
Backsound untuk Bab ini bagusnya seperti judul di atas loh, ya.
Jangan lupa tinggalkan komen kalian walau hanya satu huruf sahaja. Dan juga like plus votenya ya.
👈Kok tiba-tiba, banyak maunya sih 'thor?
👉Iya, soalnya lagi dalam mode minta perhatian :'D
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
Mendengar perkataan Juna itu. Risa terlihat bingung. Bukan karena sulit menentukan pilihan. Tapi karena ia merasa tidak enak hati menyuruh Deon untuk pergi dari rumahnya.
Deon yang melihat gelagat Risa. Ia paham dengan apa yang gadis itu rasakan. Deon kemudian berdiri. Lalu berkata, “Kalau gitu, aku pulang dulu ya, Sa. Lain waktu saja kita bahas apa yang mau aku bahas sama kamu.”
“Eh, itu, maaf ya, Deon. Iya, lain waktu kita bahasnya.” balas Risa.
“Bahas apa?” tanya Juna, raut wajahnya itu menunjukkan ekspresi penasaran.
“Bye for now ya, Sa. Aku pulang dulu.” ucap Deon, membuat Risa harus mengabaikan pertanyaan Juna untuk sementara waktu.
“Iya, sampai jumpa. Maaf enggak bisa antar kamu sampai depan. Hati-hati di jalan ya, Deon.” kata Risa.
“Iya, enggak apa-apa kok. Okey, see you.” ucap Deon, setelah itu ia pergi dari rumah Risa dan Juna.
“Bahas apa?” tanya Juna, kembali mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab oleh sang istri.
Risa yang tadinya menatap kepergian Deon. Kini ia beralih menatap sang suami yang berada di sampingnya.
“Enggak tau. Deon belum kasih tau aku. Tadi aku sama Deon belum sempet ngobrol apa-apa, kamu udah dateng duluan.” jawab Risa.
Suara decihan terdengar keluar dari bibir merah Juna. Kemudian ia berkata sembari menatap Risa dengan raut kesalnya, “Belum sempet ngobrol tapi udah ketawa-ketawa. Terus kata-kata kamu yang terakhir itu maksudnya aku ini beneran ganggu kalian berdua ya?!”
“Enggak gitu Juna. Kamu jangan salah paham dulu.” sanggah Risa.
__ADS_1
“Udah lah, terserah kamu aja.” jawab Juna. Pria itu kemudian berjalan menaiki tangga, meninggalkan Risa yang langsung mengikuti langkah Juna.
“Juna, kamu masih marah ya sama aku?” tanya Risa sembari terus mengekori Juna yang masih menaiki satu persatu anak tangga.
“Enggak.” jawab Juna, singkat pada namun tidak jelas bagi Risa. Pria itu terlihat sekali kalau dirinya sedang berbohong. Juna marah, itu yang Risa pikirkan.
“Jangan bohong. Aku tau kamu lagi marah sama aku dari pagi tadi. Iya 'kan?”
Juna yang sudah sampai di ujung tangga atas, ia berhenti sejenak. Kemudian menatap istrinya.
“Kalau aku bilang 'iya', apa kamu bakalan minta maaf sama aku terus berubah jadi istri yang baik?” tanya Juna.
Pertanyaan itu membuat Risa terdiam dan membisu untuk sementara waktu.
“Kenapa enggak dijawab? Enggak bisa ya? Kalau gitu jangan suruh aku jujur. Udah lah, aku males ribut terus sama kamu. Kamu tau aku lagi sakit. Aku mau istirahat. Jangan ajak aku ribut lagi.” kata Juna, ia kemudian kembali melangkahkan kakinya. Berjalan menuju ke arah kamarnya.
Risa menghela napasnya berat. Pintu kamar Juna sudah tertutup rapat. Entah pria itu menguncinya atau tidak. Tapi tadi Risa sempat berjengkit kaget karena Juna menutup pintu itu dengan keras.
Gadis itu terlihat memainkan kuku jari tangan kanannya. Ia tampak menggigitinya beberapakali. Lalu kemudian beralih menggigit bibir bawahnya. Risa sepertinya sedang membuat pilihan atau ragu akan sesuatu.
Dengan keraguan tujuh puluh delapan persen. Risa mengetuk pintu kamar tersebut.
Suara ketukan pintu membuat Juna yang berada di dalam sana menoleh. Menatap ke arah pintu kamarnya. Pria itu saat ini terlihat sedang melepaskan kemejanya, berniat untuk berganti pakaian.
“Masuk aja kalau mau masuk.” jawab Juna dari dalam kamar.
