, ia menatap luka di pergelangan kaki istrinya itu nanar.
“Tadi... setelah mengirimkan pesan balasan untukmu, aku berniat mengambil cangkir tehku. Tapi karena tiba-tiba aku merasa aroma tehnya aneh, jadi enggak sengaja jatuhin cangkir teh itu. Aku enggak tahu kalau serpihan cangkir yang pecah itu bakalan sampai ke kaki aku. Maaf, ini salahku, aku memang ceroboh,” jelas Risa dengan kepala yang tertunduk.
Juna menghela napasnya, jujur saja ia gemas mendengar Risa terus berkata maaf padanya.
“Kenapa minta maaf terus? Kamu enggak salah, namanya juga kecelakaan, semua orang bisa mengalaminya,” tutur Juna seraya memberi usapan alkohol pada luka Risa.
“Luka kamu harus di jahit, aku ambil anastesi di ruang kerja dulu ya? Kamu tunggu sebentar,” kata Juna.
Risa mengangguk. Setelah itu Juna pun bangkit dari duduknya, lalu kemudian keluar dari kamar mereka.
***
London masih di sapa oleh salju putih. Hembusan hawa dingin menyeruak masuk melalui jendela yang sengaja di buka lebar oleh pria berjaket wol itu.
Secangkir kopi panas yang dengan cepat berubah suhu menjadi teman baiknya selama beberapa hari terakhir.
Kepulan asap dari kopi itu perlahan memudar, menghilangkan selera si pria untuk meminumnya.
__ADS_1
Deon— pria itu meletakkan kopinya ke atas meja dekat jendela kamarnya. Lalu kemudian, matanya kembali menatap lurus ke depan, menerobos setiap butiran salju yang masih turun cukup lebat.
Melamun adalah aktivitas wajib bagi Deon. Ia selalu seperti itu sejak awal dirinya sampai di London beberapa pekan lalu.
Menepis rasa yang ada pun hanya membuat dirinya semakin di rundung rindu yang pekat.
Sekali lagi Deon menghembuskan napas beratnya. Ia mengusap wajahnya kasar.
“Haruskah aku kembali saja ke Indonesia?” gumamnya dengan pikiran yang sudah berkecamuk tiada habis.
Tapi kemudian, kepalanya menggeleng kuat, “Tidak, tidak Deon, tidak boleh,” tegasnya.
Bersamaan dengan itu. Ponsel Deon terdengar mengeluarkan bunyinya. Panggilan dari sang ayah menjadi pengalihan sementara atas kegalauan yang sedang merajai diri Deon.
Tanpa menunggu lama, Deon menerima panggilan tersebut.
Dalam panggilan yang sedang berlangsung. Deon terlihat diam mendengarkan. Tapi kemudian, sebuah kata yang membuat Deon tampak terkejut, terucap ulang olehnya.
“Apa? Kembali ke Indonesia?” tanyanya.
***
Juna kembali ke dalam kamar dengan membawa sebuah kotak P3K lainnya.
Risa menggeleng, “Tidak lagi,” jawabnya.
“Kamu tenang aja, enggak akan sakit kok. Aku bakalan anastesi lokal kamu,” papar Juna.
Risa tampak meringis, merasa ngilu mendengarnya.
“Kenapa enggak anastesi total aja?” usul Risa. Karena ia tahu kalau anestesi lokal hanya memblokir rasa sakit yang ada di sekitar lukanya. Itu artinya, Risa masih bisa merasakan jarum dan benang yang akan menusuk kulitnya, walaupun itu tidak terasa sakit, tapi tetap mampu membuat Risa merasa ngilu.
Juna menatap istrinya, lalu mengusap lembut wajah Risa, menenangkan wanita yang sedang ketakutan itu.
“Jangan takut, anggap aja kamu lagi lihat aku jahit pakaian,” tutur Juna.
