
Pagi harinya, Risa terlihat menggeliatkan tubuhnya, merasa tidak nyaman dengan tidurnya.
Gadis itu pun perlahan tampak mengerjapkan matanya. Menyesuaikan penglihatannya dengan lampu kamar yang sepertinya tidak di matikan selama ia tidur.
Jam berapa ini? Apa sudah subuh? Rasanya aku tidur lama sekali. Badanku bukannya merasa segar tapi semakin lelah. Ah, ya ampun, tenggorokanku juga terasa sakit. Haus.
Aku sangat haus.
Risa terlihat mengusap tenggorokannya sembari menguap dengan tangan yang terpasang siaga menutup mulutnya.
Setelah itu, Risa tampak ingin bangun, tapi sebelumnya, seperti sudah menjadi kebiasaannya, gadis itu biasanya akan berbalik ke sisi lain dari posisinya sekarang yang tampak menghadap ke arah nakas dekat tempat tidur.
Risa pun perlahan berbalik, ia membalikkan tubuhnya dengan mata yang tampak terpejam dan tangan terbuka lebar untuk memeluk guling yang ada belakang tubuhnya.
Tapi, ketika Risa sudah berbalik, yang ia rasakan bukan guling seperti biasanya. Guling itu terasa keras dan seperti kulit manusia.
Manusia?! — pekik Risa dalam hatinya.
Kemudian, dalam hitungan detik. Risa langsung membuka matanya. Momen selanjutnya yaitu sebuah kegaduhan dari teriakan Risa dan suara tubuh Risa yang terjatuh dari tempat tidut karena ia tadi terlonjak kaget, saking terkejutnya.
Kegaduhan yang Risa buat di pagi buta seperti ini pun terasa memekakan telinga seseorang yang masih tertidur di atas ranjang.
Juna, seseorang yang tadinya sedang tertidur di sisi Risa.
Pria itu tidur dengan posisi menghadap punggung Risa. Jadi otomatis ketika tadi Risa berbalik, maka mereka saling berhadapan.
Juna mengerjapkan matanya. Lalu, dengan mata yang masih tampak terpejam. Pria itu terdengar mengatakan sesuatu.
“Tolong dong Sa, pagi-pagi udah berisik, ganggu tidur orang lain aja. Untung kamar hotel ini kedap suara, kalau enggak bisa habis kita didatengin tamu hotel lainnya karena keributan yang kamu buat.” ucap Juna yang kemudian langsung membuka matanya perlahan.
Risa yang tadinya sempat terkejut dan bahkan sampai terjatuh dari atas tempat tidur. Ia pun langsung teringat untuk memeriksa kondisi pakaiannya.
Lalu beberapa detik kemudian, Risa tampak menghembuskan nafas lega setelah melihat pakaian pengantin yang ia kenakan terakhir kali sebelum ia tidur masih melekat sempurna di tubuhnya.
__ADS_1
Tapi setelah mendengar perkataan Juna tadi itu. Hembusan leganya berubah menjadi dengusan untuk mengekspresikan rasa kesalnya terhadap pria itu.
“Lagian kamu ngapain tidur di kasur yang sama dengan aku?! Kamu cari kesempatan dalam kesempitan ya?!” ujar Risa, membuat Juna yang tadinya masih terbaring malas, kini ia menggeser tubuhnya, lalu mendekati Risa yang masih duduk terjatuh dibawah.
Dari atas tempat tidur, Juna tampak menatap Risa dengan ekspresi datarnya. Lalu kemudian~
‘Pletak’ anggap saja itu sebuah suara yang di timbulkan oleh tangan Juna yang tampak menyentil kening Risa.
Mendapatkan sentilan jari dari Juna yang sebenarnya tidak terlalu keras itu, Risa pun mengaduh kesakitan, ia langsung memegangi keningnya yang terasa sedikit berdenyut.
“Sialan, baru juga nikah semalam. Tapi paginya udah langsung ngelakuin kekerasan dalam rumah tangga. Bener-bener kurang ajar kamu ya! Udah deh ceraiin aja aku.” kata Risa.
“Itu mulut mau aku sentil juga ya?! Sembarangan aja kalau bicara. Lagian, bukannya kamu yang cari kesempatan dalam kesempitan? Aku dari awal tidur di samping kamu, enggak ada tuh peluk kamu, sentuh ujung rambut kamu aja juga enggak. Tapi kamu, seenaknya aja nuduh aku cari kesempatan dalam kesempitan. Padahal kamu sendiri yang kayak gitu.” ujar Juna sembari mengubah posisinya yang sebelumnya terbaring kini duduk bersandar di kepala ranjang.
“Siapa yang cari kesempatan dalam kesempitan ke kamu hah?! Enak aja, kamu itu juga jangan sembarangan asal nuduh aku.” sanggah Risa.
“Terus siapa yang tadi peluk aku kayak guling, habis itu teriak kayak orang habis ngeliat hantu sampai pakai acara jatuh dari tempat tidur segala? Bukannya itu kamu?! Udah peluk sembarangan, juga pakai acara teriak-teriak sembarangan. Bikin pagi yang seharusnya fresh jadi suram gara-gara kamu.” ujar Juna yang kemudian menyibak selimutnya dan melemparkannya ke arah Risa, lalu kemudian, pria itu berjalan pergi menuju kamar mandi.
“Kamu! Bisa enggak sih, enggak usah main lempar-lempar kain?! Kamu itu beneran anggap aku pembantu ya?! Satu lagi! Aku enggak pernah curi kesempatan dari kamu! Dasar narsistik!” teriak Risa, agar Juna yang sudah masuk ke dalam kamar mandi itu dapat mendengar perkataannya.
