Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Help Him


__ADS_3

MORNING.


Selamat datang kembali di novel Terpaksa Menikah Dengan Mantan.


Jangan lupa Vote, Komen walau hanya satu huruf sahaja. Dan jangan lupa juga untuk Like dan Favoritkan novel ini.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


Selesai mengganti pakaiannya, Juna keluar dari kamar. Ia turun ke lantai bawah, menuju dapur, di sana Risa sudah menunggunya.


“Makanlah,” ucap Risa sembari mendorong semangkuk sup krim jagung ke arah Juna yang telah duduk di hadapannya.


“Suapin,” pinta Juna.


“Makan sendiri,” balas Risa dengan cepat.


Juna menekuk wajahnya, kecewa. Ia kemudian meraih satu mangkuk sup krim jagung itu, mengambil sendoknya dan mulai memakannya.


“Pelan-pelan, itu masih sedikit panas,”  Risa mengingatkan. Tapi peringatannya itu kurang cepat tersampaikan. Juna lebih dulu memasukkan sup krim panas itu ke dalam mulutnya, membuat dirinya mengaduh, sesuatu yang panas terasa membakar lidahnya.


“Makanya pelan-pelan. Kan aku udah bilang kalau itu masih sedikit panas,” ujar Risa.


“Kamu bilangnya telat, Sa,” keluh Juna.


Risa menghela napasnya, gadis itu kemudian menarik mangkuk sup krim itu dari hadapan Juna.


“Kamu itu sudah besar, tapi makan aja enggak bener,” sindirnya.


“Maaf,” Juna mengalah.


“Buka mulut kamu,” ucap Risa sembari menyodorkan satu sendok sup krim yang sudah ia tiup pelan.


Juna menuruti ucapan istrinya itu, ia membuka mulutnya dan menerima satu sendok sup krim yang Risa suapkan padanya.


“Enak,” puji Juna.


Risa tersenyum tipis, “Tentu saja enak, kalau enggak enak, percuma saja aku kuliah tata boga selama tiga tahun lebih,” ujar Risa.


“Bener juga,” ucap Juna sembari menerima suapan selanjutnya dari Risa.


“Oh ya, Sa,”


“Apa?”


“Kamu kenapa enggak ambil jurusan kedokteran? Padahal Mama, Papa, bahkan Kak Aro terjun ke bidang itu,” tanya Juna, penasaran.


“Kalau aku ikut terjun ke bidang itu, keluarga aku enggak akan pernah ngerasain yang namanya makan bersama. Dan mungkin, ikatan keluarga aku enggak akan sebagus sekarang. Semuanya pasti akan sibuk masing-masing, karena pekerjaan dokter itu bukan hal yang mudah,” jawab Risa.


“Aku tahu, kamu punya banyak beban di pundak kamu. Karena, semua orang yang sakit bergantung padamu,” sambungnya.


Juna tersenyum, ia kembali menerima suapan Risa. Sup krim itu hampir habis, hanya tinggal tersisa beberapa suap lagi.


“Kalau gitu, kamu mau enggak jadi tempat aku bersandar? Biar beban di pundak aku ini enggak terasa berat,” kata Juna, mengeluarkan jurus romantisnya.

__ADS_1


Risa tersenyum, mesem, ia tidak dapat lagi menyembunyikan rona tomat di wajahnya. Tapi kemudian gadis itu menghela napasnya, “Sudah, jangan banyak bicara, cepat habiskan sup krimnya sendiri, aku mau ke atas, mau pindahin barang-barang aku,” kata Risa, kemudian beranjak dari duduknya.


“Jangan pergi dulu dong, Sa. Ini tinggal sedikit lagi habis, nanggung banget suapinya,” protes Juna.


“Itu sudah dingin, Juna. Kamu bisa makannya sendiri,” sahut Risa. Kemudian melangkah, hendak pergi. Tapi, suara nada dering panggilan masuk dari ponsel yang ia simpan di saku celananya, membuat Risa menghentikan gerakannya.