Sekali lagi Risa ingin sekali melempar suaminya itu dengan batu beton. Juna dengan mudahnya menganggap enteng perihal jatih-menjahit. Bahkan pria itu menyamakan pergelangan kakinya dengan kain.
Risa menatap Juna tajam, bola matanya pun sampai terlihat melotot sempurna.
“Eh? Apa aku salah?” tanya Juna.
“Enggak usah di jahit, aku enggak mau,” tolak Risa, ia pun menarik kakinya menjauh dari jangkauan tangan Juna yang sudah memegang jarum suntik.
__ADS_1
“Tapi itu harus di jahit, Risa,” nasihat Juna.
“Enggak mau, pokoknya aku enggak mau, kecuali kamu anastesi total aku,” tegas Risa.
Juna menghela napasnya panjang. Ini bukan pertama kalinya ia menghadapi orang yang takut pada jarum suntik ataupun jarum jahit medis. Sudah banyak pasiennya yang terkadang bersikap sama seperti Risa.
Pria itu pun kemudian meletakkan jarum suntiknya di atas nakas. Lalu ia merangkak naik ke atas ranjang untuk mendekati sang istri.
Dengan lembut, Juna merengkuh tubuh Risa, mengusap kepala wanita itu penuh kehangatan.
“Percaya sama aku, kamu enggak akan kesakitan atau apapun itu. Cukup tutup mata kamu, dan aku akan menjahitnya dengan cepat,” bisik Juna, terdengar lembut di telinga Risa.
***
Haruna berjalan memasuki rumahnya. Gadis itu tampak basah kuyup karena hujan menyambutnya dengan penuh rasa dingin yang menusuk.
Setelah mendapatkan jawaban yang menyakitkan dari Juna. Runa langsung melangkah mundur, dan berlari tanpa arah. Gadis itu tidak percaya dengan komitmen ketegasan Juna yang begitu kuat.
Juna yang sekarang bukan lagi Juna yang dulu. Tidak ada lagi aura permainan dalam diri Juna. Pria itu bahkan terlihat lebih dewasa dari terakhir kali Runa bertemu dengannya.
Sisa air mata Runa masih membekas di wajahnya, terbalut apik dengan air hujan yang membasahi dirinya.
“Runa.” Seru seorang wanita paruh baya dari arah lantai dua rumah tersebut.
Wanita paruh baya itu adalah Azumi— ibunya Runa.
Identitas singkat tentang Runa. Gadis itu lahir di Jepang, namun besar di Indonesia. Ayahnya seorang blasteran Jepang-Indonesia. Sedangkan ibunya, Azumi adalah warga negara asli Jepang yang menetap di Tanah Air.
“Ada apa denganmu?” tanya Azumi.
Runa diam. Wajahnya yang lembut namun tegas menempelkan kesan antagonis pada dirinya.
“Runa,” panggil ibunya lagi.
“Apa Papa sudah pulang?” Runa mengabaikan kekhawatiran ibunya. Ia malah bertanya perihal ayahnya yang masih mangkir di Jepang.
“Ah, Papa-mu. Dia besok pulang. Kamu tahu kan? Besok adalah hari baiknya,” ujar sang ibu.
Runa semakin membisu saat dirinya di ingatkan dengan hari itu.
Hari di mana Runa akan di jodohkan dengan pria pilihan orangtunya. Runa tidak tahu siapa orang itu.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA YA🌟UNTUK PENYEMANGAT KU🌟
__ADS_1
NP: Disini nanti emang ada konflik ya. Tapi konfliknya thor buat sedemikian rupa biar gak berat. Maksud enggak berat gini, ada konflik tapi solusinya cepat gitu. Soalnya, thor sendiri juga pening kalau terlalu berat. Banyak novel lain yang harus thor urus. Oh iya, jangan lupa mampir di novel thor My Secret Husband by Tianse Prln yang di novel&me (platform kuning) ya! 🌟Luv you🌟