Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Yang Disembunyikan


__ADS_3

Juna berjalan lesu memasuki rumahnya. Ia menarik dasinya kasar, melepasnya tanpa aturan.


“Udah pulang?” tanya seorang wanita. Risa berjalan menuruni tangga untuk menyambut suaminya yang baru saja pulang.


Juna menatap istrinya itu dengan wajah muramnya. Ia lelah, bukan hanya tubuhnya yang lelah, tapi hatinya juga.


Pria itu kemudian berjalan mendekati Risa yang baru saja menapakkan kakinya di lantai satu rumah mereka.


Juna merengkuh tubuh itu. Membenamkan wajahnya pada ceruk leher Risa. Menghirup segala aroma candu yang mampu menenangkan pikirannya.


“Juna, ada apa?” tanya sang istri. Ia bergerak, mendorong dada bidang Juna. Tapi pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya.


“Diamlah. Biarkan tetap seperti ini. Aku mohon. Aku butuh aromamu. Aku juga butuh pelukanmu,” pinta Juna.


Risa menurutinya. Wanita itu pun membalas pelukan suaminya. Mengusap-usap punggung Juna lembut, berharap beban yang sedang suaminya bawa terhempas ke udara.


“Cerita padaku kalau kamu ada masalah di rumah sakit,” ucap Risa lembut.


Juna menggelengkan kepalanya, membuat Risa risih dengan rambut halus dari wajah Juna yang tanpa sengaja mengusik leher putihnya.


“Tidak ada masalah. Aku—” Juna menggantungkan kalimatnya bukan karena sengaja. Itu karena ia sedang berpikir. Haruskah ia jujur pada Risa, atau menyembunyikannya dari Risa?


Pikiran Juna beradu, berdebat argumen. Hingga si pemenang membuat Juna memilih kalau lebih baik ia sembunyikan perihal Runa dari Risa untuk sementara waktu ini.


“Aku— apa, Juna?” tanya Risa.


“Eh?” Juna tersadar dari lamunan singkatnya. Pria itu kemudian melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah istrinya itu penuh kasih sayang.


“Aku hanya terlalu merindukan istriku ini,” katanya sembari mengecup kening Risa lama.


Setelah itu, ia menatap istrinya lagi. Menelisik setiap inci wajah Risa, memasukkan rupa itu ke dalam isi kepalanya, agar hanya Risa yang ia pikirkan.


“Maaf,” gumam Juna, terdengar samar oleh Risa.


“Ya? Kamu bilang apa?” tanya Risa bingung.


“Tidak, tidak ada,” jawab Juna, lalu mengecup kening bak porselen itu sekali lagi.

__ADS_1


“Aku naik ke atas dulu, mau mandi,” pamitnya, sedikit menjauh dari tubuh istrinya.


Risa mengangguk, “Aku akan siapkan air hangatnya,” tawar Risa.


“Tidak perlu. Kamu pasti lelah seharian mengurus rumah. Aku bisa menyiapkannya sendiri. Lagipula ini bukan jaman kuno yang harus masak air dulu kalau ingin mandi air hangat,” tolak Juna halus.


“Baik, terimakasih. Kalau gitu, aku siapain bajunya,” kata Risa.


Juna mengangguk, menyetujui tawaran istrinya.


“Ya udah, aku naik dulu,” ucapnya seraya mengusap lembut puncak kepala Risa.


Juna pun berjalan melewati Risa, ia menaiki anak tangga satu persatu. Namun, tiba-tiba kakinya berhenti melangkah. Lalu menatap Risa yang berada di bawah anak tangga itu.


“Ada apa?” tanya Risa bingung saat sang suami menatapnya penuh selidik.


“Tumben kamu pakai baju panjang. Aku enggak pernah liat kamu pakai baju itu. Baju baru ya?” tanya Juna, meneliti setiap sentimeter dress tidur setengah lengan milik Risa.


Risa tersenyum kikuk. Padahal baru saja ia ingin bersyukur karena Juna tidak menyadari pakaiannya yang memang baru ia beli beberapa jam lalu. Dress tidur panjang itu sengaja Risa pakai untuk menutupi perban yang masih membalut pergelangan kakinya.


“Ini... ini pakaian lama aku. Tadi enggak sengaja lihatnya. Jadi aku pakai,” alibi Risa.


“Ya udah, aku ke kamar dulu,” ucapnya. Lalu kemudian ia berbalik dan kembali melangkah. Namun, baru saja kakinya menapaki dua anak tangga, Juna kembali berbalik, mengejutkan Risa yang ingin mengintip lukanya.


