Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Rival Risa (?)


__ADS_3

Backsound untuk Bab ini bagusnya lagu Andai Dia Tahu milik Kahitna ya. Biar ngena gitu feelnya pas bacanya.


Dan jangan lupa tinggalkan komen kalian walau hanya satu huruf sahaja. Juga like plus votenya ya.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


Risa menutup matanya, mencoba menekan rasa bergejolak di dalam hatinya.


Gadis itu kemudian bergegas memilih pakaian untuk suaminya. Setelah itu ia kembali berjalan ke arah Juna. Memberikan pakaian yang telah di pilihnya itu kepada Juna.


“Ini.” ucap Risa sembari menyodorkan pakaian tersebut.


Juna hanya diam. Tidak ada gerakan sama sekali dari tubuhnya. Pria itu seperti tidak ada niatan untuk mengambil pakaian yang Risa berikan padanya.


“Kamu bilang mau bantu aku ganti baju?” tanya Juna, akhirnya bersuara.


“Iya, ini aku udah ambilin baju buat kamu.” jawab Risa sembari menunjukkan baju dan celana boxer yang Risa ambil dari dalam lemari Juna.


“Aku bilang pakai bukan ambil. Kan beda, Sa.” protes Juna.


Risa menghela napasnya, “Kamu kan udah besar, udah bisa pakai baju sendiri.”


“Iya, tapi kan sekarang aku lagi sakit...” ucapnya, terdengar seperti rengekan anak kecil.


“Ya ampun Juna. Ck, kamu itu di kasih hati masih juga minta jantung. Nanti kalau aku kasih kamu jantung, kamu masih mau minta ginjal aku juga? Enggak, pokoknya kamu pakai baju kamu sendiri. Kamu bukan bayi yang harus aku urus seratus persen.” kata Risa.


Juna menatap Risa muram. Ekspresi ketidaksukaan tercetak jelas di raut wajahnya.


Ia pun kemudian dengan kasar mengambil pakaian yang Risa pegang.


“Keluar sana.” ucap Juna.


“Kamu usir aku?!” protes Risa.


“Kenapa? Emangnya aku salah? Aku minta kamu buat bantu aku ganti baju, kamu enggak mau. Sekarang aku suruh kamu keluar kamu juga enggak mau. Oh... atau kamu mau lihat aku enggak pakai pakaian ya? Oke, aku bisa buka ce— ”


“Stop.” ucap Risa. “Eksibisionis kamu kambuh lagi ya?! Dasar mesum. Lagian kamu itu lagi sakit tapi masih ngeselin juga. Heran aku sama kamu.”


“Bisa enggak sih kamu bikin hati aku itu tenang, damai kayak De— ”


“De apa? Deon?! Iya?!” tanya Juna. “Kamu lagi bandingin aku sama dia?! Kamu bandingin suami kamu sendiri sama pria lain?!” ucap Juna dengan nada tingginya.

__ADS_1


Mendengar bentakan Juna itu. Risa terlihat menggigit bibir bawahnya. Ia merutuki mulutnya yang asal bicara sembarangan. Beginilah jadinya, mereka kembali bertengkar.


“Maaf...” ucap Risa lirih. Tidak berani menatap mata sang suami, ia memilih menundukkan kepalanya.


Juna menghela napas beratnya. Kepalanya terasa semakin berdenyut hebat. Rasa pening pun mengusik dirinya.


“Kamu suka sama dia?!” tanya Juna kemudian.


“Su—suka sama Deon? Itu, itu enggak mungkin. Aku, aku sama dia cuma temenan aja kok.” jawab Risa dengan ketakutannya. Ia seperti seorang gadis kecil yang mendapat amukan dari sang ayah.


Juna kalau lagi marah ngeri juga ya. Itulah yang Risa pikirkan saat ini, nyalinya pun sampai menciut, ia bahkan tidak berani menatap pria itu.


“Kalau aku?” Juna kembali melontarkan pertanyaannya.


“Eh?” Risa menatap Juna dengan kening berkerut, bingung, tak paham dengan apa yang Juna maksud.


Sebelum mengulangi dan memperjelas pertanyaannya. Juna tampak berdehem. Lalu kemudian berkata, “Kamu suka sama aku apa enggak?”


Risa menatap Juna semakin bingung. Bahkan kali ini bukan ekspresi bingung saja yang tampil di wajahnya. Risa juga tampak terkejut. Baru pertama kali ini ia mendapat pertanyaan seperti itu.


Pria dihadapannya itu sungguh luar biasa percaya diri. Membuat Risa ingin sekali melemparkan semangkuk tartar ke wajahnya.


