
Detikan jarum jam telah lama melalui menit ketiga, namun keduanya masih diam tanpa suara.
Lama Risa beradu argumen dengan pikirannya, kemudian ia pun tampak tersenyum, sebuah senyum yang menyiratkan kemirisan.
“Manis sekali.” ucap Risa. “Kamu ternyata sama sekali belum berubah. Masih sama seperti yang dulu, bermulut manis dan pandai merangkai kata.” cibir Risa.
“Kamu pikir aku akan percaya dengan ucapanmu tadi. Maaf, tapi jawabanku adalah tidak.” ujar Risa.
Luka hati memang paling sulit untuk di sembuhkan, itu kata orang-orang selama ini, tapi faktanya memang seperti itu. Karena, perkara hati adalah hal yang sangat sensitif.
Meninggalkan kesan yang menyenangkan ataupun menyedihkan, semuanya akan sama-sama melekat di dalam hati dan terkenang dalam memori.
Juna menatap Risa dalam keheningan malam yang terasa dingin, rasa dingin yang lebih dingin dari malam sebelumnya.
Padahal di luar sama sekali tidak hujan, pengaturan suhu air conditioner di kamarnya juga standar. Sepertinya, rasa dingin yang mampu membuat Juna merinding itu berasal dari tatapan Risa, istrinya.
Gadis itu terlihat menatap Juna dengan raut wajah tanpa ekspresinya. Benar-benar datar bagaikan lantai marmer yang dingin.
Juna pun kemudian terdengar menghela nafasnya.
“Tidurlah, ini sudah malam.” ucap Juna sembari menjauh dari jarak terdekat Risa.
Lalu, pria itu tampak berpindah pada salah satu sisi ranjang, ia tidur disana dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
“Tidur saja disini. Enggak perlu pindah kamar. Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu bukan tipe orang yang suka ingkar janji. Sekarang karena mama menginap di rumah kita, jadi kamu harus menepati kesepakatan kita kalau kita akan tidur bersama.” kata Juna dengan posisi tubuhnya yang tampak membelakangi Risa.
Risa hanya diam, berpikir sembari menatap punggung Juna yang tidak mengenakan baju. Melihat tubuh manly itu, dalam hatinya, Risa berdecak kagum. Dari arah manapun Risa menatap, semua sisi tubuh suaminya itu benar-benar sempurna untuk dijadikan pencuci mata.
Apa yang sedang kamu pikirkan Risa. Tolong jangan gila. — batin Risa, menepis pikiran kotor yang baru saja ingin meracuni isi kepalanya.
Baiklah, aku akan tidur di sini. — ucapnya dalam hati sembari menghela nafasnya berat.
Tenanglah Risa, hanya untuk malam ini saja. Bertahanlah, kamu pasti bisa.
Gadis itu kemudian meraih guling yang ada di dekatnya, lalu menempatkannya di antara dirinya dan Juna, menjadikan guling itu sebagai pembatas zona aman keduanya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Juna ketika dirinya berbalik dan mendapati sebuah guling serta dua bantal bertumpuk menghalangi dirinya untuk memandang Risa.
Risa tersenyum miring, “Pikirkan saja sendiri.” katanya sembari menarik selimut, bersiap untuk pergi ke alam mimpi.
“Itu adalah batas zona aman kita. Aku ingatkan padamu, jangan sampai kamu membuangnya ataupun menyingkirkannya dan tidak boleh ada yang melewatinya.” ucap Risa dengan mata yang perlahan mulai tertutup.
__ADS_1
Juna menatap tumpukan guling dan penghalang itu bagaikan ia menatap Risa, tajam namun tenang.
“Bagimana kalau salah satu dari kita melewatinya?” tanya Juna.
Dengan mata yang tertutup, Risa menjawabnya. “Pihak yang dirugikan boleh menghukum pihak yang merugikan.” jawab Risa yang sudah mulai setengah sadar.
“Ah begitu ya.” ucap Juna.
“Apa itu salah satu peraturan baru kita?” tanya Juna yang tidak mungkin akan mendapatkan jawaban dari Risa. Karena gadis itu telah masuk ke alam mimpinya.
Risa sudah tidur. Jadi yang Juna dapatkan hanyalah suara hembusan nafas ketenangan darinya.
“Sa?” panggil Juna. “Apa kamu sudah tidur?” tanyanya. Tapi tidak ada jawaban apapun dari Risa.
Juna pun kemudian sedikit bangkit dari tidurnya, lalu melihat Risa yang telah tertidur dengan tenang.
Sebuah senyum terukir di wajah Juna ketika ia melihat wajah manis Risa yang begitu tenang saat sedang tertidur, tidak seperti biasanya yang selalu berusaha tampak tegas dan penuh kebencian di hadapannya.
“Imutnya.” gumam Juna merasa gemas pada istrinya itu.
•••
Dewi berjalan mengendap-endap sembari membawa tasnya. Wanita berusia empat puluh enam tahun lebih itu terlihat menuruni tangga rumah Risa dan Juna dengan langkah yang penuh hati-hati.