Lempar aja semuanya ke aku! Enggak pakaian, enggak selimut. Dari semalam suka banget main lempar-lempar ke aku. Keparat sialan itu. Awas aja kamu, nanti aku balas kamu lempar pakai batu baru tau rasa.
Dia itu emang sengaja bikin aku kesel kan? Suruh aku ini itu, pakaian dia aku yang rapiin, sekarang tempat tidur juga aku yang beresin. Ini enggak bisa di biarin. Pokoknya, harus buat surat perjanjian biar aku enggak banyak rugi. Iya, harus buat!
Risa terlihat merapikan tempat tidurnya tanpa bicara. Namun sebenarnya, isi kepalanya itu telah dipenuhi dengan sumpah serapah dan ocehan yang cukup panjang untuk Juna.
Setelah selesai merapikan tempat tidur, Risa pun berjalan mendekati meja yang terdapat cermin cukup besar di sana. Itu hampir mirip seperti meja rias di kamar Risa, hanya kurang kursi dan alat-alat make up saja untuk menjadi pelengkapnya.
Ya ampun, make up ku bahkan belum aku bersihkan. Semalam aku benar-benar ketiduran ya? Udah enggak mandi, enggak hapus make up juga. Dih, jorok banget sih Sa. Untungnya si Juna itu enggak komen pedes. Sial banget kalau sampai dia komentar tentang penampilanku yang buruk kayak gini.
Oke Risa, sekarang hapus make up-nya dulu, habis itu pergi mandi setelah Juna keluar dari dalam kamar mandi itu.
Risa pun kemudian tampak mengambil perlengkapan skincare-nya dari dalam koper. Lalu membawanya kembali ke meja yang dilengkapi cermin itu. Risa pun meletakkan perlengkapan skincare itu ke atas meja tersebut.
__ADS_1
Pertama, Risa mengambil sebuah micelar water untuk menghapus make up-nya. Lalu setelah itu, ia mulai menggunakan perlengkapan skincare lainnya sebelum pergi mandi.
Beberapa saat, setelah ia disibukkan dengan skincare dan wajahnya. Pintu kamar mandi pun akhirnya terbuka. Risa dapat melihat Juna yang keluar dari dalam kamar mandi tersebut dengan menggunakan handuk kimono dan juga membawa handuk kecil untuk mengeringkan rambut pria itu yang tampak basah.
Melihat rambut Juna yang basah sehabis mandi, bagi Risa, pria itu untuk beberapa saat terlihat seperti ciptaan tuhan yang paling sempurna. Membuat Risa kembali terpesona melihat pantulan Juna dari cermin yang ada dihadapannya.
“Tutup mulutmu itu. Aku bahkan bisa melihatnya dengan jelas dari sini, air liurmu sampai menetes karena melihatku. Ck, dasar.” ucap Juna sembari membalas tatapan Risa dari pantulan cermin juga.
“Siapa yang meneteskan air liur hanya karena melihatmu. Kau itu sebaiknya menyembuhkan penyakit terlalu percaya dirimu itu.” cibir Risa, yang kemudian langsung beranjak dari depan cermin dan berjalan menuju ke arah kamar mandi.
“Mau kemana kamu?” tanya Juna.
“Mau mandilah, emangnya mau kemana lagi kalau aku jalan ke arah situ? Pertanyaan enggak perlu di jawab kayak gitu seharusnya enggak usah kamu tanyakan.” kata Risa, setelah itu kembali melangkahkan kakinya kembali.
“Berhenti.” ucap Juna yang mampu menghentikan langkah kaki Risa walau hanya sesaat.
Bukan Risa namanya kalau mau mendengarkan perkataan pria itu. Risa pun akhirnya melangkah kembali, mencoba mengabaikan perkataan suaminya.
“Berhenti disitu Risa! Jangan bergerak, apalagi mencoba untuk melangkah.” ujar Juna, tapi Risa tetap bergerak dan melangkah mendekati kamar mandi yang sudah cukup dekat dengannya.
“Kalau kamu enggak mau berhenti, aku bakalan ikut kamu masuk ke dalam kamar mandi. Kayaknya mandi lagi bareng kamu, enggak ada salahnya buat aku.” ujar Juna, kali ini, Risa pun terlihat menghentikan langkahnya.
“Jangan gila kamu. Lagian, aku enggak peduli sama ancaman buruk kamu itu.” ucap Risa, setelah berkata seperti itu, Risa melangkah menuju ke arah kamar mandi kembali.
“Oh! Enggak percaya. Kalau gitu, aku bakal buka handuk ini sekarang juga.” kata Juna, ia kemudian terlihat ingin melepaskan tali handuk kimononya yang tampak ia ikat dua kali ikatan.
Mendengar ancaman yang cukup mengerikan itu, Risa pun menoleh, dan terlihat olehnya, Juna tampak melepaskan tali handuknya. Hanya tinggal satu ikatan lagi, maka handuk itu akan terbuka.
“Eh, stop, stop! Oke, oke aku ngalah. Sekarang kamu mau apa? Kenapa nyuruh aku berhenti? Aku ini mau mandi, dari semalam belum mandi, gatel tau badan aku. Lagian, kamu ngapain sih ngancem pakek acara mau buka handuk kamu di depan aku?! Kamu itu beneran seorang eksibisionis ya?! Menjijikkan, gila, tidak tahu malu.” umpat Risa.
Juna tampak diam, menatap Risa datar. Pria itu terlihat telah menghentikan gerakan tangannya yang tadi sempat ingin membuka ikatan tali terakhir handuk kimononya.
“Sini kamu.” ucap Juna sembari menggerakkan jari telunjuknya, menyuruh Risa untuk mendekat ke arahnya.
__ADS_1
💥 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💥
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