Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Sebuah Berita (2)


__ADS_3

“Bagaimana kondisi Risa?” tanya Aro dengan napasnya yang terlihat ngos-ngosan.


Alih-alih menjawab, Juna malah menundukkan kepalanya. Ia tidak sanggup menjawabnya.


“Jika apa yang aku pikirkan benar. Ini semua salahku. Ini salahku,” papar Juna.


Aro diam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Lagipula, saat ini yang ia tahu hanya soal adiknya yang sakit perut dan di bawa ke ruang penanganan IGD.


Saat Aro ingin bersuara. Pintu ruangan penanganan pertama yang secara khusus tersedia di IGD itu pun terbuka. Bersamaan dengan itu, Risa tampak terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit yang di dorong keluar dari ruangan tersebut.


Melihat istrinya sudah di bawa keluar oleh dokter dan beberapa perawat yang di kenal. Mereka pun —Juna dan Aro— bergegas mengikuti ranjang rumah sakit yang di dorong menuju ruang perawatan.


Setelah masuk ke dalam ruangan tersebut, dua orang perawat yang membantu tampak berpamitan keluar. Tersisa hanya dokter yang di kenal baik oleh Aro dan Juna— Dokter Luna.


“Jadi apa yang sebenarnya terjadi pada Risa?” tanya Aro, menyerobot pertanyaan yang hendak Juna lontarkan.


“Aku lihat sepertinya kaki istrimu terluka,” ujar Luna, mulai menjelaskannya pertahap.

__ADS_1


“Iya, dia semalam nggak sengaja pecahin gelas terus kena pecahannya,” papar Juna.


“Dan kamu anastesi dia?” tanya Luna.


Juna kembali mengangguk, “Iya, aku anestesi lokal dia karena aku harus jahit lukanya yang cukup lebar,” jawab Juna.


Luna tampak menghela napasnya berat. Lalu ia menatap Risa sekilas, tepatnya ke arah perut rata perempuan yang sedang terbaring tak sadarkan diri itu.


“Tidak,” ucap Juna, seperti menyadari sesuatu, “Tidak mungkin, apa jangan-jangan, Risa— ”


“Ya, istri kamu keguguran,” jelas Luna.


Juna hampir ambruk kalau saja tangannya tidak segera bertumpu pada bed rest rumah sakit.


“Enggak mungkin. Pasti kamu salah diagnosis kan?” tanya Juna pada mantan pacarnya itu— Luna.


“Aku baru aja kuret rahim dia, gimana bisa aku salah diagnosis?” jelas Luna.

__ADS_1


Juna mengusap wajahnya kasar. Kenyataan yang ia dapat sangat sulit di terima oleh kepalanya. Apalagi saat memori Juna meluncur bebas kembali ke malam itu, ia ingat jelas saat itu Risa menolak menerima anastesi darinya.


Jika saja malam itu Juna luluh dan membiarkan luka Risa tertutup dengan sendirinya tanpa dua jahitan kecil, mungkin saat ini calon anaknya masih bersemayam di perut istrinya.


“Jadi, maksudmu aku sudah membunuh anakku sendiri?” tanya Juna, masih sulit percaya dengan perbuatannya yang sebenarnya tergolong tidak sengaja.


“Juna, dengarkan aku. Ini bukan kesalahanmu. Mungkin ini bukan rejeki kalian untuk segera mendapatkan keturunan. Semua ini hanya sebuah alasan bagi Sang Pencipta untuk menguji kalian berdua. Jadi, sabar, jangan mengalahkan dirimu sendiri,” nasihat Aro.


“Apa yang Dokter Aro katakan benar, ini bukan salahmu, pikirkan kalau semua ini terjadi karena Tuhan sedang menguji kamu dan istrimu,” sahut Luna sebagai dokter yang bertanggung jawab menangani Risa.


Tapi, walaupun Juna sudah mendapatkan nasihat dari dua orang itu, telinganya seolah menuli, ia tidak mendengarkannya.


“Masih ada pasien lain yang harus aku periksa, kalau begitu, aku pamit,” pamit Luna sembari menghela napas melihat Juna yang tampak menatap kosong ke arah istrinya.


“Ya, terima kasih sebelumnya,” ucap Aro.


Luna mengangguk, lalu pergi keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


“Ini salahku, ini salahku,” ucap Juna, terus menyalahkan dirinya sendiri.


“Tenangkan dirimu. Jangan bersikap ceroboh hanya karena kesalahan yang tidak kamu sengaja. Ingat, Jun. Kamu harus tegar dan terlihat kuat. Karena saat Risa sadar nanti, kamu sebagai sosok suaminya bertugas menenangkan istrimu yang pasti akan sangat syok dengan kenyataan ini,” pesan Aro, lagi.


__ADS_2