
Selamat datang kembali di novel Terpaksa Menikah Dengan Mantan.
Jangan lupa Vote, Komen** walau hanya satu huruf sahaja. Dan jangan lupa juga untuk Like dan Favoritkan** novel ini.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
Juna menatap Risa dengan raut wajah suami yang takut pada istrinya.
Sedangkan Risa, ia masih menampilkan wajah datarnya. Gadis itu menatap satu-persatu perempuan yang masuk ke dalam rumahnya.
Semuanya cantik, tubuh mereka pun layaknya seorang model yang berjalan di catwalk. Sangat sempurna untuk disebut sebagai wanita ideal.
Membandingkan dengan dirinya sendiri, Risa hanya bisa mendengus kesal. Faktanya, ia tidak sebanding dengan mereka. Tubuhnya yang hampir masuk kategori kurus itu bahkan tidak memiliki lekukan yang menggoda.
“Juna, sayang. Aku mendapat informasi dari temanku yang bekerja di rumah sakit Universitas Medicalis. Temanku bilang kamu sakit ya?” tanya seorang perempuan dengan dress selututnya yang berwarna merah menyala.
Sayang, sayang. Sembarangan aja panggil suami orang sayang. Pengen deh rasanya tuang toksin ke mulutnya. Biar cepet pulang ke akhirat dan enggak gangguin suami orang. — batin Risa.
“Aku dapat kabar dari Perawat Sunny. Dia bilang kamu hampir kena anemia. Aku khawatir sama kamu, hubby.” ucap perempuan yang lainnya.
Damn girl. Aku ini istrinya tapi dia seenak jidatnya panggil Juna hubby. Enak aja, dia itu suami aku, bukan suami kamu! — batin Risa lagi, ia semakin dongkol.
“Juna, kamu enggak pa-pa kan? Bagian mana yang sakit?” tanya perempuan ketiga. Perempuan yang satu ini terlihat lebih agresif dari pada dua perempuan yang sebelumnya.
Masalahnya adalah— dia, perempuan ketiga itu dengan gamblangnya menyentuh dada bidang Juna. Mengelus manja tubuh kokoh itu dengan lembut. Membuat mata Risa terbelalak sempurna.
Enggak ada akhlak. — batin Risa kesal.
Suara gemeretak dari gigi Risa yang saling beradu pun terdengar samar oleh pendengaran Juna yang tiba-tiba menjadi lebih sensitif dengan setiap gerakan yang di lakukan oleh istrinya.
Juna menoleh ke arah Risa. Terlihat jelas olehnya. Sang istri tengah menatapnya tajam. Setajam silet yang baru saja di buka dari bungkusnya. Kalau saja mata Risa mampu mengeluarkan sinaran laser. Juna mungkin saat saat ini sudah Knock-out.
Pria itu pun akhirnya mengeluarkan tatapan memohon ampunnya ke arah Risa. Ia menatap Risa sendu. Ini semua sungguh di luar dugaan Juna. Ia tidak menyangka kalau barisan para mantan dan gebetannya akan datang ke rumah mereka.
“Juna, aku bawa makanan buat kamu. Ayo makan dulu, badan kamu kurus gitu. Aku enggak tega lihatnya.” kata perempuan keempat, dia yang terlihat lebih kalem dan natural dari empat perempuan lainnya. Dia juga yang sebenarnya terlihat paling cantik diantara semuanya, bahkan bisa dikatakan, ia lebih cantik dari Risa.
Sayangnya, cantik-cantik tapi matanya rabun. Enggak lihat ya? Itu badan Juna banyak ototnya yang sobek-sobek di bilangnya kurus. Dasar minus. — batin Risa berkomentar.
“Juna, ini aku bawa vitamin buat kamu. Biar kamu cepet sembuh.” kata perempuan yang kelima.
Emangnya semua orang sakit bisa sembuh karena vitamin? Bodoh. — batin Risa yang terus memprotes satu-persatu perkataan para perempuan itu.
“Kalian... sebenarnya kalian ini siapa?” Juna akhirnya bersuara.
Kelima perempuan yang mendengar lontaran pertanyaan dari Juna barusan, mereka tampak speechless untuk beberapa saat.
“Juna... kamu lupa sama aku? Aku Sora. Kita sudah bersama selama tiga tahun lamanya. Bahkan lima bulan yang lalu kamu masih panggil aku wifey. Kamu selalu bilang ke aku kalau kamu akan jadi suami masa depan aku. Makanya aku panggil kamu hubby. Kamu enggak beneran lupa sama aku 'kan, Hubby?” kata perempuan kedua, ia terlihat maju ke depan, semakin mendekat ke arah Juna.