“Ada apa lagi?” tanya Risa, ekspresinya seperti seseorang yang baru saja lempar batu sembunyi tangan, takut ketahuan.


“Baju kamu itu— emm, sedikit...,” Juna memanjangkan kalimatnya, seperti ragu mengatakan itu.


“Sedikit apa?” Risa bingung.


“Tipis, menerawang, aku bisa melihat lekukan tubuhmu dari sini dengan jelas. Kamu— tidak sedang bermaksud menggodaku 'kan?” terka Juna.


Risa tampak terkejut. Ia tidak menyadari hal itu. Risa pun kemudian memeriksa kain bajunya. Benar saja, baju itu cukup tipis, walau tidak setipis kain yang disebut lingerie.


“Ah ini, kamu jangan salah paham. Aku tidak bermaksud menggodamu. Ini— aku hanya ingin mengenakan pakaian panjang saja, karena aku merasa cukup dingin,” ujar Risa, ia tidak sepenuhnya berbohong. Karena tadi sore ia kehujanan, tubuhnya pun masih merasa kedinginan.


“Tadi sore kamu ijin sama aku mau keluar rumah 'kan?” tanya Juna.

__ADS_1


Risa mengangguk, ia memang akan ijin pada suaminya sebelum keluar dari rumah.


“Terus kamu kehujanan?” tanya Juna kemudian.


Risa ingin berbohong. Tapi hidungnya yang tiba-tiba terasa gatal membuatnya bersin dan batuk beberapa kali.


Mengetahui istrinya yang seperti itu. Juna langsung berjalan menuruni anak tangga, lalu menghampiri Risa yang masih sibuk mengelap ingusnya.


Tanpa berkata-kata lagi. Juna segera menempelkan punggung tangannya ke dahi Risa. Hangat, kening istrinya itu terasa cukup hangat.


“Kenapa aku tidak sadar waktu aku cium kamu tadi? Badan kamu panas,” ucap Juna, menyesal. Wajahnya pun mulai menampilkan raut khawatir.


“Aku baik-baik saja,” tutur Risa.


“Baik-baik saja bagaimana? Kamu itu demam,” sanggah Juna.


Pria itu pun kemudian menarik lengan Risa, mengajak istrinya menaiki tangga. Namun, pergelangan kaki Risa yang belum lama terluka, membuat rasa perih masih merayapinya. Apalagi saat Juna tanpa sadar memaksa Risa untuk berjalan cepat. Wanita itu meringis, mendesis pelan. Juna menoleh, kembali menatapnya heran.


“Ada apa? Apa aku menarikmu terlalu keras?” tanya Juna, takut kalau ia malah tanpa sadar melukai istrinya yang sedang kurang enak badan.


Risa menggeleng. Ia mencoba menepis rasa sakit yang menjalar di sekitar pergelangan kaki kanannya. Bagaimanapun juga, tadi Risa tidak mengobatinya dengan benar. Kulitnya yang terkoyak lebar karena serpihan cangkir kaca itu pun masih menganga.


“Lalu?” tanya Juna. Wajahnya semakin panik melihat ringisan yang keluar dari bibir mungil istrinya itu.


Risa tidak tahan lagi. Ia merasakan ada aliran yang merembes keluar dari perban putihnya. Cairan merah kental itu mengalir perlahan turun ke kaki Risa, membuat si empunya menggigit bibirnya, nyeri dan perih, itulah yang Risa rasakan.


“Sayang?” Juna masih meminta penjelasan.


“Kaki... kaki kananku,” lirih Risa.


Detik itu juga, Juna langsung menatap kaki kanan istrinya. Selanjutnya, matanya terbelalak, melihat ada warna merah yang terlihat mengalir turun ke punggung kaki Risa.


“Kamu keguguran?” tebak Juna, ia belum tahu dari mana darah itu berasal, karenanya, Juna hanya asal tebak saja.


Di saat-saat seperti ini, Risa ingin sekali melempar kepala Juna dengan satu ton beras. Pria itu terlalu bodoh untuk menyimpulkan dari mana darah itu berasal. Kesal rasanya.


“Aku bilang kakiku yang sakit, bukan perutku!” sembur Risa, melampiaskan rasa perihnya pada Juna.

__ADS_1


“Kaki?” Juna pun sedikit menyingkap dress yang Risa gunakan. Lagi-lagi Juna terbelalak saat perban yang tak lagi putih itu di tangkap oleh matanya.


“Kaki kamu kenapa?!” paniknya.


__ADS_2