“Sepertinya mereka sudah tidur, baguslah.” gumam Dewi sembari membuka pintu keluar rumah yang di pasangi sistem finger lock.
Setelah pintu itu terbuka, Dewi pun keluar dari dalam rumah milik anak dan menantunya itu.
“Maaf ya Risa, mama enggak jadi menginap di rumah kamu. Lagian, sebenernya— tadi itu mama cuma mau memastikan kalau kalian tidur sekamar enggak tidur terpisah.” katanya.
“Syukurlah kalau ternyata kalian itu tidur bersama.” sambungnya sembari tersenyum bahagia.
•••
Cuitan burung saling bersahutan satu sama lain. Ketenangan malam telah berlalu ketika bumi bagian timur terus berputar mendekati matahari.
Subuh menyapa, alarm alami yang melekat dalam kebiasaan Risa membuat gadis itu terbangun dari mimpi yang terasa singkat bagi jiwanya.
Risa mulai bergerak, menggeliatkan tubuhnya sebelum benar-benar bangun dan membuka mata.
Gadis itu kemudian mendekati gulingnya dan memeluknya dengan erat, sudah menjadi kebiasaan bagi Risa atas semua tindakannya itu.
__ADS_1
Tapi, Risa merasa ada yang aneh dengan guling yang di peluknya. Mungkin ini semua terdengar klasik, tapi Risa sungguh merasakannya, guling itu terasa seperti kulit manusia dengan tulang yang keras dan kokoh.
Tadi aku bermimpi bertemu pria tampan dengan tubuh yang kekar. Apa sekarang mimpi ini menjadi kenyataan? Atau mimpi ini yang terasa nyata**? — batin Risa sembari menampilkan senyum senangnya karena bisa merasakan otot-otot kokoh itu secara gratis yang ia pikir itu adalah mimpinya.
Di sisi lain, Juna sepertinya sudah bangun sejak beberapa menit yang lalu. Terlihat pria itu sedang menatap Risa dalam diam.
Ia memandang istrinya yang sedang memeluk tubuhnya sembari mengelus-elus perut manly-nya itu.
Melihat dan merasakan tingkah Risa, hati Juna pun tertawa geli. “Ternyata alam bawah sadarmu lebih jujur ya.” ucap Juna sembari membalas pelukan Risa dan mengusap-usap punggung gadis itu dengan senyum jahilnya.
Suara dan tindakan dari Juna itu membuat Risa mengernyitkan keningnya, perasaan aneh yang sebelumnya sempat menyentuh hatinya, kini kembali menyelimuti hati kecil gadis itu.
Bukankah itu tadi suara Juna. Dan apa ini? Sentuhan di punggungku ini, ini terasa sangat nyata.Tidak! Ini memang nyata! — batin Risa.
Mata Risa seketika itu juga langsung terbuka lebar, hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah tubuh sempurna seorang pria.
Kemudian, Risa mendongakkan kepalanya, saat itulah ia bertemu pandang dengan Juna.
“Kenapa tidak di lanjutkan lagi?” tanya Juna sembari melirik ke arah tangan Risa yang berhenti mengelus perutnya. “Padahal aku suka.” ucapnya yang membuat Risa secara spontan mengepalkan tangannya dan meninju perut pria itu.
“Aw! Sa— kamu, kamu beneran mau ngebunuh suami kamu secara perlahan-lahan ya? Semalam kamu tarik rambut aku, sekarang kamu pukul perut berharga aku. Kamu mau jadi janda?” kata Juna, ia tampak memegangi perutnya yang sebenarnya sudah tidak terasa sakit.
Lagipula, tidak mungkin bagi Risa membuat perut keras itu merasakan sakit hanya karena tinjuan dari tangan kecilnya. Dan yang sebenarnya benar-benar merasakan sakit adalah Risa.
Ketika ia melepaskan tinjunya ke perut suaminya itu, Risa tampak meringis, merasakan nyeri di tangannya, dalam hatinya pun ia merutuki dirinya sendiri.
“Tadi, tadi itu— aku, aku enggak bermaksud peluk kamu. Jadi kamu jangan besar kepala.” ucap Risa yang kemudian bangkit dari tidurnya dan menjauh dari Juna.
“Anggap saja tidak terjadi apa-apa.” sambungnya.
Perkataan Risa itu membuat Juna menampilkan senyum smirknya.
“Sa.” panggil Juna.
Risa pun menoleh, lalu, tepat ketika Risa menolehkan kepalanya. Juna bagaikan seekor singa yang sedang menerkam mangsanya. Pria itu menarik dan mendorong tubuh Risa hingga gadis itu kembali dalam posisi tidurnya.
“Sesuai perkataanmu tadi malam. Siapa yang di rugikan maka boleh menghukum pihak yang merugikan.” kata Juna yang sudah berada di atas tubuh Risa.
“Jadi sekarang aku akan menghukummu.” ucapnya.
💥thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💥
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