__ADS_1
“Aku— ”
“Sayang, lima bulan yang lalu kamu juga bilang gitu ke aku. Dia pasti bohong kan, sayang? Karena aku tahu kalau kamu itu cintanya cuma sama aku. Mereka ini pasti cuma mainan buat kamu kan?” kata perempuan nomor satu.
Begitulah Risa menyebut mereka, si perempuan nomor satu, nomor dua, nomor tiga, nomor empat dan nomor lima. Risa sempat berpikir, apakah ada perempuan lain di luar sana yang perlu Risa beri nomor juga? Karena ia yakin kalau suaminya itu masih punya deretan mantan kekasih yang tidak akan terhitung oleh sepuluh jari tangan saja.
Melihat adegan menggelikan dari para perempuan itu. Risa mendengus kesal. Dengan kaki terhentak keras, Risa melangkah. Ia berjalan mendekati Juna, melewati kelima perempuan yang kini menatapnya penuh tanya.
Mereka sepertinya baru menyadari keberadaan Risa. Padahal Risa yang membukakan pintu untuk mereka. Apa tadi mereka pikir Risa ini hanya sekedar seorang pembantu rumah tangga? Jadi tidak dipedulikan. Apa mereka tidak tahu status apa yang Risa sandang saat ini? Andaikan mereka tahu...
Setelah sampainya di hadapan Juna. Risa menatap suaminya itu dalam diam. Kemudian, mata gadis itu tampak menyalang, penuh kilatan ketidaksukaan, marah, kesal, dan ingin sekali menarik rambut para perempuan yang ada di rumahnya saat ini.
Risa pun kemudian meletakkan nampan berisi semangkuk bubur yang telah dingin itu ke atas nakas yang ada di dekatnya. Ia melakukan itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Juna.
Matanya terus terpaut dengan manik hitam milik Juna.
Setelah meletakkan nampan tersebut. Risa langsung merebut baju yang Juna pegang. Gadis itu kemudian memakaikan baju tersebut ke tubuh Juna, hingga akhirnya otot-otot yang sempurna untuk di lihat itu pun menghilang dari pandangan mata. Membuat kelima perempuan di belakang Risa merutuki perbuatan Risa dalam hati mereka.
Yaahh. Pemandangan indahku... hilang. Dasar gadis sialan ini. Dia itu siapa sih?! — batin para perempuan itu.
“Kamu sengaja pamer badan kamu?!” bisik Risa, lirih, tapi dipenuhi dengan penekananan di setiap sub katanya.
“Bukan gitu, Sa. Aku— ”
“Masuk kamar.” sela Risa dengan tidak sabarnya.
“Eh?” Juna tak paham. Begitupun dengan kelima perempuan di belakang Risa. Mereka lebih tidak paham dengan sikap Risa terhadap Juna.
Please Juna, kamu jangan nakal ya. Nurut ya, masuk kamar, please. — batin Risa, penuh harap.
“Pintu?” tanya Juna.
“Masuk kamar sekarang juga, My Sweet Hubby.” ucap Risa, memanggil Juna dengan sebutan suami manisku. Sebenarnya saat ini Risa ingin sekali muntah karena sudah memanggil Juna dengan panggilan seperti itu, menjijikan.
“Iya... aku masuk.” kata Juna. Akhirnya, itulah yang Risa ucapkan dalam hatinya.
Juna pun kemudian melangkah menaiki tangga, mengabaikan para perempuan yang terdengar memanggil namanya dengan nada ketidakrelaan atas kepergiannya.
Bahkan ada salah satu dari mereka yang nekat mengikuti Juna. Untung saja Risa dengan gerakan cepat menghadangnya sebelum perempuan nomor dua itu berhasil menaiki tangga.
“Minggir.” kata si perempuan nomor dua.
“Maaf, Mbak, tidak seharusnya anda berperilaku tidak sopan seperti ini. Apalagi sampai menggoda suami orang.” ujar Risa dengan kedua tangan yang terbuka lebar, menghalangi si perempuan nomor dua.
“Suami? Jangan sembarangan bicara, Juna itu belum menikah. Kamu pasti cuma penggemar dia yang ngaku-ngaku jadi istrinya. Dari body kamu aja sudah jelas kalau Juna enggak akan lirik kamu sama sekali.” kata si perempuan nomor dua, sungguh menohok hati Risa.