Tanpa perlu berpikir panjang lagi. Risa membuka pintu kamar itu. Tapi kemudian ia langsung memalingkan wajahnya ketika melihat tubuh bagian atas suaminya tidak terbalut kain sama sekali, shirtless.
“Masuk. Kenapa malah berdiri terus disitu?” ujar Juna.
“I,iya.” jawab Risa. Ia kemudian menutup pintunya kembali. Lalu setelah itu berjalan mendekati suaminya.
“Kamu mau mandi?” tanya Risa, menatap wajah Juna, ia sungguh tidak berani menurunkan pandangannya sedikitpun. Karena jika ia melakukannya, maka matanya akan bertemu pandang dengan roti keras yang tersobek sempurna.
“Enggak. Nanti sore baru mandi. Aku cuma mau ganti pakaian.” jawab Juna sembari melepaskan ikat pinggangnya.
__ADS_1
“Eh, tunggu, tunggu, tunggu sebentar. Kamu jangan sembarangan buka celana di depan perempuan yang masih perawan dong. Enggak sopan itu namanya.” keluh Risa, gadis itu kembali mengalihkan pandangannya.
Juna menghembuskan napas beratnya. Kemudian melemparkan ikat pinggangnya ke sembarang tempat.
“Kamu kalau enggak mau lihat aku ganti pakaian apalagi enggak ada niat buat bantuin aku, lebih baik kamu keluar deh dari kamar aku. Aku juga enggak maksa kamu buat masuk kesini.” ujar Juna.
Dengan ragu, Risa pun kembali menoleh ke arah sang suami. “Enggak gitu, Juna. Aku minta maaf, aku cuma enggak terbiasa aja. Aku— ”
“Mulai sekarang kamu harus terbiasa. Aku ini suami kamu dan kamu itu istri aku.” sela Juna.
“Iya, tapi itu, aku, aku— ”
“Aku enggak ada maksa kamu buat masuk loh, Sa. Jadi kalau kamu enggak suka lihat aku ganti pakaian di depan kamu. Kamu bisa keluar sekarang.” kata Juna, kembali menyela perkataan Risa.
Risa pun tampak menggigit bibir bawahnya lagi. Lalu menatap mata suaminya. Mata itu terlihat sayu dan letih.
“Aku ambilin kamu baju ganti.” ucap Risa yang kemudian berbalik dan berjalan menuju lemari pakaian suaminya.
“Aku beneran enggak maksa kamu loh, Sa.” kata Juna, mengulangi kata-kata itu lagi.
Risa yang sudah membuka lemari pakaian suaminya itu, ia menghela napasnya sejenak.
“Iya, aku tahu. Kamu jangan khawatir. Ini semua atas inisiatif diri aku sendiri. Jadi kamu enggak perlu ulangi kata-kata itu lagi. Aku enggak pikun apalagi tuli.” jawab Risa sembari memilih pakaian santai yang bisa Juna kenakan.
Juna yang mendengar perkataan istrinya barusan, ia terlihat mengulum senyum senangnya. Sepertinya, rasa kesal yang tadi menyelimuti dirinya, kini telah menguap begitu saja setelah Risa dengan sukarela ingin membantunya berganti pakaian.
Sesederhana itu, tapi bagi Juna itu sangat berarti. Entah kenapa, Juna juga tidak mengerti. Ia hanya merasa senang. Hatinya melonjak kegirangan. Jika saja sang hati memiliki kaki, mungkin dia akan melakukan celebration seperti salto.
Dia... apa dia sedang membuka hatinya untukku? Dan apa ini? Ada apa dengan organ tubuhku? Apa aku benar-benar sakit? Jantungku berdetak sangat cepat. Hatiku merasakan euforia. Apa aku menyukainya? Selama ini aku hanya mengharapkan kerukunan saja. Tidak peduli dengan perasaan cinta yang ada atau tidak. Tapi hatiku ini, Apakah ini pertanda kalau aku jatuh cinta padanya? — batin Juna sembari menatap sang istri dengan senyum tertahan.
Sebenarnya apa yang aku lakukan? Kenapa aku melakukan ini? Ada apa dengan diriku? Kenapa aku memiliki inisiatif seperti ini? Tubuhku seperti bergerak sendiri tanpa aku suruh. Hatiku juga terasa aneh. Dan jantungku, dia memang sudah dari aku lahir berdetak. Tapi sekarang detakannya berbeda. Seperti ada sengatan listrik yang memicunya untuk berdetak lebih cepat. Aku pasti sedang sakit 'kan? — batin Risa.
💥thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT AND VOTE💥
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1
Terimakasih sudah mengikuti novel ini. Jangan lupa komentar dan vote kalian. Ty vm.