“Kamu suami aku.” jawab Risa. Menurutnya itu jawaban yang paling aman untuk dirinya.


“Aku tanya perasaan kamu, bukan status aku.” kata Juna kesal.


“Oh... Kalau gitu, bagaimana perasaan kamu ke aku? Apa kamu suka sama aku?” tanya Risa, melemparkan kembali pertanyaan skakmat yang tadi Juna berikan padanya.


Juna bungkam. Ia seperti mendapatkan bom atom yang menghancurkan rasa percaya dirinya. Pria itu bahkan terlihat mengalihkan pandangannya.


“Enggak bisa jawab kan?” ucap Risa. “Kalau kamu aja enggak bisa jawab, jangan pernah lempar pertanyaan seperti itu lagi ke aku.” kata Risa, setelah itu ia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar kamar.


“Kamu mau kemana?” tanya Juna.


“Aku mau buatin kamu bubur. Kamu belum makan dari semalam, makanya kamu jadi sakit gitu.” jawab Risa sembari membuka pintu kamar Juna.


“Bisa enggak buat makanan lain selain bubur?” pintanya.


Risa menghela napasnya, ia menatap Juna, kemudian berkata, “Kamu lagi sakit. Harus banyak makan makanan yang bergizi.” kata Risa.


“Iya aku tahu. Tapi makanan bergizi kan bukan cuma bubur aja, Sa.” keluh Juna.


“Kalau aku bilang kamu harus makan bubur, itu artinya kamu harus makan bubur. Di sini yang masak aku. Jadi kamu enggak boleh protes.” ujar Risa. Kemudian ia keluar dari kamar Juna. Menyisakan Juna yang hanya bisa mendengus kesal.

__ADS_1


•••


Dua puluh menit kemudian.


Seperti biasa, Risa tersenyum puas dengan hasil masakannya. Kali ini ia memasak dengan sepenuh hatinya. Setiap taburan bumbu ia taburkan dengan harapan agar suaminya lekas sembuh.


Selesai sudah Risa memasak bubur itu. Sekarang ia hanya tinggal membawanya kepada Juna, menyuruh suaminya itu untuk makan lalu minum obat.


Risa berjalan menaiki tangga. Tapi baru tiga anak tangga ia tapaki. Sebuah suara dari bel rumah terdengar. Seseorang datang bertamu.


“Siapa ya?” gumam Risa.


Bel rumah itu terus berbunyi. Hanya berjeda tiga detik tanpa suara, setelah itu ia terus menimbulkan bunyi khasnya, tingtong tingtong. Sepertinya si tamu adalah orang yang tidak sabaran.


“Siapa, Sa?” tanya Juna.


Pria itu keluar dari kamarnya hanya memakai boxer saja. Terlihat tangannya masih menggenggam kaos putihnya.


“Enggak tahu.” jawab Risa. “Kamu kok belum pakai baju sih, Jun? Cepet pakai baju kamu. Aku buka pintu dulu.” kata Risa, gadis itu kemudian berbalik, lalu melangkah menuju pintu rumahnya.


“Iya, tunggu sebentar.” ujar Risa menyahuti bunyi bel rumah yang tak kunjung berhenti berbunyi.


Gadis itu kemudian membuka pintu rumahnya dengan tangan kirinya, karena si kanan sedang memegang nampan berisi semangkuk bubur untuk Juna.


Pintu rumah pun akhirnya terbuka. Di sana, di depan pintu yang terbuka itu terlihat dua orang, bukan dua, tapi tiga, salah, bukan tiga tapi empat, tidak, bukan empat, tapi yang benar adalah lima. Lima? Risa mengerutkan keningnya bingung.


Lima perempuan dengan gaya dan kecantikan yang berbeda berdiri di depan rumahnya.


“Ada perlu apa ya kalian datang ke rumah saya?” tanya Risa.


“Juna! Itu Juna.” teriak salah satu perempuan dari lima perempuan lainnya.


Risa langsung menoleh ke belakang. Terlihat suaminya berdiri di dekat tangga. Parahnya, pria itu masih shirtless alias belum memakai bajunya, otot perutnya pun tersaji menggoda.


“Ya ampun sayang. Aku dengar kamu sakit...” kata seorang perempuan lainnya yang tiba-tiba menerobos masuk hingga membuat Risa terdorong pelan ke belakang.


Sa—sayang?!! — batin Risa berteriak.


💥thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT AND VOTE💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


Terimakasih sudah mengikuti novel ini. Jangan lupa komentar dan vote kalian. Ty vm.

__ADS_1


__ADS_2