“Minggir.” ucap perempuan nomor dua. Lalu kemudian, dengan kasar ia mendorong tubuh Risa ke samping, hingga istri dari Juna itu jatuh tersungkur ke lantai rumahnya yang dingin.
“Risa!” Juna yang sejak tadi berhenti menaiki tangga dan menyaksikan perdebatan Risa dengan perempuan nomor dua, ia pun terperanjat melihat istrinya yang didorong hingga jatuh.
__ADS_1
Dengan sigap Juna menuruni anak tangga itu, ia melangkah mendekati Risa. Tapi belum sempat ia menyentuh tubuh Risa. Juna mendengar suara desisan amarah keluar dari bibir Risa.
Detik berikutnya, Risa bangkit sembari berdiri menghadap perempuan nomor dua. Bukan hanya tubuhnya saja yang bangkit tapi juga amarahnya.
Mungkin jika seseorang memiliki mata Byakugan, mereka akan melihat aura merah yang membara di tubuh Risa.
This is a not good. Risa beneran marah. Kalau dia beneran ngamuk, perempuan itu bisa habis.
Aku harus—
“Kamu!” ucap Risa dengan suara lantangnya menatap ke arah Juna.
“Aku?” Juna menunjuk dirinya sendiri dengan penuh tanya.
“Aku bilang masuk kamar! Kenapa kamu belum masuk juga?!” tanya Risa dengan nada penuh amarahnya.
“Eh, iya, iya. Aku masuk kamar. Tapi kamu— ”
“Masuk kamar sekarang juga!” sela Risa.
“Iya, aku masuk kamar sekarang.” ucap Juna, dengan langkah cepat ia pun menaiki tangga. Kemudian menghilang dari pandangan. Juna bersembunyi di balik dinding, memantau apa yang akan Risa lakukan.
Setelah Juna sampai di lantai atas. Risa kini beralih fokus pada lima perempuan di hadapannya.
Rumah yang tadinya damai, kini seperti menjadi area pertarungan.
“Kalian enggak ada niat buat keluar dari rumah ka-mi?!” tanya Risa dengan nada jengkelnya. Ia sampai menekan kata 'kami' agar kelima perempuan itu mengerti.
“Kami akan pergi. Maaf, kami berdua tidak tahu kalau Juna sudah beristri.” kata si perempuan nomor lima, mewakili dirinya dan perempuan nomor empat, mereka sepertinya berteman.
Bahkan dua orang yang berteman pun Juna dekati semua. Suami Risa itu memang playboy kelas kakap.
Tersisa tiga orang. Risa menatap mereka dengan tidak sabaran, berharap mereka segera pergi dari rumah.
Beberapa menit terdiam, akhirnya perempuan nomor satu pergi dengan kaki terhentak kesal, lalu diikuti oleh perempuan nomor tiga.
Kini tinggal perempuan nomor dua yang tersisa. Risa menatapnya kesal, karenanya Risa sampai jatuh tersungkur ke lantai. Untung saja tubuh Risa merespon cepat sehingga wajahnya tidak berhasil berciuman dengan lantai marmer rumahnya.
“Kenapa belum pergi juga?” tanya Risa dengan nada sombongnya.
Perempuan nomor dua itu tampak berdecih, ia masih memandang Risa rendah.
“Denger ya, Mbak. Aku enggak tahu trik apa yang sudah kamu pakai sampai bisa nikah sama Juna. Tapi kamu itu cuma beruntung saja bisa nikah sama dia. Gadis kayak kamu gini mana bisa bertahan lama di sisi Juna. Tunggu aja, Juna lama-kelamaan bakal bosan sama kamu. Nanti kalau sudah bosan, pasti dia bakal ninggalin kamu. Aku yang sempurna seperti ini dan hampir tiga tahun jadi pacarnya saja, dia lupain dengan mudah. Apalagi kamu.” kata perempuan itu, sadis, pedas, dan sayangnya Risa sepertinya terpengaruh.
“Satu lagi. Aku enggak akan pernah menyerah buat ngejar Juna sebelum kain putih melilit di tubuhnya.” sambungnya. Setelah itu, ia pergi dari rumah Risa dengan kaki yang terhentak kesal.
Risa menatap kepergian perempuan itu dengan napas terhembus panjang. Ia tampak menggigit bibir bawahnya, mengingat kembali perkataan si perempuan nomor dua itu, Sora. Sebenarnya siapa dia? Batin Risa bertanya.
💥thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT AND VOTE💥
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
Terimakasih sudah mengikuti dan membaca novel ini. Jangan lupa untuk beri komentar, like dan vote kalian. Ty vm.