Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan
Sebuah Rasa


__ADS_3

NP : UPDATE SETIAP HARI KAMIS!


Mata Deon terbelalak, ia terkejut dengan kata 'menikah'. Apa aku sedang di jodohkan? Batin Deon menebak.


“Tunggu dulu, maksudnya— aku akan dinikahkan dengan wanita bernama Runa itu?” tanya Deon.


“Apa kamu juga lupa dengan Runa?” pria paruh baya itu balik bertanya.


“Aku...,”


“Bagaimana mungkin Deon melupakannya. Gadis cantik seperti Runa tidak mungkin mudah terlepas dari ingatan anak ini. Apalagi dulu kita tahu kalau Deon sangat mengagumi Runa. Dia bahkan sampai merengek karena tidak mau di tinggal pulang oleh Runa. Benar 'kan, Deon?” urai sang ayah.


Deon terbengong, ia tidak tahu kalau ayahnya pandai mengarang cerita. Deon sama sekali tidak mengingat perempuan bernama Runa. Di benak Deon, ketika membahas tentang wanita yang di kaguminya, maka hanya ada bayangan Risa seorang, tidak ada wanita lain di kepalanya selain Risa.


“Sepertinya Deon terlalu lelah karena baru pulang dari London. Kalau begitu istirahatlah, mungkin itu bisa mengurangi kebingunganmu. Kamu terlihat sangat bingung dengan situasi ini,” ujar pria paruh baya itu.


Deon diam, tapi kemudian ia menundukkan kepalanya hormat, “Kalau begitu saya permisi,” pamitnya yang langsung melangkah menuju kamarnya.


***


“Ayo makan sedikit aja, Sayang,” ujar Juna yang masih membujuk Risa agar mau memakan buburnya.


“Aku enggak suka bubur, Juna. Apalagi bubur rumah sakit, rasanya hambar,” tolak Risa dengan sikap memohonnya.


“Walaupun hambar tapi banyak gizinya, Sayang. Jadi kamu harus makan ini,” balas Juna.


“Aku mau makan bubur. Tapi bukan bubur ini,” tawar Risa.


Juna menghela napasnya, kemudian meletakkan bubur itu ke atas nakas, “Terus kamu mau makan bubur yang gimana?” tanya Juna.


Risa hendak menjawab, tapi suara pintu yang terbuka dan sapaan dari seseorang, mengurungkan niat Risa untuk berkata.


“Selamat siang,” sapa seorang pria dengan jas dokter yang masih melekat di tubuh jangkungnya.

__ADS_1


Pria itu kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Dokter Ali,” ucap Juna.


Pria yang di sebut namanya itu pun tersenyum tipis, lalu menyerahkan kantung plastik berwarna putih transparan ke arah Juna.


“Untuk Risa,” katanya.


“Apa ini?” tanya Juna.


“Bubur,” jawab Dokter Ali sembari menatap Risa dengan senyum hangatnya.


“Aku tahu ini bubur. Tapi untuk apa?”


“Untuk di makan lah, memangnya untuk apa lagi,” sahut Risa, matanya menatap kantung plastik itu penuh minat.


Dokter Ali terkekeh mendengarnya. Ia pun kemudian berdehem, lalu berkata, “Tadi enggak sengaja aku kepikiran kalau Risa pasti enggak suka sama bubur rumah sakit karena rasanya yang hambar. Makanya aku beliin dia bubur ini di kantin rumah sakit. Rasanya mungkin enggak seenak masakan kamu, Ris. Tapi enggak terlalu buruk juga kok,”


“Wah, Dokter Ali memang yang paling pengertian,” tutur Risa sembari merebut kantung plastik yang Juna pegang.


“Juna, bisa minta tolong taruh di piring atau mangkuk 'gak?” pinta Risa.


“Minta tolong aja sama Dokter Ali yang paling pengertian,” balas Juna.


Risa terkikik geli melihat sikap cemburu dari suaminya itu.


“Aw. Sayang, perut aku,” pekik Risa tiba-tiba.


Juna langsung menatapnya, wajahnya berubah menjadi kekhawatiran tingkat tinggi.


“Perut kamu kenapa?” paniknya.


Detik selanjutnya, tawa Risa menggema di penjuru ruang perawatan itu.

__ADS_1


“Kamu lagi ngerjain aku ya?” sungut Juna, kesal.


Dokter Ali menahan tawanya melihat tingkah dua orang itu. Juna yang cemburu terhadap istrinya, baru pertama kali ini ia melihatnya.


“Aku rasa, aku harus pergi sekarang. Risa, cepat sembuh ya. Dan sabar, semoga Tuhan cepat memberikan penggantinya,” cakap Dokter Ali.


Risa mengangguk, senyum tipis pun terukir, “Terima kasih, Kak Ali.” Ucapnya.


Dokter Ali ikut menganggukkan kepalanya seraya membalas senyuman Risa, lalu kemudian ia pergi dari ruang perawatan itu.


“Lain kali jangan melempar senyum ke pria lain, selain keluarga kandung kamu,” sewot Juna.


Risa menatap suaminya, “Senyum itu ibadah, Sayang,” ujar Risa.


“Tapi aku enggak suka lihat kamu senyum kayak gitu ke pria lain,” sergah Juna.


Risa menghela napasnya, kemudian fokus membuka kantung plastik berisi semangkuk bubur itu dengan hati-hati.


“Kamu cemburu?” tanya Risa.


“Perlu di tanya lagi?” Juna kesal.


Risa menahan senyumnya, wanita itu tiba-tiba mengusap wajah suaminya lembut. Namun, sesaat kemudian ia mencubit pipi Juna gemas.


Juna meringis, merasakan pipinya sedikit berdenyut, “Sakit, Sayang,” keluh Juna, ingin marah pun ia tak mampu.


“Kamu lucu sih,” jawab Risa dengan senyum gemasnya.


“Iya, aku tahu, tapi enggak harus tarik pipi aku segala 'kan?”


“Eh, enggak boleh protes ya,” tegas Risa.


Juna mendengus, ia menahan kekesalannya. Pria itu kemudian membantu istrinya memindahkan bubur yang Dokter Ali bawa ke mangkuk melamin yang tersedia.

__ADS_1


NOTE :


Jangan lupa mampir di novel author yang ada di platform kuning (novel&me) “My Secret Husband” by Tianse Prln.


__ADS_2