Tanpa ragu, Risa mengambil ponselnya, melihat siapa yang telah menelepon dirinya di waktu malam seperti ini.


Detik selanjutnya, sorot mata Risa beralih ke Juna, gadis itu menatap Juna dalam diam, membuat si pria yang di tatap merasa heran.


“Ada apa? Kenapa malah ngeliatin aku gitu? Angkat saja panggilannya,” ujar Juna.


Risa menghembuskan napasnya, “Aku memang mau angkatnya,” jawab Risa, ia kemudian menggeser tombol hijau pada ponselnya.


“Halo... Deon,” ucap Risa.


Juna yang sejak awal memperhatikan dan mendengarkan, ia sangat terkejut mendengar nama pria itu di sebut. Ternyata Deon yang menelpon, Juna sungguh menyesal telah mengijinkan Risa menerima panggilan tersebut.


“Risa... aku ada di depan pintu rumah kamu... buka pintunya,” kata Deon dari balik panggilan itu.


Risa mengernyitkan keningnya bingung, ada yang aneh dengan suara pria itu. Deon terdengar seperti seseorang yang hampir kehilangan kesadarannya.


Apa dia mabuk?! — itu yang pertama kali terbesit di pikiran Risa. Walaupun tidak mungkin, tapi Risa sangat paham betul bagaimana suara orang yang sedang mabuk. Ia tahu itu karena pengalamannya yang pernah bekerja sebagai koki di Junjan Club, sebuah club malam elite di kawasan Cilandak Barat, Jakarta Selatan.


“Risa... buka pintunya... aku— ” tiba-tiba panggilan itu terputus setelah sebuah suara ambruk terdengar.


Risa membelalak, ia khawatir, tanpa peduli lagi dengan tatapan Juna yang tampak penasaran dan tidak suka dengan perbincangannya bersama Deon, Risa pun berlari.


“Risa, kamu mau kemana?” tanya Juna, bingung dengan sang istri yang tiba-tiba pergi setelah selesai menerima panggilan dari rivalnya itu.


“Risa, kamu mau kemana?” Juna bertanya kembali. Ia terus melangkah mengikuti sang istri. Tapi kemudian, langkahnya terhenti, tepat ketika Risa membuka pintu rumahnya, lalu seorang pria yang merupakan rivalnya tampak ambruk dalam pelukan istrinya.


Selanjutnya yang terdengar adalah pekikan kepanikan Risa, “Deon?!”


“Apa yang terjadi padamu?!” tanya Risa pada teman baiknya itu.


“Risa...,” Juna mendekat, ia ingin menarik Deon dan menjauhkannya dari istrinya itu. Tapi kemudian, ia kembali dibuat berhenti bergerak.


Tubuh Deon penuh dengan darah. Bahkan kini darah itu ikut menempel di baju Risa yang masih menopang tubuh Deon.


Tangan Risa tampak gemetar. Jujur, sebenarnya alasan terbesarnya tidak terjun ke bidang kesehatan apalagi kedokteran, itu karena Risa takut melihat darah yang keluar dari tubuh manusia.


Sekarang dirinya pun terlihat pucat pasi, ia ingin sekali menangis, mendorong Deon jauh dari dirinya karena takut.


Juna yang seolah paham dengan gelagat Risa, ia langsung mengambil Deon yang masih setengah sadar itu dari Risa.


Sial, dia ini merepotkan saja. — batin Juna sembari menopang tubuh Deon.


“Risa, kamu baik-baik saja? Tidak apa-apa, tarik napas dan hembuskan perlahan, abaikan aroma darahnya dan alihkan pandanganmu,” ucap Juna, memberikan aba-aba pada istrinya yang ternyata menderita Hemopobia.


