Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
The Wedding Day (godaan Juna)


__ADS_3

Setelah acara pernikahan selesai, termasuk sesi berfoto keluarga.


Risa pun pamit kepada ibunya untuk pergi ke kamar hotel lebih dulu, gadis itu sudah sejak tadi mengeluh ingin istirahat. Tapi sang ibu yang biasanya mendengarkan keluhannya, hari ini tidak lagi, Risa seperti seorang anak yang dididik ulang oleh ibunya.


Entah kenapa, ibunya menjadi lebih tegas, dan sulit sekali di mintai pertolongan.


“Kamu boleh ke kamar, tapi bareng sama Juna.” ujar sang ibu, mama Dewi.


Risa menghela nafasnya kesal, “Ma, Risa udah besar, bukan lagi anak kecil yang pergi ke kamar perlu di temani. Lagian kan Juna masih harus nyapa tamu-tamu. Lihat tuh, Juna juga masih asyik ngobrol sama papa juga ayah mertua. Risa enggak mau jadi pengganggu.” kata Risa.


Mama Dewi tersenyum, senyum yang memberikan firasat tidak enak bagi Risa.


Habis sudah harapanku. Kalau mama udah senyum seperti itu, dalam hatinya pasti bilang ‘jangan ngebantah’. Ck, bisa apa aku selain nurut. Semua ini gara-gara Juna, sekarang mama jadi enggak peduli sama keluhan aku dan malah bela pria sialan itu terus. — ujar Risa dalam hatinya.


“Acara pernikahannya udah selesai, yang ada disini tinggal tamu-tamu dari keluarga dekat ataupun teman dekat. Kamu enggak usah khawatir, biar mama panggilin Juna. Kamu tunggu disini dulu, jangan kemana-mana. Awas kamu enggak dengerin mama.” kata sang ibu.


“Iya ma.” jawab Risa, sungguh terpaksa.


Setelah itu, mama Dewi langsung pergi dari hadapan Risa dan pergi menghampiri Juna yang tampak berdiri di antara ayah Risa dan ayah Juna, ketiga pria itu terlihat mengobrol dengan riang gembira.


Maaf ya ma, Risa kali ini enggak dengerin omongan mama. Beneran minta maaf ya ma. Risa pergi ke kamar hotel duluan, bye mama. — batin Risa sembari tersenyum menyeringai, gadis itu kemudian pergi dengan berjalan perlahan-lahan, ia keluar dari dalam ruangan resepsi pernikahan itu dengan aman tanpa diketahui oleh ibunya ataupun yang lain.


“Hah, akhirnya bebas juga.” ucap Risa, ia kemudian melangkah menuju ke arah kamar hotel yang sudah di siapkan untuknya dan juga Juna.


“Ck, ini sepatu bikin orang cepet capek berjalan. Nyusahin aja.” keluh Risa yang langsung melepas sepatu hak tingginya.

__ADS_1


“Nah, begini kan lebih baik.” ucap Risa sembari tersenyum puas.


Setelah melepas sepatunya, Risa pun kemudian mulai melangkah kembali. Tapi, saat kaki kanannya itu baru ingin melangkah, tiba-tiba tubuhnya terangkat, membuat Risa berteriak karena terkejut dengan apa yang terjadi padanya.


“Hei! Ini apa-apaan?! Siapapun tolong saya, ini penculikan ya?! Mama!” pekik Risa.


“Sssttt... jangan berisik deh sa, kebiasaan. Nanti orang-orang yang tinggal di hotel ini denger suara kamu terus merasa terganggu gimana? Kamu mau di usir dari hotel ini? Lagian aku gendong kamu juga karena enggak tega lihat kamu kecapean, jadi jangan salah paham.” kata Juna.


“Juna?! Kamu kok ada disini?! Bukannya tadi masih ada di dalam ruang resepsi?! Tapi nanti dulu kamu jawabnya. Sekarang yang lebih penting, cepet kamu turunin aku. Apaan sih pakai acara gendong aku ala-ala bridal style. Kamu pikir ini bisa luluhin hati aku? Enggak akan! Kamu jangan bersikap sok romantis deh, aku enggak butuh sikap romantis dari kamu! Sekarang turunin aku! Cepet!” ujar Risa yang terus mengoceh tanpa henti, membuat telinga Juna terasa panas dan jengah.