Risa segera melakukan apa yang Juna katakan padanya. Ia memalingkan wajahnya dari Deon, menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Lalu, rasa tenang dan mualnya pun berangsur menghilang.


“Sudah merasa lebih baik?” tanya Juna.


Tanpa menoleh, Risa menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Juna, bisakah kamu menolong Deon? Aku tidak bisa menolongnya kalau dia masih dipenuhi darah seperti itu,” ujar Risa.


Juna menghela napas, ia sendiri sebagai seseorang yang memiliki jiwa dokter, dirinya juga tidak bisa abai dengan kondisi Deon saat ini.


“Aku mengerti. Kalau begitu, tolong cepat kamu ambilkan kotak P3K. Setelah itu hubungi 119,” ucap Juna.


“Iya,” jawab Risa, ia kemudian melangkah cepat untuk mengambil kotak P3K, tak lupa dirinya pun juga menghubungi ambulance secepatnya.


Setelah mengambil apa yang Juna perintahkan padanya. Risa pun kembali ke tempat Juna dan Deon berada. Ia memberikan kotak P3K itu, lalu kemudian berbalik badan, menghindari kontak mata dengan darah segar yang masih sedikit mengalir dari lengan kanan Deon.


“Dia sepertinya mengalami kecelakaan,” ucap Juna, menjelaskan.


“Kamu sudah menghubungi ambulans?” tanyanya.


“Iya, sudah,” jawabnya, “Apa lukanya parah?” tanya Risa tanpa menoleh.


“Aku sudah menyuntikkan obat bius padanya, dia tidak akan sadarkan diri untuk beberapa saat. Lukanya cukup parah, robekannya lumayan besar,” kata Juna, menjelaskan.


“Bisakah kamu tidak menjelaskannya seperti itu? Aku ingin muntah rasanya,” protes Risa. Ia merasa ngilu dengan penjelasan yang Juna katakan padanya.


Juna mendongak, menatap istrinya yang tampak menggigit jari-jari tangannya.


“Maaf,” ucap Juna merasa bersalah.


Tak lama kemudian, ambulans yang Risa hubungi terdengar memasuki halaman rumah mereka.


Risa pun segera keluar dari rumahnya. Setelah itu ia masuk kembali dengan membawa serta beberapa orang petugas medis darurat.


“Apa anda seorang dokter?” tanya salah satu petugas medis darurat itu ketika melihat tangan Deon yang sudah terbalut dengan kain perban berlapis kasa.


Juna mengangguk, “Bawa dia ke rumah sakit Universitas Medicalis, aku bekerja di sana. Jarak rumah sakit itu juga cukup dekat dari sini,” kata Juna.


“Baik, kami akan membawanya ke sana. Apa anda ingin ikut bersama kami?” tanya petugas medis darurat itu.


Juna pun langsung menoleh ke arah Risa, “Haruskah aku ikut?” tanyanya.


“Ikutlah, Deon butuh seorang dokter di sisinya,” ucap Risa.


Juna mengehela napasnya, ia mengalah. Juna pun akhirnya ikut masuk ke dalam ambulans itu.


Sebelum pintu ambulans tertutup, Juna dapat mendengar Risa berkata, “Aku akan menyusul,”


Risa, kamu terlihat khawatir padanya. Aku sangat tidak suka. — batin Juna.


Kemudian pintu ambulans itu pun tertutup rapat.


💥thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT AND VOTE💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


Terimakasih sudah mengikuti dan membaca novel ini. Jangan lupa untuk beri komentar, like dan vote kalian. Dan juga rekomendasikan cerita ini ke teman kalian yaaa. Ty vm.


NP¹ : Maaf kemarin tidak up, karena ada beberapa alasan di real life.


NP² : The Destiny 2 up-nya kemungkinan siang/sore ya.

__ADS_1


NP³ : Selipin Deon ya, bosen kali Juna sama Risa mulu isinya. Yakan?


__ADS_2