Karena itu, Juna tiba-tiba langsung melepaskan Risa, ia menurunkan Risa dengan menjatuhkan gadis itu begitu saja.


“Aw! Juna! Keparat sialan! Sakit tau! Kamu pikir aku ini karung beras?! Yang seenaknya aja kamu angkat terus kamu lemparin ke lantai?! Ayo cepat, bantu aku berdiri!” protes Risa, dengan tangan kiri yang memegangi pinggangnya dan tangan kanan yang ter-ulur ke arah Juna, meminta pria itu untuk membantunya berdiri.


Melihat Juna yang pergi setelah melakukan hal gila padanya, Risa merasa benar-benar kalah telak dengan laki-laki itu.


Lalu kemudian, suara tawa yang menyindir terdengar dari diri Risa. Gadis itu sedang menertawakan dirinya sendiri. Risa tertawa sembari melihat tangan kanannya yang masih ter-ulur kosong tanpa ada yang meraihnya.


“Sial! Aish!” umpat Risa sembari mengepalkan tangannya yang tadi ia ulurkan ke arah Juna. Gadis itu tampak seperti seseorang yang sedang memukul, ya, dia memukul udara dengan imajinasi kalau yang ia pukul itu adalah Juna bukan sekedar udara kosong.


•••


Juna mengambil kartu kamar hotelnya. Lalu melakukan scaner pada pintu kamar hotel itu.


Setelah pintu kamar hotel terbuka, Juna tidak langsung masuk, ia menoleh ke arah Risa, lalu melihat gadis itu yang tampak sedang memukuli udara. Sikap Risa itu membuat Juna tertawa karenanya.

__ADS_1


“Dasar gadis aneh.” gumam Juna yang kemudian masuk ke dalam kamar hotel tanpa menutup pintunya. Karena kartu yang pihak hotel berikan hanya satu, itu artinya Risa tidak memilikinya. Juna masih berbaik hati tidak menutup pintu itu rapat, agar Risa bisa masuk juga.


Setelah masuk ke dalam kamar hotel tersebut, Juna langsung melepas atribut pernikahan. Mulai dari dasi kupu-kupu, bunga kecil di saku tuxedonya, dan juga melepaskan tuxedo hitam yang ia kenakan.


Lalu kemudian, ia mulai membuka satu-persatu kancing kemeja putihnya. Tapi pada saat ingin membuka kancing terakhir, sebuah suara yang akhir-akhir ini membuat telinganya berdenging pun terdengar menggema masuk ke dalam kamar hotelnya.


“Juna! Sialan kamu ya! Jadi suami jahatnya luar biasa! Udah jatuhin istrinya ke lantai, tapi enggak mau nolongin, malah asal pergi aja. Awas kamu aku laporin ke ayah mer—tua.” ucap Risa, namun pada saat kalimat terakhirnya, suara gadis itu perlahan terdengar melirih pelan.


Entah kenapa, tiba-tiba saja Risa langsung diam.


Risa diam karena tanpa sengaja melihat kemeja Juna yang hampir terbuka dan menampilkan sebuah pemandangan yang sangat di gemari kaum hawa.


Perut Juna yang berbentuk enam kotak dengan cetakan padat dan cukup jelas, seolah mampu membius mulut Risa untuk diam dan mengangumi keindahan itu.


Dalam imajinasi Risa itu seperti sebuah patung perut dewa Yunani yang di pahat dengan sempurna.


Juna yang melihat Risa tampak diam namun senyum-senyum sendiri, ia pun merasa heran dan juga aneh dengan istrinya itu. Lalu kemudian, akhirnya Juna pun memilih mengikuti arah pandang Risa agar ia tahu, sebenarnya apa yang membuat Risa tampak terkagum-kagum seperti itu.


Tepat ketika Juna jatuh pada arah pandang Risa yang sebenarnya adalah perut enam kotaknya. Juna pun tersenyum lebar dengan tawa mencibirnya.


“Kenapa? Suka ya? Kamu boleh pegang kok kalau mau. Raba juga boleh, belai boleh juga tuh, elus? Boleh banget.” ucap Juna sembari melemparkan senyum jahilnya yang siap mengejek habis Risa.


💥 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💥


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2